
Karena ucapan ku yang sembrono soal pasangan selingkuh Mia dan Hero, Nicholas menempatkan aku untuk meng-handle pekerjaannya memeriksa dokumen laporan dan jadwal project film-film baru. Sementara dirinya fokus melihat CCTV.
Sebenarnya memeriksa jadwal project film, oke. Aku tak masalah karena artinya aku bisa tahu lebih dulu project-project film yang akan segera dibuat. Terutama film yang rencananya akan diperankan oleh Abira. Wah, aktor ini benar-benar luar biasa. Tapi untuk memeriksa dokumen laporan, ugh! Mataku bisa juling melihatnya!
Aku baru tahu kalau Nicholas juga seorang trader. Meskipun dia bilang hanya 'hobi' yang sesekali ia lakukan, tetap saja hobi itu berbau uang. Jadi Nicholas masih tenang trading sementara CCTV masih sepi karena sepertinya pasangan mes- oh, pasangan selingkuh itu belum pulang ke apartmen mereka.
Nicholas sempat bilang dia melakukan ini untuk mengawasi Mia dan Hero yang memiliki indikasi untuk 'mencuri' keuntungannya. Apalagi Mia sudah berani menggeratak kantornya mencari kontrak kerja Hero. Nicholas memang cerdik, cepat, dan praktis. Dia si penggila uang yang tak akan membiarkan keuntungannya dicuri siapapun. Aku tertawa pelan, faktanya dia malah membiarkan istrinya yang dicuri.
"Ada yang lucu, Fiona?" tegur Nicholas membuat ku tersadar kalau aku benar-benar tertawa barusan.
"Oh maaf, Pak. Ini saya lihat project film baru Abira, dia perannya jadi suami takut istri. Pasti gemes deh," jawab ku berbohong. Nicholas mengerutkan keningnya, mungkinkah dia menyadari tak ada project film yang mengusung tema itu?
"Kamu serius tergila-gila sama Abira?" tanya Nicholas kelihatan heran.
"I... Ya," jawab ku sedikit bingung dengan pertanyaannya dan mimik wajahnya yang keheranan. Kenapa? Bukankah Abira sosok yang sangat pantas digilai? Mengesampingkan isu kalau dia playboy atau bukan seperti yang Nicholas pernah katakan.
Nicholas malah tersenyum miring, seolah meremehkan.
"Saya pikir kamu perempuan yang berbeda," ucap Nicholas entah kenapa membuat ku sedikit tersinggung.
"Apa? Berbeda? Kenapa Pak Nicholas berpikiran begitu? Saya itu sama kaya perempuan kebanyakan lho, Pak. Saya masih suka laki-laki semenarik Abira, masih suka belanja, makan, foto pakai filter. Jangan salah sangka, Pak. Saya sangat sama dengan perempuan kebanyakan," ucapku mencoba menegaskan dengan nada menyindir.
Tiba-tiba Nicholas beranjak dari duduknya, dia berjalan menghampiriku, memutar kursiku menghadapnya yang membungkuk, menyenderkan tangannya ke meja dan senderan kursiku sehingga aku ada di dalam kurungannya. Astaga, Nicholas! Apa lagi ini?
"Satu hal, kamu gak seperti kebanyakan perempuan yang memohon untuk jadi wanita simpanan saya, dan kamu menolak tawaran saya secara langsung saat itu," ucap Nicholas menatap ku langsung dari dua bola matanya yang gelap dan sorot mata tajam.
"Apa saya gak semenarik itu di mata kamu?" bisik Nicholas.
"Maaf, Pak," ucapku refleks karena merasa Nicholas sedang membalas jawaban ku yang lancang barusan dengan cara menyindirnya.
"Benar saya ga semenarik itu?"
"Nggak. Maksud saya... Saya minta maaf karena bicara terlalu banyak seperti tadi, Pak."
Nicholas tertawa. Dia benar-benar tertawa pelan lalu menaruh perhatiannya ke layar laptop di hadapan ku.
"Cepet selesain jadwal project film-nya. Jangan lupa dokumen laporan yang perlu revisi di pisah ke folder baru," ucap Nicholas terdengar lebih santai, kemudian kembali ke kursinya setelah memeriksa pekerjaan ku. Sejenak, aku merasa lega melihat tawanya. Namun selanjutnya, aku merasa hati ku sedang kembali diserang. Ini tak boleh.
"Ya, aku masih nunggu Hero pulang. Yes, i'll prepare for our dinner. Apa? Nicholas gak tahu dimana, i don't care, mungkin lagi sama selingkuhannya."
Aku terdiam seketika mendengar suara Mia dari laptop Nicholas. Sepertinya Mia pulang duluan dibanding Hero. Dan aku kaget bagaimana Mia mengatakan soal Nicholas sambil tertawa-tawa.
"Aku udah sadap ponselnya cewek itu. And Nicholas send her a lot of disgusting message. Sumpah aku jijik banget. Apa? Dipelet? What the- stop it, Jay... Nggak, gila aja. Kalau sampe perselingkuhan Nicholas aku sebar, mau ditaruh mana muka aku? Selingkuhannya cuma asisten pribadi. Bodoh banget sih Nicho."
Astaga, Nicholas... Apa yang lagi kamu lakuin sih? Menonton istrimu terus mengejek kamu dengan temannya? Aku berusaha keras untuk menahan diri ku meskipun sudah kesal mendengarnya. Keadaan ini semakin buruk ketika aku bisa mendengar suara Hero yang datang. Dan seperti dugaanku, aku langsung mendengar suara decapan-decapan menjijikan - dasar pasangan mesum itu benar-benar menjinjikan!
Aku berusaha mengalihkan pikiran ku dan emosiku dengan memakai earphone. Sayangnya lagu di ponsel ku sangat lambat di putar karena koneksi yang tak stabil dari provider pribadi ku. Ketika aku berusaha menyambungkan dengan wifi kantor, aku sudah terlanjur mendengar suara-suara ******* yang semakin parah.
Kesabaran ku sudah habis. Aku segera menghampiri Nicholas dan refleks menutup laptop itu dengan kesal. Aku benar-benar gemas dengan Nicholas, kesal, ingin rasanya menampar laki-laki ini agar sadar.
"Fiona,"
"Informasi apa yang Pak Nicholas harapkan dari kejadian tadi? Gimana bisa Pak Nicholas duduk di sini melihat istri Pak Nicholas bercinta dengan laki-laki lain? Ini... Gak make sense sama sekali. Pak Nicholas gak seharusnya menahan diri terus begini," omel ku dengan tak sabar.
"Gak make sense..."
"Iya. Lebih baik Pak Nicholas sekarang samperin apartmen mereka, bawa pulang lagi istri Pak Nicholas, pecat Hero atau Pak Nicholas pukulin dia dulu, itu lebih masuk akal dari pada ide ini," sahut ku.
Rasanya seperti dejavu. Saat ini, aku seolah melihat ibu ku yang dulu hanya bisa menerima ayah membawa perempuan selingkuhannya ke kamar mereka dan mengajak ku keluar rumah berusaha mengelak dari kenyataan. Dan hal itu adalah tindakan paling bodoh yang ibu ku lakukan.
"Pak Nicholas lihat sendiri, Mia gak cemburu sedikitpun. Isu perselingkuhan kita gak mempengaruhi apapun, Pak."
"Kalau kita berhenti, artinya kamu gak dapat bayaran sesuai di kontrak, Fiona."
"Itu lebih baik daripada saya harus lihat Pak Nicholas begini," ucap ku mengalihkan pandangan ke arah lain.
"Apa saya pernah bilang, semua ini saya lakukan untuk membuat Mia cemburu?" tanya Nicholas dengan tenang. Aku bingung, sungguh.
"Lagipula, darimana kamu tahu isu perselingkuhan ini gak mempengaruhi dia? Mia akan semakin angkuh dan bersikap seolah semuanya baik-baik aja. Itu adalah indikasi dia sedang merasa kesal luar biasa," jelas Nicholas membuatku terdiam. Satu sisi aku malu karena hal itu, dan satu sisi lagi aku merasa Nicholas memang sangat memahami Mia.
"Dan sikap kamu yang begini, saya curiga kamu lebih dari sekedar tertarik sama saya," ujar Nicholas yang baru aku sadari.
Aku terdiam sejenak, rasanya tenggorokan ku kering dan mataku perih.
"Saya izin ke toilet, Pak," ucapku pelan. Nicholas tak menjawab, ia hanya memperhatikanku yang akhirnya berbalik. Sebenarnya di ruangan ini ada toilet, tapi aku kan sedang mencari alasan untuk keluar.
Aku pikir, bekerja di kantor besar seperti ini adalah hal paling beruntung di hidup ku. Ternyata, begitu banyak permasalahan yang bahkan gak berhubungan dengan tugas ku.
Dulu, aku pikir menjadi asisten pribadi seorang CEO, adalah hal paling membanggakan. Bahkan aku selangkah lebih dekat dengan orang penting ini dibandingkan Angeline sebagai sekretarisnya.
Tapi semuanya hancur dalam sekejap sejak Nicholas menawarkan aku menjadi wanita simpanannya walaupun hanya pura-pura. Fakta bahwa dia memanggilku wawancara hanya untuk ditawari kerjasama freak macam ini. Fakta bahwa Nicholas mengetahui segalanya tentang aku bahkan sampai ke permasalahan pribadiku. Dan sekarang, aku harus melihat luka yang dulu ibuku rasakan sebagai korban perselingkuhan.
Aku selalu berusaha mengelak. Tapi saat ini, aku tahu Nicholas kelihatan bodoh. Untuk apa dia melihat aksi perselingkuhan istrinya sendiri seperti orang dungu? Membayar ku untuk dipamerkan kepada istrinya seolah-olah dia juga bisa berselingkuh. Mungkin benar, harga diri Mia benar-benar terluka karena selingkuhan suaminya hanya wanita biasa seperti ku. Tapi apakah hatinya juga terluka? Bagaimana bisa hatinya terluka sementara Mia terlihat begitu bahagia bersama Hero.
Ugh! Ternyata benar apa yang dikatakan senior ku. Sebaiknya kita benar-benar profesional di lingkungan kerja. Daripada berada di lingkungan kerja yang mengatasnamakan kekeluargaan tapi malah disemena-menakan dan terperosok pada masalah pribadi satu sama lain. Itu lebih merepotkan!
Saat aku kembali ke private room Nicholas, aku melihat meja di dekat sofa sudah kosong dari laptop atau berkas-berkas. Di sana hanya ada botol wine dan gelas alkohol bersama Nicholas yang duduk sambil menyilangkan kaki dengan kedua tangan terlipat di dada. Sungguh elegan pria satu ini.
"Fiona," panggil Nicholas ketika aku akan kembali duduk di kursi ku dan menyelesaikan pekerjaan ku.
"Ya, Pak?" tanyaku dengan suara pelan.
"Duduk," titahnya mengisyaratkan aku untuk duduk di sofa kecil yang terpisah dengannya namun masih bersampingan.
Meskipun aku ragu dan bingung pada awalnya, akhirnya aku duduk di sofa yang Nicholas tunjuk.
"Temani saya minum," bisik Nicholas pelan sementara tangannya membuka botol wine dengan sangat lihai, lalu menuangkan ke gelas.
"Maaf, Pak. Tapi... Saya gak suka... Minum," jawab ku gelagapan.
"Diam di situ, Fiona. Saya mau minum sampai mabuk. Kalau sudah jam 22:00 WIB, Ardi akan mengantarkan kamu pulang," ucap Nicholas lalu meminum satu gelas penuh red wine yang ia tuangkan sendiri.
"Oke, Pak," jawab ku menurut saja. Aku sendiri tak tahu apa gunanya aku duduk diam saja di sini. Apa dia sedang membuatku semakin prihatin padanya?
Nicholas minum lagi, satu gelas, dua gelas, sampai aku sadar dia meminum wine seperti meminum air putih.
"Sudah banyak orang yang tahu tentang perselingkuhan Mia dan Hero. Mereka diam, karena menghargai saya," oceh Nicholas. Pandangannya mulai kosong tapi aku rasa dia belum terlalu mabuk.
"Meskipun bersembunyi dibalik kata 'menghargai', saya sadar tatapan prihatin mereka, tatapan kasihan, atau... Bahkan sengaja mencari perhatian saya. Karena mereka pikir hubungan saya dan Mia sudah renggang," lanjut Nicholas.
Jujur, aku sangat penasaran dengan hal ini. Tapi di sisi lain, aku tak siap mendengarkan Nicholas mengoceh soal hubungannya dengan Mia. Ada sedikit rasa tak ikhlas pada diriku entah kenapa.
"Dan semua itu gara-gara ulah Mia."
Nicholas tersenyum miring, kemudian ia kembali menenggak wine-nya dengan cepat. Lagi dan lagi seolah melupakan apa yang sudah ia ucapkan sebelumnya. Ku rasa Nicholas sudah mulai mabuk sampai berusaha keras hanya untuk mengendurkan dasinya dan melepaskan kancing kemeja bagian atasnya.
"Makanya saya sewa kamu. Bukan untuk membuat Mia cemburu, Fiona..."
"Pak, saya rasa sudah cukup," ucap ku berusaha menahan Nicholas yang akan minum lagi. Dia sudah habis dua botol wine.
"Diam aja di situ, Fiona..."
Aku terdiam dan refleks kembali duduk dengan tenang. Karena Nicholas sudah mulai mabuk, sementara sekarang baru pukul 20:35 WIB.
Sekitar sepuluh menit Nicholas tak mengoceh apa-apa lagi. Ia hanya diam sambil terus minum dan minum. Aku benar-benar terkejut melihatnya yang tahan minum sebanyak ini.
Aku pikir Nicholas tak akan mabuk, tapi tiba-tiba Nicholas berdiri dan dia terlihat sempoyongan. Ya iyalah Fiona, mana mungkin orang sudah minum sebanyak ini dan tidak mabuk.
Nicholas menghampiri ku dan dia hampir saja terjatuh menimpa ku, untungnya aku refleks berdiri sementara Nicholas berpegangan pada sisi sofa.
"P-pak... Sebaiknya..."
Belum sempat aku melanjutkan kalimat gagapku, Nicholas menarik ku untuk kembali duduk dan dia menunduk menatap ku.
"Ada satu hal... Yang mereka lakukan kepada saya... Dan itu sangat menyakiti saya..."
"Apa..."
Nicholas semakin membungkuk, dia meraih wajahku dan aku merasakan dengan jelas suaranya tepat di telingaku. Sungguh sangat dekat, sehingga aku bisa merasakan napas hangatnya, dan jika aku tak salah, bibirnya sempat menyentuh daun telingaku sedikit jadi aku tak bisa bergerak sama sekali.
"Saya butuh kamu... Untuk membuktikannya... Dan... Untuk membalas mereka," bisik Nicholas dengan suara seraknya dan deep voice yang baru kali ini aku dengar dengan jarak sedekat ini.
Seketika aku membeku mendengar pernyataan Nicholas. Apa yang telah dilakukan kepadanya? Siapa yang Nicholas sebut mereka? Apakah artinya bukan Mia saja?
Dan lagi, kenapa Nicholas membutuhkan aku untuk membalasnya?
Belum selesai kebingungan ku, tiba-tiba Nicholas merengkuh bahu ku dan menatap ku. Tatapan bersahabat, sungguh. Meskipun melembut, aku tahu ada sebuah amarah yang seolah lama ia pendam.
"Fiona rencana kita, buat Mia terluka. Buat harga dirinya terluka," bisik Nicholas pelan seolah menghipnotis ku. Terlepas dari pandangannya yang menghipnotis, aku merasa, kalimat Nicholas barusan bukanlah sebuah perintah, tapi... Permintaan.