NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
IF I WAS YOU



Sejak subuh tadi, aku sudah membaca kertas yang saat itu tak berani aku baca karena terlalu kaget dengan pistol milik Nicholas.


Nicholas itu cerdik. Setelah menunjukkan rahasianya padaku, Nicholas memindahkan pistol dan kertas rencana nya itu ke dalam brankas. Tapi bukankah aku sudah belajar banyak dari Nicholas untuk bertindak cerdas dan ... Licik?


Sekarang Nicholas masih tertidur. Tapi aku sudah berhasil membuka ponselnya dengan sidik jari. Aku bisa menemukan kata sandi brankas. Dari mana? Nicholas menggunakan kata sandi seluruh akunnya di ponsel. Dan semuanya terhubung otomatis melalui google. Coba-coba yang ternyata berhasil.


Di dalam kertasnya, Nicholas berencana menembak Mia setelah mempermalukannya di media. Lalu ia akan menembak orang-orang yang menyebabkan Kalina meninggal segera setelah ia menemukan banyak bukti. Memang tak jelas kapan tepatnya Nicholas 'mengeksekusi' mereka. Tapi karena semuanya sudah ketahuan, ku rasa sebentar lagi.


Melihat ambisi Nicholas yang belum padam juga, aku tahu dia akan sulit dihentikan.


Pukul 08:00 WIB, akhirnya Nicholas membuka matanya. Aku mengangkat nampan berisi aspirin, sandwich, dan air mineral.


"Hai," sapa ku tersenyum pada Nicholas yang pelan-pelan mengubah posisinya menjadi duduk. Wajah putihnya masih kelihatan sedikit merah dan linglung.


"Semalam kamu ..."


"Ya, saya tahu," jawab Nicholas menganggukkan kepalanya.


"Minum dulu nih," ucap ku duduk di pinggir tempat tidur. Nicholas meraih obat aspirin itu lalu menenggaknya bersama air mineral.


"Saya minta maaf ya, karena semalam terpaksa ngunci kamu di sini," bisik Nicholas meraih wajahku dan mengelusnya pelan.


Aku tersenyum sambil menganggukkan kepala ku sambil menaruh nampan tadi di atas meja kemudian membetulkan kancing kemeja Nicholas yang beberapa lepas.


"Nicholas, apa Mia masih berhubungan sama Hero?" tanya ku pelan.


"Ya, mereka mungkin gak terpisahkan."


"Jadi kamu juga menambahkan Hero dalam daftar target?"


Nichola menahan napasnya. Ia terlihat enggan menjawab. Lalu aku membuka laci meja itu, meraih pistol milik Nicholas yang berhasil ia ambil.


Nicholas sempat terkejut melihat ku memegang pistol ini. Ia menatap ku serius, sementara aku menatapnya dalam-dalam.


"Ajarin saya belajar menggunakan ini," ucap ku dengan yakin, sementara Nicholas kelihatan terkejut bukan main. Ia bahkan sampai akan merebut pistol ini.


"Fiona, it's - not - funny."


"Saya gak lagi bercanda Nicholas. Ajarin saya pakai pistol," jawab ku sekali lagi.


"Buat apa?"


"Saya akan kasih tahu saat kamu mau mengajari saya. Atau mungkin saya akan salah menggunakannya."


Nicholas menghela napas gusar. Ia segera beranjak dari tempat tidurnya sambil merebut pistol yang ada di tangan ku lalu berjalan pergi keluar kamarku.


Aku pikir ini akan jadi akhir. Tapi ternyata Nicholas benar-benar mengajak ku ke lapangan latihan tembak khusus yang ada di belakang pekarangan rumahnya. Tidak, ia membuatnya sendiri dan mendatangkan seorang penembak jitu untuk mengajari ku.


Pelatih itu berdiri tepat di belakang ku dan mengarahkan tangan ku, menggenggam tangan ku untuk memberitahu cara memegang pistol. Ia juga memegang bahu ku untuk membenarkan posisi ku berdiri.


Tapi tiba-tiba Nicholas menghampiri, entah apa yang dibicarakan, tapi pelatih itu pergi. Dan sekarang digantikan oleh Nicholas.


"Kenapa? Apa dia nyerah ngajarin saya?" tanya ku.


"Nggak. Saya gak suka dia nyentuh-nyentuh kamu," jawab Nicholas sambil memakaikan headphone di kedua telinga ku.


"Fokus, tarik pelatuknya. Jangan ragu-ragu," bisik Nicholas.


Aku mengangguk, tapi baru satu kali aku menarik pelatuk hingga keluar peluru, tubuh ku yang ringkih ini sudah terdorong ke belakang hingga Nicholas yang berdiri di belakang ku harus menahan tubuh ku agar tak jatuh.


"Jangan tegang, sekali lagi," bisik Nicholas sambil memegangi pinggang ku. Dia menggeser posisi kaki menjadi sejajar dengan bahu, setelah itu memposisikan lengan ku sedikit menekuk ke depan.


Satu peluru, dua peluru, dan aku selalu gagal. Suara bising peluru dan rasa takutku sangat mempengaruhi.


Nicholas menggenggam tangan ku, membantuku memposisikan pistol ku, dan mencoba menarik pelatuknya. Berhasil. Tapi begitu aku dibiarkan sendiri, aku gagal lagi.


"Udah, cukup Fiona. Kamu gak perlu terlalu keras berlatih," ucap Nicholas.


"Nggak, saya harus bisa nembak dengan tepat sasaran, secepatnya," jawab ku kembali meminta petugas untuk mengisi pelurunya lagi.


"Fiona, hey ..." panggil Nicholas menahan ku yang hendak menembak lagi.


"Untuk apa kamu lakukan ini semua?" tanya Nicholas menatap ku bingung.


Tadinya, aku ingin menimpalinya dengan tegas. Tapi malah aku tak sanggup bicara. Padahal aku sudah mengingat jelas apa yang akan aku katakan pada Nicholas.


"Fiona, buat apa kamu lakuin ini?" tanya Nicholas kali ini sedikit mendesak hingga merengkuh kedua bahuku dan menatap ku lurus, pandangannya terlihat khawatir atau takut, aku tak yakin.


Aku menghembuskan napas panjang, lalu mendongak menatap Nicholas.


"Saya takut. Makanya saya ... Belajar pakai pistol," jawab ku pelan.


Nicholas meraih wajah ku lagi, dia terus menatap ku lekat-lekat.


"Apa yang kamu takutkan, Fiona? Selama saya ada di dekat kamu, mereka gak akan berani macem-macem. Gak akan ada yang berani untuk menyakiti kamu -"


"And what if you're leave?" sergah ku kesal. Suara ku memang pelan, tapi aku bisa merasakan sendiri penekanan setiap kata yang ku ucap.


"You die or in prison. Kamu gak akan bisa lindungin saya, Nicholas. Kalau kamu tetap jalanin rencana kamu, kamu bilang kamu gak perduli dengan apa yang akan terjadi setelahnya. Tapi apa kamu mikirin saya? Dan akhirnya kamu sama aja memanfaatkan saya lagi. Memaksa saya untuk tetap ada di sisi kamu, mencintai kamu. Lalu setelahnya kamu pergi dari saya," tukas ku melepaskan tangan Nicholas dari ku.


Aku menghela napas sementara Nicholas hanya diam menatap ku.


Lalu pelan-pelan aku meraih tangan Nicholas dan menggenggamnya erat.


"Nicho, dendam itu gak akan menyelesaikan masalah. Kalau kamu mau saya tetap ada di sisi kamu, tolong jangan pernah lakukan rencana kamu. Cukup buat mereka menyesal, dan ..."


Aku tak dapat melanjutkan kalimat ku ketika merasakan Nicholas pelan-pelan melepaskan tangannya dari genggaman tangan ku.


Nicholas benar-benar menarik tangannya dari genggaman tangan ku sementara kepalanya menunduk. Ia membuang wajahnya dari ku sementara tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.


"Saya ... Sangat ingin kamu selalu bersama saya, Fiona. Dan saya pikir, kita akan bisa selalu sejalan."


"Oke," gumam ku dengan suara bergetar. Aku tak bisa menahan air mata ku, jadi aku segera berbalik untuk pergi.


"Fiona, saya -"


Aku segera menarik tangan ku dari Nicholas yang berusaha menarik ku lagi.


Sialan. Kenapa di sekitar sini tak ada kendaraan umum? Aku mempercepat langkah ku ketika akhirnya Nicholas tak mengikuti ku. Tapi dia kelihatan buru-buru menelepon seseorang.


Tak perlu aku bingung. Karena tak lama, mobil Ardi segera menghadang ku. Aku lupa dia sejak tadi berjaga di sekitar mobil Nicholas.


Aku harus kembali ke rumah Nicholas dan mengambil barang-barang ku. Jadi aku memilih untuk menerima tumpangan Ardi. Dan mengingat rumah Nicholas sangat sulit dicari, Ardi adalah satu-satunya orang yang bisa membantu ku.


Selama perjalanan menuju rumah Nicholas, aku tak bisa berhenti menangis. Aku memang tak pernah  dalam memiliki hubungan. Tapi aku tak tahu aku dan Nicholas akan berakhir tragis begini. Aku lebih baik berpisah karena Nicholas ternyata mencintai Mia atau semacamnya daripada harus tahu kalau Nicholas akan menjadi seorang pembunuh. Ia tak ingin melihat Nicholas berakhir di penjara atau bahkan ... Mati karena rencananya itu.


Semua ini memang sudah salah sejak awal Fiona! Aku menundukkan kepala, menutupi wajah ku dengan telapak tangan. Aku telah salah menilai Nicholas, aku telah salah jatuh cinta.


Padahal selama ini, Nicholas selalu bersikap normal. Kecuali soal kebiasaannya menyadap orang, meretas data, dia mengetahui banyak hal, kebiasaan yang aneh, astaga Fiona, banyak sekali hal-hal tak biasa dari Nicholas yang selama ini aku abaikan.