
Lagi-lagi suara bising jalanan Kota Jakarta yang ku dengar. Sudah cukup bersenang-senang di Bali bersama Nicholas, dan waktunya kembali pada kenyataan. Sejujurnya, ini bukanlah hari pertama ku turun ke jalan raya untuk mengendarai mobil. Tapi tetap saja rasanya masih asing berkendara di jalanan pagi-pagi begini. Pelatih yang mengajarkan ku mengendarai mobil selalu menegaskan padaku kalau yang perlu aku ingat saat berkendara adalah peraturan lalu lintas, tetap tenang dalam situasi apapun terutama keadaan macet, dan selalu berhati-hati pada jalanan rusak.
Suara klakson mengagetkan ku - lagi. Bagaimana mungkin pagi ini aku sudah mendengar tiga kali klakson peringatan dari belakang mobil ku. Itu suara klakson mobil Nicholas yang mengawasi ku sejak kami keluar dari parkiran rumahnya.
"Jangan lupakan lampu sen, sayang. Ada motor di belakang kamu yang hampir menabrak mobil karena kamu gak menyalakan sen."
Aku refleks melihat ke kaca spion kiri mobil karena aku hendak belok ke kanan. Dan benar, memang ada satu motor yang kelihatan berhenti sejenak lalu melanjutkan laju motornya setelah memandang sinis ke arah mobil ku. Astaga, sebenarnya aku sudah tahu dan bisa melakukan hal itu. Hanya saja, kesemrawutan jalanan membuat ku jadi panik dan semakin gugup.
"Fokus Fiona. Jalanan depan, kaca spion, jangan lupa lampu sen. Berkendara terlalu pelan di jalan raya juga gak baik. Jangan ragu-ragu, selama kamu berada di kecepatan normal, semuanya aman."
"Iya, aku paham." Aku menjawab Nicholas yang mengomeli ku melalui sambungan telepon.
Aku memelankan laju mobil ketika sudah mendekati lampu lalu lintas yang menyala merah. Dan sejujurnya aku baru menyadari betapa berharganya lampu lalu lintas untuk aku beristirahat sejenak, setidaknya kalau tidak dalam kondisi terburu-buru.
"Aku masih berpikir, sebaiknya ada supir yang mengantar kamu."
"Nicho... sebesar-besarnya gaji karyawan di perusahaan kamu, apa kamu pernah melihat mereka datang ke kantor menggunakan supir pribadi?
Lagipula keputusan ini sudah sangat tepat dengan rencana Nicholas untuk tetap menyembunyikan status pernikahan kami. Meskipun, mungkin nanti ada yang mengetahui, setidaknya kami tak terang-terangan mengumumkan pernikahan ini. Tapi hingga saat ini, belum ada kabar apa-apa mengenai Nicholas, jadi aku asumsikan kalau belum banyak orang yang mengetahui tentang pernikahan kami. Baguslah.
Mobil Nicholas melaju duluan ketika kami sudah sampai di depan gedung Ark's Film menuju parkiran. Gedung ini masih dipenuhi oleh beberapa wartawan, dan inilah alasan kami masih menyembunyikan status pernikahan kami. Keadaan masih sangat kacau.
Isu perselingkuhan, para wartawan juga pastinya ingin meminta tanggapan Nicholas secara langsung mengenai kasus ini, karena sejak desas-desus skandal perselingkuhan Mia dan beberapa aktor muda itu, Nicholas masih enggan diwawancarai. Memberikan tanggapan saja tidak selain melalui juru bicaranya.
Tapi kali ini, Nicholas berencana untuk menggelar konferensi pers di salah satu aula gedung untuk pertama kalinya. Bukan karena Nicholas merasa terusik, tapi katanya, karena beberapa fans Hero sudah menggiring kasus ini melebar kemana-mana sehingga berpengaruh pada perusahaannya.
Dan aku, terpaksa harus menggantikan posisi Angeline sementara karena dia mengundurkan diri secara mendadak. Nicholas tak mempersulitnya, karena ia paham, Angeline pasti trauma setelah apa yang terjadi padanya tempo hari. Ketika beberapa orang aneh datang ke ruangan nicholas dan memaksa Angeline memberitahu di mana Nicholas sambil mengacungkan pisau.
Aku sudah sampai di ruangan Nicholas setelah menyapa beberapa staf di luar. Aku yang harus mengurus jadwal Nicholas, apa saja yang akan Nicholas katakan selama proses wawancara - tentunya dibantu oleh staf lainnya.
"Hey," sapa Nicholas begitu ia masuk ke ruangan sambil membuka kancing jasnya. Raut wajahnya kelihatan tenang. Karena mungkin satu-satunya yang merasa tegang dalam segala situasi semacam ini hanya aku.
"Hanya ada sepuluh wartawan yang diundang. Mereka perwakilan dari beberapa media berita ternama. Dan sesuai dengan permintaan kamu, gak ada wartawan yang berasal dari portal berita gosip." Aku menjelaskan kembali pada Nicholas lalu memberikan in ear yang sudah disiapkan Ardi tadi malam.
Nicholas memasang in ear itu di telinga kirinya, untuk berjaga-jaga. Ia akan segera menghentikan sesi wawancara jika keadaaannya riuh. Belajar dari pengalaman sepertinya. In ear itu terhubung dengan milik Ardi sehingga Ardi akan siap siaga bersama beberapa penjaga lain.
Bukan wartawannya yang ditakuti, tapi kami khawatir ada penyusup dari kelompok aneh keluarga Nicholas. Sistem keamanan perusahaan memang sudah bagus, hanya saja, orang-orang yang aku sering sebut psikopat itu jauh lebih pintar. Selalu memiliki cara untuk menyusup.
"Oke, I got it," ucap Nicholas menarik napasnya pelan-pelan.
"Sejujurnya, enggak. Kalau bisa, aku lebih baik menghilang lagi aja seperti beberapa minggu kemarin sampai mereka bosan menunggu kelanjutan berita ini."
"Aku yakin kamu tahu betul konsekuensi nya kalau kamu terus menghindar dan bungkam, Nicho. Keputusan ini udah benar kok."
Aku melirik jam tangan ku lalu menghela napas panjang.
"Acaranya masih dimulai dua puluh menit lagi. Apa kamu mau aku buatin kopi? Atau sesuatu ... Yang mungkin bikin kamu lebih tenang?" tanya ku sebenarnya berusaha mengalihkan Nicholas dari rasa khawatirnya.
"Sesuatu yang menenangkan?"
Aku mengangguk pelan. Tapi awas saja kalau sampai Nicholas meminta wine. Lebih baik aku menyodorkan es dawet ayu yang selalu berjualan di seberang gedung perusahaan ini.
Nicholas yang mendekati ku telah menghentikan pikiran ku. Dengan sangat teratur, ia meraih wajah ku dengan tangan kanannya dan mencium bibir ku. Tangan kirinya menarik pinggang ku mendekatinya, lebih tepatnya menempel karena terlalu erat dia memeluk ku.
"Kalau mereka bertanya soal kematian Mia, aku tetap akan membenarkan apa yang dikatakan polisi. Aku gak mau orang-orang aneh Kakek mengusik kita lagi," bisik Nicholas menatap ku lekat-lekat.
"Tenang aja, sayang. Semuanya akan berjalan lancar hari ini. Dan kita akan baik-baik aja," sahut ku berbisik sambil mengelus pipi Nicholas dengan hati-hati.
"Aku akan menyelesaikan semua masalah ini secepatnya, dan mengumumkan pernikahan kita," bisik Nicholas menggenggam tanganku.
"Gak perlu tertekan, Nich. Daripada itu, lebih baik kamu cepat-cepat cari sekretaris baru."
Nicholas tertawa kemudian menganggukkan kepalanya.
"Oke, kalau gitu kita perlu ke sana sekarang." Aku kembali mengingatkan Nicholas. Ia terlihat diam sejenak, kemudian menghela napas dalam-dalam.
"Oke," gumamnya berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu.
Tapi sebelum keluar dari ruangan, tiba-tiba Nicholas menoleh ke arah ku yang berada di sampingnya. Tanpa aba-aba, kali ini ia kembali mencium bibir ku dengan lembut. Aku menahan senyum ku. Untuk yang memperlakukan ku begini hanya Nicholas. Seandainya pria lain, mungkin aku akan menendangnya atau menamparnya saat ini juga.
"Hey, fokus. Kita baru pulang honeymoon," bisik ku menegur Nicholas.
"Ini hanya penyemangat extra, Fiona," jawab Nicholas tertawa pelan.
Ia hampir merangkul pinggang ku saat keluar ruangan, tapi aku buru-buru menurunkan tangan Nicholas. Dan kami berdua berusaha untuk bersikap tenang lagi berjalan menuju lift.