
Tak memerlukan waktu lama, Detektif Joe akhirnya menemukan DNA dari Sadewa dan Gian. Hari ini, sebelum aku dan Nicholas berangkat ke kantor, kami menyempatkan diri untuk bertemu dengan Detektif Joe. Ini adalah informasi yang sangat penting dan harus kami ketahui secepatnya.
"Sadewa, dan Gian, kedua DNA mereka 99% tidak cocok dengan Anda, Tuan Nicholas. Artinya, dugaan kita benar, mereka bukanlah keluarga Anda," ucap Joe menjelaskan isi surat hasil tes DNA yang dibawanya.
Aku melirik ke arah Nicholas yang hanya menggigit bibir, mungkin menahan kesal. Ya, dia sedang menahan kesal, karena tangannya mencengkeram lututnya kencang.
"Siapa mereka sebenarnya?" tanya Nicholas.
"Ternyata, keduanya merupakan residivis."
"Residivis?" tanyaku reflek, karena aku tak tahu apa itu residivis.
"Ya, mereka pernah beberapa kali masuk penjara. Karena kasus penipuan, penyerangan, dan pengedaran obat-obatan terlarang. Oh, kecuali Gian. Dia hanya memiliki satu kasus, yaitu penyalahgunaan obat-obatan terlarang," jawab Detektif Joe menjelaskan apa yang ada di dalam buku catatannya. Sementara aku tercengang kaget. Astaga, pantas saja mereka sangat lihai berbuat kejahatan. Mereka berulang kali menjadi tahanan.
"Apa sejak masuk ke dalam komunitas aneh itu, dia jadi sulit disentuh polisi?" tanyaku penasaran.
"Betul. Orang-orang yang masuk komunitas itu bukanlah orang-orang sembarang. Mereka merupakan komunitas besar yang tersembunyi. Beberapa oknum penegak hukum dibayar untuk melindungi mereka. Sehingga, sulit untuk ditangkap," jawab Detektif Joe.
"Sejak kapan Sadewa dan Gian tergabung dalam komunitas itu?" tanya Nicholas.
Aku melihat Joe membalik kertas buku catatannya. Dia memerhatikan sebentar, kemudian menjawab.
"Sekitar 7 tahun lalu," jawab Joe.
Nicholas terdiam, dia kelihatan sedang berpikir. Sementara aku melirik jam di ponselku. Seharusnya, setengah jam lagi kami berangkat ke kantor.
"Artinya, setelah dia masuk ke dalam keluarga saya. Apa salah satu syarat untuk masuk ke komunitas itu adalah uang?" tanya Nicholas.
"Ya. Keluarga Anda adalah keluarga yang terkenal kaya. Itu adalah keuntungan bagi mereka dengan mengaku-ngaku sebagai keluarga Anda," jawab Joe menjelaskan.
"Oke, lalu gimana caranya kita menjebloskan mereka ke penjara kalau mereka sulit disentuh oleh hukum?" tanyaku. Aku benar-benar khawatir kalau semua yang kami lakukan ini sia-sia karena Gian dan Sadewa dilindungi oleh komunitas aneh itu.
"Mereka tidak akan tersentuh hukum, jika yang melaporkan adalah kasus yang berkaitan tentang kegiatan komunitas itu. Misalnya, perdagangan obat-obatan terlarang, konsumsi obat-obatan, perdagangan manusia, atau prostitusi. Di luar itu, mereka bisa kita tuntut," jawab Joe dengan sangat yakin. Dan aku segera menjentikkan jariku ketika menyadari sesuatu.
"Oh, pantas aja mereka ketakutan kita mencari tahu tentang kematian Mia dan Hero," ucapku dengan antusias. Sementara Joe menganggukkan kepalanya membenarkan gagasanku.
Ya Tuhan, jadi selama ini seharusnya kami sudah tahu apa kelemahan Gian dan Sadewa.
"Ada satu cara lagi untuk memperkuat senjata kita menyerang mereka," ucap Nicholas menarik perhatian kami berdua kepadanya.
"Satu cara lagi?" tanya Joe terlihat penasaran.
"Selama ini mereka memanfaatkan sebagian uang warisan dari Papa saya. Yang saya asumsikan akhirnya sudah habis, makanya mereka sempat meminta saya untuk menyuntikkan dana kepada mereka," ucap Nicholas. Dan aku menganggukkan kepala. Tentu aku tak akan melupakan saat mereka memaksa masuk ke dalam ruangan Nicholas.
"Dan saya gak memberikan mereka uang sepeser pun. Artinya mereka tak memiliki uang lagi. Dan jika komunitas aneh itu tahu bahwa Gian dan Sadewa bukanlah keluarga saya, artinya mereka akan segera menendang keduanya," imbuh Nicholas dengan tenang. Wah, itu pemikiran yang sangat cerdik. Nicholas berencana untuk membuat Gian dan Sadewa lemah.
"Itu ide bagus, Tuan. Tapi, sepertinya resikonya sangat besar. Kita belum melihat seluas apa orang-orang yang mendukung Gian dan Sadewa. Bukan gak mungkin, mereka akan lebih cepat mengetahui rencana ini dan membahayakan ... Kalian," jawab Joe.
Nicholas diam, aku juga terdiam. Detektif Joe benar, komunitas aneh itu luas. Dan kita gak tahu siapa aja yang berada di pihak Gian dan Sadewa. Tentu mereka akan membantu keduanya jika ketua kelompok melepas Gian dan Sadewa.
Akhirnya Nicholas menghela napas panjang.
"Kita akan bicarakan ini lain kali. Saya harus kembali ke kantor," jawab Nicholas sambil beranjak dari sofa. Begitu juga dengan aku dan Detektif Joe.
"Baiklah, sementara itu, saya akan mencari tahu siapa ketua komunitas itu dan bagaimana menemuinya," ucap Detektif Joe.
"Sekali lagi terima kasih, Detektif," ujar Nicholas sambil menjabat tangan detektif Joe.
"Sama-sama, Tuan."
Kami berjalan beriringan keluar dari rumah menghampiri mobil masing-masing. Mobil detektif Joe sudah keluar dari gerbang lebih dulu, lalu mobil Nicholas.
"It's horrible. Kalau aja aku lakukan tes DNA itu sejak 7 tahun lalu, mungkin semua kekacauan ini gak akan terjadi. Seandainya aja aku gak mengizinkan mereka masuk ke dalam kehidupan aku, mungkin saat ini aku bisa hidup tenang," ucap Nicholas dengan penuh penekanan. Ya, aku bisa merasakan kekecewaan dan kemarahannya.
"Kita gak bisa mengatakan 'seandainya' pada sesuatu yang udah terjadi, Nicho. Karena itu gak akan bisa terjadi lagi. Kita gak akan bisa mengubah masa lalu, tapi kita bisa membentuk masa depan. We'll fix it, everything will be okay," ucapku mencoba menguatkannya. Nicholas menganggukkan kepalanya, lalu menghela napas lagi.
"Semoga hari ini berjalan lebih cepat," ucap Nicholas terdengar seperti bergumam.
***
Hari ini memang berlalu cepat menurutku. Karena sejujurnya, aku enggan buru-buru pulang dan melihat Nicholas sibuk bertelepon dengan Detektif Joe tentang rencana mereka. Itu selalu membuatku takut dan gugup. Sampai akhirnya Nicholas menaruh ponselnya dan berbaring di sebelahku.
"Mungkin kalau aku gak tidur, kamu akan terus terjaga, iya kan?" tebak Nicholas sambil memelukku.
"Iya. Kenapa? Apa kamu berencana untuk gak tidur?" tanyaku dengan nada meledek.
"Gimana bisa tidur di sebelah perempuan cantik kaya kamu?" tanya Nicholas.
"Ayolah, Nicho. Kenapa harus gombal seperti itu? Jujur aja, aku merinding dengernya," jawabku tertawa meledek.
"Well, i'm sorry, aku bukan laki-laki yang romantis. Susah sekali membuat Fiona tersipu malu," sahut Nicholas ganti meledekku.
"Karena kamu gak mengatakan sepenuh hati."
Nicholas tertawa pelan, lalu dia mengelus-elus rambutku dengan lembut.
"Seperti ini?" tanya Nicholas sambil menatapku lekat-lekat dengan kedua mata birunya yang indah.
"Iya," jawabku tersenyum. Nicholas pun ikut tersenyum, lalu mempererat pelukannya padaku sehingga aku memejamkan mataku perlahan-lahan. Hari ini terasa sangat melelahkan, otakku terus bekerja sehingga aku lebih mengantuk dari sebelumnya. Semoga besok bisa lebih baik lagi.
***
Aku terbangun ketika merasa seseorang menepuk-nepuk pipiku. Dan ketika aku membuka mata, Nicholas langsung mengangkat satu jarinya di depan mulut, memintaku untuk diam. Kemudian, dia menarikku pelan-pelan untuk berdiri. Bahkan, Nicholas sudah menyiapkan coat hitam milikku dan menyuruhku untuk memakainya.
Setelah aku memakainya, Nicholas menggandeng tanganku. Dan aku merasa sangat ketakutan ketika mendengar suara derap langkah di luar kamar kami. Ada orang di luar, dan itu lebih dari satu.
Tanpa menjelaskan apapun, Nicholas menggandengku menuju jendela kamar. Dia memintaku untuk keluar dari jendela lebih dulu dan berpegangan di tali tambang yang sudah disediakan. Kemudian, Nicholas menyusulku.
"Apa kita ..."
Nicholas menganggukkan kepala. Dia benar-benar menginginkan aku turun dari lantai kamar ini menggunakan tali tambang ini. Masalahnya, aku benar-benar takut!
"Aku yakin kamu bisa, sayang. Ayo, pelan-pelan," bisik Nicholas membujukku. Dan aku mendengar suara pintu kamar kami yang berusaha dicongkel. Aku harus berani, atau kami berdua akan dalam bahaya.
Pelan-pelan, aku turun dengan tali ini, Nicholas masih mengawasiku, dan akhirnya, aku sampai di bawah dengan sedikit menjatuhkan diriku. Selanjutnya Nicholas. Kami segera berlari mengendap-endap di tengah kegelapan menuju carport.
Semuanya aman, sampai Nicholas harus menyalakan kunci mobilnya sehingga menimbulkan suara dan cahaya dari mobil tersebut.
"Di sana!"
Aku dan Nicholas bergegas masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil. Astaga, aku tak tahu ini jam berapa. Dan apa yang terjadi. Yang pasti, langit masih gelap.
Mereka masih mengejar mobilku dan Nicholas. Apa mereka orang-orang aneh itu?
Nicholas memacu kecepatan mobilnya. Dia memberikan ponselnya padaku.
"Tolong hubungi nomor polisi, ada di panggilan darurat," ucap Nicholas. Dan aku segera menurutinya untuk menelepon polisi.
"Ada apa sebenarnya, Nicho?" tanyaku setelah menelepon polisi untuk mengirim bantuan.
"Aku akan jelaskan nanti. Intinya, mereka adalah kelompok Gian yang menyelinap ke dalam rumah kita. Mereka mencoba menghabisi kita," jawab Nicholas seketika membuatku tercengang tak percaya. Kenapa? Apa mereka sudah tahu tentang rencana kami?