
Konferensi pers singkat pun dimulai. Aku tahu ini akan menjadi sebuah hal baru yang tak disukainya. Tapi seluruh staf perusahaan setuju, mereka semua akan diam setelah Nicholas mau buka suara.
Aku mengawasi tak begitu jauh dari meja podium konferensi pers tempat di mana Nicholas, direktur perusahaan, dan kuasa hukum Nicholas berada.
Sejauh ini, aku perhatikan, para wartawan pilihan ini sangat teratur dan memberikan pertanyaan secara bergantian. Aku tak perlu khawatir sepertinya.
"Bu Mia diketahui sudah melakukan tindakan tak sepatutnya itu kepada para aktor muda sejak beberapa tahun lalu. Apakah Anda sebagai suaminya tidak melihat indikasi seperti itu? Lalu, apakah selama ini hubungan Anda dan Bu Mia akur? Anda begitu mantap menceraikan mendiang Bu Mia seolah-olah Anda sudah tahu kejadian ini untuk kesekian kalinya."
Nicholas terdiam sejenak. Aku tak tahu apa yang membuat Nicholas ragu untuk menjawab.
"Mengenai hal itu, saya tidak ingin menjadikan permasalahan rumah tangga saya sebagai konsumsi publik."
"Pak Nicholas, apa Anda bisa bertanggung jawab pada para aktor yang menjadi target Bu Mia selama ini? Apa Anda bisa memberikan inisial aktor siapa saja yang pernah dekat dengan Bu Mia selain Hero?"
"Saya sudah berulang kali meminta maaf atas kejadian ini. Tapi penguasa hukum Mia juga sudah menjelaskan kalau aktor-aktor itu menjalin hubungan dengan Mia secara sadar tanpa adanya paksaan, sehingga saya tak perlu bertanggung jawab atas apapun. Mengenai inisial, rasanya tidak etis jika saya bahas dan menjadi konsumsi publik."
Perhatian ku beralih dari sesi wawancara karena salah satu staf menghampiri ku. Ia mengisyaratkan pada ku untuk mendekatinya.
"Ada apa?"
"Kayanya kamu harus mengubah sedikit jadwal Pak Nicholas, Fi."
"Kenapa?"
"Hero. Dia ditemukan meninggal di apartemen nya dini hari tadi. Pak Nicholas harus melayat ke sana. Kamu bisa bujuk kan? Gimana pun, kita harus membangun citra yang bagus lagi. Dan Hero juga pernah bekerja sama dengan perusahaan ini."
Hero meninggal? Tidak mungkin. Kenapa bisa? Rasanya tubuhku lemas. Pikiran ku sudah terpecah kemana-mana. Ada apa dengan Hero?
"Apakah Anda tahu mengenai kematian Hero? Apa Anda bisa bertanggung jawab atas hal ini?"
Astaga, ini lebih parah. Aku dan Nicholas sama sekali tak memeriksa berita harian. Apalagi mengenai Hero. Dan aku yakin Nicholas sama kagetnya dengan ku. Dari raut wajahnya, Nicholas berusaha keras untuk tetap bersikap tenang meskipun aku bisa melihat dia mengepalkan kedua tangannya di bawah meja. Dari samping sini begitu jelas terlihat.
Keadaan aula ini tiba-tiba menjadi kacau ketika Nicholas beranjak dan memilih untuk meninggalkan aula tanpa mengatakan apa-apa kecuali menunduk memberi salam.
Para wartawan itu mencoba menghentikan Nicholas, tapi untungnya ada petugas keamanan dan staf. Jika memang Hero meninggal karena masih berkaitan dengan misteri kematian Mia, aku yakin Nicholas akan kembali terseret dalam banyak berita gosip.
***
Aku bukan hanya harus mengubah 'sedikit' jadwal Nicholas. Tapi juga mengerjakan segala urusan kantor yang tertunda. Bukan hanya itu, jadwal Nicholas bahkan menjadi berantakan akibat semua kekacauan ini.
Nicholas keluar dari private room, kemarahannya mungkin sudah mereda, tapi wajahnya tetap ditekuk.
"Seharusnya memang kita gak perlu mencampuri urusan orang lain," ucap Nicholas menghela napas dalam-dalam.
"Nicho... Sebenernya apa yang tadi kamu obrolin sama mereka?" tanya ku dengan hati-hati.
Nicholas mengalihkan pandangannya ke arah lain, lalu berjalan menuju meja kerjanya.
"Menurut laporan keluarga, penyebab kematian Hero adalah bunuh diri. Tapi saya yang sok tahu, malah menyarankan mereka untuk melakuan otopsi," jawab Nicholas membuka laptopnya. Wajahnya terlihat berat. Dan aku tahu betul, ia sedang bimbang dengan dirinya sendiri.
"Kamu menyarankan mereka otopsi karena kamu merasa ada yang janggal, kan?" ucap ku ikut menghampiri Nicholas dan berdiri di sebelahnya.
"Bukan. Itu murni karena ketololan saya yang bicara seenaknya," jawab Nicholas kesal.
"Kalau kamu pikir ada keanehan dalam semua ini, aku juga berpikir begitu, Nicho," bisik ku hingga Nicholas refleks menoleh ke arah ku dengan raut wajah penasaran.
Tapi kemudian, Nicholas menggelengkan kepalanya.
"No, enough. Kita gak perlu turut campur sama apapun yang terjadi dengan mereka, sayang," jawab Nicholas.
"You really want to ignore it?"
Nicholas menumpu keningnya di tangan yang ia senderkan di atas meja. Kemudian ia menekan sudut-sudut matanya terlihat sangat tertekan.
"Here, Fiona," gumamnya sambil menarik ku mendekat. Ia memeluk pinggang ku dan menyenderkan kepalanya di perut ku. Oh, bayi besar ini sedang mulai kebingungan. Dan aku harus membalas pelukannya agar dia benar-benar merasa tenang.
"Udah jangan sedih lagi, Nicho. Semuanya akan baik-baik aja, aku pasti akan selalu dukung kamu, no matter what ..."
Aku berhenti bicara ketika ponsel ku berdering tanda panggilan dari Erren. Jadi, aku segera mengangkat panggilan telepon tersebut meskipun Nicholas masih memeluk ku.
"Ya? Erren?"
"Pak Nicholas sudah pulang ya?"
Aku melirik ke arah Nicholas yang sepertinya mendengar suara Erren, kemudian ia mengangguk pelan sebagai tanda untuk jawaban ku.
"Ya... Semua jadwal Pak Nicholas kan diundur hari ini. Jadi..." Aku berhenti sejenak saat Nicholas menarik kemeja ku dari dalam rok, lalu membuka kancing bagian bawah kemeja.
"Jadi Pak Nicholas memilih untuk pulang duluan ..."
"Oh, gitu. Kasian juga ya, Pak Nicholas. Dia pasti shock banget dengan semua ini."
Aku melotot ke arah Nicholas yang malah mengelus perut ku di balik kemeja.
"Erren, apa ada masalah? Soalnya aku masih harus ..." Aku berhenti bicara lagi karena Nicholas mencium perut ku secara acak dan semakin ke atas astaga Nicholas benar-benar!
"Oh iya, jadi gini, Fi. Kemarin kan Pak Nicholas minta aku untuk cari sekretaris baru. Nah, kayanya aku perlu kualifikasi lebih detail nya lagi untuk calon karyawan..."
Aku berusaha memperingatkan Nicholas dengan menepuk-nepuk bahu Nicholas. Tapi dia malah tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya.
"Nah makanya aku perlu nanya lagi. Oh iya, kamu masih ada di kantor kan?"
"Oh, aku ... Hmm... Ini iya ... Masih di kantor sih ..."
"Fio? Kenapa? Kok napas kamu kaya berat gitu?"
Gara-gara Nicholas! Dia menciumi leher ku saat aku sedang menelepon. Apa Nicholas sedang mengerjai ku lagi?
"Oh ... Gini..."
"Aduh kamu kenapa sih, Fi? Udah deh aku nyusul aja ke ruangan Pak Nicholas ya. Biar kita ngobrol langsung aja."
"Eh, Er..."
Teleponnya sudah dimatikan. Ya ampun, Nicholas!
"Gak apa-apa," bisik Nicholas lalu ******* bibir ku dengan lembut hingga aku tak bisa protes lagi. Aku hampir saja terlarut sampai aku mengingat kalau tadi Erren bilang dia akan menyusul ku ke sini.
"Nicho, Nicho... Erren mau ke sini," bisik ku menghentikan Nicholas. Tapi Nicholas tak berhenti.
"Kalau gitu kita yang pergi."
"Apa?"
"Private room," bisiknya sambil menggendong ku yang masih terkejut.
"Nicho..."
"Would you kiss me, Mam?"
Aku tertawa lalu menunduk untuk mencium bibir Nicholas sementara Nicholas menekan tombol khusus private room.
Seperti biasa, rak buku itu berputar membuka jalan untuk masuk ke dalam ruangan rahasia Nicholas. Aku refleks tertawa saat Nicholas terbentur sisi pintu karena terlalu bersemangat membalas ciumanku.
Aku tak tahu bagaimana dengan Erren nanti. Pokoknya itu tanggung jawab Nicholas!