NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
RENCANA BARU



Nicholas sudah kembali. Dia belum sempat menjelaskan apa-apa kepadaku tentang apa yang dia bicarakan dengan Mahendra, karena dia harus langsung bertemu dengan klien sore ini. Dan lagi-lagi, aku harus mengikutinya.


Mereka berbincang-bincang tentang pekerjaan. Dan ketika pembahasan mereka soal pekerjaan sudah selesai, tiba-tiba saja mereka membicarakan hal-hal di luar pekerjaan yang awalnya biasa saja menurutku. Kecuali, ketika mereka membahas soal pasangan. Mungkin, beberapa dari mereka ada yang belum mengetahui kalau Nicholas sudah menikah denganku.


Mereka bicara pada Nicholas, yang intinya berniat mengenalkan Nicholas dengan kenalan mereka. Ya ampun, bahkan mereka menjelaskan segala poin tentang wanita itu, dari fisik sampai karir yang cemerlang. Hal itu membuatku agak kurang nyaman sebenarnya. Dan, ku rasa Nicholas mengerti gelagatku yang mulai merasa tak nyaman, sehingga dia segera berpamitan untuk pulang lebih dulu dan tidak ikut mereka makan malam.


Setelah itu, aku dan Nicholas langsung pulang ke rumah tanpa ke kantor terlebih dahulu.


"Wah, banyak sekali wanita yang ingin dikenalkan kepada kamu," ujarku begitu kami di mobil.


"Apa kamu mau membantu aku untuk memilih salah satu dari wanita itu?" tanya Nicholas yang ternyata mengerti candaanku barusan.


"Dari semua itu, aku merekomendasikan salah satu wanita."


"Oh ya? Wanita seperti apa?" tanya Nicholas sesekali melirik ke arahku ketika dia mengendarai mobil.


"Dia wanita muda, tubuhnya mungil. Memang tidak terlalu cantik, tapi dia cukup pandai memasak. Oh, dia orang yang lucu dan sangat pengertian ..."


"Well, sepertinya aku mengenal wanita itu. Apa dia memiliki tahi lalat kecil di pundaknya?" tanya Nicholas yang sukses membuatku terdiam saat itu juga. Aku berniat bercanda dengan Nicholas, tetapi kenapa dia membahas tahi lalat kecil yang ada di pundakku?


"Itu ... Dari mana kamu tahu, ya?"


"Karena aku pernah tidur dengannya. Jangan pernah bilang sama dia, kalau aku sangat hapal setiap bagian tubuhnya," bisik Nicholas tersenyum puas melihatku diam membeku. Lantas, aku segera memukul lengannya pelan. Sungguh, aku merasa agak salah tingkah mendengar hal semacam itu dari Nicholas.


"Kenapa kamu marah? Apa kita membicarakan wanita yang sama?" tanya Nicholas masih meledekku.


"Sayang sekali, sepertinya wanita-wanita yang ingin dikenalkan sama kamu harus kecewa, karena Nicholas sudah menjadi milik orang lain," timpalku membalasnya.


"Nah, itu kamu tahu. Nicholas sudah ada yang punya. Jadi, tidak ada kesempatan untuk wanita lain ... Sama sekali," jawab Nicholas sambil memarkirkan mobilnya di parkiran rumah kami.


"Terima kasih karena sudah memperjelas hal itu ..." Aku mengeluarkan cincin kawinku dari dalam tas, lalu memakainya. Nicholas tertawa, kemudian dia juga memakai cincin kawinnya.


"Kapan kita bisa memakai ini di depan semua orang?" gumam Nicholas pelan.


"Setelah ... Semua masalah ini selesai, aku janji kamu boleh memberitahu publik tentang pernikahan kita. Aku udah gak peduli lagi, kalau orang-orang berpikir aku wanita murahan atau perebut suami orang -"


"Hey, sayang ... Jangan ngomong begitu. Kamu tahu, kamu bukan perempuan kaya begitu, Fio," bisik Nicholas meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Lantas, aku tersenyum dan membalas genggaman tangan Nicholas.


"Aku tahu. Makanya, aku gak perduli. Yang penting, kamu gak memandang aku seperti itu," jawabku masih tersenyum menatapnya. Nicholas mengangguk, kemudian dia meraih wajahku, lalu mencium bibirku dengan lembut.


"Hari ini aku belum sempet cium kamu," bisik Nicholas sambil mengelus pipiku dengan jarinya.


"It's not a big deal, Sir," jawabku pelan.


"Tapi ini masalah untuk aku. Pantas aja hari ini moodku gak bagus seharian. Ini penyebabnya," sahut Nicholas membuatku menahan tawa mendengarnya.


"Apa sekarang mood kamu sudah membaik?" tanyaku.


"Masih kurang," jawab Nicholas mengangkat alisnya, sementara kedua matanya lurus menatapku dengan tatapan yang ku rasa aku mengerti artinya. Lantas, aku kembali mendekatinya dan mencium bibir Nicholas. Aku meraih pipinya, lalu ******* bibir Nicholas dengan lembut sambil memejamkan mata. Nicholas menaruh kedua tangannya ke pinggangku, lalu memelukku.


"Nicho ... Nicho, tunggu. Ini ... Kayanya udah berlebihan," ucapku memperingati Nicholas. Namun, laki-laki ini tetap menciumku, sampai akhirnya aku menepuk-nepuk bahu Nicholas.


"Kenapa? Kita kan sudah menikah, Fio."


"Gak di sini juga, Nicho ..." Aku tertawa geli melihat Nicholas mengedarkan pandangannya seolah dirinya baru sadar kami berdua masih berada di dalam mobil.


"Kita masuk ke rumah sekarang," bisik Nicholas sambil membuka dasinya dengan terburu-buru lalu keluar dari mobil.


Aku tertawa pelan melihat tingkah Nicholas. Bahkan, dia sampai membuka jasnya, dan membukakan pintu mobilku.


"Kamu mau jalan sendiri, atau mau aku gendong?" tanya Nicholas.


"Gendong," jawabku menantangnya. Nichola menatapku, dia mengangkat kedua alisnya sambil menahan senyumnya. Kemudian, dia benar-benar membungkuk dan menggendongku keluar dari mobil.


"Udah, udah. Nicho, aku cuma bercanda."


"Terlambat, sayang. Aku sudah terlanjur menggendong kamu, dan gak akan aku turunin sampai di kamar," jawab Nicholas benar-benar membuatku menutupi wajahku dengan kedua tanganku. Masalahnya, kami melewati para penjaga rumah Nicholas. Ini memalukan, sungguh!


***


Dua cangkir teh tersedia di ruang tamu. Malam ini aku dan Nicholas sudah sepakat untuk membahas mengenai Mia dan keluarganya. Aku juga harus menunjukkan pada Nicholas rekaman suara Mia yang terlewatkan olehnya.


"Aku mengunjungi Mahendra untuk membicarakan mengenai kotak hadiah teror yang selama ini dia kirim. Dia tidak terlihat kaget saat mendengar kalau aku sudah mengetahui dia orangnya," ucap Nicholas terlihat murung.


"Lalu, gimana respon dia?" tanyaku.


"Sikapnya sangat dingin. Dia sudah menduga kematian putrinya ada turut campur dari kelompok aneh itu. Dan, dia juga menyalahkan aku karena menduga aku ikut campur dengan kelompok aneh itu -"


"Gimana bisa dia mengira begitu? Untuk apa kamu membunuh Mia, padahal jelas-jelas kamu mengambil keputusan untuk menceraikan dia, kan?" tanyaku memprotes gagasan itu. Aku benar-benar tak terima setiap kali mendengar orang yang menyalahkan Nicholas terlibat dalam kematian Mia.


"Karena bagaimana pun, kelompok aneh itu keluarga aku, Fio. Jadi, jelas aja dia mengira aku ikut bekerja sama, setidaknya untuk menutupi kelakuan mereka."


Oh, ya aku mengerti sekarang. Sudah jelas Nicholas ikut disalahkan.


"Lalu, gimana? Apa Mahendra menuntut kamu sesuatu?" tanyaku.


"Aku menjelaskan sama dia, kalau aku gak pernah terlibat apapun yang dilakukan oleh Kakek dan Paman. Bahkan, meskipun aku menduga kematian Mia disebabkan hal tak wajar, aku gak tahu kalau itu benar ..." Nicholas berhenti sebentar untuk mengambil napas. Dia kembali menatapku.


"Dan, aku bilang sama Mahendra kalau aku akan mengusut ulang kasus kematian Mia. Asalkan ... Kita semua merahasiakan penyelidikan ini," ucap Nicholas dengan lugas.


"Jadi ... Kamu akan melaporkan pada polisi lagi?"


"Kasus ini sudah ditekankan sebagai kasus bunuh diri. Kita perlu menemukan bukti kuat sebelum melaporkan pada polisi. Jadi, aku akan menyewa detektif swasta," bisik Nicholas.


Aku menganggukkan kepalaku mengerti. Baiklah, jadi Nicholas sudah memiliki rencananya sendiri. Dan aku akan membantunya. Apa pun akan aku lakukan asalkan Paman dan Kakek Nicholas itu segera mendekam di penjara.