NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
YOU'RE SPECIAL, FIONA



Sejak Nicholas mengetahui aku sudah berbohong, akhirnya aku berterus terang dan memberikan kartu ucapan yang datang bersamaan dengan hadiah yang ku terima tadi kepada Nicholas. Lebih baik begini, daripada Nicholas berpikiran macam-macam tentangku. Dia pasti lebih frustrasi kalau sampai berpikiran aku yang mungkin mengkhianatinya.


Respon Nicholas, tentu saja marah. Dia melemparkan kertas itu ke tempat sampah, kemudian kembali ke sofa.


"Ini keterlaluan!" sentak Nicholas kesal. Dia sampai mengendurkan posisi dasinya dan melepaskan satu kancing kemeja atasnya.


"Nicho, sudahlah. Gak perlu dipedulikan. Nanti juga, mereka akan bosan," ucapku berusaha untuk menenangkannya.


"Fio, jika mereka masih meneror aku, it's fine. Tapi mereka mulai mengganggu kamu. Aku gak bisa biarin mereka. Ini penghinaan, Fio!" Nicholas meraih ponselnya hendak menelepon seseorang, tetapi aku segera menghentikannya.


"Nicholas, jangan melakukan sesuatu saat kamu marah. Okay? Kita gak bisa membalas mereka begitu aja tanpa strategi. Ingat kan? Kita harus memikirkan ini baik-baik," ujarku mencoba membujuk Nicholas.


Akhirnya, Nicholas menurunkan tangannya dan menaruh ponselnya di atas meja. Dia menundukkan kepalanya, kemudian menangkupkan telapak tangan di wajahnya. Dia nampak sangat frustrasi. Aku tahu, sebagai suami, Nicholas pasti merasa kesal dengan hadiah macam begini yang dikirimkan kepada istrinya. Aku juga tak bisa mengelak kalau aku sangat amat kesal ... Dan juga takut.


"Kita harus tenang, supaya bisa berpikir jernih, Nicho. Begini saja. Besok kita libur, dan kita harus membicarakan ini. Sekarang sebaiknya kita fokus untuk perusahaan, okay? Kita lupakan dulu masalah ini," ujarku yang disetujui oleh Nicholas.


"Tadinya aku ingin mengajak kamu ke acara perayaan ulang tahun kolegaku. Tapi jika begini ... Sepertinya itu bukan ide bagus," gumam Nicholas pelan.


"Kamu bisa pergi tanpa aku, kan? Lagi pula, pernikahan kita belum dipublikasikan," bisikku pelan.


"Kamu pikir aku bisa tenang meninggalkan kamu sendirian di rumah?" bisik Nicholas. Dia menggelengkan kepalanya pelan.


"Aku gak bisa, Fio. Aku gak akan memberikan mereka celah sedikit pun untuk menghampiri kamu, apa lagi mencelakai kamu."


Aku tersenyum kecil kemudian menepuk-nepuk lengan Nicholas.


"Oke, oke, Sir. Atur aja," bisikku lagi.


"Tunggu," ucap Nicholas beranjak dari sofa dan berdiri tepat di hadapanku.


"Kenapa?"


Nicholas tak menjawab, dia malah menarikku ke dalam pelukannya. Sangat erat sambil menyenderkan kepalanya di bahuku.


"Kamu bukan pelakor, atau wanita sejenis itu. Kamu harus ingat itu, Fiona? Kamu yang menyelamatkan laki-laki bodoh seperti aku," bisik Nicholas seolah mengerti perasaan apa yang kurasakan setelah mendapatkan kata-kata seperti itu lagi.


"Kamu gak pernah merebut aku dari siapa pun, Fiona. Karena sebelum bertemu dengan kamu, aku bukanlah milik siapa-siapa," bisik Nicholas yang lagi-lagi membuatku lebih tenang hingga memejamkan mataku dipelukannya. Nicholas pasti masih ingat betapa khawatirnya aku dulu, menjadi seorang perebut suami orang karena sejujurnya keluargaku pun hancur karena seorang perebut suami orang dan aku tak ingin menjadi wanita seperti itu.


"And now, i'm yours, Fiona," bisik Nicholas menatapku lekat-lekat. Dan aku meneteskan air mataku entah mengapa sangat tersentuh dengan ucapannya. Aku berjinjit memeluk lehernya dan mencium bibirnya pelan. Nicholas benar, dia suamiku sekarang. Apa yang perlu aku takutkan? Dia milikku saat ini. Tak peduli orang-orang berkata apa.


"Aku gak akan pernah bingung lagi kenapa aku bisa jatuh cinta sama kamu," bisikku sambil mengelus pipi Nicholas dengan hati-hati.


"Memangnya selama ini kamu masih merasa bingung?"


"Sebelum kita menikah ... Ya." Aku terkekeh pelan melihat wajah bingung Nicholas.


"Sekarang, aku malah bingung kenapa kamu bisa jatuh cinta sama aku," ucapku pelan.


Nicholas mengangkat alisnya, kedua tangannya makin erat memeluk pinggangku.


Aku mengeriyitkan keningku heran. Kapan aku pernah mengontrolnya? Apa maksudnya tentang balas dendam?


"Apa maksud kamu, aku ... Mengontrol kamu dalam hal balas dendam kemarin itu?" tanyaku ragu-ragu. Aku khawatir, ternyata selama ini tanpa aku sadari, aku telah mengontrol Nicholas.


"Bukan hanya itu, tapi kamu selalu mengontrol pikiran aku selama ini. How could you make me thinking about you everyday?" tanya Nicholas dengan alis berkerut sementara aku tertawa pelan. Apa yang aku perbuat hingga Nicholas memikirkanku setiap hari?


"Mungkin, karena kita setiap hari ketemu," jawabku, cukup masuk akal sepertinya.


"Masuk akal."


"So, Sir ... Apa kita mau begini terus sampe sore?" tanyaku menyindir posisi kami yang berpelukan begini.


Nicholas menghembuskan napas lagi, dan dia kembali memelukku sambil menunduk menyenderkan kepalanya di bahuku. Tak beberapa lama, dia kembali melepaskan pelukannya.


"Oke, kita lupakan ini semua sejenak. Dan kembali menyelesaikan pekerjaan." Nicholas menggandeng tanganku menuju meja kerjanya.


"Kenapa harus begini?" tanyaku bingung.


"Agar pekerjaan kita cepat selesai," jawab Nicholas menarik satu kursi lagi di sebelahnya untukku duduk. Dan dia mulai membuka laptopnya lagi, sementara tangan kirinya menggenggam tanganku. Astaga, Nicholas!


***


Sejauh ini tak ada yang mengetahui rumah Nicholas, maupun rumahku. Bahkan karyawan pun tak ada. Hanya aku, Ardi dan beberapa penjaga kepercayaan Nicholas.


Rumah besar ini memiliki tingkat keamanan yang cukup ketat. Dan tak sembarangan orang bisa masuk ke sini tanpa seizinku atau Nicholas.


"Dan, kenapa kamu masih khawatir aku sendirian di sini? Nicho, percaya deh, aku akan baik-baik aja di rumah. Yang terpenting itu kamu. Dengan kamu menghadiri pesta kolega ini, kamu menunjukkan kalau perusahaan kita baik-baik aja. Oke? Jangan bersembunyi, karena kamu gak bersalah dalam hal ini, Nicho," ujarku masih membujuk Nicholas yang masih merasa ragu-ragu untuk berangkat ke pesta ulang tahun kolega bisnisnya.


"Promise me, jangan pernah matikan ponsel kamu. Dan Fio, swear to God, bisa kan kali ini kamu jangan bandel dan nurut sama aku? Jangan kemana-mana. Stay here, okay?" oceh Nicholas menegaskan kepadaku. Dan aku hanya tertawa sambil menganggukkan kepalanya.


"Aku akan nunggu kamu di sini. Aku gak akan kemana-mana, dan aku janji akan terus aman," jawabku tersenyum.


Nicholas menganggukkan kepalanya, lalu dia mengecup keningku sebelum pergi dari hadapanku keluar menuju mobilnya.


Seperti yang Nicholas katakan, aku hanya diam di dalam rumah. Tepatnya di kamar, hanya berbaring sambil memainkan ponselku.


Sayang, kamu masih di rumah, kan?


Aku terkejut lalu tertawa pelan saat menerima pesan singkat dari Nicholas. Astaga, kenapa dia begitu khawatir padahal belum lama ini dia pergi.


Aku masih di rumah, di kamar. Have fun, Sir. Hati-hati dengan perempuan cantik di sana.


Setelah membalas itu, aku kembali memainkan media sosialku. Namun, kemudian aku dikagetkan dengan pesan masuk dari nomor tak dikenal.


Nicholas adalah keluarga pembunuh. Dan mereka menggunakan kekuasaannya untuk membungkam pihak berwajib. Mia tidak akan membiarkan hal ini. Dan jangan pikir kamu akan tenang menjadi istri dari Nicholas. Nasib kamu akan sama dengan Mia.


Tanganku seketika gemetar, lantas aku segera mencoba menelepon nomor tersebut. Namun, sudah tidak aktif lagi. Sialan klub aneh itu!