
Aku meninggalkan kantor Nicholas setelah laki-laki itu tertidur di sofa dengan selimut seadanya di sana. Aku juga merapikan tempat itu dari botol-botol alkohol. Semuanya tampak rapi sehingga aku bisa pulang dengan tenang.
Sebenarnya, aku tak menelepon Ardi seperti apa yang diperintahkan oleh Nicholas, karena rasanya agak aneh, aku yang bukan siapa-siapa dijemput oleh tangan kanan Nicholas. Jadi aku memutuskan untuk naik ojek online saja.
Aku sudah menunggu di depan kantor sendirian, karena para karyawan sudah pulang. Dan aku sempat berpikir, bagaimana bisa Nicholas tidur di kantornya sendiri? Meskipun ia memiliki ruangan khusus yang kemewahannya tak kalah dengan kamar hotel bintang 5, tetap saja ini gedung kantor bukan hotel.
Biarlah, orang-orang kaya memang selalu bertingkah aneh.
Sambil menunggu, aku sempat berpikir mungkinkah rasa cinta Nicholas kepada Mia telah berubah menjadi benci? Aku memang tak percaya adanya cinta tulus. Dan yang terjadi pada Nicholas sangatlah wajar, mengingat bagaimana Mia memperlakukan Nicholas. Tapi, apakah semudah itu cinta berubah menjadi benci? Jika Nicholas mau, dia bisa bercerai dengan Mia. Apa masih ada cinta di hati Nicholas yang menahannya agar tak menceraikan Mia?
Astaga, berulang kali aku mencoba untuk menerka, apa yang salah dengan Nicholas hingga Mia berselingkuh? Tapi aku belum juga menemukan. Sejauh ini yang aku tahu kekurangan Nicholas hanyalah terlalu membebaskan Mia dan larut pada cinta bodoh yang ia sebut balas dendam itu.
Namun tiba-tiba aku melihat mobil milik Ardi sampai di hadapanku. Ada apa? Kenapa dia bisa datang malam-malam begini ke kantor?
"Mbak Fiona," sapa Ardi begitu turun dari mobil dan menghampiri ku. Sementara aku tercengang bingung, pasalnya aku yakin tak menghubungi Ardi sebelumnya.
"Maaf saya terlambat," ucapnya terlihat tenang namun aku masih melihat raut wajah menyesalnya.
"Nggak. Tapi, saya emang sengaja - siapa yang hubungin Pak Ardi kalau saya sudah pulang?" tanya ku bingung.
"Barusan Pak Nicholas menghubungi saya, Mbak. Dia ingin memastikan apakah Mbak Fiona sudah sampai apartmen atau belum. Saya kaget karena Mbak gak menghubungi, makanya saya diperintahkan untuk ke sini," ucap Ardi.
"Tapi... Tadi Pak Nicholas kan... Udah mabuk banget," gumam ku gelagapan.
"Oh, Pak Nicholas itu gak mudah mabuk Mbak. Pak Nicholas gak pernah minum sampai benar-benar gak sadar," jawab Ardi kembali membuat ku tercengang. Kalau begitu, kenapa tadi Nicholas berpura-pura tidur? Apa dia sedang mengusir ku?
Tanpa banyak bertanya lagi, karena aku lelah, akhirnya aku masuk ke dalam mobil untuk segera sampai di apartmen.
Karena jarak apartmen dekat dengan kantor, jadi tak perlu banyak waktu, aku sudah sampai.
Aku mengatakan pada Ardi untuk tidak usah mengikuti ku sampai ke dalam. Jadi aku masuk sendiri ke lobby dan naik menggunakan lift.
Sebenarnya, tak ada yang aneh selama aku berjalan menuju unit apartmen. Di dalam lift pun hanya ada aku dan seorang laki-laki bersetelan santai yang kelihatan sibuk dengan ponselnya.
Saat sampai di lantai unit apartmen, aku berjalan gontai, dan ketika aku sedang menekan password, aku merasa laki-laki berkacamata ini ikut berhenti melangkah dan berdiri beberapa meter di dekat ku, masih sambil memainkan ponselnya.
Akhirnya aku masuk ke dalam. Aku langsung berniat untuk membersihkan diri dan tidur.
Tapi tiba-tiba bel unit apartmen ku berbunyi. Karena ini sudah malam, aku tak langsung membuka. Aku memilih untuk melihat siapa yang ada di luar melalui layar video intercom. Ternyata laki-laki berkacamata tadi.
Sejujurnya, aku takut untuk membukakan pintu. Orang ini hanya diam sambil memandang ke arah pintu. Dia terus menekan bel, aku benar-benar benci dalam situasi seperti ini.
Tapi bagaimana kalau dia membutuhkan sesuatu?
Baru saja aku berniat untuk membukakan pintu, tiba-tiba sesuatu menghentikan ku. Ketika laki-laki itu sedang mengaduk-aduk isi tasnya, aku melihat sebilah pisau. Memang hanya pisau buah tapi untuk apa dia membawanya kemana-mana?
Tak lama, laki-laki itu menunjukkan foto ku dan Nicholas ke kamera, seolah mengetahui kalau aku sedang memperhatikannya. Lalu dia membakar foto tersebut dengan raut wajah tenang. Terlalu tenang dan aneh menurut ku. Apa yang dia lakukan sebenarnya? Dan dari mana dia mendapatkan foto ku juga Nicholas?
Aku tersentak kaget hingga mundur ke belakang ketika tiba-tiba dia memukul pintuku dengan keras lalu pergi. Astaga, apa lagi ini? Siapa orang aneh itu?
***
"Para fans kembali bersiap untuk peluncuran film terbaru yang akan dibintangi oleh Hero bulan depan. Kabarnya, baik dari pihak sutradara dan lawan main, memuji kemampuan akting Hero yang terlihat semakin memukau."
Aku masih diam berdiri beberapa meter di belakang Nicholas selama pemutaran berita portal gosip yang ditayangkan di televisi. Siapa lagi yang membawa rekamannya selain Mia.
Aku tak mengerti apa maksudnya. Tapi Mia begitu antusias menunjukkan berita-berita yang memuja-muja Hero di hadapan Nicholas.
"Kamu lihat kan, sayang? Aku udah bilang, kalau dia ikut pelatihan akting yang aku tunjuk, kemampuannya akan better and better terus. Kabar baiknya, Hero bahkan ditawari ikut project film Amerika," oceh Mia dengan sangat bangga.
Oh, jadi dia berdalih selama ini dekat dengan Hero untuk membantunya pelatihan akting? Tapi untuk apa? Bukankah itu tanggung jawab agensinya Hero?
"Jadi?" tanya Nicholas sepertinya sudah muak basa-basi.
"Jujur aku bangga banget. Jadi kemungkinan bulan minggu depan aku mau ajak Hero ketemu sama James di Amerika. Hero itu berbakat banget, dan gak boleh disia-siakan."
Ya, tapi kamu sudah menyia-nyiakan suami mu sendiri, Mia.
"Oke," ucap Nicholas mengizinkan. Aku bahkan sampai menoleh kaget ke arahnya.
"Thank you so much, baby..."
Mia kegirangan. Dia berjalan menghampiri Nicholas dan merangkul bahunya, memeluknya dengan mesra. Dan aku refleks melangkah sedikit menjauh.
Kenapa rasanya aku tak suka melihat tangan Mia menyentuh Nicholas? Maksudku, ini semua mungkin karena aku sering melihat wanita ini bersama Hero. Jadi ada sedikit rasa tak ikhlas kalau dia juga menyentuh Nicholas.
"Oh ya, gimana kalau kita honeymoon ke Bali besok?" tanya Mia sambil menyenderkan pipinya di bahu Nicholas dengan manja. Ayolah, apa aku bisa keluar sekarang?
"Besok? Saya harus lihat jadwal dulu," ucap Nicholas.
Tapi karena jawabannya itu, Mia semakin terlihat manja pada Nicholas. Sungguh, aku sangat muak melihatnya. Kenapa Nicholas bisa setenang itu? Cinta memang bisa membutakan semua orang.
"Kita udah lama tau gak liburan berdua. I promise, this time, aku gak akan lewatin waktu kita berdua."
"Oke. Kita berangkat besok pagi," jawab Nicholas. Mia tersenyum lebar kemudian mengecup pipi Nicholas sambil melirik ku sebentar.
Aku memutuskan untuk melangkahkan kaki ku menuju toilet. Aku tak ingin melihat hal yang lebih parah dari ini.
Tapi kenapa rasanya janggal begitu tahu Nicholas akan pergi bulan madu bersama istrinya? Bukankah ini hal yang bagus? Artinya mungkin saja mereka berbaikan lagi.
Kira-kira sekitar lima menit, aku buru-buru kembali lagi ke ruangan, karena Nicholas ada jadwal untuk meeting. Begitu sampai di ruangan, syukurlah aku sudah tak melihat Mia.
"Pak Nicholas, ada jadwal meeting -"
"Saya tahu. Kamu koordinasi dengan Angeline untuk kosongin jadwal saya dua hari kedepan," potong Nicholas sambil beranjak dari duduknya bersiap untuk meeting. Namun aku masih tercengang di tempat. Dia serius ingin pergi bulan madu besok.
"Fiona?"
"Ya, Pak. Saya akan koordinasi dengan Angeline," ucap ku kembali menaruh perhatian pada Nicholas yang berbalik menatapku.
"Ardi akan pesankan kamu tiket pesawat untuk ke Bali besok. Jadi kamu juga perlu siap-siap," ucap Nicholas lagi-lagi membuatku tercengang bingung seperti orang bodoh.
"Saya? Maksud Pak Nicholas, saya... Juga ikut?"
"Exactly."
"Tapi... Kenapa saya perlu ikut?" tanyaku panik. Untuk apa aku ikut mereka bulan madu? Akan jadi apa aku di sana?
Nicholas melirik sebentar ke belakang, kemudian ia melangkahkan kakinya menghampiri ku. Dia membungkuk sedikit hingga aku refleks mundur, tapi tangan Nicholas menahan punggungku.
"Kenapa? Kamu kan wanita simpanan saya," bisik Nicholas tepat di telinga ku. Lalu berbarengan dengan ini, pintu terbuka dengan suara Mia yang membuat ku kaget setengah mati hingga refleks melepaskan tangan Nicholas yang menahan punggung ku.
Wajahku sudah panik. Tapi Nicholas terlihat biasa saja padahal suasananya seperti baru tertangkap basah sedang berselingkuh - tunggu, apa ini juga maksud Nicholas? Dia tahu Mia akan balik lagi?
"Bisa kita bicara berdua?" tanya Mia dengan ketus. Astaga, ku rasa peluh di wajah ku semakin banyak.
"Bisa. Tapi saya gak punya banyak waktu karena harus meeting."
"It's okay. Cuma sebentar," ucap Mia. Kemudian Nicholas mengisyaratkan akun untuk menunggu di luar. Baguslah! Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan. Aku harap tidak ada pertengkaran karena kejadian tadi. Meskipun sebenarnya aku dibayar untuk hal ini.
***
Aku bersyukur tak ada pertengkaran antara Nicholas dan Mia. Tapi yang tak ku ketahui terjadi setelah semua ini berakhir adalah, Nicholas ternyata meminta ku pergi diam-diam ke Bali, bersama Ardi.
Sebenarnya, ini adalah rencana Nicholas. Pertama, Nicholas meminta ku diam-diam ke Bali, agar terlihat lebih natural kalau aku adalah perempuan simpanannya. Dan yang kedua, Nicholas mengatakan padaku kalau Hero juga kabarnya sedang ada project di Bali.
Ardi diminta Nicholas untuk mengamati Hero. Aku agak tak mengerti kenapa dia mengamati Hero sementara Mia masih di Jakarta. Tapi mau bagaimana lagi aku hanya menuruti perintahnya saja.
Aku dan Ardi sampai di Bali saat dini hari. Ardi sudah menyiapkan kamar ku di Magenta Hotel dan hotel ini adalah salah satu hotel yang paling dekat dengan pantai.
Ardi bilang, Mia dan Nicholas akan menginap di hotel yang sama. Aku tak terlalu memperdulikan itu, dan memutuskan untuk kembali tidur.
Kenyataannya, aku tak bisa tidur. Tiba-tiba aku kembali terpikirkan apa yang akan dilakukan Nicholas dan Mia selama di Bali? Kenapa aku harus ada di sini juga?
Di saat aku masih dalam pikiran ku tentang Nicholas, ponsel khusus yang diberikan Nicholas padaku berdering tanda pesan masuk.
Anehnya, ada nomor tak dikenal yang mengirim pesan. Padahal, Nicholas bilang ponsel ini adalah ponsel khusus untuk ku. Yang artinya, hanya dia yang tahu.
"Mbak Fiona, saya ditugaskan Pak Nicholas untuk memberikan pesanannya. Bisa Mbak Fiona ke lobby hotel sekarang?"
Siapa lagi yang disuruh Nicholas? Astaga, ini bahkan baru pukul 05:00 pagi.
Aku bergegas meraih sweater ku lalu membawa ponsel itu bersama ku keluar. Saat sampai di lobby, aku tak menemukan siapapun yang sedang menunggu. Jadi aku segera menghubungi nomor tersebut untuk bertanya dimana dia.
"Maaf, Mbak Fiona. Nyonya Mia sudah hampir sampai di hotel. Jadi Pak Nicholas memerintahkan saya bertemu dengan Mbak Fiona di basement utama."
Astaga, yang benar saja. Apa aku perlu ke basement pagi-pagi begini? Nicholas benar-benar keterluan. Akhirnya aku memutar langkah ku dan berjalan menuju basement. Rasanya aneh. Nicholas bilang, dia dan Mia akan berangkat pagi ini dari Jakarta. Tapi kenapa sekarang sudah sampai? Atau mereka mengubah jadwal keberangkatan mereka?
Akhirnya aku sampai di basement utama berkat bertanya-tanya pada staf hotel yang bertugas. Keadaan parkiran masih sangat sepi dan lumayan gelap. Aku mengedarkan pandangan ku ke sekeliling.
Ya Tuhan, aku benar-benar kaget ketika melihat seorang laki-laki berdiri di tengah-tengah parkiran menggunakan topeng berbentuk hewan. Ditengah keterpakuan ku, tiba-tiba ponselku kembali berdering nada notifikasi. Awalnya aku tak menghiraukan notifikasi ini karena aku terlalu terpaku dengan laki-laki bersetelan jas itu yang hanya diam menghadap ke arah ku.
Tapi bunyi notifikasi itu terus terdengar berisik hingga aku membuka puluhan pesan yang berisi satu kalimat yang sama.
"I got you."
Aku refleks menoleh ke arah laki-laki itu yang mengangkat satu tangannya menunjukkan ponsel dengan layar yang menyala.
Perlahan, aku mundur. Dia masih diam dalam posisi yang sama. Dan ketika aku mulai berbalik untuk pergi, aku mendengar suara sepatu kulitnya berlari kencang ke arah ku sehingga aku refleks berlari secepat yang ku bisa masuk kembali ke area hotel.
Aku menabrak seseorang, aku hampir berteriak tapi tertahan karena ternyata yang aku lihat adalah Ardi. Beberapa staf yang melihat ku, semuanya kelihatan heran.
Tapi aku langsung berbalik, sosok yang memakai topeng hewan itu sudah tak ada.
"Mbak Fiona," panggil Ardi yang aku abaikan. Aku segera kembali ke basement. Tidak ada orang. Hanya ada satu mobil BMW abu-abu yang tiba-tiba keluar dari parkiran dan melaju dengan cepat.
"Mbak Fiona -"
"Saya tadi dapat pesan..."
"Saya tahu Mbak Fiona, makanya Pak Nicholas langsung meminta saya mencari Mbak Fiona."
Aku menoleh cepat ke arah Ardi. Nicholas menyuruhnya mencari ku. Dia sudah tahu pesan yang dikirim ke ponsel ku. Apa maksudnya? Dia menyadap ponsel ku juga? Atau dia yang sengaja mengirim orang itu?