
Aku menuruti kemauan Nicholas dengan memakai gaun long dress warna merah. Garis pinggir sampai di bawah paha begitu membuatku risih, tapi setidaknya gaun ini tidak terlalu terbuka di bagian lengan. Ada sebuah bros berbentuk bunga yang dipenuhi manik-manik berkilau. Aku harap bukan berlian sungguhan.
Hanya untuk makan malam, Nicholas memanggil seorang hair stylish, make up artist, dan staf lain untuk mencocokkan sepatu ku.
Aku tak tahu pasti apa yang mereka lakukan. Rasanya aku seperti sebuah mannequin yang akan dipamerkan di sebuah pameran bergengsi.
Rambutku ditata begitu rapi dibelakang, lalu wajahku dipoles make up yang cukup berani menurut ku. Astaga, Fiona kamu benar-benar terlihat seperti wanita bangsawan. Atau selir mungkin. Sedikit menyedihkan jika mengingat peranku, peran yang sangat aku benci.
Terakhir, setelah memakaikan sepatu heels setinggi 10 cm berwarna silver, mereka memakaikan aku sebuah topi fedora berwarna hitam yang cukup lebar hingga mampu menutupi sebagian wajahku. Dan sekarang, sempurna. Aku si perempuan simpanan yang misterius.
Ardi menuntunku menuju salah satu mobil Nicholas, dimana dia sudah menunggu ku. Jauh dari keramaian mobil itu terparkir. Kemudian aku masuk ke kursi penumpang, tepat di sebelah Nicholas.
Awalnya, kami berdua hanya diam. Aku sudah lelah bertanya pada Nicholas apa yang ia rencanakan lagi. Jawabannya pasti akan selalu sama, yaitu membalas perilaku istrinya. Tapi aku mengira, saat ini ada Mia dan Hero di tempat makan yang akan kami datangi.
Kira-kira dua puluh menit akhirnya kami sampai di sebuah restoran western yang bernama Dakota Restaurant. Kali ini Nicholas yang membukakan pintu untukku, lalu ia merangkul pinggangku masuk ke dalam restoran tersebut.
Begitu seorang pelayan menghampiri kami, Nicholas langsung menyebutkan namanya. Ah, dia sudah reservasi sebelumnya. Aku pikir kami akan ada di ruang VIP.
Sejauh kami berjalan, aku belum melihat Mia ataupun Hero. Kemudian kami sampai di sebuah lift bersama dua orang lainnya.
Kemudian kami sampai di sebuah ruangan VIP, tapi bukan privat yang hanya diisi dua orang. Ruangan ini seolah menjadi aula sebuah perkumpulan, dan aku sendiri tak tahu perkumpulan apa.
Yang pasti orang-orang di sini pasti orang kaya. Mereka semua serentak memakai setelan yang senada. Pantas saja Nicholas mendandani aku seheboh ini. Dan jujur, baru kali ini aku masuk ke dalam ranah perkumpulan orang kaya seperti ini.
"Pak..."
"Panggil saya Nicholas di sini," bisik Nicholas tepat ditelinga ku. Dan aku tahu beberapa orang diam-diam menaruh perhatian mereka pada kami. Ini lah fungsi dari topi fedora yang aku pakai. Untuk menutupi sebagian wajahku.
Aku menahan napasku lalu menurut saja ketika Nicholas menggandeng ku ke sebuah sofa.
"Mereka kenal Pak-" aku berdehem pelan. Hampir saja keceplosan. Di sini memang sedikit ramai, dan ada alunan musik jazz santai.
"Ini di mana?" tanya ku pelan.
"Orang-orang aneh penyuka video gila," jawab Nicholas seketika membuatku mengerutkan kening dengan heran. Orang aneh? Penyuka video aneh?
"Video... itu?" tanya ku bingung.
Nicholas menoleh ke arah ku dan entah kenapa dia malah tertawa. Ini adalah pertama kalinya aku melihat tawa Nicholas meskipun hanya tipis-tipis.
"Bukan. Maksud saya, video illegal yang lebih ekstrim," bisik Nicholas membuatku terbelalak kaget.
"Kalau gitu... Ini perkumpulan apa?" bisik ku jadi tak nyaman. Pandangan ku refleks melihat ke sekeliling. Mereka terlihat normal saja, sampai aku menemukan mereka saling berbincang dan akhirnya masuk ke dalam sebuah ruangan lagi.
"Pesta relasi, bertukar informasi, dan melakukan hal-hal gila, di ruangan itu," jawab Nicholas.
"Hal-hal gila?"
"Menonton video, atau bertukar pasangan," bisik Nicholas membuatku lemas seketika. Untuk apa Nicholas ke sini? Dan kenapa dia membawa ku ke sini?
"Kamu orang baru ya?"
Aku refleks memegangi lengan Nicholas dengan tegang ketika seseorang menghampiri kami dan duduk di sebelahku. Dalam hati aku mengumpat pada Nicholas yang membawaku ke tempat seperti ini.
"Kami cuma tamu," jawab Nicholas dengan tenang, seperti biasa.
"Okay, enjoy. Kalau perlu apa-apa, jangan sungkan," ucap laki-laki itu sempat melirik ke arahku dan mengelus lengan ku sebentar. Aku ingin teriak, tapi yang bisa aku lakukan hanya mencengkeram lengan Nicholas lebih keras sampai orang aneh itu akhirnya pergi.
"B-Bu Mia gak ada di sini kan?" bisik ku gugup.
"Gak ada," jawab Nicholas dengan santai.
"Kalau gitu, kenapa kita di sini?" tanya ku mulai protes.
"Sebentar lagi," bisik Nicholas pelan, tangannya menyentuh tangan ku yang masih mencengkeram lengannya. Bukan hanya menyentuh, aku merasa Nicholas menggenggam ku. Astaga, situasi macam apa ini?
Akhirnya Nicholas menggandengku berdiri, ia berjalan merangkul pinggangku lagi keluar. Padahal, sayup-sayup aku mendengar seorang laki-laki memanggil namanya. Hah? Siapa?
"Misi kita selesai, kamu tunggu di mobil bersama Ardi," bisik Nicholas begitu keluar dari ruangan VIP dan melepaskan rangkulannya.
Tapi aku tak sepenuhnya pergi. Aku penasaran siapa laki-laki itu dan kenapa Nicholas mengenal salah satu dari orang aneh itu.
Aku menghentikan langkahku dan bersembunyi di balik dinding ketika melihat Nicholas berjalan beriringan dengan laki-laki itu sekarang.
"Are you insane? Who's that girl?" tanya laki-laki itu kelihatan marah.
"Bukan siapa-siapa," jawab Nicholas dengan tenang.
"Bro, come on. Kakek dan Om Gian udah lihat kalian barusan. Mereka akan cari tahu siapa perempuan itu," sahut laki-laki itu dengan panik.
"Jangan sampai kalian sentuh dia sedikitpun. Atau saya akan hancurkan laki-laki kesayangan Mia itu," tukas Nicholas berhenti melangkah dan menatap tegas laki-laki tersebut.
"Man..."
Nicholas tak menyahut apa-apa lagi, ia berjalan keluar dari restoran ini dengan langkah cepat.
Begitu laki-laki tersebut buru-buru pergi kembali ke lift, aku segera keluar dari persembunyian ku dan menyusul Nicholas.
Sialnya, karena sepatu tinggi ini dan gaun yang sangat membuatku tak nyaman, aku terjatuh sebelum sampai di mobil Nicholas. Aku refleks berdiri ketika Nicholas dan Ardi keluar dari mobil, tapi rasanya kaki ku malah semakin terasa sakit sehingga aku kembali terjatuh.
"Fiona," panggil Nicholas menghampiri ku. Ia segera membantuku berdiri. Ardi sudah membukakan pintu mobil dan pelan-pelan aku masuk ke dalam mobil. Benar-benar memalukan.
"Saya sudah suruh kamu tunggu di mobil. Kamu dari mana?"
"Saya... Tadi dari kamar mandi, Pak," jawab ku dengan sigap.
"Kaki kamu -"
"Gak apa-apa," sergah ku.
Nicholas menganggukkan kepala kemudian kembali diam, seolah sibuk dengan pikirannya sendiri. Meskipun di luar, wajahnya terlihat tetap tenang seperti biasanya. Tapi tak mungkin orang seperti Nicholas hanya akan diam dan termenung tanpa memikirkan apa-apa bukan?
Bahkan aku saja sekarang sedang berpikir tentang kejadian tadi. Kakek, Om Gian, dan siapa laki-laki itu? Apa mereka semua keluarga Nicholas? Dan mereka semua berada di klub perkumpulan orang-orang kaya yang aneh itu.
Astaga, semakin aku tahu, semakin banyak sisi gelap dari orang-orang berduit ini. Dan lagi, dari percakapan singkat Nicholas dan laki-laki itu, seolah-olah mereka sudah tahu kalau Mia memiliki laki-laki kesayangan yang bukan Nicholas. Apa artinya, keluarga Nicholas juga diam-diam mengetahui perselingkuhan Mia?
"Saya mau ajak kamu makan malam, Fiona. Tapi kalau kaki kamu sakit..."
"Apa ini untuk kepentingan pekerjaan?" tanya ku.
Nicholas menoleh ke arah ku. Dia sempat terdiam sejenak, lalu menganggukkan kepalanya.
"Gak apa-apa. Saya rasa tadi cuma kaget aja. Kaki saya baik-baik aja kok," jawab ku terkekeh pelan.
Sepuluh menit kemudian, kami sampai ke Narnia Hotel Jakarta. Aku berusaha berjalan, dan syukurlah aku bisa melangkah meskipun harus menahan nyeri.
Meskipun ini hotel, Nicholas hanya menyewa satu ruangan khusus untuk makan malam. Rasanya aneh jika Nicholas malah mengajak ku ke ruangan VIP yang hanya berisi kami berdua. Maksudku, bukankah dia ingin orang lain melihat kami lagi? Seperti tadi di restoran.
Tapi aku belum berani bertanya macam-macam. Suasana hati Nicholas sepertinya sedang tak bagus.
Makan malam kami pun terasa seperti canggung. Nicholas hanya diam seolah sedang memendam semua masalahnya sendiri. Padahal aku pikir dia akan melakukan sesuatu untuk melampiaskan amarahnya. Biasanya kan laki-laki seperti itu.
Saat Nicholas sedang sibuk dengan dirinya sendiri, aku meminjam tablet di sana untuk memesan dua porsi es krim sebagai tambahan.
"Yang tadi, di tempat orang-orang aneh itu adalah keluarga saya. Saya yakin kamu sudah menebaknya," ucap Nicholas tiba-tiba hingga aku refleks menaruh semua perhatian ku padanya sekarang.
"Gimana?" tanya Nicholas.
"Gimana? Maksudnya..."
"Kamu mengerti kan kenapa saya minta semua orang yang bekerja sama saya untuk jangan pernah ikut campur atau membicarakan apapun mengenai masalah pribadi saya?"
Aku terdiam sejenak. Dan aku mengerti kenapa aku dibawa ke sini dengan alasan pekerjaan.
"Apa... Pak Nicholas selalu mengatakan alasan ini ke semua karyawan Bapak, atau hanya sebatas mengeluh?" tanya ku hati-hati.
Nicholas terdiam sambil menatap ku.
"Mengeluh," jawabnya pelan.
"Kalau begitu, sebelum dengan saya, Pak Nicholas mengeluh ke siapa?"
"Fio," jawab Nicholas dengan tenang. "Makanya kamu gak perlu komentar dan dengarkan aja," lanjut Nicholas seketika membuatku mengatupkan bibir ku.
Tidak bisa. Bagaimana mungkin aku akan disamakan dengan kucing?
Seorang pelayan mengetuk pintu, kemudian ia masuk membawakan dua porsi ice cream cokelat dan vanilla. Ia menaruhnya di atas meja sementara Nicholas tak begitu menaruh perhatiannya pada dua ice cream ini.
"Maaf, Pak Nicholas. Kali ini Fio yang ada di hadapan Bapak, bukan makhluk hidup yang cuma bisa diam dan gak mengerti ucapan Pak Nicholas," ucap ku sambil menggeser gelas berisi es krim vanilla ke hadapan Nicholas.
"Saya gak suka es krim," jawab Nicholas menyodorkan gelas itu ke hadapan ku lagi.
"Tapi Pak Nicholas butuh ini sekarang," sahut ku sambil menyodorkan gelas itu kembali ke hadapan Nicholas.
"Jadi Pak Nicholas, izinkan Fio yang ini untuk berkomentar sebentar," sindir ku. Dan untuk kedua kalinya aku melihat senyum tipis di bibir Nicholas yang langsung menarik gelas es krim itu mendekatinya.
"Jujur aja, saya agak gak nyaman setiap kali Pak Nicholas membawa saya tanpa memberitahu rencananya terlebih dulu, dan tadi saya bener-bener kaget," ucapku memberanikan diri.
"Karena keluarga saya yang berantakan begitu?" tanya Nicholas.
Aku menggelengkan kepala pelan, "Saya sudah cukup melihat keluarga yang hancur selama ini. Tapi baru kali ini saya lihat ada perkumpulan orang-orang aneh kaya tadi. Buat apa mereka bertukar pasangan?" tanya ku agak penasaran.
Nicholas menatapku ia menahan senyumnya kemudian menjawab, "Untuk tidur bersama. Sebagai tanda keakraban."
"Wah, gila. Sakit mereka," gumam ku tanpa sadar.
"Saya sudah tebak respon kamu," jawab Nicholas tersenyum seolah puas akan sesuatu hal yang tak aku mengerti.
"Apa Pak Nicholas..."
"Nggak. Saya gak punya pasangan, apa yang mau saya tukar?" tanya Nicholas dengan nada sarkasme yang ku percaya maknanya kalau dia sendiri tak suka dengan komunitas yang diikuti keluarganya itu. Gelap sekali sisi seorang Nicholas.
"Oke, terus sekarang. Saya harusnya bisa menonton premier film Abira. Apa saya bisa pulang sekarang?" tanyaku sebenarnya hanya ingin beralasan saja.
"Nggak."
"Kenapa? Kan udah selesai, Pak?"
"Abira itu playboy yang bahaya, Fiona. Perempuan lugu kaya kamu adalah sasaran empuk dia. Apalagi sejak kejadian kamu foto bareng dia tadi, dia akan cari tahu tentang kamu," jawab Nicholas kemudian memakan es krimnya dengan tenang.
"Saya yakin sekarang dia tahu kalau kamu asisten pribadi saya. Dia akan semakin gencar mendekati kamu kalau sampai dia lihat kamu dateng ke premier film-nya."
"Masa sih playboy? Dia kelihatan laki-laki kalem yang baik kok," jawab ku dengan yakin.
"Fiona, ada banyak hal di dunia ini yang menipu orang-orang lugu kaya kamu. Apalagi kalau sudah masuk ranah hiburan. Ada banyak topeng yang tersedia untuk ditunjukkan ke publik," sahut Nicholas yang harus aku akui terdengar sedikit masuk akal.
"Tunggu, tapi ini kan urusan pribadi saya," protes ku baru sadar Nicholas kembali mencampuri urusan pribadi ku.
Kali ini Nicholas tak menjawab. Ia menyelesaikan makan es krimnya lalu beranjak dari duduknya. Dan aku mau tak mau harus mengikutinya berdiri meskipun es krim ku masih tersisa banyak.
"Pak Nicholas," panggilku menahan tangan Nicholas.
"Apa?"
"Soal Arbi, atau laki-laki lain. Saya masih boleh kan punya hubungan dengan orang lain?" tanya ku baru mengingat mengenai hal ini. Masalahnya seingatku tak ada di kontrak.
"Terserah," jawab Nicholas.
"Kalau gitu, Pak Nicholas gak berhak melarang saya nge-fans sama Abira," sahut ku menegaskan kemudian berjalan duluan dari Nicholas.
Sayangnya, saat aku berbelok menuju lorong, kaki ku refleks berhenti ketika melihat Mia dan Hero baru keluar dari lift sambil berpelukan. Bahkan mereka sempat berhenti di lorong untuk berciuman. Ugh! Kenapa mereka tak pernah tahu tempat sih?
Aku teringat sesuatu, jadi aku segera berbalik dan menahan Nicholas untuk berhenti.
"Kenapa lagi, Fiona?" tanya Nicholas.
"Saya lupa..."
Apa yang harus ku katakan? Meskipun lorong hotel ini sepi, tetap saja ini tempat umum. Apa yang dipikirkan oleh Mia?!
Nicholas berontak dari hadapan ku, tapi aku kembali menahannya.
"Pak, saya mau..."
Belum sempat aku melanjutkan kalimat ku, kami berdua sama-sama terdiam ketika mendengar suara tertawa Mia dan Hero.
Nicholas kelihatan menghela napas lalu menyingkirkan aku dari hadapannya. Ia menengok ke lorong, aku diam. Tak berani menengok lagi, terserah lah apa yang akan dilihat Nicholas. Toh dia sudah tahu. Tapi tak bisa begini terus bukan?
"Pak, kita labrak aja. Gak bisa dibiarin terus," ucap ku berjalan duluan. Aku tak tega melihat Nicholas hanya diam sambil memperhatikan mereka saja. Tapi Nicholas menahan tangan ku.
"Kita pulang," ucap Nicholas padahal jelas-jelas dia melihat Mia dan Hero masuk ke sebuah kamar.
"Pak Nicholas gak bisa diam terus begini, Pak..." Aku berbisik tapi pasti jelas kalau kali ini aku terdengar gemas.
Nicholas hanya menghela napas pelan, kemudian menggandeng ku untuk masuk ke dalam lift, melewati kamar yang baru saja dimasuki oleh Mia dan Hero.
Kenapa harus selalu begini? Apa Nicholas sudah tahu kalau Mia akan ke sini? Tapi kenapa tadi dia hanya diam saja? Kenapa dia tak menyewa kamar di sini untuk menunjukkan perselingkuhannya juga? Dan lagi-lagi, kenapa Nicholas tak melakukan apa-apa pada istrinya yang jelas-jelas selingkuh?