NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
HADIAH



Akhirnya Ardi dipindahkan ke Singapura. Sejak saat itu, aku dan Nicholas sepakat untuk tidak memikirkan atau membicarakan lagi tentang penyerangan itu dan apa yang Ardi katakan. Nicholas juga mengatakan, apa pun yang Hero katakan sebelum kematiannya tentang Nicholas, ia tak ingin mengetahuinya.


Aku juga tak ingin memaksa Nicholas mencari tahu jika itu hanya akan membuatnya kepikiran terus menerus. Kami berdua ingin fokus pada pemulihan perusahaan Nicholas.


"Hari ini ada pertemuan dengan beberapa investor pukul 13:30 WIB. Besok, Anda perlu menghadiri rapat dengan beberapa produser film pukul 10:00 WIB ..."


Rania memberikan laporan tentang jadwal Nicholas kepada ku dan Nicholas. Dia juga sudah merekap beberapa dokumen sesuai dengan tugasnya. Dan, sejauh ini pekerjaan Rania cukup bagus. Dia hampir jarang melakukan kesalahan, seolah sudah terbiasa dengan pekerjaannya. Aku jadi semakin yakin tentang alasan Nicholas merekrutnya menjadi sekretarisnya.


"Bagaimana soal paketnya, Pak? Sudah ada beberapa paket tanpa nama pengirim beberapa hari ini," ucap Rania kelihatan tak enak mengatakannya.


"Buang saja. Tidak perlu menerima paket dari orang yang tidak mencantumkan pengirimnya. Abaikan saja." Nicholas segera mengambil keputusan. Sepertinya, dia juga tak ingin dipusingkan dengan paket-paket semacam itu.


"Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi," pamit Rania melangkahkan kakinya keluar ruangan. Aku harap, tidak ada lagi yang mengirim paket-paket seperti itu.


"Oh ya, Rania sudah mengirimkan dokumen salinan kontrak dengan beberapa naskah film. Aku udah taruh di meja kamu, di sana. Coba kamu periksa lagi sebelum kita berikan besok," ucapku menjelaskan kepada Nicholas mengenai beberapa map yang ada di mejanya.


Nicholas menganggukkan kepalanya, lalu meraih map tersebut untuk membacanya.


Baru saja aku hendak kembali mengerjakan tugasku membantu Nicholas, tiba-tiba ponselku berdering. Saat aku meraih ponsel dari saku blezer, aku melihat panggilan masuk dari Rania.


"Ya, Nia?" tanyaku ketika mengangkat panggilan teleponnya.


"Bu, kali ini ada paket hadiah untuk Bu Fiona. Apa saya perlu masuk?" tanya Rania yang membuatku mengeriyitkan kening heran. Paket hadiah? Dari siapa? Maksudku, siapa yang mau mengirim hadiah ke kantor, dan dalam rangka apa?


"Bu Fiona?"


"Oh, sabaiknya saya aja yang ke sana. Tunggu sebentar ya," jawabku akhirnya memutuskan. Aku juga penasaran siapa yang memberiku hadiah.


Sebelum keluar, aku menghampiri Nicholas bermaksud untuk meminta izin. Aku mengetuk mejanya pelan, sampai Nicholas menoleh ke arahku.


"Aku ke depan sebentar, ya," ucapku meminta izin.


"Ke mana?" tanya Nicholas kelihatan panik. Ya ampun, mengapa Nicholas jadi sangat berlebihan?


"Aku mau nyamperin Rania sebentar, Nicho," jawabku terkekeh pelan melihat wajah paniknya.


"Oh ... Oke," sahut Nicholas akhirnya menganggukkan kepala, dan dia kembali fokus pada pekerjaannya. Sementara aku melangkahkan kaki ku keluar ruangan Nicholas dan menghampiri meja Rania.


"Bu, Fiona." Rania tersenyum melihat ke arahku, dia segera menyodorkan sebuah kotak berwarna navy dengan pita berwarna hitam.


"Ini, Bu. Seorang staf resepsionis mengantarkan ini. Katanya khusus untuk Bu Fiona," ucap Rania sambil menyodorkan kotak tersebut padaku. Lantas, aku pun segera meraih kotak itu dan memerhatikannya dengan seksama. Tak ada nama pengirim atau alamat. Hanya ada kartu yang diselipkan bertuliskan 'Untuk Fiona'.


"Ini gak tahu lagi pengirimnya siapa?" tanyaku heran.


"Seorang laki-laki, dia pakai topi dan jaket bomber, tapi dia gak mau mengatakan. Katanya, surprise untuk Bu Fiona," jawab Rania lagi-lagi membuatku kebingungan. Apa lagi ini? Kenapa jadi banyak orang yang mengirimkan sesuatu tanpa memberitahu namanya?


"Saya rasa ... Ini dari pacarnya Bu Fiona. Romantis sekali ya. Sampai-sampai dikirimkan hadiah di tengah-tengah jam kerja begini," ujar Rania dengan nada bercanda. Sementara aku sibuk membukanya karena penasaran.


Aku terdiam begitu kotak bagian penutupnya ku buka. Ada sesuatu yang ditutupi oleh kartu ucapan besar yang bertuliskan, 'Untuk Fiona, Si Perebut Suami Orang'.


Astaga! Apa ini?


"Apa isinya, Bu? Kue? Atau cokelat?" tanya Rania. Namun, aku buru-buru menutup kotak ini lagi dengan panik. Jangan sampai Rania mengetahui ini atau dia akan salah paham.


"Apa ini diterima baru saja?" tanyaku.


"Ya, kata Bu Erna, dia langsung membawa kotak ini ke sini begitu si pengirim memberikan."


Dia pasti masih ada di sekitar gedung ini. Aku harus mencarinya! Langkahku bergerak cepat meninggalkan Rania. Aku segera masuk ke lift menuju lobby. Aku yakin orang itu ada di sekitar sini.


Sayangnya, aku sudah berkeliling di sekitar gedung perusahaan, aku tak juga menemukan laki-laki dengan ciri-ciri seperti itu. Apa dia sudah pergi? Ah, bodoh sekali kau, Fiona.


Aku menghela napas berat, kemudian, aku berjalan menuju toilet perempuan yang ada di lantai lobby ini. Syukurlah toilet ini sepi.


Aku segera membuka kotak tadi lagi. Sialan! Dia mengirimkan aku baju tidur sexy seperti seorang ******. Apa-apaan ini? Ada kartu ucapan lagi di dalamnya.


'Halo, perebut suami orang? Apakah sudah hidup bahagia setelah menyingkirkan istri sah? Haha, hidup kamu itu terkutuk. Kalian tidak akan hidup tenang.'


Aku menelan salivaku susah payah. Sungguh rasanya jantungku mencelos ke bawah membaca semua ini. Apakah ada seseorang yang mengetahui hubunganku dan Nicholas? Apa salah satu tamu undangan pernikahan kita? Aku tak tahu. Tapi mereka semua yang datang adalah orang-orang berkelas yang tak mungkin memiliki waktu untuk meneror ku seperti ini. Lalu, siapa?


Hatiku rasanya hancur saat akhirnya ada seseorang yang salah paham padaku, dan menganggapku sebagai seorang perebut suami orang. Karena secara teknis, saat itu Nicholas memang berstatus suami Mia. Tapi, situasinya bukan begitu.


Aku segera mengambil kartu ucapan itu, lalu memasukkannya ke dalam saku blezerku. Sementara kotak hadiah ini, aku buang di tong sampah kamat mandi. Sudahlah Fiona, tak perlu memikirkan hal begini.


Begitu aku keluar dari toilet, aku terkejut melihat Nicholas ada di sini. Dia segera menghampiriku.


"Rania bilang kamu langsung berlari pergi saat menerima kotak hadiah. Makanya aku mencari kamu," ucap Nicholas.


"Oh, bukan hadiah penting. Aku ... Cuma mau ke kamar mandi aja kok," jawabku berusaha untuk tetap tenang. Nicholas tak perlu tahu soal ini, karena dia sudah cukup memiliki banyak masalah.


"Dari siapa hadiah itu?" tanya Nicholas.


"Kamu kok bisa ketemu aku di sini?" tanyaku mengalihkan topik pembicaraan dari hadiah tersebut.


"Aku masih memasang alat pelacak diponsel kamu, Fio. Untuk jaga-jaga saja agar aku selalu tahu kamu di mana," jawab Nicholas membuatku menganggukkan kepala.


"Oh, ya udah balik lagi yuk."


"Kamu belum jawab, hadiah dari siapa?"


"Dari temen aku. Itu .. Gak pentinglah. Ngapain sih dibahas? Bukannya kita masih banyak kerjaan?" tanyaku sedikit meninggikan suaraku karena kesal respon Nicholas terlalu berlebihan.


"Sebaiknya kita kembali, Nicho. Kita harus segera selesaikan pekerjaan supaya kamu bisa fokus ke hal lain lagi," ucapku membujuk Nicholas.


Baru saja Nicholas akan menjawab. Ponselnya berbunyi tanda panggilan masuk. Dia menyuruhku untuk duluan, sementara dirinya mengangkat panggilan telepon.


***


Aku merapikan dokumen yang ada di atas meja Nicholas bermaksud agar dia bisa bekerja dengan tenang jika mejanya rapi. Lalu, aku juga merapikan arsip yang masih berantakan di laci-laci yang berserakan.


Nicholas masuk ke ruangan setelah dia berteleponan entah dengan siapa tadi hingga memakan waktu lumayan lama.


"Sayang, sebenarnya hadiah apa yang barusan kamu terima? Dan siapa yang mengirimnya?" tanya Nicholas begitu dia berdiri di hadapanku.


"Bukan apa-apa, Nicho. Temanku memberikan paket makeup yang direkomendasikan. Hanya itu," jawabku tanpa menoleh ke arah Nicholas.


"Paket makeup?"


"Iya. Cuma pake makeup."


Nicholas menghela napas panjang, dia berjalan menghampiriku.


"Aku bertanya pada Rania. Katanya kamu pergi setelah menerima paket dari seorang laki-laki yang mengantar. Kamu ke lobby, keluar dari gedung, lalu ke toilet. Jika kamu hanya ingin ke toilet, kenapa perlu ke lantai bawah? Apa untuk menyembunyikan ini dan membuangnya?" tanya Nicholas sambil menunjukkan foto yang terpampang di layar ponselnya.


Aku terbelalak kaget ketika Nicholas berhasil menemukan kotak hadiah dengan baju tidur tipis yang kubuang tadi.


"Fio ... Kenapa kamu berbohong?" tanya Nicholas menatapku lekat-lekat. Astaga, apa yang dia pikirkan? Apa Nicholas berpikir aku selingkuh?