NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
PENGIRIM MISTERIUS



Bagus sekali. Baru saja dua orang aneh yang merupakan kakek dan paman Nicholas datang, lalu ada paket misterius yang juga datang. Mengapa mereka terlalu mudah ditebak?


Aku masih memerhatikan Nicholas. Dia memang masih terlihat berusaha untuk tenang, tapi aku tahu Nicholas sedang gelisah. Dia memang sangat amat ahli menyembunyikan kepanikannya. Bukannya aku cemburu, justru aku merasa benar-benar khawatir dengan ini. Foto pernikahan Mia, lalu wajah Nicholas yang dirusak, dan potongan-potongan berita tentang permasalahan ini.


Tunggu, sepertinya aku menyadari sesuatu. Ketika Nicholas sedang meminum air mineral, aku melangkahkan kaki menghampirinya dan berdiri di sebelah kursi Nicholas untuk melihat isi paketnya dengan lebih teliti. Mengapa aku merasa, paket ini bukan dari Sadewa atau pun Giandra, ya? Semua barang-barang ini seolah menunjukkan padaku kalau ada seseorang yang sedang menyalahkan Nicholas dalam kejadian ini. Wajah Mia yang tak dirusak pada foto-foto ini seolah mempertegas hal itu. Bagaimana kalau ada pihak dari keluarga Mia yang ternyata mengirimkan ini?


"Nicho ..."


"Aku tahu. This is getting worse, Fio. Mereka pasti marah karena aku gak memberikan suntikan dana. Mereka benar-benar konyol," gumam Nicholas terlihat sedang menahan kesalnya.


Melihat kondisi Nicholas yang begini, aku jadi merasa serba salah. Jika aku mengutarakan pendapatku yang masih belum tentu benar ini, bisa-bisa hanya menambah pusing Nicholas saja. Ku rasa, Nicholas harus menenangkan diri dulu, karena sebentar lagi rapat dimulai.


Baiklah, karena Nicholas sudah memiliki sekretaris, aku mungkin bisa menyelidikinya sendiri sampai dapat informasi lebih valid.


"Ya udah, kamu tenang aja, sayang. Keputusan kamu udah benar kok, gak ngasih suntikan dana untuk mereka," ucapku sambil mengelus-elus bahu Nicholas dengan lembut.


"Gak perlu dipikirin. Mereka gak akan berani menyentuh kamu sama sekali."


"Justru aku mikirin kamu," jawab Nicholas meraih tanganku yang ada di bahunya, dan dia genggam erat.


"Mereka lebih gak bisa menyentuh aku sama sekali, kalau begitu. Kan ada kamu," sahutku sambil tersenyum mengelus pipinya dengan tanganku satu lagi. Nicholas menghela napas panjang, dia mengecup punggung tanganku yang digenggamnya.


"Kalau kamu gak ada sekarang, mungkin aku akan mengurung diri di private room," bisik Nicholas sambil bergerak memeluk pinggangku.


"Seharian, dengan alkohol."


"Oh, ya? Aku gak tahu kehadiran aku ternyata sangat berarti buat kamu," candaku sambil memeluk kepala Nicholas.


"Kamu keterlaluan juga, Mrs. Nicholas Arrasya."


Aku tertawa pelan, "Lebih baik kamu menenangkan diri dulu, Nicho. Sebentar lagi kamu harus ikut rapat."


"I did. Ini aku lagi menenangkan diri," jawab Nicholas mengeratkan pelukannya. Oh, begini rupanya. Aku pikir, Nicholas harus menyendiri di private room lagi sampai tenang, seperti biasanya.


"Kamu tenang ya, sayang. Semuanya akan baik-baik aja," bisikku mengelus tengkuk belakang rambut Nicholas.


"Pokoknya kita harus berhenti memikirkan ini semua, Fio. Kita harus hidup normal, dan aku benar-benar ingin fokus mengembalikan citra perusahaan," bisik Nicholas pelan.


"Iya. Kita fokus dengan perusahaan aja," jawabku menyetujui. Kecuali, jika mereka benar-benar mengusik Nicholas lagi, aku akan turun tangan sendiri. Meskipun sulit sekali mempercayai kematian Mia dan Hero sesuatu hal yang disebabkan oleh kesalahan mereka sendiri, aku harus mengikuti apa yang Nicholas katakan saat ini. Toh, keputusan Nicholas juga bukanlah keputusan yang salah.


***


Hari berlalu cukup tenang belakangan ini. Namun, aku belum mendengar kabar mengenai Ardi. Meskipun begitu, Nicholas mengatakan kalau dia sudah bisa menghubungi Ardi dan memastikan Ardi baik-baik saja. Tidak ada teror lagi, selain berita-berita tentang Mia, Hero, dan Nicholas yang masih sliweran dimana-mana. Pemicunya hanya satu, fans Hero yang terus menuntut Nicholas untuk bicara dan bergerak. Mereka tetap menyalahkan Nicholas. Mereka tetap berpikir bahwa Nicholas bertanggung jawab atas keputusan Hero yang mengakhiri hidupnya sendiri.


Aku sedikit bersyukur keluarga Hero juga tidak ikut memperkeruh suasana. Mereka masih bungkam jika didatangi wartawan. Jelas saja, mereka pasti masih dalam keadaan berduka. Jiwa penasaranku terus bergejolak, masih berpikir kalau Hero dan Mia pasti dipaksa mengakhiri hidup entah dengan cara apa, dan apa yang membuat anggota kelompok itu melakukannya. Bahkan, Nicholas juga mengatakan bahwa Edward menghilang sejak berita kematian Mia. Itu semua jelas mencurigakan.


Bagaimana, jika anggota kelompok aneh itu sengaja menghabisi Mia dan Hero untuk menyudutkan Nicholas? Aku merinding membayangkan itu. Jika memang benar, artinya mereka benar-benar psikopat. Gila.


"Hey, sweetheart. Daging asapnya hampir gosong."


Aku terperangah kaget ketika mendengar suara Nicholas yang tiba-tiba berdiri di sebelahku. Dia mengecilkan api kompor dan membalik daging asap yang sedang aku masak. Ya ampun, aku terlalu lama melamun.


"Maaf, maaf."


"Apa yang sedang kamu pikirkan, hmm? Ini masih pagi, dan kamu melamun?" tanya Nicholas sambil mematikan kompor, dan mengangkat daging slice tipis itu ke piring.


"Bukan apa-apa," jawabku tertawa pelan.


"Kamu serius? Hey, jangan sungkan untuk mengatakan apapun sama aku, oke? Kalau ada yang mengganggu pikiran kamu atau apa pun, kasih tahu aku," ucap Nicholas menatapku serius.


"Kamu yakin?"


Nicholas menganggukkan kepala dengan mantap. Dia sampai melipat kedua tangannya di depan dada menungguku bicara.


"Rumah ini terlalu besar untuk kita berdua, Nicho. Memang ada asisten rumah tangga, tapi mereka kan sangat pendiam. Well ..." Aku menggantungkan kalimatku sambil menghela napas panjang. Sementara Nicholas tercengang.


"Jadi, kamu melamun karena rumah ini terlalu sunyi?" tanya Nicholas.


Aku mengangkat bahu sekilas, kemudian menggigit bibirku.


"Yah, mungkin akan lebih ramai kalau ada orang lain seperti ... Anak-anak ... Atau ..." Aku bermaksud untuk bercanda, dan itu berhasil membuat Nicholas semakin tercengang, lalu dia mengigit bibirnya sambil menahan tawanya.


"Anak-anak?" tanyanya.


"Ya, anak-anak ..."


"Well, tetangga rumah ini sangat jauh.  Dan, kebetulan aku juga gak punya keponakan. Jadi ... Mungkin anak-anak kita?" Aku semakin keras untuk berusaha menahan tawaku. Sementara Nicholas telah gagal, dia malah tersenyum lebar sambil menatapku.


"Oh ... Kalau begitu maksud kamu ... Artinya kita harus lebih sering buat anak," jawab Nicholas pelan, kakinya melangkah mendekatiku, tapi aku melangkah mundur.


"Maksudnya? Ini ngapain deket-deket?"


"Kita mulai sekarang aja. Kamu tahu sistem reproduksi, kan?" tanya Nicholas menantangku.


"Oh, itu. Maksud kamu itu ... Kan tadi pagi udah, Nicho," bisikku masih berusaha menahan tawaku dan melangkah mundur.


"Lebih sering kan, lebih baik, sayang ..."


"Tapi ... Kita kan harus - Hwuaa! Nicho!" seruku kaget saat Nicholas berusaha menyergapku. Dan aku reflek berlari darinya. Ya ampun, aku benar-benar kaget.


"Kita harus siap-siap ke kantor, Nicho!" seruku sekali lagi karena Nicholas berhasil menangkapku dan langsung menarikku ke dalam pelukannya.


"Tadi siapa yang nantangin, hmm?"


"Siapa? Gak ada kok." Aku tertawa terbahak-bahak karena Nicholas membalasku dengan menggelitik pinggangku. Astaga aku kelelahan hanya karena bercanda dengan Nicholas.


Hingga akhirnya Nicholas berhenti dengan masih memelukku erat.


"Sayang," bisik Nicholas.


"Hmm?"


"Yang tadi itu ... Bercanda, kan? Soal anak," tanya Nicholas.


"Kenapa memangnya?" tanyaku bingung mengapa Nicholas harus menegaskan hal tadi.


"I'm not ready to be father," bisik Nicholas tepat ditelingaku. Dan aku mengerti, mengapa Nicholas belum siap memiliki anak. Dia masih memiliki banyak masalah dan trauma masa kecil.


"When ever you ready, Nicho. Aku mau kok, nunggu kamu. Gak perlu terbebani dengan hal itu, ya?" jawabku sambil mengelus lengan Nicholas.


"Makasih ya, sayang," bisik Nicholas mencium pipiku. Dan dia terpaksa melepaskan pelukannya saat menerima panggilan telepon dari seseorang.


"Siapa?" tanyaku.


"Damian, anaknya Ardi," jawab Nicholas sebelum mengangkat panggilan telepon itu. Aku tak tahu apa yang dikatakan Damian, tapi ekspresi wajah Nicholas langsung berubah. Dia tergugu, tak mengatakan apa-apa. Sampai, akhirnya dia menutup panggilan teleponnya.


"Kenapa, Nicho?"


"A-aku harus ke rumah sakit sekarang. Kamu, sebaiknya kamu diam di rumah, gak perlu ke kantor, okay?"


"Tapi ..."


Nicholas tak menggubrisku. Dia bergegas menarikku untuk ke kamar dengan panik. Ada apa sebenarnya?


Dia hendak meninggalkanku di kamar, tapi kemudian dia kembali berbalik sambil menghela napas.


"No, kamu ... Kamu harus ikut aku juga," ucap Nicholas mengisyaratkanku untuk segera mengambil jaket.


"Nicho, hey. Tenang. Kamu harus tenang, supaya kita bisa mengambil keputusan," ujarku menahan Nicholas sambil menepuk-nepuk dadanya pelan. Nicholas menarik napas, lalu mengeluarkannya sampai dia merasa lebih tenang.


"Ada apa sebenarnya?"


"Damian, dia bilang ada yang mencelakai Ardi dan sekarang dia kritis di rumah sakit," jawab Nicholas pelan. Aku terdiam mematung. Ardi dalam kondisi sekarat di rumah sakit. Oh, tidak, apa lagi ini? Tapi dari raut wajah panik Nicholas, mungkinkah ini masih perbuatan kakek dan pamannya?


"Nicho, apa ini ulah mereka?" tanyaku sedikit mendesak.


"Aku harap bukan."


"Tapi Ardi bilang dia gak lagi menyelidiki apa-apa tentang Mia, kan?" tanyaku sedikit meninggikan suara.


Nicholas menghela napas berat. Sangat berat sampai dia menundukkan kepalanya.


"Saya meminta Ardi mengawasi rumah Hero. Karena khawatir Paman dan Kakek akan mendatangi mereka untuk melakukan pengancaman."


Sekali lagi aku terperangah kaget. Kedua mataku melotot, bahkan aku harus menggunakan tanganku untuk menutupi mulutku yang ternganga.


Apa maksud Nicholas dengan semua ini? Jadi, maksudnya, dia diam-diam juga mencurigai paman dan kakeknya terhadap kasus Hero? Artinya selama ini Nicholas berusaha bermain lebih aman dengan hanya meminta Ardi mengawasi rumah Hero. Dan ternyata, Ardi tetap harus bertarung nyawa. Aku sungguh-sungguh berdoa semoga Ardi selamat. Ini benar-benar tidak adil!