
Sekitar pukul 01:00 dini hari aku terbangun ketika mendengar suara kunci pintu akhirnya terbuka.
Aku kembali beranjak dan duduk di pinggir tempat tidur. Ketika pintu terbuka, aku menatap kesal ke arah Nicholas yang kelihatan berjalan gontai dengan wajah tertekuk.
Jasnya sudah tak ada, wajahnya memerah, dan tatapannya kelihatan sayu. Apa dia mabuk? Tunggu, Ardi pernah mengatakan kalau Nicholas tak akan pernah bisa mabuk sampai tak sadar. Jadi bisa ku artikan saat ini dia masih sadar.
Nicholas menghampiri ku dan langsung memelukku. Namun kali ini aku memberanikan diri untuk melepaskan diri dari Nicholas dan beranjak berdiri menjauh dari Nicholas.
"Saya tahu, kamu marah karena Ardi mengurung kamu ... Itu atas perintah saya," ucap Nicholas kelihatan sadar, tapi pandangannya tak fokus.
"Ya. Saya sangat marah. Apa yang kamu lakukan di Dakota Restaurant tadi?" tanyaku sekali lagi. Aku benar-benar tak bisa tenang sampai dia menjawab.
"Mencari ... Orang yang telah melecehkan Kalina," jawab Nicholas seketika membuat ku terdiam kaget bukan main. Apa lagi ini? Kalina? Dilecehkan? Astaga, rasanya aku ingin segera bangun dari mimpi, jika ini mimpi.
"Dia akan jadi target pertama saya," lanjut Nicholas tersenyum miring.
Aku tak bisa berkata-kata. Sungguh, aku sudah berniat akan memaki-maki Nicholas dan segala rencana gilanya. Tapi mendangar hal ini, aku merasa logika ku kembali diputar balikkan.
"Nicholas, ini gak benar. Lebih baik kamu bawa semua ini ke jalur hukum," ujarku membujuknya. Meski aku tak tahu apakah akan berhasil.
Nicholas membuang wajahnya dari ku. Dia tertawa, bukan tertawa bahagia seperti yang aku pikirkan. Tawa sedih yang terlihat lebih mengerikan.
"Hukum gak bisa membalas semua perbuatan mereka, Fiona," jawab Nicholas.
Aku tahu itu. Tapi setidaknya, tak perlu ada pembunuhan dalam hal ini. Terlebih, aku tak ingin Nicholas yang melakukannya. Aku tak akan bisa membiarkan orang yang aku cintai menjadi seorang kriminal apapun alasannya.
"Setelah saya menunggu lama, akhirnya ... Ada hasil pemeriksaan sebelum kematian Kalina, hasil visum bahwa dia sudah dilecehkan. Data yang hampir saja hilang. Jadi, yang membuatnya sampai ... Mengakhiri hidupnya selama ini ternyata ... Karena ini."
Aku tahu rasa sakitnya Kalina. Aku juga tahu bagaimana hancurnya Nicholas mengetahui hal ini. Sejujurnya, aku pun marah. Sangat marah malah mendengar betapa bejatnya mereka. Namun, aku harus memastikan Nicholas tetap berada di jalur yang benar. Aku tak ingin Nicholas menjadi penjahat seperti mereka.
"Dan pelakunya adalah ... Paman saya sendiri," jawab Nicholas tertawa miris.
Aku terdiam bingung dengan diri ku sendiri. Apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku berusaha bersikap tegas pada Nicholas. Tapi melihatnya begini malah membuat ku ikut merasakan sakitnya.
"Saya ..."
Nicholas tak melanjutkan kalimatnya lagi. Dia kelihatan seperti kebingungan.
Lalu tiba-tiba Nicholas membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan bergerak membelakangi ku.
"Kalau kamu ingin pergi, silakan pergi ... Fiona."
Hari ini, aku melihat sisi lain dari Nicholas. Seperti ada sosok anak kecil yang terperangkap di tubuhnya.
Pikiran ku menekan otakku berpikir. Dan aku kembali teringat dengan ibunya Nicholas yang kabur dengan pria lain. Apakah itu terjadi ketika Nicholas masih kecil?
Namun Nicholas tak menjawab. Ia hanya diam. Sudah tertidur? Matanya terpejam.
Aku menghela napas, lalu mendekatinya. Pelan-pelan, aku melepaskan sepatu Nicholas dan kaus kakinya. Dia kelihatan sangat kacau malam ini.
Setelah itu, aku memberanikan diri untuk menaiki tempat tidur, berbaring di sebelah Nicholas. Menghadap laki-laki ini dan kembali berdebat dengan hati ku lagi.
Aku harus menjauh dari orang ini. Dia memiliki potensi menjadi seorang kriminal. Dia sudah memiliki rencana membunuh orang lain, untuk membalas dendam. Meskipun dalam teorinya, aku pun akan mendukung hal ini. Tapi kenyataannya, aku sungguh ketakutan. Nicholas bisa saja masuk penjara, atau dia menjadi target incaran balas dendam mereka, atau setidaknya hidupnya tak akan sama lagi dengan saat ini. Pasti dia tak akan tenang. Dan aku kembali meragukan Nicholas.
Tiba-tiba Nicholas membuka sedikit matanya. Ia menyadari kalau aku sedang berbaring di hadapannya.
"Fiona ..."
Aku tak menjawab. Hanya diam sambil menatapnya sementara otak ku masih berdebat dengan hati ku. Entah siapa yang menang.
"Hug me," bisik Nicholas menatap ku dengan tatapan sayunya.
"Please," lanjutnya sekali lagi.
Dan saat ini aku tahu siapa yang menang dalam perdebatan batin ini. Untuk malam ini, yang menang adalah hati ku.
Aku menuruti permintaan Nicholas untuk memeluknya. Masih mencoba mengontrol diriku yang jadi sangat emosional, aku bergerak mendekati Nicholas dan memeluk kepalanya. Membiarkan Nicholas menyender di bahu ku sambil memeluk pinggang ku dengan erat.
"Nicholas, you better stop all of this. Atau saya mungkin gak akan bisa peluk kamu kaya gini lagi," bisik ku mengelus rambut Nicholas dengan hati-hati.
"Gak ada yang bisa hentikan saya ... Fiona," bisik Nicholas di leher ku.
"Kalau gitu, kita berdua yang harus berhenti," jawab ku pelan.
"Kamu bisa pergi, Fiona ... Dan saya akan selalu bisa menemukan kamu," bisik Nicholas. Dia mendongakkan kepalanya menatap ku meskipun aku merasa posisi ini terlalu dekat, tapi Nicholas yang setengah mabuk sepertinya tak apa.
"Kamu harus ada sama saya. Setidaknya ... Sampai rencana saya selesai ... If i die, or end up in prison, kamu bisa pergi ... Kemana pun," jawab Nicholas tanpa sadar kembali membuat ku merasa emosional hingga meneteskan air mata.
Bagaimana bisa Nicholas menghabiskan waktunya hanya untuk balas dendam seperti ini.
"Dan saya gak akan biarin kamu mati atau berakhir di penjara karena ini, Nicholas," balas ku meyakinkan diri sendiri.
Nicholas diam, bergerak mencium bibir ku sambil memejamkan matanya. Kemudian kembali menyender di bahu ku sambil memeluk ku. Kembali terjadi keheningan. Aku bisa merasakan napas berat Nicholas di dekat leher ku. Orang ini benar-benar sudah masuk ke dalam hati dan pikiran ku.
Mungkin malam ini, aku akan membiarkan diri ku kalah lagi dengan perasaan ini. Besok, ketika semua nya sudah membaik, aku akan mencoba bernegosiasi lagi dengan Nicholas. Dan jika aku tak menemukan titik tengah, mungkin memang seharusnya aku berpikiran waras dan meninggalkan ini semua.
Sudah cukup. Aku masih memiliki Mama dan seorang adik yang harus aku lindungi. Aku masih memiliki Mama yang akan kecewa jika tahu seperti apa aku di sini. Dengan siapa aku menaruh perasaan. Meskipun aku akan kesulitan melepaskan Nicholas. Tidak, aku mungkin tidak bisa melepaskan Nicholas. Dia benar-benar menginginkan kasih sayang. Tapi rasa dendam masih menyelimutinya.
Aku tak tahu bisa mengatasi ini atau tidak. Rasanya terlalu rumit.