NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
TANPA KAMU



"Fiona, kamu dimana?" tanya Mama begitu aku menanyakan kabarnya melalui pesan singkat.


Aku tak benar-benar meninggalkan Nicholas. Aku tak benar-benar pergi dari Jakarta. Aku hanya memesan indekos yang mungkin tak akan diketahui oleh Nicholas.


"Fiona masih di Jakarta, Ma. Mungkin akhir bulan ini, Fio pulang ya," ucap ku setelah membereskan barang-barangku yang tak seberapa.


"Oh, syukurlah. Tadinya Mama sudah mau minta adikmu nyusul ke Jakarta karena kamu susah sekali dihubungi belakangan ini."


"Nggak kok, Fio ... Cuma lagi banyak kerjaan."


"Kamu kenapa? Nangis ya?"


Aku sedikit menjauhkan ponsel ku. Hanya untuk menarik napas agar tak terdengar jelas napas beratku.


"Nggak ini lagi flu, Ma. Makanya Fio sempetin ngabarin Mama."


"Kamu jangan terlalu diforsir kerjanya, Fio ... Sudah sana istirahat."


"Iya, Ma."


"Oh iya, sampaikan juga terimakasih sama bos mu. Mama lupa mulu."


Aku mengerutkan kening heran. Terimakasih? Untuk apa?


"Terimakasih apanya Ma?"


"Ini, ada yang ngirim amplop ke rumah. Mama gak ngerti sih, tapi kata adik mu, ini dokumen pribadi Mama yang sudah diperbarui. Ada dokumen Papa sama selingkuhannya juga lho. Kalau kata adik mu, ini bisa dipakai untuk laporan ke polisi kalau Papa mu atau selingkuhannya itu macam-macam lagi. Bener gitu kan Fio? Duh, Mama jadi merasa aman sekarang. Soalnya, kamu tahu sendiri kan mereka sudah pegang data pribadi Mama."


Sementara Mama masih mengoceh, aku diam kembali memikirkan Nicholas. Iya, memang pasti Nicholas yang mengirim. Hanya dia orang yang tahu masalah keluarga ku, dan orang cerdas yang paling memungkinkan melakukan hal itu. Ahli dalam mencari data-data pribadi orang lain.


"Fio?"


"Ma, nanti Fio telepon lagi ya."


"Oke, kamu istirahat ya. Jangan makan mie instan terus," ucap Mama lalu mengakhiri sambungan teleponnya.


Aku menerka-nerka. Apakah Ardi sudah memberikan surat ku kepada Nicholas? Apakah Nicholas sudah membacanya? Bagaimana reaksinya?


Dinar memberitahu ku, kalau perusahaan Wedding Organizer yang dipakainya itu sedang membutuhkan seorang staf. Dan kebetulan, lamaran ku langsung diterima, begitu mereka melihat CV ku yang pernah bekerja di ARK'S Film. Oh, sepertinya bukan kebetulan.


Tapi, sejak hari ini, aku mencoba untuk menjadi Fiona yang dulu. Yang tak punya siapa-siapa, dan bukan siapa-siapa.


Meskipun aku tahu akan sangat sulit merelakan Nicholas, setidaknya lebih baik begini daripada harus menjadi selingkuhan - bahkan aku berpikir lebih baik terus menjadi selingkuhan daripada melihat Nicholas membalas dendam dengan cara seperti itu.


Dulu, aku sering berpikir, kenapa banyak sekali kasus-kasus tak masuk akal yang menimpa sebuah keluarga terpandang, atau keluarga kaya. Padahal hampir setiap harinya mereka terlihat begitu mengagumkan, tak kurang apapun, tak pernah kelihatan memiliki masalah yang perlu dikhawatirkan.


Tapi dari Nicholas, aku tahu mereka bahkan memiliki masalah yang begitu rumit. Karena kekuasaan, harta, tahta, semuanya menjadi satu, menggunung dan meledak suatu waktu.


Berkali-kali aku membujuk Nicholas, tapi dia tetap tak mau melepaskan dendamnya. Kemudian aku sadar, tentu saja. Siapa aku? Hanya perempuan yang ia sukai selama beberapa waktu. Bahkan lebih singkat dari dendam yang sudah sejak sangat lama berada di hatinya.


"Selamat bergabung ya, Fiona. Semoga kamu betah kerja di sini," ucap Vivian, ketua tim yang langsung menyambutku di hari pertama.


Ternyata benar apa yang orang-orang bilang. Untuk melupakan seseorang, cobalah untuk mencari kesibukan, cobalah membuka hati, dan cobalah untuk mencari seseorang yang bisa mengerti kamu. Untuk sementara, hanya ini yang bisa ku lakukan. Mencari kesibukan, tak membiarkan diri ku diam sedikitpun, karena aku pasti akan kembali memikirkan Nicholas.


Meskipun, aku selalu mencoba membohongi diri ku sendiri. Aku berusaha tak perduli dengan apapun tentang Nicholas, terkadang, aku selalu mendatangi Ark's Film di malam hari. Ketika kantor tutup.


Dan di sana, aku masih melihat mobil Nicholas. Dia seperti dulu lagi, tidur di private room-nya, sendirian. Entah apa yang dia pikirkan. Dia selalu berhasil membaca pikiran ku, tapi aku tak pernah bisa membaca pikirannya.


Setelah membaca surat ku, mungkin dia akan membenci ku. Setelah dia percaya kalau aku benar-benar meninggalkannya, Nicholas pasti sangat membenci ku. Tapi tak ada yang bisa aku lakukan untuk sekarang. Aku harus pergi agar Nicholas sadar kalau apa yang akan dia lakukan itu salah. Meskipun nanti, pada akhirnya Nicholas akan menemukan perempuan lain yang bisa mengerti dirinya, aku tak bisa melarang itu.


Kehidupan ku nyatanya tak akan sama seperti dulu lagi, sebelum bertemu dengan Nicholas.


"Hei, kenapa bengong aja?" tanya Dika begitu menghampiri ku yang berdiri di depan aula hotel. Aku bukan bengong, tapi tatapan ku tanpa sengaja melihat Nicholas yang berjalan menuju lift melewati ku begitu saja. Dia benar-benar membenci ku?


"Ayo ke dalem, biar cepet selesai. Baru deh bengong sepuasnya," ucap Dika merangkul ku sambil tertawa. Dia memang orang yang nyeleneh.


"Nanti setelah selesai, aku pulang duluan aja ya."


"Kenapa? Gak enak badan?"


"Bukan, nggak apa-apa lagi ... Pengen pulang cepet aja."


"Ck, serius mau lanjut bengong? Daripada gitu, mendingan kamu ikut kita makan-makan dulu. Biar mood-nya naik. Gimana?"


Dika benar, sebaiknya aku menghabiskan waktu dengan orang-orang daripada terus dipusingkan oleh Nicholas.


"Sini biar aku bawain aja," ucap Dika sambil mengambil alih tumpukan kain yang ku bawa.


"Eh, Dik ..."


"Udah kamu cek aja barang-barang yang belum masuk ke aula. Sama Syifa sana," jawab Dika lalu berjalan pergi.


Aku menghela napas, lagi-lagi Dika memberikan bantuan yang sebenarnya tak ku minta. Aku menghampiri Syifa dan meminta daftar barang yang harusnya sudah ada di dalam aula. Mereka akan segera menyulap aula ini menjadi tempat indah untuk acara pernikahan.


"Kayanya, Dika suka deh sama lo," bisik Syifa sontak membuat ku mengalihkan pandangan ke arahnya.


"Apa?"


"Iya. Kayanya dia suka deh sama lo. Dia tuh orang yang cuek dan bodo amatan banget tahu. Tapi sama lo, beda banget. Gue nih, angkat barang segeda gaban, boro-boro nolongin, ngelirik aja nggak. Kalau gue gak minta tolong, mana mau dia bantuin," jawab Syifa tertawa pelan.


"Masa cuma nolongin doang bisa dikira suka," elak ku terkekeh pelan lalu menaruh perhatian ku pada kertas data-data yang ada di tangan ku.


"Ih udah sering kali gue nangkep basah, dia lagi ngeliatin lo."


"Kalau dia suka, dia juga bakal bilang sendiri," jawab ku tak mau memperpanjang.


Syifa hanya mengedikkan bahu."Yah, Dika emang susah buat serius. Kita lihat aja, dia berani gak bilang ke lo," jawab Syifa tertawa.


Tapi aku harap, Dika tak perlu mengatakan itu. Aku tak akan bisa menghadapi hatinya, sementara masih ada Nicholas di hati ku.