
Kali ini, ide dari Nicholas dan aku. Butuh waktu selama beberapa jam bagi ku untuk didandani seperti ini. Maksud ku, slip dress warna merah. Ini model maxi dress.
Rambutku digelung rapi dengan potongan poni miring yang juga sudah tertata rapi.
Setelah itu, aku memakai segala aksesoris mahal termasuk perhiasan, tas, sepatu. Sangat meyakinkan kalau aku orang kaya yang menjadi anggota kelompok aneh itu.
Sejujurnya, ini adalah bagian yang paling menakutkan bagi ku. Dan Nicholas juga sudah beberapa kali menanyai ku soal ini. Tapi aku sudah terlanjur mengatakan kalau aku bisa.
Dibagian dada gaun ini ada sebuah pin berbentuk lima kelopak bunga berwarna gold.
"Ini emas asli?" tanya ku pada Nicholas sambil menunjuk pin ini.
"Ya. That's why, gaun ini limited edition dan harganya ... Lumayan."
"Lumayan?" tanya ku tak yakin seberapa lumayan harga gaun ini dimata Nicholas. Tapi setahu ku, ini adalah produksi gaun milik The Flow Flowers. Perusahaan fashion besar milik paman Nicholas. Dan gaun ini sangat amat langka. Baru diproduksi satu, dan sejauh ini hanya Mia yang memiliki. Itupun baru satu kali dipakai, saat pameran. Itulah alasannya kenapa aku dan Nicholas sepakat untuk mendekati Mia.
"Denger Fiona," bisik Nicholas merengkuh bahu ku untuk menatapnya.
"Mereka semua, kelompok itu, dan segala kegiatan di sana itu illegal. Kamu harus berhati-hati. Ingat, jangan bicara banyak sama mereka. Atau siapapun yang ada di sana. Oke?"
Aku mengangguk pelan. Lalu Nicholas mendekat, ia memasangkan anting-anting di telinga ku dengan sangat hati-hati.
"Saya akan pantau kamu terus lewat anting-anting itu. Jadi pastikan jaga anting ini. Saya akan habisin mereka ditempat kalau sampai berani nyentuh kamu," peringat Nicholas.
"Kamu punya berapa macam alat penyadap sih? Kayanya gak pernah habis?" tanya ku tertawa pelan.
"Fio, saya serius ..."
Aku tertawa pelan. "Ya, saya akan hati-hati. Supaya kamu ..." Aku meraih kedua tangan Nicholas dan menggenggamnya.
"Gak akan pernah ngotorin tangan kamu untuk nyakitin orang lain," bisik ku pelan.
Nicholas menahan napasnya, kemudian menghela napas dalam-dalam.
"Saya makin gak rela ngirim kamu ke sana, Fiona. Itu tempat yang ... Gak seharusnya perempuan kaya kamu datangi."
"It's okay. Kamu kan pernah bawa saya ke sana."
"Itu karena kamu datengnya sama saya. Sekarang, saya gak bisa nemenin kamu ke sana. Karena takut rencana kita gagal."
Aku mengangguk, kemudian memakai topeng yang menutupi bagian mata ku saja.
"Ini akan cepet kok. Tenang aja, dan awasi saya," ucap ku bersiap untuk pergi.
Seorang supir bayaran yang bernama Edgar, adalah orang kepercayaan Ardi. Dia yang nantinya akan mengantarkan aku ke Dakota Cafe.
"Hati-hati, sayang," bisik Nicholas menggenggam tangan ku.
Aku tersenyum manis, kemudian menghela napas panjang. Edgar sudah membukakan pintu mobil untuk ku. Lalu aku masuk ke dalam.
Nicholas berdiri di sana sambil memakai earphone-nya, dia masuk ke mobilnya bersama Ardi.
Jangan gugup Fiona. Ini semua demi rencana Nicholas. Aku ingin Nicholas melihat perjuangan ku yang benar-benar tak ingin dia melakukan tindakan kriminal hanya demi balas dendam. Syukur-syukur, dendam Nicholas akan memudar sedikit saja.
Tak terasa, mobil sudah sampai di Dakota Cafe. Aku segera melangkahkan kaki masuk, sampai seorang pelayan menghampiri ku.
Tanpa banyak bicara, aku menunjukkan kartu keanggotaan palsu yang dibuatkan oleh Nicholas. Kemudian, ia langsung menuntun ku ke lantai atas, ruang VIP.
Seperti dugaan ku, di dalam ruangan ini semuanya sudah memakai topeng. Mereka semua berkumpul di sini. Dan gaun ini, benar-benar mengambil perhatian mereka pada ku.
Aku mulai menyalakan kamera tersembunyi yang ada di tas ku. Lalu aku menunggu sendirian sampai acara mereka dimulai. Orang-orang di sini sungguh aneh. Mereka selalu pakai topeng. Dan tanpa basa-basi, tiba-tiba sebuah layar besar menyala.
Aku berusaha keras untuk menahan diri ku agar tetap diam melihat video-video penyiksaan diputar. Astaga, mereka semua tertawa menyikapi semua ini. Aku mual, sungguh. Aku mengangkat tas kecil ku di pangkuan, agar video jelas terlihat.
"Hai," sapa seseorang yang menghampiri ku.
Aku menoleh, hanya menoleh tanpa menyahut.
"Gimana menurut kamu? Biasa aja kan? Penyiksaan kaya begini udah sering ada," ucapnya yang membuatku semakin muak.
"Gimana kalau kita langsung aja ke acara inti?" bisiknya.
Acara inti? Masih ada lagi rupanya. Apakah ini yang pernah Nicholas ceritakan, soal tukar pasangan?
Aku menyambut tangannya, lalu menahannya untuk tetap duduk di sebelah ku.
"Oh, kamu lebih suka di sini?" bisiknya.
Aku masih tak menjawab, hanya menatapnya. Lumayan, daripada harus melihat video-video aneh ini, lebih baik menatap laki-laki ini.
"Aku penasaran, gimana caranya bikin kamu bersuara, cantik," bisik laki-laki ini sambil mengelus lengan ku. Aku menoleh padanya, kemudian diam-diam mendekatinya sambil menaruh alat sadap di saku jasnya.
"Rio!"
"Bang**!" umpatnya pelan. Oh, namanya Rio rupanya.
"Ngapain sih? Buruan ke acara inti. Gak sabar gue ..." orang ini melirik ke arah ku kemudian mengangkat alisnya kepada Rio.
"Ajak aja," ucapnya.
Namun sebelum itu, tiba-tiba ponsel ku berdering. Aku segera beranjak, namun laki-laki itu menahan tangan ku.
"Gak ada yang bisa keluar sebelum acara selesai, nona."
Aku menarik tangan ku dengan keras hingga tubuh laki-laki bernama Rio itu terdorong ke sofa.
Setelah itu, aku mengangkat panggilan telepon dari Nicholas sambil berjalan keluar.
"Keluar sekarang, misi selesai," ucap Nicholas terdengar menahan kesalnya.
"Hei ..."
Sialan, ternyata orang ini mengikuti ku keluar. Aku terus melangkahkan kaki ku, mempercepat langkah ku mengabaikan laki-laki bernama Rio itu.
Sampai akhirnya, aku masuk ke dalam mobil.
Bagus, Rio benar-benar keluar, jadi alibi ku makin jelas sekarang.
"Halo, saya dapat laporan dari seorang laki-laki bernama Rio. Dia mengatakan ada perkumpulan illegal di Jalan Subrata No 13, Dakota Cafe lantai dua VIP."
Setelah melakukan laporan kepada polisi, aku langsung menutup telepon sementara mobil Edgar sudah berjalan.
Aku tak yakin apakah polisi akan menangkap mereka semua. Tapi yang pasti, mereka pasti akan mengobrak-abrik acara itu malam ini.
"Nicho, gimana?" tanya ku lewat telepon.
"Dia di rumah, sudah mabuk."
"Okay, sebentar lagi saya sampe," jawab ku.
Edgar mempercepat laju mobilnya menuju rumah Mia. Dan lima belas menit kemudian, akhirnya kami sampai.
Langkah kaki ku berjalan memasuki rumah itu dengan cepat, mengikuti cara berjalan Mia.
Kemudian, begitu sampai di dalam, aku melihat Nicholas berdiri menyambutku dengan kedua tangan yang ia masukkan ke dalam saku celana.
"How's the party, Mia?" ledek Nicholas begitu aku menghampirinya. Aku tersenyum sambil mengangkat sedikit dress ku yang membuat langkah ku sering terhambat.
"Perfect," jawab ku tertawa pelan lalu memeluk Nicholas yang juga langsung membalas pelukan ku.
"Saya dapat kabar, polisi sudah menggerebek mereka. Walaupun saya yakin gak ada satupun dari mereka yang akan dipenjara, setidaknya kesenangan mereka malam ini hancur," bisik Nicholas.
"Dan semuanya gara-gara istri kamu," bisik ku pelan.
"Jahat banget kita."
"Uh, siapa yang bikin saya jadi sejahat ini?" tanya ku menyindir.
Nicholas tertawa pelan kemudian menarik ku.
"Ayo, kita harus lepas gaun itu."
"Saya bisa lakuin itu sendiri, Pak."
Nicholas tersenyum kemudian merangkul ku dengan erat.