
Begitu mobil Nicholas sampai di parkiran gedung apartmen, dia ikut keluar dan berjalan beriringan ke dalam gedung dengan ku.
Sebenarnya, ini agak mengganggu mengingat apa yang telah terjadi pada kami berdua malam sebelumnya. Dan menurut ku, Nicholas tak perlu mengantar ku sampai ke dalam untuk menunjukkan kalau aku benar-benar selingkuhannya. Toh, Mia sudah tahu itu, dan aku yakin saat ini ia sedang direpotkan dengan Hero.
"Ada yang ingin saya tanyakan, Pak."
"Apa?" tanya Nicholas masih berjalan menuju lift. Bertepatan dengan itu pintu lift sudah terbuka dua orang keluar dari lift, sementara kami berdua mulai masuk ke dalam.
"Orang-orang begitu mudah menemukan skandal Hero, dan saya. Tapi kenapa mereka gak tahu soal perselingkuhan Mia atau ... Pak Nicholas? Saya rasa, mereka akan mengorek lebih dalam soal itu," ucap ku pelan. Seperti sedang berbisik. Itu memang hal yang sangat mengganggu pikiran ku sejak lama.
"Mereka mungkin punya kesempatan itu. Mengorek informasi mengenai saya, dan gak ada jaminan juga mereka gak tahu skandal saya ataupun Mia," ucap Nicholas kemudian menghela napas panjang.
"Tapi saya jamin, gak ada yang berani untuk angkat berita itu. Lagipula, media lebih tertarik dengan skandal artis. Bukan atasan mereka atau orang-orang yang hanya bekerja di balik layar."
Aku mengangguk pelan, yah memang masuk akal alasan itu. Yang tidak masuk akal itu justru kenapa mereka sampai tak mengetahui skandal seperti ini padahal terlihat begitu jelas.
Ketika sudah sampai di depan apartmen, ponsel Nicholas berdering tanda panggilan masuk. Nicholas segera mengangkat panggilan tersebut, sementara aku hanya diam di belakangnya menunggunya selesai untuk berpamitan dan mengucapkan terimakasih.
"Mia meminta saya untuk menemani dia minum. Kalau kamu perlu sesuatu, beritahu Ardi okay? Dia akan stand by dua puluh empat jam," ucap Nicholas entah kenapa membuat ku merasa terganggu.
"Ya, Bu Mia memang seharusnya sedang membutuhkan Pak Nicholas sekarang," jawab ku terdengar lebih ketus dari yang ku perkirakan. Ada apa Fiona?
"Kenapa saya merasa nada kamu barusan itu sedikit ... Sinis?" tanya Nicholas menyadari itu juga ternyata.
"Apa? Maaf, Pak. Saya, permisi," jawab ku tersenyum tipis kemudian menekan password kamar ku.
Namun tiba-tiba Nicholas menahan tangan ku hingga aku kembali berdiri menghadapnya. Dan situasi macam apa ini? Kenapa tatapan Nicholas begitu dalam, seolah sedang mempertanyakan banyak hal pada ku tapi tak mengungkapnya satu pun.
"Terakhir saya dengar nada seperti itu, kamu sedang marah Fiona."
Aku menahan napas ku. Bagaimana caranya agar aku tidak terlalu kelihatan sedang kesal? Aku tak ingin Nicholas menyadari ada sesuatu yang berbeda dari ku. Terutama perasaan ku.
"Fiona, tell me," ucap Nicholas terdengar berbisik. Dan aku bingung kenapa Nicholas begitu mendesak ku untuk hal sepele begini? Bukankah sebelumnya ia tak perduli entah aku tak suka, marah, atau sedih?
"Bukan apa-apa, Pak. Selamat malam," ucap ku tersenyum simpul sambil melepaskan tangan Nicholas dari tangan ku pelan-pelan. Kemudian, aku berjalan masuk ke unit apartmen ku.
Setelah pintu tertutup, aku mendengar suara langkah sepatu Nicholas yang perlahan menjauh. Begitu sepinya kah malam ini? Pukul berapa sekarang?
Aku segara bersih-bersih dan mengganti pakaian ku menjadi lebih santai, berusaha untuk mengalihkan pikiran ku sejenak dari dalam benak ku.
Pukul 20:00 WIB. Aku memakai jaket ku dan sepatu sneakers. Aku memilih untuk pergi keluar, mencari jajanan sendirian untuk bisa menghibur suasana hati ku yang sedang tidak bagus.
Aku tahu sedang berjalan-jalan sendirian, meskipun keramaian jelas terlihat di sekitar ku. Dan sekarang, satu cup bubble tea dingin ada di tangan ku.
Langkah ku berhenti di salah satu taman kota untuk menghabiskan sisa bubble tea ini sambil duduk. Tiba-tiba aku terpikirkan apa yang akan aku lakukan setelah kontrak ini selesai.
Aku ingin sekali berhenti sekarang, tapi Nicholas sudah membayar uang kontrak ku seluruhnya bulan kemarin. Meskipun, aku rasa kepura-puraan kami sudah tak berguna.
Entah apa lagi yang akan Nicholas rencanakan. Tapi sekarang, yang aku tahu Nicholas menemui Mia.
Hal menyedihkan yang pernah aku rasakan adalah, pengalaman dicium Nicholas. Bagaimana mungkin aku bisa menaruh hati ku. Kenapa aku terlalu berlebihan menangkap perhatian laki-laki itu selama ini?
Jika aku ingat sebelumnya, Nicholas mengatakan kalau dia adalah laki-laki brengsek. Apa itu artinya dia mudah mencium perempuan tanpa adanya kejelasan?
Aku kembali termenung di tengah keramaian taman kota di malam hari. Kenapa semakin lama, aku merasa seperti seorang wanita simpanan sungguhan? Atau mungkin lebih tepatnya apa Nicholas sedang mencoba bermain-main dengan ku? Dia tahu aku sangat penurut dan mudah di stir oleh nya?
Sekarang dia baru mencium ku. Bagaimana nanti? Aku rasa, aku harus segera mengakhiri ini semua. Membatasi diri dengan Nicholas saja tak cukup. Tapi bagaimana caranya?
Tanpa sadar aku sudah menghabiskan bubble tea ku. Sudah satu jam lebih aku berjalan-jalan. Mungkin dua jam? Entahlah. Aku melangkahkan kaki ku menuju gedung apartmen. Jika sudah lelah begini, aku akan lebih mudah tidur tanpa memikirkan ini - itu.
Baiklah, Fiona. Kau harus menahan diri. Tinggal satu bulan lagi kontrak mu bersama Nicholas. Dan semoga saja setelah kontrak berakhir, aku bisa segera mencari pekerjaan lain yang jauh dari Nicholas. Aku tak ingin perasaan ku semakin berkembang kepadanya.
Namun belum satu menit aku menyemangati diri, kaki ku berhenti melangkah sebelum menyeberang jalan. Di sana, aku melihat Nicholas yang juga berdiri menatap ku. Dia hendak masuk ke dalam mobilnya sepertinya. Aku tahu dia kelihatan marah, entah karena apa. Oh, atau dia sedang membutuhkan ku untuk membalas sikap Mia yang sedang terpuruk sekarang? Kalau memang iya, gawat. Artinya aku telah lalai.
Aku segera menyeberang jalan begitu jalanan sepi. Aku sedikit berlari kecil menghampiri Nicholas. Namun ketika langkah ku sudah hampir sampai ke seberang jalan, tiba-tiba sebuah motor melaju dengan cepat menghantam tubuhku. Aku merasa tubuhku terlempar dan menghantam aspal. Aku tak bisa merasakan apa-apa. Satu hal yang aku bisa lihat adalah Nicholas yang berlari menghampiri ku. Di tangan kanannya, ia terlihat menghubungi seseorang. Wajahnya ku lihat samar-samar sangat panik. Lalu aku tak bisa melihat apa-apa lagi, diikuti oleh kesadaran ku yang menghilang juga.
***
"Sudah dipastikan? Saya gak mau tahu, kamu bereskan semuanya. Simpan barang bukti, oke?"
Begitu aku membuka mata, aku mendengar suara Nicholas. Meskipun sudah membuka mata, aku masih belum bisa menggerakan badan ku. Semuanya terasa kaku dan sakit. Bahkan untuk bicara saja sulit.
Ya ampun, apa yang terjadi dengan ku? Tabrak lari. Aku pikir itu hanya mimpi. Aku benar-benar berada di rumah sakit dengan banyak sekali alat yang menempel di tubuh ku. Sekacau itu kah keadaan ku? Apa aku ...
"Hey, Fio ..."
Aku kembali mendengar suara Nicholas. Namun aku hanya bisa menggerakkan mata ku untuk melihatnya menghampiri ku.
"P... Pak,"
Susah payah aku mengucapkan satu kata saja. Dan Nicholas langsung mengisyaratkan aku untuk diam. Rasanya sedikit malu sebenarnya ada di posisi ini karena kecerobohan ku.
Sungguh, meskipun kondisi ku sekarang sembuh, pasti aku tak akan bisa berkata-kata mendengarnya. Sebatas "I'm here", dan aku merasa semuanya akan baik-baik saja. Aku tak tahu kenapa Nicholas melakukan ini, padahal semua ini bukanlah tanggung jawabnya.
Aku tahu Nicholas segera memanggil dokter begitu aku sadar, karena tak lama, seseorang berpakaian dokter masuk bersama beberapa suster. Aku hanya bisa diam, dan mataku masih bisa melihat Nicholas berdiri tak jauh dari tempat ku terbaring. Wajahnya masih sama dengan terakhir kali ku lihat sebelum aku tak sadarkan diri.
***
Sekitar dua minggu aku dirawat di rumah sakit sampai benar-benar sembuh. Dan yang aku tahu perawatan ini begitu baik. Aku bahkan berada di ruang VIP.
Selama dua minggu itu juga Nicholas selalu datang dan pergi. Maksud ku, meskipun tak melakukan apa-apa, Nicholas akan datang setiap hari entah pagi, siang atau malam. Dan selama dua minggu ini juga aku melihat ada dua orang laki-laki berpakaian serba hitam yang berdiri di depan pintu ruang rawat ku. Sampai kemudian aku tahu kalau mereka sedang menjaga ruangan ku. Entah menjaga dari siapa, Ardi tak mengatakannya pada ku.
Dan sekarang, aku sudah diizinkan untuk pulang, meskipun masih ada sisa-sisa luka di bagian wajah dan tangan ku. Tapi hari ini, Nicholas tak menjemputku. Ardi yang mengantarkan aku. Anehnya, Ardi malah mengantarkan aku ke hotel.
"Kenapa kita ke sini?" tanya ku bingung.
"Pak Nicholas meminta Mbak Fiona untuk tinggal di hotel dulu untuk sementara. Saya sudah memindahkan semua barang-barang Mbak ke kamar itu. Minggu depan, setelah Mbak Fiona benar-benar pulih, silakan datang ke kantor lagi," jelas Ardi.
Awalnya aku hanya diam dan menurut saja. Aku tak tahu apa yang terjadi, dan belum mau mencari tahu. Aku hanya akan fokus pada pemulihan ku. Aku juga sengaja tak memberitahu Mama, karena khawatir dia akan menyusul ke Jakarta dan melihat keadaan ku yang begini.
Begitu sampai di kamar hotel ku, Ardi langsung merapikan semua keperluan ku. Bahkan, dia memperkenalkan seorang wanita muda berseragam suster kepada ku. Namanya Kania, dan akan bertugas merawat ku selama di hotel ini. Wait, Nicholas membayar hotel mahal ini selama seminggu?
Semuanya semakin terasa aneh ketika aku tak mendapatkan perintah apapun dari Nicholas. Atau dia bahkan tak menghubungi ku sama sekali. Entah kenapa aku merasa kesal atas itu. Kenapa rasanya aku seperti boneka yang dilempar ke sana, ke sini oleh Nicholas?
Bekas-bekas luka di wajah ku sudah menghilang, begitu pun di bagian tubuh lainnya. Kurang dari seminggu, dan suster Kania masih berada di hotel untuk menyiapkan segala kebutuhan ku, menyiapkan obat, memastikan makanan ku, dan masih banyak lagi.
Tapi hari ini, tepat di hari ke-5, aku berhasil kabur dari kamar hotel dan menaiki taxi. Dengan pakaian formal, aku menuju ke kantor Ark's Film untuk menemui Nicholas dan membicarakan sesuatu.
Aku bicara pada Angeline apakah aku bisa bertemu dengan Nicholas. Dan ia segera menghubungi atasannya itu untuk bertanya. Awalnya Angeline bilang, Nicholas sedang rapat, lalu meminta ku menunggu di dalam ruangannya. Jadi baiklah, aku harus menunggu.
Namun ketika aku akan masuk ke dalam ruangan Nicholas, ternyata aku berpapasan dengan Mia yang juga akan masuk ke ruangan ini. Oh ... Apa dia dan Nicholas sudah berbaikan?
"Oh, sudah sembuh rupanya kamu?" tanya Mia.
Aku tak tahu dia tahu dari mana soal kondisi ku. Mungkin dari staf kantor, orang suruhannya, atau Nicholas sendiri yang mengatakan.
"Lihat, berkat tanggung jawab Nicholas ini, kamu bisa pulih jauh lebih cepat, Fiona. Jadi, aku harap ini bisa jadi pelajaran buat kamu, dengan siapa kamu berhadapan," ucap Mia tersenyum.
"Apa ini soal Hero?" tanya ku malas.
"Yang sopan kalau bicara dengan saya," tukas Mia. Namun aku tak menanggapi.
"Ini soal Nicholas. Kamu ngerti kan, kenapa semua ini terjadi dengan kamu? Awalnya, saya pikir kalian cuma bohongan. Tapi, ternyata kalian begitu intens bertemu. Saya dan keluarga Nicholas gak mungkin membiarkan rumput liar kaya kamu masuk ke dalam keluarga kami," jelas Mia yang menurut kesimpulan ku, kecelakaan ini adalah hal yang disengaja olehnya dan juga keluarga Nicholas. Karena aku wanita simpanan Nicholas.
"Begitu aku lihat kamu datang ke sini tadi, aku penasaran, apa lagi yang mau kamu lakukan di ruangan suami saya? Apa Nicholas gak bilang apa-apa?"
"Jadi, kalian yang melakukan semua ini?"
"Ini cuma sekedar peringatan untuk kamu, Fiona. Jadi sebaiknya kamu menjauh dari Nicholas. Dia juga pastinya sudah tahu tentang ini ..."
Mia menghentikan kalimatnya ketika pintu ruangan ini terbuka, Nicholas masuk dan sorot matanya yang menunjukkan keterkejutan itu mengarah pada Mia.
"Hai sayang," sapa Mia tersenyum mengelus lengan Nicholas.
"Keluar," ucap Nicholas dingin. Aku cukup terkejut dengan respon Nicholas pada Mia. Sebentar, aku terkejut atas semua hal yang ada di sini sekarang.
Mia keluar dari ruangan ini dengan wajah puasnya. Sementara aku menaruh tatapan ku pada Nicholas yang juga menaruh pandangannya kepada ku.
"Fiona."
"Apa Pak Nicholas sudah tahu siapa yang melakukan tabrak lari kepada saya?" tanya ku langsung pada intinya.
Nicholas menahan napasnya, lalu mengangguk.
"Dimana orang itu sekarang? Apa polisi sudah menangkap nya?"
"Fiona ..."
"Orang itu ada di sini barusan kan? Siapa lagi yang terlibat? Keluarga Pak Nicholas juga ikut andil?" tanya ku dengan suara bergetar.
"Fiona, kita bicarakan ini. Duduk dulu ..."
Aku menghempaskan tangan Nicholas yang berusaha meraih ku.
"Pak Nicholas berdiri di depan apartmen malam itu. Apa Pak Nicholas sudah tahu kalau akan ada yang mencelakai saya?" tanyaku. Tapi kali ini Nicholas tak menjawab. Ia hanya diam menatapku. Aku tak pernah melihatnya gelisah, tapi hari ini, aku melihatnya.
"Sejak awal, Pak Nicholas tahu kalau mereka akan terus meneror saya, itu alasan kenapa Pak Nicholas memilih saya untuk jadi wanita simpanan selama ini." Kali ini bukan sebuah pertanyaan, itu pernyataan yang tak bisa dielakkan oleh Nicholas.
"Ya," jawab Nicholas dengan satu helaan napas. Aku seharusnya tahu sejak Nicholas mengatakan kalau dia membutuhkan ku untuk membalas mereka. Pada akhirnya, Nicholas memang hanya memanfaatkan aku.