NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
PERLAWANAN



Meeting yang dimaksud oleh Nicholas ternyata bukan hanya antara aku, Nicholas, dan Hero. Tapi di ruangan meeting ini juga ada ... Mia. Entah kepentingan apa dia di sini. Dan Nicholas mengizinkannya saja.


Jujur saja suasana hatiku sedang tak bagus hari ini. Jadi mungkin, aku akan lebih banyak diam.


"Jadi, bagaimana Fiona? Do you have fun with all of this? Gimana rasanya jadi perbincangan banyak orang?" tanya Mia langsung menatap ke arah ku.


Aku tak menyahut. Bukan karena tak berani, tapi aku malas. Apapun jawaban yang keluar dari mulutku, pada akhirnya hanya akan membuatnya senang karena telah melakukan ini padaku.


Nicholas masih diam. Aku tak tahu apa yang dia rencanakan sekarang. Tapi aku masih berharap dia tak akan menggunakan rencana sebelumnya dengan menyebarluaskan rekaman itu.


"Kita harus stop kekacauan ini secepatnya," ucap Hero dengan raut wajah serius. Sementara aku mencibir pelan. Memangnya siapa yang membuat kasus ini menjadi besar?


"Nah, meskipun kekacauan ini bikin nama Hero melambung tinggi. Tapi dia tetap ingin mengakhiri semuanya kan?" sahut Mia menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


Aku berusaha keras untuk menahan diri ku agar tidak menimpali semua kata-katanya. Karena aku masih menghormati keberadaan Nicholas. Dan aku juga tak ingin dia mengada-ada kasus baru lagi.


"Lupakan perjanjian tawar menawar kita sebelumnya, Pak Nicholas," ucap Hero pada Nicholas yang hanya diam. Dia seperti sedang berpikir sambil mengamati kami semua dengan kedua mata tajamnya.


"Lalu?" tanya Nicholas akhirnya.


"Saya akan mengklarifikasi kejadian ini kepada awak media. Saya juga akan menjelaskan kalau kejadian waktu itu hanya salah paham karena keadaan bar yang ramai. Tapi ..."


Aku bersiap untuk menunggu kelanjutan ucapan Hero.


"Tapi saya ingin Fiona juga muncul di publik dan meminta maaf kepada saya. Saya mau dia ... Memohon maaf dan mengaku kalau semua ini hanya salah paham," lanjut Hero seketika membuat jantung ku mencelos.


Aku tak pernah ingin berada di sebuah kerumunan, menjadi pusat perhatian. Aku selalu menghindari orang-orang. Dan sekarang, aku harus muncul di hadapan mereka, dan melakukan hal yang tak seharusnya aku lakukan. Bagaimana harga diri ku diinjak-injak oleh orang ini.


"Itu jelas hanya akan memojokkan Fiona, dan mengangkat nama kamu lagi. Kamu pikir kita bodoh? Kamu lupa dengan ancaman saya sebelumnya?" tanya Nicholas menatap tajam ke arah Hero.


"Stop it, Nicholas. Jangan konyol ya kamu. Kalau rekaman itu tersebar, bukan cuma dia yang malu. Tapi kamu juga. Aku juga malu, seluruh keluarga kita malu, Nicho."


"Saya bisa lakukan apapun yang saya mau," jawab Nicholas masih menatap Hero dengan tatapan mengintimidasi. Okay, aku rasa ini lah dendam Nicholas yang baru terlihat hari ini kepada Hero. Aku yakin Nicholas sepertinya nekat untuk mempermalukan dirinya sendiri untuk menjatuhkan Hero.


"Saya kasih waktu kamu sampai malam ini. Kalau nggak, saya akan ungkap semuanya ke publik. Saya rasa kamu tahu apa yang bisa saya lakukan," tukas Nicholas segera beranjak dari duduknya menyudahi meeting yang ku rasa belum menemukan titik terang ini.


"Ini gak adil. Kalau Fiona gak mau muncul di publik, artinya dia harus minta maaf langsung ke Hero. Sambil bersimpuh, sekarang juga."


Nicholas berhenti melangkah ketika mendengar kalimat yang diucapkan Mia barusan. Begitu juga aku yang sungguh terkejut. Aku tak tahu bagaimana perasaan Nicholas melihat istrinya sebegininya membela pria lain hingga harus berdebat tak penting dengannya sekarang.


"Disgusting," tukas ku tertawa miris. Suara ku sebenarnya pelan. Tapi karena di dalam ruangan berukuran besar ini hanya ada keheningan, jadi suara ku terdengar amat jelas.


"What?" tanya Mia langsung menaruh pandangannya ke arah ku. Sudahlah aku muak, sungguh semua ini benar-benar bertolak belakang dengan otak ku.


"Apa yang kamu bilang barusan, Fiona?" tanya Mia sekali lagi.


"Disgusting, saya bilang menjijikan."


Aku tahu dari sudut mataku, Nicholas menoleh ke arahku. Namun dia tak berusaha menghentikan ku. Artinya aku boleh melanjutkan.


"Siapa yang kamu bilang, menjijikan? Apa hak kamu, Fiona? Inget ya, di sini kamu itu cuma asisten -"


"Maaf, Bu Mia. Yang saya maksud, orang itu. Hanya diam, berlindung dibalik seorang perempuan yang membela dia habis-habisan, sampai bertengkar dengan suaminya," ucap ku menaruh pandangan kepada Hero yang terlihat amat terkejut.


"Jaga bicara kamu ya, Fiona."


"Ini urusan saya dengan Hero. Dan saya perlu bicara berdua dengan Hero," ucap ku berusaha mempertahankan keberanian ku.


"Kamu pikir kamu siapa?"


"It's okay. Kalau dia mau bicara berdua," sahut Hero yang kelihatannya merasa tertantang juga dengan ucapan ku.


"Saya harap kalian gak menimbulkan keributan di sini," ucap Nicholas berjalan keluar dari ruangan tersebut.


Begitu pun dengan Bu Mia yang kelihatan berat, namun akhirnya pergi keluar ruangan.


Sekarang, hanya ada aku dan Hero yang duduk berhadapan. Aku menaruh tas kecil milikku di atas meja dan mulai menaruh perhatian pada Hero.


"Hero, saya tahu, sebenernya apa yang saya lakukan di Bali itu, bukan urusan saya. Untuk apa saya menyiram kamu ketika kamu mengejek Nicholas," ucap ku beranjak dari duduk ku dan berjalan menghampiri Hero yang malah tersenyum miring.


"Kamu tahu sekarang? Tapi semuanya sudah terlambat. Semua orang tetap akan menganggap kamu sebagai pelaku kekerasan."


"Hero," panggil ku sambil merangkul bahu Hero.


"Saya gak suka muncul di publik. Apalagi sambil berakting minta maaf. Ga ada cara lain untuk selesain masalah ini?" tanya ku pelan.


"Ada," jawab Hero sambil meraih pinggang ku mendekatinya. Ya Tuhan, ternyata orang ini benar-benar bisa dibujuk dengan hal kotor seperti ini.


"Temuin saya di Wings Hotel, besok malam tengah malam. Bisa?"


"Ngapain?"


"Menurut kamu?" tanya Hero mengusap pinggang ku. Sementara aku tersenyum miring.


"Ternyata, selain pengecut. Kamu juga bajingan ya, Hero?" ucap ku. "Saya yakin kamu gak mungkin masuk ke dunia perfilm-an kalau bukan hasil menggoda Mia. Saya heran, apa yang Mia lihat dari kamu," ucap ku sambil melepaskan tangannya dari pinggangku dan berdiri dengan tegap.


"Saya gak mau check in sama laki-laki bajingan kaya kamu," tukas ku dengan tegas.


"Tutup mulut sialan lo, ya. Sekarang posisi lo itu kejepit. Denger ya, sekarang gak sudi gue check in sama lo. Tapi jangan salahin gue kalau gue akan bilang ke media, lo itu udah nyiram gue tanpa alasan."


Hero tak segan melayangkan tinjunya di wajah ku lalu belum puas, ia juga menarik kerah kemeja ku dengan kasar.


"Orang-orang bakal datang kalau lo macem-macem."


"Siapa? Siapa yang mau nolong lo? Si Nicholas itu? Lo tuh cuma jadi mainannya doang tahu? Makanya gak usah sok punya kekuatan -"


Hero menghentikan ucapannya ketika pintu ruangan terbuka lebar oleh Nicholas dan ia segera menarik Hero dari ku. Ia mendorong Hero dengan kasar hingga tubuh laki-laki itu menghantam dinding. Kemudian, Nicholas segera menghampiri ku yang masih terbatuk-batuk karena leherku yang ikut ketarik saat Hero mencengkeram kerah kemeja ku.


"You okay?" tanya Nicholas segera membantu ku untuk berdiri.


"Hero!" panggil ku dengan susah payah menahan Hero yang hendak pergi keluar ruangan.


Aku mengangkat tangan ku dan menunjukkan ponsel ku yang sejak tadi merekam percakapan kami. Dan aku juga yakin Nicholas merekamnya juga melalui alat penyadap yang ia pasang di ponsel khususnya.


"Bang***!" rutuk Hero menatap kesal ke arah ku sementara aku baru sadar Nicholas masih memperhatikan ku dengan pandangan yang aneh. Ku rasa pandangannya berbeda dari biasanya, entah kenapa.


"Why you've to do this? Kamu tahu kan ini berbahaya?" tegur Nicholas.


"Ini satu-satunya cara agar Pak Nicholas gak perlu publikasiin rekaman saya dan dia waktu di Bali. Selain itu, saya juga yakin Pak Nicholas mendengarkan saya di luar, dan akan langsung datang kalau dia macam-macam," jawabku menjelaskan.


Nicholas kelihatan menghela napas panjang kemudian menggandeng tangan ku sambil berkata, "kita obati dulu luka di pipi kamu."


***


"Setelah video-nya banyak beredar di internet. Akhirnya Hero memberikan klarifikasinya mengenai kejadian penyiraman oleh seorang wanita di Bali."


"Aksi seorang wanita yang menyiram Hero di Bali viral, Hero menjelaskan: Semuanya hanya salah paham. Malam itu karena suara musik yang berisik, jadilah wanita itu salah paham dengan maksud bercandaan Hero."


Meskipun keributan belum mereda, tapi aku sangat bersyukur karena semuanya sudah dijelaskan oleh Hero tanpa perlu ada drama lagi dengan aku yang menyebarluaskan video rekaman ketika Hero menonjok ku.


"Gimana sama luka di pipi kamu?" tanya Nicholas ketika masuk ke dalam ruangannya dan menghampiri aku yang sedang duduk di sofa bersama Fio di pangkuan ku.


"Sedikit perih, tapi sudah membaik, Pak."


Nicholas menganggukkan kepalanya kemudian duduk di ujung sisi sofa yang jaraknya cukup jauh dari ku. Tak seperti biasanya.


"Pak," panggil ku akhirnya memberanikan diri.


Nicholas tak menyahut, ia hanya menoleh ke arah ku.


"Pak Nicholas dengar sendiri kan melalui alat penyadap itu. Saat saya bersama Hero? Dia bukan laki-laki baik-baik, Pak. Sebaiknya Pak Nicholas menunjukkan rekaman itu ke Bu Mia supaya dia tahu kalau laki-laki itu cuma mempermainkan dia," ucap ku dengan hati-hati.


Sebenarnya, aku tak ingin mengatakan ini. Entah kenapa, aku tak mau melihat Nicholas berbaikan dengan Mia. Padahal dulu, aku yang bersikeras agar mereka bertemu dan berbaikan.


Tapi anehnya, Nicholas malah tertawa pelan. Yap, dia benar-benar tertawa. Aku sendiri bingung dengan apa yang ia tertawakan. Apa karena dia sangat senang?


"Tanpa perlu kita kasih rekaman itu, saya yakin sekarang perasaan Mia sedang hancur setelah Hero membuat keputusan klarifikasi itu."


"Tapi bukannya ..."


"Good job, Fiona. Awalnya saya memang khawatir saat kamu bilang ingin bicara berdua dengan Hero. Tapi melihat keberanian kamu, well semuanya berjalan di luar ekspektasi saya," jawab Nicholas seketika membuat ku terdiam.


"Ya, dan saya harus dapat memar begini," sahut ku merasa konyol dengan keputusan mendadak ku tadi.


"Is that hurt?" tanya Nicholas.


"Haruskah Pak Nicholas bertanya?" sahutku tiba-tiba menjadi sangat sensitif.


"Kalau begitu, ini peringatan untuk kamu, Fiona. Jangan lakukan hal itu lagi."


"Hal apa? Mengancam orang?"


Nicholas menggelengkan kepalanya kemudian beranjak dari duduknya. Ia berdiri di hadapan ku. Tangannya meraih wajah ku pelan-pelan untuk melihat luka di pipi kiri ku sehingga aku harus mendongakkan kepala ku.


"Jangan mencoba, bernegosiasi dengan menggoda laki-laki, Fiona," ucap Nicholas sambil mengelus luka memar ku yang anehnya tak bisa lagi ku rasakan perihnya. Entah karena jari-jari Nicholas mengelusnya terlalu lembut, atau karena perhatianku mulai hanya terfokus padanya.


"Pak Nicholas, saya rasa ini juga berlaku untuk laki-laki," jawab ku pelan.


Nicholas tersenyum. Ia melepaskan jarinya dari wajah ku dan mundur selangkah menjauh dari ku. Entah kenapa aku malah tertawa melihatnya.


"Ayo, saya antar kamu ke apartmen, sekarang sudah aman," ucap Nicholas sambil meminta Fio dari gendongan ku.


Aku pun segera beranjak dari duduk ku. Wah, harus kembali ke apartmen. Di sisi lain aku merasa sangat lega, karena aku tak tahu bagaimana jadinya kalau aku harus tidur di satu ruangan yang sama dengan Nicholas.


"Tapi menurut saya, Pak. Maaf Pak, tapi kalau Pak Nicholas memberikan rekaman itu ke Bu Mia. At least, dia pasti akan meninggalkan Hero dan kembali sama Pak Nicholas," ucap ku ketika masuk ke dalam mobil Nicholas.


"Sejak awal, seharusnya Mia tahu kalau Hero bukan laki-laki yang baik, Fiona. Dan saya gak tertarik untuk memisahkan mereka," jawab Nicholas dengan santainya sambil memakai sabuk pengamannya.


"Maaf, Pak? Maksudnya?"


"Sudah jelas kan? Saya gak perduli dengan hubungan mereka. Saya hanya perduli dengan sakit hati Mia," jawab Nicholas yang sejurus membuat ku ketakutan.


Apa yang membuat Nicholas sebenci ini? Apakah itu artinya, Nicholas benar-benar sudah mati rasa dan hanya menyisakan rasa dendam untuk Mia? Tapi kenapa, ketika mencium ku kemarin, Nicholas mengatakan kalau ia ingin sekali selingkuh jika bisa. Kenapa juga tak bisa? Apa ada sesuatu yang menahannya? Rasa cintanya yang tak disadari, atau yang lain?


Astaga, kenapa aku begitu penasaran dengan Nicholas? Kapan kontrak ku selesai? Aku tak mau semakin terjebak dalam kehidupan Nicholas yang akan mempengaruhi prinsip ku selama ini.