
Hening. Aku tak pernah makan dalam keadaan hening begini. Hanya ada aku dan Nicholas di ruang makan sebesar ini, menggunakan meja panjang dengan beberapa makanan di atasnya.
Aku tak tahu apa saja tepatnya nama makanan ini. Yang aku tahu di sini ada fried potato jacket, kacang polong, beef steak dan asparagus. Astaga, aku rasa, aku tak cocok dengan makanan-makanan ini.
"Apa kamu selalu makan-makanan western setiap hari?" tanya ku penasaran.
"Tergantung situasi. Tapi hari ini, karena rumah ini kedatangan tamu setelah sekian lama, jadi harus dijamu dengan baik," jawab Nicholas.
Aku mengedarkan pandangan ku sekitar rumah. Memikirkan kira-kira tamu seperti apa yang datang ke sini?
"Saya udah selesai," ucap Ku menaruh garpu di atas piring, tak sabar untuk mendengarkan cerita Nicholas.
Nicholas menatap ku dan piring yang sudah kosong. Memang sengaja, agar Nicholas tak bisa beralasan lagi.
"Kamu benar-benar penasaran sama saya ternyata," sindir Nicholas kelihatan menahan senyumnya.
"Coba kamu pikir. Rasanya itu, kaya kamu sangat suka uang, dan kamu berusaha keras memikirkan setiap hari mencari tahu tentang uang, dan cara mendapatkannya. Lalu, kamu akan frustrasi saat kamu gak menemukan informasi apapun tentang uang," ucap ku menyindir balik Nicholas.
"Jadi, itu yang selama ini saya lakukan. Memikirkan setiap hari, mencari tahu tentang kamu dan cara mendapatkannya," balas Nicholas sontak membuat ku tak bisa berkata-kata dengan pengakuannya yang tiba-tiba. Tenang Fiona, jangan gugup, jangan salah tingkah.
"Itu ... Beda. Kamu lakuin itu untuk bisa mengontrol saya, karena kamu mengontrak saya untuk kerja sama," jawab ku menepis jawaban Nicholas.
"Ya, saya rasa berawal dari situ. Saya mau tahu lebih banyak tentang kamu," sahut Nicholas menyelesaikan makannya.
Dia meraih tangan ku lagi, menggandeng ku untuk mengikutinya. Kami menaiki tangga rumahnya, lalu sampai di sebuah ruangan.
Ruangan dengan dinding ber-design kayu, ruangan ini dominan dengan design kayu. Ukurannya besar, ada sebuah meja dan kursi kerja, rak-rak buku yang menjulang tinggi, dan buffet pajangan.
"Ini ruangan siapa?"
"Papa saya," jawab Nicholas menyenderkan dirinya ke meja, seolah membiarkan aku untuk melihat-lihat ruangan ini.
Banyak sekali buku-buku tentang bisnis. Lalu perfilman, naskah skenario, akting, semacam itu. Lalu aku beralih ke foto-foto di atas buffet kayu.
"Jadi, apa yang mau kamu ceritakan ke saya?"
"Apapun yang ingin kamu tahu," jawab Nicholas dengan tenang. Tapi ketika aku menoleh ke arahnya, aku sedikit melihat kegelisahan dari tatapannya. Apa aku salah? Nicholas bukan tipe orang yang akan memperlihatkan kegelisahannya.
"Kenapa di foto-foto ini, cuma ada kamu dan Papa kamu?" tanya ku dengan hati-hati.
"Karena Mama saya sudah pergi," jawab Nicholas tanpa ragu.
"Oh, maaf."
"Bukan meninggal. Tapi dia pergi ... Kabur dengan laki-laki lain," jawab Nicholas semakin membuat ku merasa tak enak luar biasa. Ya ampun, kenapa awal mula saja sudah tak mengenakkan begini?
"Saya penasaran, kalau kamu membenci Mia, kenapa kamu masih mempertahankan rumah tangga kalian? Apa rasa cinta kamu ke dia -"
"Sejak awal, gak pernah ada cinta antara saya dan Mia," sergah Nicholas sepertinya sudah enggan mendengarkan kelanjutan pertanyaan ku.
"Apa itu karena Kalina?" tanya ku semakin penasaran. Aku menebak, apakah Mia merebut Nicholas dari Kalina?
Nicholas menghela napas panjang. Ia berjalan menuju laci mejanya. Lalu ia mengeluarkan sebuah album foto.
"Mama saya berasal dari Turki, sedangkan Papa saya campuran Jerman - Jawa. Dan saat saya mencari Mama ke Turki, saya bertemu dengan Kalina, sejujurnya ketertarikan saya pada Kalina juga bukan cinta."
Sementara Nicholas bercerita, aku melihat-lihat album foto ini. Nicholas dan seorang perempuan cantik berkulit putih dan rambut pirang yang memiliki senyum yang indah.
"Saat Kalina dan keluarganya menetap di Indonesia bersama ayahnya, pertemuan saya dengan Kalina memang cukup intens. Tapi sekali lagi, saya ... Gak pernah jatuh cinta. Apalagi sama Kalina. Dia sudah seperti adik saya sendiri."
"Dan keluarga kamu juga Mia, salah memahami hubungan kamu sama Kalina?" tanya ku, lebih seperti sebuah pernyataan yang butuh konfirmasi.
"Ya. Mereka pikir, saya dan Kalina memiliki hubungan spesial. Saat itu saya dijodohkan oleh kakek saya, dengan Mia. Saya setuju karena dulu saya perlu dukungan dari perusahaan keluarga Mia. Mereka khawatir saya akan menolak dan lebih memilih Kalina. Makanya sebelum saya bilang, ternyata mereka lebih cepat bertindak untuk meneror Kalina."
Aku tertegun mendengarkan cerita Nicholas, mencoba mencerna ucapannya.
"Sekarang, saya mengerti kenapa Kalina gak mengatakan ini sama saya. Mungkin dia tahu saya akan hancur kalau tahu keluarga saya sendiri yang meneror dia."
Jadi benar, Nicholas membutuhkan bertahun-tahun untuk membuktikan ini. Mungkin rencana wanita simpanan rahasia ini baru ia lakukan setelah mempertimbangkan banyak hal. Dan aku merasa bersalah karena selama ini selalu berpikiran buruk padanya.
"Kalau Mia begitu cinta sama kamu sampai menyingkirkan Kalina, kenapa dia malah selingkuh?"
"Karena saya gak pernah meniduri dia," jawab Nicholas sangat gamblang. Astaga orang ini kenapa tak dipikir dulu sih. Maksud ku, setidaknya agar aku tidak terlalu kaget dan jadi kikuk begini. Lalu apa artinya, Nicholas benar-benar impoten?
"Kamu pikir yang dikatakan Hero tentang saya itu benar?"
"Sa-saya bukan mikir begitu. Saya cuma ..."
"Saya juga gak tahu, saya itu impoten atau enggak. Yang jelas saya sama sekali gak tertarik dengan Mia," jawab Nicholas dengan tenang. Kemudian dia menoleh ke arah ku sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku.
"Tapi kalau kamu penasaran juga. Gimana kalau kita tes?"
"Tes? Tes apa?"
"Saya selalu tertarik untuk mencium bibir kamu. Saya gak bisa kontrol setiap saya menyentuh bibir kamu. Saya penasaran gimana -"
"Dan bukannya Anda sudah pernah menggantikan saya baju saat itu, Pak Nicholas. Bagaimana perasaan Anda saat itu?" tanya ku sengaja menyindir dengan kalimat formal.
Tiba-tiba Nicholas menjentikkan jarinya seolah membetulkan ucapan ku.
Pengakuan macam apa ini? Astaga Nicholas, rasanya kedua kaki ku lemas. Aku butuh kursi.
"Saya harusnya bisa memanfaatkan kesempatan itu. Toh kamu juga lagi mabuk, gak akan ingat apa-apa," jawab Nicholas dengan entengnya.
Aku langsung melotot kepadanya. Tapi Nicholas balas memutar matanya pada ku.
"Kamu tahu kan sekarang kenapa saya gak izinkan kamu minum sama Abira saat itu?" ucap Nicholas.
"Saat itu saya pesen minuman gak beralkohol kok."
"Ya, dan mengingat rasa penasaran kamu yang tinggi, saya lebih khawatir kamu akan coba-coba minum yang lain. Dan itu lebih gawat kalau sama Abira," jawab Nicholas membuatku mengatupkan bibir, mengurungkan niat ku untuk membantah.
Ternyata Nicholas sudah hapal tentang sifat penasaran ku selama ini. Tapi dia berpikiran sangat jauh. Tidak seperti ku yang berpikiran pendek.
"Lalu kenapa Mia masih mempertahankan kamu, kalau kamu gak mau ... Berhubungan sama dia?"
"Status sosial, popularitas, banyak pengakuan yang dia inginkan atas pernikahan ini," jawab Nicholas.
Sungguh rumit. Aku pikir orang kaya raya seperti Nicholas sangat minim masalah. Tapi ternyata, lebih banyak sumber masalah yang bukan kaleng-kaleng. Dan semua itu masih tak jauh-jauh dari masalah harta.
"Lalu kenapa kamu gak pernah jatuh cinta?"
Nicholas terdiam. Ia mengedikkan bahunya. Apa dia sendiri bingung dengan hal itu?
"Sekarang?"
"Bisa kamu definisikan apa itu cinta?" tanya Nicholas, dan aku terdiam.
"Kalau cinta itu adalah perasaan ingin selalu melihat, ingin selalu bersama, ingin selalu melindungi, dan hasrat yang tinggi ..." Nicholas menghentikan ucapannya sambil menatap ku yakin, "saya bisa bilang kalau saya jatuh cinta sama kamu," lanjutnya.
"Secepat ini?"
"Siapa yang bisa mengontrol ini? Saya juga gak ngerti kenapa saya bisa ... Punya perasaan ini sama kamu," jawab Nicholas.
Aku terdiam lagi, menundukkan kepala ku menahan senyum. Aku tak tahu, tapi Nicholas terlihat sangat jujur masalah ini.
"Laki-laki yang udah sekian lama gak jatuh cinta, terus akhirnya jatuh cinta," ledek ku menghampiri Nicholas dan memeluknya. Rasanya sangat nyaman ketika Nicholas membalas pelukan ku dan mau menyenderkan kepalanya di bahu ku.
"Mungkin, karena kamu punya sesuatu yang saya butuhkan, Fiona," bisik Nicholas.
"Apa?"
"Kasih sayang," bisik Nicholas melingkarkan tangannya di pinggang ku.
Aku sedih begitu Nicholas mengatakan ini. Aku memang tak sengaja menunjukkan rasa sayang ku dengan Nicholas. Tapi mungkin Nicholas mengerti rasa peduli yang selalu aku lakukan untuknya. Dan aku tak menyangka Nicholas akan menyadarinya.
"Nicho ..."
"Hmm?"
"Pertanyaan terakhir. Apa rencana kamu untuk balas mereka semua sebenarnya?" tanyaku pelan.
Nicholas terdiam. Tiba-tiba ia melepaskan pelukannya dan menatap ku. Tak seperti saat menjawab pertanyaan-pertanyaan ku sebelumnya, Nicholas terlihat ragu akan menjawab.
"Nicholas, apa rencana kamu?" tanya ku mengulang.
"Untuk saat ini, saya belum bisa jelasin itu, Fiona."
Aku menahan napas ku, melepaskan tangan Nicholas dari pinggang ku dan memeluk diri ku sendiri.
"Rencana itu melibatkan saya?"
"Nggak. Ini hanya saya dan mereka."
"Lalu kenapa saya ga boleh tahu?"
"Fiona," panggil Nicholas meraih tangan ku lalu menggenggamnya.
"Kamu selalu minta saya untuk percaya sama kamu, Nicho. Tapi kayanya kamu sendiri gak percaya sama saya," ucap ku protes.
Nicholas menghela napas berat, ia menundukkan kepalanya.
"Nicholas, kamu tahu? Kamu malah bikin saya tambah khawatir dan berpikiran yang nggak-nggak tahu?"
Nicholas akhirnya beranjak dari duduknya. Ia kembali menghampiri laci mejanya, kemudian mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam.
"Saya sudah pikirkan ini, di ruangan ini sejak lama. Saya selalu berdebat dengan diri saya sendiri. Sampai akhirnya saya membuat sebuah keputusan besar. Dan keinginan itu semakin besar sekarang. Semuanya ada di dalam kotak ini," ucap Nicholas.
Aku menatap kotak tersebut. Hanya kotak kayu biasa sebenarnya.
"Saya peringatin kamu, Fiona. Saya tunjukin rencana ini hanya untuk menunjukkan sama kamu kalau saya sangat mempercayai kamu."
"Nicho buka kotaknya sekarang," desakku tiba-tiba semakin takut. Aku berharap Nicholas tak menaruh hal-hal yang aneh di dalam.
Pelan-pelan, Nicholas membuka kotak tersebut. Ia mengeluarkan beberapa kertas catatan, lalu menaruhnya di atas meja. Kemudian, aku hampir terjatuh lemas ketika Nicholas mengeluarkan sebuah pistol dari dalam kotak tersebut.
Apa sebenarnya rencana Nicholas? Aku harap pikiran ku salah. Tak mungkin Nicholas berniat menghabisi mereka semua. Meskipun kemungkinannya sangat kecil.