NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
ORANG ANEH



Setelah Ardi mengantarkan aku kembali ke dalam kamar, aku hanya diam di atas tempat tidur. Sejujurnya aku shock dengan kejadian ini. Bahkan Ardi tak menjelaskan apapun tentang ini semua.


Orang tadi, pasti bukan orang iseng yang sengaja mengerjaiku. Dia orang aneh. Meskipun hanya berdiri dengan topeng hewan berbentuk kambing, tetap saja aku ketakutan setengah mati. Apalagi saat dia mengirimku puluhan pesan yang bertuliskan kalimat.


"Aku mendapatkan mu."


Itu sangat mengerikan bagi ku. Seperti sebuah teror yang aku sendiri belum tahu maknanya apa. Yang pasti, ini seperti film-film psikopat yang pernah aku tonton sebelumnya.


Orang aneh? Tunggu. Sepertinya bukan sekali aku didatangi orang aneh. Kemarin saat di apartmen juga ada orang aneh. Apa ini ada hubungannya dengan Nicholas? Nomor yang dihubungi orang aneh itu juga nomor khusus yang Nicholas berikan kepadaku sebagai wanita simpanannya.


Apa... Ini ada campur tangan dari keluarga Nicholas yang aneh itu? Yang tergabung dalam sebuah perkumpulan konyol? Tapi kenapa?


Aku merebahkan diri di atas tempat tidur. Lelah rasanya ada dalam posisi ini. Sejujurnya, aku mulai takut dan ragu pada diri ku sendiri dengan keputusan ku ini menerima tawaran menjadi wanita simpanan Nicholas tanpa mengetahui apa-apa.


***


Pukul 13:00 WIB. Nicholas masih belum memerintahkan apa-apa. Ponsel ku sudah dinyalakan lagi. Nomor orang asing itu sudah terblokir otomatis.


Jadi, saat ini hanya Nicholas yang bisa menghubungi ku ke ponsel ini.


Nicholas mengirim pesan ke nomor khusus ku.


From: Nicholas


Are you okay? I'm sorry, aku gak bisa lihat kondisi kamu sekarang. Dia masih sama aku di hotel.


Ini adalah drama yang sedang dimulai oleh Nicholas. Seharusnya aku tak menganggapnya serius. Tapi untuk menghidupkan drama ini, aku harus merasakan seolah-olah benar-benar selingkuhannya Nicholas.


To: Nicholas


It's okay. Aku baik-baik aja... Kamu gak perlu terlalu khawatir ya, sayang...


From: Nicholas


Kamu udah makan siang? Apa aku perlu pesenin kamu sesuatu?


To: Nicholas


Nggak perlu, sayang. I'll see you later...


Sudahlah, tidak perlu terlalu banyak bicara. Aku bergegas meraih tas dan dompet ku berniat jalan-jalan ke sekitar kota. Melupakan pikiran ku tentang apa saja yang dilakukan Nicholas saat bersama Mia. Aku benci pikiran itu. Memang apa urusannya dengan ku? Mereka mau melakukan apapun, terserah mereka bukan?


Ponselku kembali berdering nada notifikasi pesan masuk dari Nicholas.


From: Pak Nicholas


Jangan keluar hotel dulu untuk sementara. Kamu bisa makan dan lalukan apapun selama masih di area hotel.


Ya ampun. Apa ini masih masalah kejadian subuh tadi? Kenapa dia malah membuat ku semakin takut?


To: Pak Nicholas


Okay, sayang. Tenang aja, aku gak akan kemana-mana.


Seandainya perhatian orang ini nyata padaku. Tapi tetap saja. Kalau dia perhatian, harusnya dia datang langsung, bukan malah mengandalkan Ardi.


Aku harus makan di restoran hotel artinya. Baiklah, berjalan-jalan di hotel ku rasa tak masalah. Toh ini hotel besar. Pasti banyak hal menarik di sini.


Saat aku hendak keluar, ponsel ku berdering pesan masuk. Kali ini Angeline yang mengirimkan jadwal Nicholas minggu depan. Baiklah.


Tunggu. Kenapa Angeline mengirim ke ponsel khusus ku?


Ah! Fiona! Tidak, aku yang salah. Tadi Nicholas mengirim pesan ke ponsel pribadiku untuk jangan keluar area hotel! Dan aku membalasnya... Menggunakan kata informal plus panggilan sayang! Astaga Fiona... Nicholas sudah membaca pesan ku tanpa membalas. Ya Tuhan, aku malu setengah mati.


Kenapa Nicholas tidak menegur ku? Tidak, tidak Fiona. Ini kesalahan Nicholas. Kenapa dia mengirim ke dua ponsel ini? Ya Tuhan semoga Nicholas mengerti kalau aku salah kirim jawaban karena drama pesan kami sebelumnya.


Aku berusaha menenangkan diri. Sebaiknya aku pergi keluar. Sungguh rasanya aku perlu mencari udara segar untuk mengalihkan pikiran ku dari Nicholas.


Sekitar pukul 13:45 WIB aku berada di restoran utama hotel ini sendirian. Aku makan apapun yang ku inginkan. Dan ternyata Ardi ditugaskan untuk terus mengikuti ku.


Jika saja Ardi bisa diajak mengobrol seperti biasa, mungkin aku tak akan merasa sendirian seperti ini.


Aku berjalan-jalan di sekitar area hotel. Melihat bule-bule yang berlalu lalang di sini. Bahkan sesekali aku melihat artis yang entah sedang liburan atau syuting.


Seingat ku, Ardi ditugaskan untuk memperhatikan Hero. Tapi entah kenapa hampir seharian ini ia mengikuti ku.


Tanpa sadar aku sampai di sekitar lobby. Aku hampir tertawa ketika Ardi mempercepat langkahnya mengikuti ku. Dia pikir aku akan kabur keluar area hotel. Meskipun kenyataannya aku memang ingin.


Kesenangan ku mengerjai Ardi tiba-tiba terhenti ketika melihat Nicholas yang masuk bersama Mia. Pandangan ku langsung tertuju pada Mia yang memeluk lengan Nicholas sambil tertawa-tawa seperti ada suatu hal menyenangkan dan hanya mereka saja yang tahu.


Aku menundukkan kepala ku lalu buru-buru berbalik, melangkahkan kakiku menjauh entah kemana. Ardi berusaha memanggil ku yang berjalan ke arah pintu keluar lobby. Aku baru sadar, jadi aku berbalik lagi ke arah lain, tidak jadi keluar. Dan Ardi masih mengikuti ku.


Aku memutuskan untuk pergi kembali ke kamar ku dan Ardi masih mengikuti ku. Laki-laki yang jauh lebih tua dari ku ini menanyakan padaku kenapa aku pergi begitu saja seperti tadi sambil terlihat marah.


Jujur saja ini pertanyaan aneh yang ditanyakan Ardi sejak aku mengenal dia. Untuk apa dia bertanya seperti itu, layaknya orang yang sedang perduli dengan ku.


"Kenapa Mbak Fiona bereaksi seperti itu tadi?" tanya Ardi lagi. Kemudian aku sadar kalau pengawal setia Nicholas ini mungkin saja khawatir aku mulai menaruh rasa sungguhan kepada atasannya.


"Saya... Saya cuma iri aja. Mereka bisa pergi keluar jalan-jalan. Sementara saya terkurung di sini. Padahal saya gak pernah jalan-jalan di kota ini."


Aku berusaha mengelak dan akhirnya Ardi berhenti bertanya. Ia hanya menghela napas panjang kemudian memganggukkan kepalanya.


"Sebaiknya Mbak Fiona istirahat sekarang, karena nanti malam, Pak Nicholas meminta Mbak untuk datang ke bar hotel," ucap Ardi kemudian berpamitan untuk pergi keluar kamar ku.


Aku menghela napas panjang-panjang, berusaha menetralkan diri. Keadaan seperti ini semakin membuatku sesak. Aku sendiri ragu dengan alasan ku tiba-tiba pergi barusan.


Aku baru saja mendapat panggilan telepon. Kali ini Dinar yang menelepon. Syukurlah! Setidaknya aku bisa mengalihkan pikiran ku dari Nicholas.


"Din!"


"Fio, lo dimana? Katanya lo dimutasi dari tempat kerja lo ya?" tanya Dinar yang sepertinya sudah tahu kabar dari ibu ku.


"Iya. Gue dimutasi-"


"Masih di Indonesia kan? Okay, gak perlu kasih tahu gue tepatnya alamat lo. Karena si Joshua masih berusaha cari-cari lo. Dan gue gak mau keceplosan bilang."


"Hah? Serius? Gue udah bilang ke Mama..."


"Tenang aja. Meskipun si Joshua nyamperin Mama lo hampir tiap hari, tapi kayanya Mama lo juga gak ngasih tahu tuh alamat lo," jawab Dinar terkekeh pelan.


"Iya, gue masih di Indonesia kok intinya. Gimana kabar lo? Masih di Surabaya?" tanya ku.


"Baik. Iya gue masih di Surabaya, rencananya, nanti begitu gue nikah, gue akan tinggal di Bali, sama suami gue."


"Iya, serius. Kemungkinan bulan depan. Nanti gue undang kok, tenang aja."


"Ga perlu ngundang Joshua deh lo. Nyebelin banget itu orang."


"Yee, yang punya masalah kan lo. Bisa habis gue dimarahin Ibu sama Bapak kalau ga ngundang orang terhormat di desa kita," sahut Dinar membuat ku tertawa-tawa pelan.


"Fi, tadi pagi gue lihat Ayah lo... Dia dateng ke rumah. Dan ribut lagi sama Mama lo. Tapi lo gak perlu khawatir, kita semua ada untuk bantuin Mama lo. Gue salut sama Mama lo yang masih bisa menghadapi Ayah lo dengan tenang dan tegas."


Aku terdiam sejenak. Sejujurnya, aku merasa sangat marah dan ingin rasanya ada di sana saat Ayah datang. Tapi di sisi lain, aku juga merasa sedih karena Mama sendirian di sana.  Adik laki-laki ku mungkin hanya akan pergi keluar jika Ayah datang. Dia malas bertemu Ayah kami. Aku harap,  suatu saat aku bisa melemparkan banyak uang kepada Ayah untuk 'mengganti' apapun yang dia katakan untuk menghidupi kami. Termasuk membayar semua hutang wanita biadab simpanannya itu.


***


Pukul 19:00 WIB. Ardi menuntun ku untuk pergi ke bar khusus yang ada di restoran utama hotel. Sesuai dengan perintah Nicholas, aku memakai mini dress dengan tatanan rambut dan make up yang ku buat sendiri senatural mungkin.


Ini juga bukan tipe gaun pesta. Hanya gaun yang dipakai untuk hang out. Tapi tetap saja aku harus menggunakan heels setinggi 10 cm yang sering sekali membuat kaki ku pegal.


Di sana, aku hanya duduk di sebuah meja sendirian. Nicholas memberiku arahan untuk memperhatikannya yang sedang bersama Mia dan teman-temannya. Seolah-olah aku sedang mengawasi mereka.


Ya ampun, baiklah. Aku akan bertingkah seperti wanita simpanan yang mengawasi sugar daddy ku - bersama istrinya. Menggelikan sekali.


Nicholas akan balas memperhatikan ku. Dan ini adalah bagian dari skenario Nicholas agar teman-teman Mia sadar kalau memang ada 'sesuatu' antara Nicholas dan asisten pribadinya ini. Dan trik Nicholas berhasil. Bahkan dia mampu membuat Mia merasa gelisah dan tak nyaman di tempatnya.


"Hai..."


Aku terkejut ketika seseorang duduk di sebelah ku sambil membawa minumannya. Dia adalah Hero. Laki-laki itu duduk santai di sebelah ku seolah kami berdua adalah teman akrab.


"Gak enak ya, jadi yang kedua," ucap Hero seolah menyadari apa yang aku lakukan saat ini di sini.


Aku tak menjawab, aku berusaha memikirkan bagaimana caranya pergi dari hadapan orang ini.


"Kamu tahu? Sampai detik ini, aku sama Mia ngetawain kalian," ucap Hero mendekati ku dan tersenyum. Ya, memang kuakui senyum laki-laki ini sangat manis.


Sejauh ini aku hanya diam tanpa mau menoleh ke arahnya sedikitpun.


"Nicholas itu tampan, kaya, dan terkenal. Aku tahu. Tapi apa pernah kamu pikir kenapa Mia bisa lebih milih aku dibanding suaminya yang kelihatan sempurna itu?" tanya Hero membuat ku menoleh ke arah nya bingung.


"Ada satu hal yang paling buat Mia gak percaya sama sandiwara kalian," ucap Hero lagi membuatku menggenggam gelasku dengan kesal.


"Nicholas itu punya kekurangan. Dan kalau kamu benar-benar selingkuhannya, pasti kamu tahu..."


"Saya berharap kamu bisa tutup mulut kamu," tukas ku pelan.


Tapi Hero malah tersenyum miring. "Kenapa? Kamu malu mengakui, kalau laki-laki itu impoten?"


Aku refleks menyiram Hero dengan minuman di gelasku hingga dia terkejut dan berdiri dengan raut wajah kesal. Aku sendiri kaget dengan respon ku.


Dan sekarang, aku tahu orang-orang mulai menaruh perhatiannya ke arah ku. Bagaimana tidak, aku baru saja menyiram seorang aktor yang sedang naik daun ini.


"Berani-beraninya kamu bersikap begini sama Hero? Kamu tuh siapa sih? Cuma asisten pribadi kan? Kok bisa kurang ajar begini?" omel Mia yang entah sejak kapan berada di tengah kerumunan ini.


Manager Hero sudah memberikannya sapu tangan sementara Hero masih melemparkan tatapannya padaku.


"Saya akan tuntut kamu atas tindakan tidak menyenangkan ya, Fiona. Biar kamu -"


"Mia," panggil Nicholas menahan Mia yang mengamuk. Sementara aku hanya diam saja berusaha menahan emosi ku sendiri dan rasa malu.


"Gak perlu, Bu Mia. Ini hanya salah paham aja. Ga apa-apa. Kebetulan saya kenal dia kok," ucap Hero tersenyum ramah dan sukses mendapatkan simpati banyak orang.


"Gak bisa, Hero. Orang ini bener-bener kurang ajar, gak tahu sopan santun!"


"Fiona, sebaiknya kamu minta maaf," ucap Nicholas pada ku dengan suara pelan. Aku mengabaikannya, aku benar-benar kesal. Seandainya saja Nicholas tahu.


"Fiona... Saya bilang, minta maaf. Kamu salah karena sudah bersikap begini," ucap Nicholas lagi menatap ku.


Aku menahan napas ku pelan. Kemudian menatap Hero dengan tatapan tajam.


"Saya... Minta maaf. Karena bersikap gak sopan, seperti tadi."


"Kamu gak perlu minta maaf. Saya yang salah, kamu tadi salah paham. Wajar kok," ucap Hero tersenyum.


Aku tak menjawab, kali ini aku berjalan pergi ketika Mia sudah menaruh perhatiannya kepada Hero.


Akhirnya, aku bisa berjalan keluar dari sana, meninggalkan seluruh tatapan tajam yang menghujani ku.


"Mbak Fiona," panggil Ardi menahan ku masuk ke dalam lift.


"Pak Nicholas meminta saya untuk mengantar Mbak Fiona keluar."


Tanpa menyahut apa-apa, aku hanya mengikuti Ardi. Mungkin aku akan disidang oleh Nicholas karena perbuatan ku tadi.


Tapi aku baru sadar kalau Ardi membawa ku keluar dari area hotel. Apa... Ini benar-benar perintah Nicholas?


"Pak Ardi... Ini... Kan saya dilarang keluar."


"Sekarang sudah tidak apa-apa, Mbak. Pak Nicholas sudah menunggu di sana," ucap Ardi menunjuk ke pinggir pantai di mana seorang laki-laki berdiri sendirian di sana.


Apa Nicholas akan mengadili ku di sini? Apa dia akan menceburkan aku di pantai karena telah membuatnya malu tadi?


"Pak Nicholas," panggil ku pelan ketika sudah sampai di belakangnya. Nicholas menoleh dan dia berjalan menghampiri ku.


"Gimana perasaan kamu? Sudah lega karena menyiram orang itu?" tanya Nicholas membuat ku melengguh pelan.


"Saya minta maaf, Pak."


"Saya tahu kamu bukan orang yang akan sembarangan menyiram seseorang, Fiona. Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Nicholas.


Aku diam sambil menggigit bibirku. Tak mungkin aku mengatakan kalau Hero dan istrinya selama ini telah mengejeknya... Impoten.


"Rasanya gak mungkin kamu marah karena Hero mengejek kamu sebagai wanita simpanan-"


"Dia mengejek Pak Nicholas makanya saya..."


Apa kebiasaan mu yang terlalu banyak bicara tak bisa dihilangkan Fiona? Bodohnya aku.


Tapi bukannya marah, Nicholas hanya diam menatapku.


"Kamu tahu, Fiona? Gak semua emosi kita, harus diluapkan saat itu juga. Itu hanya akan membuat kita kelihatan bodoh," ucap Nicholas menunduk menatapku. "dan saya gak mau kamu kelihatan bodoh. Karena saya tahu, mereka yang sebenarnya bodoh."


Aku menganggukkan kepala sambil menghela napas lega. Aku mengedarkan pandangan ku ke sekitar. Aku meraih tangan Nicholas dan menggenggamnya. Saat itu juga Nicholas menoleh kaget ke arah ku.


"Saya minta maaf, Pak. Tapi ada Bu Mia yang lihat ke arah kita," bisikku pelan. Tapi Nicholas malah melepaskan tangan ku. Tiba-tiba dia menarik pinggang ku mendekat dan satu tangannya lagi meraih wajahku. Gawat! Aku memejamkan mata, tak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.