NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
JERAT



Tangan kanan Nicholas masih berada di pipi ku, sementara tangan kirinya memeluk pinggangku, aku bisa merasakannya.


Aku tak tahu kapan ini semua berakhir, tapi berada di posisi ini benar-benat membuatku tertekan. Aku bahkan bisa merasakan parfum mahal Nicholas yang sangat nyaman. Tuhan, aku ingin memeluknya.


"Fiona," bisik Nicholas seperti tertahan.


"Hmm?" sahut ku asal masih memejamkan mataku.


"Tolong... Buka mata kamu," bisik Nicholas seolah perintah bagiku sehingga aku segera membuka kedua mata ku. Wajah Nicholas masih berada dekat dengan wajahku, dan aku mencoba untuk mengatur diriku.


Tapi Nicholas masih diam saja sambil memperhatikanku. Tatapannya seolah menghipnotis ku untuk hanya menatapnya. Padahal aku ingin sekali melirik apakah Mia masih ada di sana atau tidak.


Dering ponsel Nicholas akhirnya membuyarkan situasi canggung ini. Nicholas segera menjauh dari ku dan mengangkat panggilan teleponnya, sementara aku mengalihkan pandangan ku ke arah lain.


"Sekarang?... Gak bisa sekarang, saya ada janji di sini..."


Nicholas menutup panggilan teleponnya kemudian kembali menoleh ke arah ku.


"Mia minta balik ke Jakarta sekarang juga," ucap Nicholas refleks membuatku meringis. Namun aku hanya menganggukkan kepala. Maksud ku, kenapa orang-orang kaya ini sangat mudah ingin ke sana, ingin ke sini, lalu pulang begitu saja.


Tidakkah mereka melakukan sesuatu dulu yang bermakna di tempat tujuan mereka?


"Di sana ada spot bagus untuk lihat pemandangan pantai," ucap Nicholas berjalan duluan ke arah pantai. Tapi aku terdiam bingung melihatnya yang kini kembali menoleh ke belakang lalu mengisyaratkan aku untuk mengikutinya.


"Bukannya Bu Mia ingin pulang sekarang, Pak?" tanya ku bingung.


"Terserah dia mau tetap di sini atau pulang sendiri," jawab Nicholas dengan tenang. Astaga, dia cukup kejam juga ternyata.


"Apa Pak Nicholas gak berpikir kalau Bu Mia cemburu karena tadi?" tanya ku akhirnya bisa menyeimbangi langkahnya. Namun Nicholas tiba-tiba berhenti melangkah.


"Kamu mau saya menganggap itu sebagai tanda cemburu?" tanya Nicholas yang cukup aneh bagiku. Jika iya, maka itu wajar karena aku pasti berharap hubungan rumah tangga bosku bisa kembali membaik. Tapi kenyataannya sangat sulit menjawab iya.


Nicholas menghela napas, pandangannya ia alihkan ke depan, ke hamparan pantai di bawah langit malam. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku.


"Itu bukan cemburu, Fiona. Itu ego. Dia gak suka saya seolah mengkonfirmasi kecurigaan teman-temannya tentang selingkuhan saya, yaitu asisten saya sendiri," ucap Nicholas.


"Kenapa dia minta pulang ke Jakarta, karena di sini reputasinya sudah hancur. Dan kemungkinan Hero akan pindah lokasi pemotretan ke Jakarta karena dia udah gak nyaman akibat pertengkaran kalian tadi," lanjut Nicholas seketika membuatku kembali teringat dengan ucapan Hero yang menjijikan itu.


"Gak nyaman? Emangnya bisa orang kaya dia merasa gak nyaman karena orang lain? Bukannya sebaliknya?" gumam ku sinis.


Nicholas menoleh ke arah ku, dia menatap ku seolah mencari tahu sesuatu. Atau apapun itu, tapi aku jadi kembali gelagapan ditatap seperti itu.


"Apa dia menggoda kamu?" tanya Nicholas menebak.


"Kalau itu yang terjadi, bukan cuma air yang saya siram ke wajah dia. Mungkin sampai gelasnya saya lempar," sahut ku tak terima digoda oleh makhluk seperti Hero.


"Apa yang membuat kamu marah begini? Apa dia bicara sesuatu?" tanya Nicholas seketika membuat ku kembali terdiam kikuk.


"Gak perlu bilang, kayanya saya tahu."


"Pak Nicholas tahu?" tanya ku kaget.


"Saya heran kenapa malah kamu yang semarah ini. Sementara saya biasa aja," jawab Nicholas benar-benar merujuk pada ejekan yang dilontarkan Hero tadi tentang Nicholas.


"Pak, saya... Saya sama sekali..."


"Saya gak ngerti kenapa banyak orang yang suka berdiri berjam-jam cuma untuk memandangi hamparan pantai begini," sergah Nicholas mengalihkan pembicaraan.


"Mungkin 50% karena pemandangannya yang jarang dilihat sehari-hari. Sisanya karena memanfaatkan momen, mengenang sesuatu, atau untuk foto-foto," jawab ku baru ingat. Sehingga aku segera mengeluarkan ponsel ku untuk memotret pemandangan ke sekitar pantai. Suasananya memang terlihat seperti foto-foto yang biasa aku lihat di internet.


"Fiona," panggil Nicholas.


"Iya, Pak?" sahut ku buru-buru memasukkan kembali ponsel ku ke dalam saku.


Nicholas terdiam sejenak, kemudian ia menatap ku lekat-lekat. Seolah ingin mengatakan sesuatu yang masih ia pertimbangkan.


"Sebenarnya Abira juga sedang ada di Bali," ucap Nicholas.


"Ada di sini? Dimana?"


"Di hotel yang sama dengan kita. Dia ada project pemotretan dengan Hero. Dia ada di club yang sama juga dengan kita tadi," jawab Nicholas seolah sedang meledekku. Yap, artinya Abira melihat kejadian keributan antara aku dan Hero tadi. Astaga, kenapa dia tidak memberitahu ku lebih awal?


"Ini sudah larut, Pak. Jam kerja saya sudah selesai. Saya izin balik ke hotel ya?" tanya ku.


"Mau nyusul Abira?" tanya Nicholas membuatku segera menganggukkan kepala.


"Coba aja cari. Kalau dia masih di sini, artinya dia akan kehilangan job barunya," jawab Nicholas berbalik dan berjalan duluan dari ku.


Oh ya, Nicholas bilang tadi Abira satu project dengan Hero. Artinya dia juga pasti sudah kembali ke Jakarta malam ini juga. Dan kenapa Nicholas mengatakan ini sih? Lebih baik aku tidak usah tahu sama sekali soal ini daripada menyesal karena gagal bertemu Abira padahal sudah berada di satu tempat yang sama.


"Terus kenapa Pak Nicholas masih di Bali? Seingat saya, Pak Nicholas gak ada jadwal pekerjaan di sini," tanya Fiona berjalan menyusul Nicholas kemudian kembali melanjutkan, "apalagi besok Pak Nicholas ada jadwal meeting di kantor jam satu siang-"


"Saya tahu. Saya cuma gak mau pulang bareng dia lagi," jawab Nicholas singkat memotong ocehan ku sebelumnya. Aku menganggukkan kepala paham, lalu masuk ke dalam lift yang sama dengan Nicholas.


"Oh ya, Pak. Waktu Pak Nicholas minum di kantor, itu saya pikir Pak Nicholas mabuk berat sampai gak sadarkan diri. Tapi kata Pak Ardi, Pak Nicholas gak pernah minum sampai mabuk?" tanya ku bingung.


"Itu bener," jawab Nicholas memasukkan kedua tangannya ke dalam saku dengan tenang.


"Kok bisa ya mabuk tapi masih sadar?" gumam ku tanpa sadar terucap.


"Kesadaran saya juga berkurang, tapi saya gak sampai pingsan. Itu bisa aja terjadi kalau banyak hal yang ada didalam pikiran."


Pintu lift kembali terbuka, dan Nicholas langsung menggandeng tangan ku menuju kamar hotel ku. Tunggu, kenapa Nicholas juga ikut?


"Fiona, saya tahu ada beberapa gangguan yang kamu alami belakangan ini. Jadi kamu jangan segan untuk terus laporin teror-teror begitu ke saya atau Ardi, paham?"


"Pak Nicholas tahu siapa yang meneror saya?"


"Paham, Fiona?" tanya Nicholas mengabaikan pertanyaan ku sebelumnya. Dan akhirnya aku hanya menganggukkan kepala pelan.


"Bagus. Masuk sana," ucap Nicholas melepaskan pegangannya. Dan aku baru mengerti apa yang sedang Nicholas lakukan saat ini, dia sedang mengantarkan aku.


Tanpa bertanya apa-apa lagi, aku masuk ke dalam kamar. Kemudian kembali memikirkan kenapa Nicholas melakukan hal ini? Kenapa dia bersikap seolah peduli padaku?


Entahlah. Aku tak mau memikirkan lebih jauh, atau mungkin aku akan salah menerka sebuah perhatian kecil seperti ini.


***


Aku tahu harusnya hari ini Nicholas dan aku sudah dalam perjalanan untuk kembali ke Jakarta. Tapi pagi-pagi sekali, tidak, ini bahkan masih subuh. Matahari masih gelap.


Tuan Nicholas yang terhormat itu meminta ku untuk ikut dengannya. Awalnya aku memang tak tahu mau kemana sebenarnya orang ini. Yang pasti, saat ini Nicholas memakai pakaian yang tidak formal. Dia hanya menggunakan kaos polos yang dibalut jaket leather hitam dan celana training berwarna abu-abu.


Sementara aku hanya memakai kaus kedodoran dibalut sweater dan celana  jeans hitam, karena buru-buru. Mana aku tahu, Nicholas akan mengajak ku menanjak bukit subuh-subuh begini?


"Kamu gak pernah jalan jauh?" tanya Nicholas yang menyadari napas ku sudah seperti ikan yang terdampar di tanah.


"Nggak. Apalagi nanjak," sahut ku sudah tak bisa bersikap formal lagi saking lelah dan kesalnya.


"Ini cukup aneh mengingat kamu gak punya kendaraan pribadi, Fiona. Harusnya kamu lebih sering jalan kaki," lanjut Nicholas seolah mendorong ku menggelinding ke bawah bukit hanya dengan kalimatnya.


"Ini juga aneh bagi saya. Mengingat Pak Nicholas punya kendaraan dan gak ada situasi yang mengharuskan Pak Nicholas jalan kaki jauh," sindir ku membalas. Orang ini benar-benar kuat berjalan kaki terutama menanjak.


"Karena saya sering olahraga," jawab Nicholas dengan entengnya.


Baiklah, aku paham. Setelah ini aku akan sering olahraga. Jika ingat itupun. Aww!


Aku berusaha keras untuk tidak berteriak saat kaki ku terjerembab ke sisi bukit karena tak fokus dan salah mengambil langkah. Tapi bunyi gedebuk saat aku terjatuh sukses membuat Nicholas menoleh ke belakang.


"Kaki kamu terkilir gak? Maaf, sebentar," ucap Nicholas tiba-tiba menggendong ku dari sisi bukit yang miring dan sedikit berlubang.


"Pak, saya rasa, saya... Gak apa-apa," ucap ku pelan.


Nicholas menurunkan aku pelan-pelan, membuatku kembali berdiri dan untungnya kaki ku tidak terkilir.


"Bisa jalan?"


Aku menganggukkan kepala, kemudian menunggu Nicholas untuk berjalan duluan karena aku sendiri ragu dengan jawaban ku.


Begitu Nicholas kembali melanjutkan langkahnya, aku mulai menyusul di belakang pelan-pelan.


Sampai akhirnya, kami sampai di atas bukit yang sebenarnya tak terlalu tinggi ini. Dan begitu kami sampai di atas sini, aku bisa melihat matahari yang sudah terbit.


"Menurut rencana dan perkiraan waktu saya, harusnya kita sampai di sini dua menit yang lalu. Jadi bisa lihat sunrise di sini," ucap Nicholas membuatku merasa bersalah karena jatuh tadi. Padahal hanya selang waktu dua menit!


"Mataharinya masih malu-malu. Kelihatannya tetep indah kok," jawab ku memilih untuk duduk di atas bukit bersama beberapa orang yang juga sudah menunggu sunrise ini.


Aku tak menyangka Nicholas akan membawa ku ke sini, dan sekarang aku duduk bersamanya menikmati udara pagi di Bali sambil melihat matahari terbit, meskipun sedikit terlambat.


"Kenapa Pak Nicholas mengajak saya ke sini?" tanya ku memberanikan diri.


"Fiona, apa kamu gak bisa sehari aja jangan bertanya kenapa?" balas Nicholas.


"Karena Pak Nicholas gak pernah jawab pertanyaan saya dengan benar," sahut ku tak mau kalah. Jujur saja aku tersinggung, kedengarannya seperti dia baru saja mengatakan kalau aku ini bawel.


"Untuk lihat sunrise, bukannya sudah jelas?"


"Karena Pak Nicholas gak tahu mau ngajak siapa lihat sunrise di sini makanya ngajak saya?" tebak ku yang tak disahuti oleh Nicholas. Dia sedang memandangi matahari yang mulai muncul dengan hikmat. Kedua lututnya ditekuk sementara kedua matanya terlihat lurus menatap langit. Ini baru pemandangan yang menakjubkan bagi ku.


Sepertinya Nicholas sadar aku sedang memandanginya, jadi dia menoleh ke arah ku dengan raut wajah putus asa.


"Apa lagi yang mau kamu tanyakan?"


"Kenapa Pak Nicholas membatasi diri dari semua orang? Bahkan Bu Mia, dan saudara Pak Nicholas di club aneh dulu?" tanya ku dengan hati-hati, "apa yang dimaksud sudah menyakiti Pak Nicholas itu... Mereka? Keluarga Pak Nicholas?"


Nicholas masih diam sambil menatap ku. Tiba-tiba pandangannya berubah kembali dingin lagi, dan aku pikir aku baru saja salah bertanya. Kenapa aku sangat lancang?


"Apa yang ingin kamu lakukan setelah tahu ini semua?"


"Apa yang sebenarnya mereka lakukan, Pak?" tanya ku tiba-tiba merinding mengetahui kalau yang menyakiti Nicholas itu adalah keluarganya sendiri.


"Kenapa? Apa kali ini kamu juga akan marah? Apa kamu akan menyiram mereka juga, seperti yang kamu lakukan ke Hero?" tanya Nicholas yang terdengar seperti menyindir ku. Jadi aku segera diam dan tak mau membahas itu lagi.


Nicholas menoleh sebentar ke arah matahari terbit, kemudian ia berdiri. Nicholas mengulurkan tangannya ke arah ku. Aku menghela napas, kemudian menyambut uluran tangan itu. Nicholas menarik tangan ku hingga aku berdiri, tapi Nicholas terlalu kuat menarikku hingga tubuhku harus menabraknya karena kurang keseimbangan. Untungnya tangan Nicholas yang lain menahan punggungku.


Nicholas menunduk menatap ku. Tiba-tiba dia kembali mendekati ku, "Kamu gak perlu tahu apa yang mereka lakukan ke saya, Fiona. Yang harus kamu tahu, saya butuh kamu sekarang," bisik Nicholas.


Butuh. Suaranya terdengar dalam, kesannya terdengar manis, tapi maknanya sungguh abu-abu. Aku tak tahu harus merasa senang atau tidak dibutuhkan oleh Nicholas dalam situasi seperti ini.


Tapi jika begini terus, bagaimana jika aku benar-benar jatuh cinta pada Nicholas?