
Masih dalam euphoria ketegangan dan kekacauan akibat emosi ku yang tak bisa ku tahan tadi. Hal yang masih belum ku sesali.
Saat mobil berhenti di parkiran gedung apartmen, aku segera meraih tas kecilku dan begerak untuk keluar. Namun anehnya Nicholas juga ikut keluar dari mobil. Apa yang dia lakukan?
Tanpa mengatakan apapun, Nicholas menggandeng tangan ku masuk ke lobby. Raut wajah Nicholas terlihat datar, tapi aku merasa ada sedikit emosi yang tersirat di wajahnya.
"Saya tahu kamu kesal dengan saya," ucap Nicholas ketika kami masuk ke dalam lift. Dan seperti biasa, lift ini sepi. Hanya ada kami berdua saat ini.
"Justru saya pikir, Pak Nicholas yang kesal dengan saya," jawabku pelan.
"Ya," jawabnya membuat ku menoleh pada Nicholas saat itu juga. Suaranya terdengar berat, dan tanpa menatapku. Itu lebih menyeramkan menurut ku.
"Saya minta maaf, Pak."
"Ini bukan masalah maaf. Saya kesal karena saya gak yakin bisa mengubah penilaian kamu terhadap saya selama ini," jawab Nicholas melipat kedua tangannya di depan dada.
"Maaf... Pak. Tapi, penilaian apa?" tanya ku bingung.
"Kamu kasihan dengan saya. Kamu berpikir mungkin saya bodoh karena membiarkan istri saya begitu, dan membuat rencana seperti ini."
Aku tercengang mendengar ucapan Nicholas. Aku tak pernah berpikiran sekejam itu tentang Nicholas. Maksudku, memang semua pikiran ku akhirnya mengarah pada semua kesimpulan itu. Tapi aku tak pernah secara gamblang berpikir kalau Nicholas bodoh.
"Saya gak pernah berpikiran seperti itu, Pak. Boleh saya bicara jujur tentang pendapat saya?" tanya ku berusaha terdengar jelas.
"Saya gak akan peduli pendapat siapapun tentang saya," ucap Nicholas lalu keluar dari pintu lift yang sudah terbuka dan aku berjalan mengikuti langkah panjangnya.
Begitu sampai di depan apartmen ku, Nicholas berhenti melangkah. Ia mencoba membuka password apartmen tapi salah. Tentu dia langsung melirik ke arah ku.
"Saya sengaja ganti. Maaf, Pak. Tapi saya gak nyaman kalau orang lain bisa masuk ke kamar saya," jawab ku dengan hati-hati.
Nicholas menghela napas panjang kemudian menganggukkan kepalanya.
"Masuk. Belum ada jadwal untuk besok," ucap Nicholas kemudian berbalik hendak pergi. Namun aku menahan tangannya pelan.
"Kalau Pak Nicholas gak perduli dengan pendapat siapapun, terus... Kenapa Pak Nicholas marah karena berpikir saya kasihan atau menganggap kamu bodoh?" tanya ku pelan.
Nicholas mengeriyitkan kening. Dia kelihatan kebingungan, dan itu jadi hal yang menarik bagi ku. Aku tak pernah melihat Nicholas kebingungan begini sehingga terlihat jauh lebih imut.
"Pak Nicholas tenang aja. Semua yang Pak Nicholas pikirkan, gak benar. Saya punya cara pandang sendiri mengenai Pak Nicholas," ucapku tersenyum tipis, lalu menekan password apartmen ku dan segera masuk ke dalam.
Aku berjalan gontai menuju sofa. Akhirnya tubuhku bisa lebih relax di sini. Rasanya lelah fisik dan pikiran seharian ini. Pikiran ku terus berputar mengenai Nicholas.
Sejujurnya, aku masih terus menerka-nerka, apa yang ada di pikiran Nicholas setiap dia melihat istrinya bermesraan dengan laki-laki lain? Apa yang Nicholas rasakan selama ini? Dan apa yang terjadi pada mereka?
Wajah Nicholas yang tenang saat melihat Mia dan Hero berciuman di ruangannya. Bermesraan di Bali. Lalu tadi, di hotel. Bagaimana bisa? Bagaimana hubungan suami istri ini sebenarnya?
Aku penasaran, jadi aku buru-buru menyalakan ponsel ku untuk mencari tahu tentang Nicholas Arrasya dan kehidupannya.
Pemilik Ark's Film adalah sepasang suami istri bernama Ferdinan Arrasya dan Naomi Arrasya. Keduanya meninggal dunia diusia muda karena kecelakaan pesawat. Nicholas adalah satu-satunya penerus Ark's Film. Keluarga besar Nicholas tak diketahui datanya. Di internet, hanya berfokus pada mendiang orang tua Nicholas dan Nicholas sendiri.
Aku berusaha mencari tahu sosial medianya. Astaga, Nicholas bukan orang yang aktif posting di media sosial ternyata. Dia sangat tertutup dan misterius.
Informasi mengenai perusahaan Ark's Film juga hanya sebatas informasi formal. Ayolah Fiona, siapa yang akan membahas kehidupan pribadi pemiliknya? Kecuali soal berita pernikahan besar antara Nicholas dan Mia, seorang putri tunggal pemilik rumah produksi musik cukup terkenal di Indonesia. Astaga, aku bahkan tak tahu kalau Mia adalah putri dari pemilik label musik yang selama ini aku sukai.
Apapun itu, menurut publik, dari masyarakat awam sampai para pengusaha, semuanya serentak berpendapat kalau Mia dan Nicholas adalah pasangan paling sempurna.
Aku penasaran, bagaimana bisa Mia berselingkuh sebebas itu? Meskipun masih di tempat yang jarang dijangkau orang-orang dan sering memakai pakaian tertutup setiap mereka jalan keluar, tetap saja menurutku perselingkuhan Mia lumayan terbuka. Apa Mia serius tak tahu kalau selama ini Nicholas mengetahui perselingkuhannya?
Entahlah, aku tak mau memikirkannya lagi. Aku benar-benar ingin segera menyelesaikan kontrak ini.
***
Hari ini tak ada jadwal Nicholas untuk pergi ke kantor. Tapi dia meminta ku untuk datang ke private room-nya.
Aku pikir hari ini akan bisa bersantai seharian. Tapi entah kenapa sore-sore begini dia memintaku datang. Ku rasa untuk menjalankan rencananya yang lain. Entah apa lagi yang akan dilakukan oleh Nicholas.
Begitu sampai di kantor, aku bertemu dengan Angeline. Dan seperti biasa, dia tersenyum ramah padaku. Kemudian, aku berjalan masuk ke dalam ruangan Nicholas.
Ternyata, di dalam sini ada Mia. Dia terlihat duduk di kursi Nicholas, entah apa yang dia cari atau dia lakukan. Dan begitu Mia melihatku, aku tersenyum tipis berusaha ramah.
"Bukannya Nicholas gak ada jadwal di kantor hari ini? Kenapa kamu ke sini?" tanya Mia yang membuatku terdiam. Bagaimana aku menjawab nya? Apa Nicholas sengaja menjebak ku di sini?
"Saya... Asisten pribadinya. Banyak hal yang perlu saya periksa di kantor ini meskipun Pak Nicholas tidak datang," jawabku berusaha tenang.
Mia hanya tersenyum miring. Tapi aku yakin kalau Mia juga baru mengetahui hari ini bukan jadwal Nicholas ke kantor. Tapi untuk apa dia masih di sini?
"Kalau begitu, ada keperluan apa Bu Mia ke sini saat Pak Nicholas tak ada?" tanya ku begitu menyadari kalau di ruangan ini juga sedang ada Hero yang berdiri di dekat rak buku.
"Ini ruangan suami saya. Terserah kapan pun saya mau ke sini dan untuk apa, Fiona. Nicholas gak pernah mempermasalahkan hal ini," jawab Mia tersenyum.
Aku hanya diam, memperhatikan Hero yang menggeratak rak buku ini seolah ruangan ini adalah miliknya. Aku tahu dia aktor baru yang sedang terkenal. Tapi apa dia tak ada kerjaan lain sekarang? Selalu bersama Mia kemana-mana.
"Lalu apa yang dilakukan oleh Pak Hero di sini?" tanyaku pelan.
"Kamu pikir kita datang berdua ke sini? Hero datang ke sini lebih dulu untuk mencari Nicholas. Dan saya baru datang ke sini, untuk..."
Mia menghentikan ucapannya. Kemudian ia mengambil sesuatu dari atas meja Nicholas.
"Tiket honeymoon ke Bali," jawab Mia sambil menunjukkan amplop yang ia pegang. Aku tak menjawab, hanya diam mendengarkan Mia sementara ponsel khusus ku tiba-tiba berdering beberapa kali nada notifikasi pesan masuk. Tapi aku membiarkannya saja. Karena tahu itu pasti Nicholas.
Mia mengeluarkan ponselnya dan melihat layar ponselnya sambil tersenyum miring sebelum menengok ke arah ku lagi. Ia berjalan menghampiri ku dan berdiri tepat di hadapanku.
Aku menahan napasku, lalu perlahan menatap Mia sambil mengumpulkan keberanian ku serta rasa muak ku selama ini.
"Aku tahu Nicholas bodoh. Tapi sekarang, kebodohannya lebih parah. I think he's little bit insane," tukas Mia terlihat semakin kesal karena aku berani mendongak menatapnya.
"Apa Bu Mia pikir, orang itu pantas disandingkan dengan Nicholas? Bukannya sama saja dengan membuang berlian hanya untuk sebuah krikil?" tanya ku pelan.
"Kalau begitu, apa barusan Bu Mia sedang mengejek diri sendiri?" imbuh ku lagi. Kali ini sukses membuat Mia mendorong ku menjauh dan melemparkan ponselnya ke kepala ku. Ia hampir saja menjambak ku jika Hero tidak berlari menghampirinya untuk menahan Mia.
"Mia, hey... It's okay. Ada apa sih?" tanya Hero mencoba menenangkan Mia.
"Aku akan pastikan besok Nicholas pecat kamu! Sialan!" bentak Mia berbalik dan berjalan duluan keluar. Hero buru-buru memungut ponsel Mia lalu ia menaruh pandangannya kepada ku sebentar.
"Kening kamu..."
Aku mundur selangkah menjauh dari Hero ketika laki-laki ini mencoba menyentuh keningku. Jujur saja, meskipun tak sanggup mencibirnya, dalam hati aku selalu merasa jijik dengan laki-laki macam ini.
"Fiona, apapun yang terjadi hari ini, jangan sampai Pak Nicholas tahu. Mia akan lebih parah kalau kamu macam-macam. Jadi kalau mau hidup kamu tenang, sebaiknya tutup mulut."
Setelah berusaha mengancamku, Hero berjalan keluar dari ruangan ini. Aku tahu Nicholas menjamin keselamatan ku untuk tetap bekerja di sini meskipun aku melawan Mia. Tapi aku tak tahu kalau Mia akan sebrutal ini hingga melemparkan ponselnya ke kepala ku. Ini serangan namanya. Memang puas membalas ucapan Mia, tapi jika berakhir begini, lebih baik aku diam saja tadi.
Di saat aku masih memegangi kening ku yang terasa senat-senut, ponsel khusus ku berdering panggilan masuk dari siapa lagi kalau bukan Nicholas.
"Masuk ke private room sekarang," ucap Nicholas singkat. Bahkan aku belum mengucapkan sepatah kata pun.
Oh, jadi sejak tadi dia ada di sini. Mungkin dia ingin memarahi ku. Entahlah, aku memilih untuk masuk ke dalam private room.
"Kenapa Pak Nicholas meminta saya ke sini saat ada Bu Mia tanpa briefing?" tanya ku begitu masuk dan melihat Nicholas sedang duduk di sofa dengan laptop di pangkuannya.
"Untuk mengulur waktu."
"Apa?"
"Saya tahu Mia dan Hero datang ke ruangan ini untuk mencari surat kontrak kerja Hero dan memanipulasi mengenai pembayaran," jawab Nicholas, "sementara mereka di sini, jadi saya mengirim Ardi untuk ke apartmen mereka. Kamu saya minta ke sini untuk mengalihkan perhatian Mia."
"Jadi maksudnya, Pak Nicholas memang menaruh kontrak kerja itu di ruangan itu. Dan Pak Nicholas takut Mia keburu menemukannya, makanya saya diminta ke sini untuk mengalihkan perhatian dia?" tanya ku memperjelas.
"Tepat."
"Maaf, Pak. Tapi kenapa harus saya? Ada Angeline, atau Pak Nicholas..."
"Fiona, saya gak bisa keluar dari ruangan ini dan membiarkan Mia tahu soal ruangan rahasia saya. Sementara Angeline... Dia gak bisa mengganggu Mia. Yang ada Mia akan memaksa dia untuk pergi," jawab Nicholas.
"Jadi menurut Pak Nicholas, saya yang bisa mengganggu Bu Mia?"
Nicholas tersenyum miring kemudian mengalihkan perhatiannya dari laptop ke arahku.
"Saya harus memuji atas aksi kamu hari ini, Fiona," jawab Nicholas menarik tangan ku untuk duduk di sebelahnya lalu dia mendekat dengan tiba-tiba sampai aku membeku di tempatku.
Jari-jari Nicholas menyentuh area kening ku yang masih senat-senut tadi. Satu tangan Nicholas menarik kapas alkohol yang sepertinya sudah ia siapkan dari tadi.
"Pak, saya bisa obati..."
Kalimatku tak selesai karena Nicholas menahan ku untuk bergerak. Tangannya dengan lihai mengobati keningku. Dari bekas kapas yang dia usapkan, aku baru sadar kalau ada darah di luka ku.
"Mereka pikir, saya bisa mengatasi tempramental Mia," ucap Nicholas setelah selesai mengobati luka ku.
"Itu benar?" tanya ku ragu.
"Ya, itu benar," jawab Nicholas seketika membuat ku sedikit kecewa entah kenapa. Aku pikir, bahkan orang seperti Nicholas tak akan bisa menghadapi sikap temperamental Mia.
"Mia berasal dari keluarga yang berantakan. Sejak kecil dia diasuh oleh babysitter. Mulai saat itulah dia jadi temperamental. Gak suka apa yang dia punya disentuh orang lain," jelas Nicholas.
"Atau, orang yang bertentangan dengan dia. Mia pasti gak akan suka."
Aku pikir, perilaku temperamental Mia ini karena dia pikir aku merebut Nicholas darinya. Tapi, bagaimana jika Nicholas tahu kalau yang membuat Mia marah tadi adalah, karena aku mengejek Mia dan selingkuhannya.
Apa Nicholas sadar, kalau Mia hanya perduli pada dirinya sendiri dan kesenangannya.
"Kalau Pak Nicholas bisa mengatasi Bu Mia..." Aku menggantung kalimatku, rasa tak tahan ingin ku tanyakan tapi ragu akan responnya.
"Apa?" tanya Nicholas yang ternyata menunggu pertanyaan ku.
"Kenapa Pak Nicholas gak ada di samping Bu Mia dan mengatasi dia?" tanya ku pelan. Nicholas terdiam, dan seperti biasa, dia hanya menatap ku.
"Apa karena... Hero? Orang itu menahan Pak Nicholas untuk bisa mengatasi Bu Mia?" tanya ku tiba-tiba merasa sangat berempati pada Nicholas. Aku tahu Nicholas tak akan menjawab pertanyaan ku. Dia hanya mengalihkan pandangannya seolah sudah puas mendengar apa yang sedang ku pikirkan.
Keheningan di antara kami berdua tiba-tiba teralihkan oleh suara dering notifikasi di ponsel Nicholas. Dia bergerak melihat layar ponselnya sementara aku masih terdiam sambil memegangi kening ku yang terluka.
"Saya perlu kamu di sini malam ini," ucap Nicholas membuatku sontak menoleh padanya.
"Maksudnya, Pak?" tanya ku bingung.
"Ardi sudah menempatkan beberapa CCTV di dalam unit apartmen Hero dan Mia. Jadi saya perlu kamu bantu saya lihat gerak-gerik mereka," jawab Nicholas membuatku tercengang tak percaya. Apa tadi katanya barusan? Dia menyimpan kamera di apartmen pasangan selingkuh itu? Apa yang diharapkan mereka lakukan selain... Ah tidak!
"Pak, ini melanggar hukum kan? Lagi pula menurut yang saya lihat selama ini, Mia dan Hero itu adalah pasangan mesum-"
Sudahlah, Fiona. Sebaiknya pulang saja, atau pura-pura pingsan. Bagaimana bisa aku mengatakan kalimat itu? Kenapa mulutku sangat sulit disaring sih!