NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
SEMUA INI BUKAN SALAH MU



Selama rapat berlangsung, aku benar-benar merasa tak tenang. Pasti siapapun orang aneh itu akan mengirimkan hadiah teror sekarang. Sebetulnya, kehadiranku di dalam rapat ini tak terlalu penting. Aku hanya asisten pribadi Nicholas. Tapi Nicholas benar-benar menahanku di sini.


Aku tahu, jika aku di luar, mungkin Nicholas yang tak akan merasa tenang selama rapat berlangsung. Tapi di sisi lain, aku ingin sekali menangkap siapapun orang itu yang telah meneror kami.


Sekitar satu jam, akhirnya rapat selesai. Nicholas mengakhiri rapat tersebut, lalu berjalan bersama Rania dan aku keluar.


"Pastikan hasil rapat hari ini bisa selesai kamu rekap sore ini. Saya juga perlu bahan untuk rapat produser besok," ucap Nicholas kepada Rania.


"Baik, Pak. Langsung saya kerjakan sekarang. Kalau begitu, saya permisi," ucap Rania melangkahkan kakinya keluar dari ruangan Nicholas.


"Nicho, sore ini kamu ada janji temu dengan Pak Anton di Dakota Restoran. Pukul 16:00 WIB," ucapku mengingatkan Nicholas. Kemudian, aku menyiapkan laptop Nicholas dan tabletnya.


Nicholas menganggukkan kepala, kemudian, dia terlihat menelepon seseorang. Mereka berbicara, entah apa yang dibicarakan. Sementara aku masih membereskan beberapa dokumen yang harus diperiksa oleh Nicholas hari ini.


"Derry bilang, belum ada yang mengirim hadiah apa pun hari ini," ucap Nicholas sambil menghampiriku.


"Biasanya, jam segini pasti ada kiriman," ucapku tak percaya.


Nicholas menggelengkan kepala, "Gak tahu. Derry sudah menjaga di depan ruangan kita tapi gak ada yang mengirim paket apa pun.


Apa yang membuat dia berhenti mengirim paket? Atau hanya belum? Artinya dia tahu kalau Nicholas sedang rapat. Tapi tunggu. Justru seharusnya dia mengirim paket ketika kami semua tidak ada, agar kami tidak mengetahui siapa dia.


"Nicho, apa ... Dia tahu kalau kita sudah mencurigai dia?" ucapku menebak.


"Gak mungkin, sayang. Ini kan pembicaraan khusus kita berdua. Bahkan, aku hanya bicara pada Derry untuk menjaga ruangan aku jangan sampai ada yang masuk. Aku gak membicarakan soal hadiah teror itu sama sekali."


Sedang berpikir begini, tiba-tiba pintu ruangan Nicholas diketuk oleh Rania. Sontak, aku dan Nicholas saling melemparkan pandangan seolah kami berdua memiliki pikiran yang sama.


Dengan ragu, Nicholas pun mengizinkan Rania masuk. Dan seperti dugaan kami, Rania masuk membawa sebuah kotak. Raut wajahnya kelihatan cerah seperti biasanya. Sangat berbeda dengan aku dan Nicholas yang tegang.


"Pak, kiriman hadiah lagi. Barusan -"


"Terima kasih, Rania. Silakan kembali lagi ke meja kamu. Fiona, bawa hadiah itu," perintah Nicholas membuat Rania terlihat kaget sekaligus tegang.


"Baik, Pak," sahutku berjalan menghampiri Rania dan mengambil alih kotak hadiah tersebut. Rania pun buru-buru keluar dari ruangan ini karena wajah dingin Nicholas.


Lantas, Nicholas segera menghubungi Derry saat itu juga. Sementara aku membuka isi kotak tersebut.


"Cek di sekitar kantor. Siapa pun orang yang berpenampilan mencurigakan, atau semacam kurir. Tahan mereka." Setelah bicara seperti itu, Nicholas mengakhiri sambungan teleponnya, kemudian melangkahkan kakinya menghampiriku. Kami membuka kotak hadiah itu bersama.


Isinya, foto terakhir Mia ketika di dalam peti. Sungguh ini sangat menggangguku. Dan kurasa, Nicholas juga, karena Nicholas langsung terdiam membeku.


Aku meraih foto tersebut dengan hati-hati, kemudian mengeluarkan sesuatu yang terbungkus pelastik.


Begitu membukanya, aku menemukan sebuah ponsel yang terlihat masih baru. Aku menoleh kepada Nicholas sambil menunjukkan ponsel tersebut.


"Apa ini ponsel ... Mia?" tanyaku pada Nicholas.


Nicholas terdiam sejenak. Dia menggelengkan kepalanya.


"Aku gak tahu. Banyak ponsel yang mirip dengan ponsel Mia. Lagi pula, ponselnya hilang sejak kecelakaan."


"Hilang?"


"Coba kita nyalakan saja ponsel itu," ujar Nicholas mengambil alih ponsel itu, lalu menyalakannya. Ini jelas-jelas seperti ponsel baru. Di dalamnya pun kosong, tidak banyak aplikasi, tidak ada kontak, bahkan sim card.


"Tidak ada apa-apa di sini," ujar Nicholas yang sudah aku ketahui juga.


"Coba cek galeri atau kartu memorinya. Mungkin dia ingin menunjukkan sesuatu," ucapku menyarankan.


Nicholas membuka galeri. Di dalamnya pun kosong. Lalu, dia menemukan salah satu folder yang terisi dengan beberapa rekaman suara. Kami berdua saling pandang, lalu aku mengisyaratkan Nicholas untuk mencoba membukanya saja.


"Nicholas ... Aku mohon. Jangan lakukan ini. Aku sudah kehilangan semuanya."


Terdengar suara Mia yang sepertinya menangis terisak-isak melalui telepon. Lantas, aku menoleh kepada Nicholas.


"Ini percapakannya dengan aku di telepon. Saat aku memutuskan untuk menceraikan dia," ujar Nicholas menjelaskan. Dan aku menganggukkan kepala, mengingat kejadian itu.


"Nicho, aku benar-benar akan mati kalau kamu meninggalkan aku!"


Nicholas membuka satu per satu rekaman tersebut yang kami simpulkan merupakan rekaman telepon Mia sebelum meninggal.


"Hero ... Hallo, Hero, stop. Please, dengerin aku ... Cepat katakan siapa yang menyuruh kamu menyebarkan semuanya? Dengar Hero ... Hidup kita sudah hancur. Ini semua ulah Nicholas, iya kan? ... Apa? Dia Ardi! Aku yakin ciri-cirinya Ardi! Dia tangan kanan Nicholas, Hero. Kita harus membalas mereka ... Dan, aku tahu siapa yang bisa membantu kita ..."


Nicholas menundukkan kepalanya, sementara kedua tangannya mencengkeram ponsel itu dengan kesal. Aku yang melihat itu, segera mengelus lengan Nicholas mencoba untuk menenangkannya.


"Sayang, kita harus dengerin ini," bisikku meyakinkan Nicholas.


Nicholas menganggukkan kepalanya, kemudian memutar kembali rekaman selanjutnya.


"Bantu saya membalas Nicholas! ... Apa? Bukan aku yang melaporkan kalian ke polisi! ... Iya, memang aku memiliki gaun itu tapi mana mungkin aku memakai gaun itu ke tempat sembarangan! ... Bukan aku! Tidak, dengarkan aku Edward... Jika kalian berani macam-macam denganku, aku akan memberitahukan semuanya pada Nicholas ... TIDAK! DIA PASTI PERCAYA PADAKU! Aku akan mengatakan semuanya!"


Rekaman berakhir. Aku dan Nicholas sama-sama termenung memikirkan, menyambungkan segala kejadian. Dan aku ingat, setelah itu, Mia meninggal dengan alasan mengakhiri dirinya sendiri. Setelah itu, Edward juga menghilang. Apa yang dikatakan Mia sama dengan apa yang Ardi katakan mengenai rekaman telepon Hero sebelum dia meninggal. Semuanya semakin jelas.


"Nicho ... Hey," bisikku memanggil Nicholas yang diam termenung dengan pandangan kosong.


"Karena ini semua berhubungan sama kamu, bukan berarti semua yang terjadi itu karena kamu, Nicho," ucapku memeluk Nicholas sambil menepuk-nepuk bahunya pelan.


Nicholas menghela napas berat. Dia membalas pelukanku dengan erat sambil menyenderkan kepalanya di bahuku.


"Apa yang sebenarnya mereka ingin katakan tentang aku? Seolah-olah ada yang disembunyikan oleh mereka."


"Nicho, mungkin gak, yang dimaksud Mia itu mungkin ... Kasus pelecehan yang dilakukan Edward. Mereka mungkin gak tahu kalau ternyata kamu udah tahu semuanya," tebak ku.


Nicholas melepaskan pelukannya, tanpa menjauhkan diri dariku.


"Kamu benar. Mungkin mereka berebut untuk memberitahu itu." Nicholas terlihat lesu. Lalu, terdengar suara dering ponselnya yang menunjukkan panggilan telepon dari Derry. Sontak, Nicholas pun segera mengangkat panggilan telepon tersebut. Wajahnya kelihatan masih sangat lesu.


"Oke, kalau begitu." Nicholas mematikan sambungan teleponnya, kemudian dia menoleh ke arahku.


"Derry tidak menemukan siapa yang mengirim. Tapi, setidaknya kita sudah tahu kalau ini semua bukan dikirim dari kelompok aneh itu. Aku yakin, ini berasal dari kerabat Mia. Dia menuntut aku untuk mengusut kematian Mia."


"Nicho, gimana kalau kita lihat rekaman CCTV aja sekarang? Kalau memang yang mengantarkan paket itu staf yang berbeda-beda, setidaknya, kita bisa tahu staf yang mana yang mengantarkan hadiah ini tadi."


Nicholas terdiam sejenak mempertimbangkan usulku. Kemudian, dia menganggukkan kepalanya.


***


Aku dan Nicholas berpencar agar tidak menimbulkan kecurigaan. Derry dan penjaga lain masih menyebar di sekitar kantor untuk berjaga-jaga. Nicholas pergi ke ruang operator CCTV. Sementara aku menunggu laporan dari Nicholas untuk mencari staf kantor yang terlibat dalam pengiriman tersebut.


Tak berapa lama, Nicholas mengirimkan foto seorang karyawan yang terekam CCTV memberikan kotak hadiah kepada Rania.


Aku segera mencocokkan wajah itu menggunakan aplikasi khusus untuk mencari nama karyawan tersebut dan devisinya. Sampai akhirnya aku menemukan identitasnya, aku segera mencari karyawan tersebut.


"Dian," panggilku.


"Ya, Bu?"


"Pak Nicholas memanggil kamu."


"Baik, Bu."


Dian mengikutiku untuk menghampiri ruangan Nicholas. Wajahnya kelihatan tegang. Ku rasa, dia takut dimarahi Nicholas.


"Apa kamu yang mengantarkan kotak hadiah untuk saya ke Rania siang ini?" tanya Nicholas pada Dian langsung pada intinya.


"I-iya, betul Pak," jawab Dian tergagap.


"Siapa yang memberikannya? Apa kurir mendatangi kamu? Atau seseorang?" tanya Nicholas terdengar tenang, tapi tatapannya begitu tajam ke arah Dian.


"Bu Erren. Dia menyuruh saya memberikan hadiah itu. Dia bilang ada kiriman hadiah untuk Pak Nicholas."


"Erren? Mengapa dia menyuruh kamu? Bukannya dia bisa mengantarkannya sendiri?" tanya Nicholas.


"Sa-saya juga gak tahu, Pak. Saya hanya disuruh mengantarkan."


"Berapa kali kamu diminta untuk mengirimkan kotak itu?" tanyaku gemas.


"Baru kali ini, Bu. Kemarin, saya juga melihat Bu Erren meminta pegawai lain mengirimkan ke atas. Jadi, saya gak merasa keberatan juga."


"Jadi, Erren yang selalu meminta karyawan mengirimkan kotak hadiah tersebut?" tanya Nicholas.


"Sa-saya gak tahu, Pak. Saya hanya melihat beberapa kali," jawab Dian terlihat mulai panik. Tapi, sepertinya dia tak tahu apa-apa tentang isi hadiah itu.


"Oke, silakan keluar. Terima kasih, Dian," ucap Nicholas.


"Baik, Pak ..." Dian berpamitan untuk pergi.


"Oh, ya Dian." Aku memanggilnya kembali dan menghampirinya.


"Kamu ... Satu devisi dengan Erren, kan? Apa kamu pernah melihat ada orang lain yang mengirimkan hadiah itu ke dia sebelum diberikan ke karyawan lain untuk diantar ke sini?"


Dian terlihat berpikir sejenak. Kemudian, dia menatapku dan Nicholas dengan takut.


"Sebenarnya, saya juga pernah melihat Bu Erren mengeluarkan kotak semacam hadiah itu dari mobilnya. Tapi saya gak yakin apakah itu kotak hadiah yang sama," ucap Dian.


Aku menganggukkan kepala, lalu mempersilakannya untuk pergi. Setelah itu, aku berbalik menghadap Nicholas.


"Apa menurut kamu, Erren yang membawa hadiah itu sendiri?" tanya Nicholas mengerti maksudku.


"Mungkin itu sebabnya juga kita gak pernah menemukan kurir yang datang, bahkan petugas resepsionis dan Derry juga gak melihat siapa pun. Kita gak tahu, kecuali kita memeriksa CCTV," jawabku pada Nicholas.


"Hanya satu CCTV yang mungkin bisa kita periksa untuk memperlihatkan semuanya. Yaitu CCTV parkiran," ucap Nicholas dan aku menganggukkan kepala.


"Tapi mengapa Erren melakukan ini? Dia bukan kerabat Mia, kan?"


Nicholas menggelengkan kepalanya, seolah menjawab, kalau Erren memang bukan kerabat Mia, dan ia juga tak tahu mengapa Erren melakukan ini.