
Aku duduk meringkuk di dalam kamar mandi setelah memastikan pintu ini terkunci.
Di tangan kanan ku sudah ada sebilah pisau buah, sementara tangan kiri ku menggenggam ponsel. Aku mendengar langkah kaki yang masuk. Sungguh kaki ku gemetar. Jangan kan menyalakan ponsel untuk menelpon Nicholas, untuk bernapas saja aku takut suara ku akan terdengar.
Tak sampai satu menit, aku mendengar suara langkah kaki lagi yang berjalan menjauh, kemudian terdengar pintu kamar sudah tertutup.
Pelan-pelan, aku membuka pintu kamar mandi sedikit untuk mengintip apakah orang itu benar-benar sudah pergi. Hening.
Aku berjalan keluar dari kamar mandi, mengedarkan pandangan ku seketika ke sekeliling memastikan tak ada orang lain.
Sudah pasti itu bukan staf hotel. Mana ada staf hotel yang bisa sembarangan masuk ke kamar, meskipun kemungkinan mereka memiliki kunci cadangan.
Pandangan ku tertuju pada sebuah amplop berwarna cokelat. Aku segera meraihnya dan melihat isinya. Sebelum membuka, aku sempat terdiam sejenak. Apa yang kira-kira mereka taruh di dalam amplop ini? Haruskah aku membukanya?
Aku harus membukanya.
Setelah menghela napas panjang, aku membuka amplop tersebut dan mengeluarkan apapun di dalamnya ke atas tempat tidur, dan aku tertegun.
Foto-foto polaroid dengan hiasan pita warna-warni. Tapi foto itu adalah foto Fiosky yang mati. Aku meraih foto-foto itu dan menutup mulut ku dengan tangan. Bulu putih bersih Fiosky sudah berubah menjadi merah. Jantung ku mencelos melihat Fiosky. Tangan ku semakin bergetar melihat tulisan di belakang foto itu, yang bertuliskan, 'RIP FIO'.
Suara langkah kaki pagi ini terdengar lagi. Dengan perasaan linglung, aku segera berlari menuju pintu untuk menguncinya lagi. Aku tak tahu apakah ini berguna atau tidak. Tapi kaki ku benar-benar sudah lemas. Kenapa yang ditulis, nama Fio bukan Fio sky? Apa mereka berniat ...
Suara bel di pintu kamar ku semakin membuat ku histeris. Ya Tuhan, apalagi ini. Apa mereka kembali? Aku memejamkan mata ku kuat-kuat sambil terus menangis melihat foto-foto Fio yang sekarang berceceran di lantai.
"Fiona!"
Itu suara Nicholas. Aku berhenti menangis dan berusaha meraih gagang pintu setelah membuka kuncinya.
Pelan-pelan, aku berusaha membuka pintu kamar. Nicholas langsung meringsek masuk ke dalam kamar ku dan aku langsung memeluknya.
"Gak apa-apa. Tenang, Fiona," bisik Nicholas membalas pelukan ku sambil mengelus rambut ku. Kaki ku rasanya masih lemas. Hatiku yang sudah sakit melihat foto kondisi terakhir Fiosky, semakin kacau ketika melihat tulisan itu.
Nicholas berbalik, dan aku baru sadar di sana juga ada Ardi. Aku tak tahu Nicholas mengisyaratkan apa pada Ardi, tapi laki-laki itu segera pergi.
"It's okay. Gak ada apa-apa di sini, okay?" ucap Nicholas pelan yang terasa sayup-sayup terdengar oleh ku. Padahal Nicholas berada sangat dekat dengan ku.
Dua puluh menit kemudian, aku sudah mulai bisa tenang. Segelas air putih sudah cukup membuatku kembali tersadar dalam kenyataan.
Nicholas meminta sarapan untuk di antar ke kamar ku. Tapi aku menolak keras, karena aku tak siap melihat ada staf hotel lagi yang datang ke sini.
Sekarang, Nicholas dan aku hanya diam di balkon. Aku berhasil memunguti foto-foto mengerikan itu dan menunjukkannya kepada Nicholas agar dia bisa lihat sendiri.
"Fiona, ini memang foto mengerikan, saya tahu. Makanya saya gak pernah membahas soal kematian Fiosky, tapi ... Saya gak berekspektasi mereka akan memotret ini," ucap Nicholas yang kelihatan shock juga. Aku tahu dia juga pasti sangat terpengaruh melihat foto-foto kucingnya dalam keadaan mengerikan seperti itu.
"Kamu gak berekspektasi? Are you sure, Nicho?" tanya ku terdengar lebih sinis dari yang aku niatkan.
Nicholas menoleh padaku bingung dengan pertanyaan sinis ku barusan.
"Sejak awal saya melihat mereka. Di perkumpulan orang-orang aneh itu, saya sudah tahu ada yang salah dengan mereka. Dan penjelasan dari kamu tentang apa aja kegiatan perkumpulan orang-orang itu, semuanya itu gak wajar. Mereka bener-bener aneh, dan hal kaya begini harusnya menjadi hal yang wajar bagi mereka," ucapku berusaha untuk menahan kekesalan ku.
"Dan mengingat mereka adalah keluarga kamu, gimana mungkin kamu gak 'berekspektasi' mereka akan segila ini?"
"Ya, saya ketakutan sama mereka, Nicho. Bukan cuma soal foto-foto ini yang bikin hati saya hancur. Tapi kamu lihat tulisan itu?" tanya ku sambil menunjukkan tulisan di salah satu foto tersebut.
Nicholas sempat menahan napasnya sambil memperhatikan tulisan itu.
"Mereka bilang Rest In Peace untuk Fiosky," jelas Nicholas seolah mengelak dari kesimpulan yang ku maksud.
"Oh ya? Saya rasa mereka gak begitu akrab dengan Fio, sampai mereka harus menulis 'Fio'. Bahkan Mia, gak pernah panggil nama Fiosky, dia selalu bilang kucing itu. Saya tahu kamu ngerti kenapa mereka ngirim ini ke saya dan maksud tulisan di sini," ucap ku dengan suara bergetar.
Terjadi keheningan lagi diantara kami berdua. Aku bingung, sebenarnya bagaimana latar belakang hidup Nicholas? Kenapa dia masih terasa abu-abu?
Nicholas berusaha meraih tanganku. Tapi aku menarik tangan ku hingga Nicholas kembali menatap ku.
"Kamu itu sebenernya siapa, Nicho? Kenapa mereka bisa melakukan ini ke kamu? Apa yang pernah kamu lakukan ke mereka?" tanya ku akhirnya memberanikan diri bertanya semua hal itu. Dan aku berharap Nicholas tak akan salah paham dengan pertanyaan ku.
"Saya minta maaf, Fiona," bisik Nicholas ketika suaranya sudah melemah dan aku melihat rahangnya mengeras seolah menahan kesal.
Aku tak menjawab. Bukan permintaan maaf yang aku inginkan dari Nicholas. Aku ingin tahu apa yang membuat keluarga Nicholas seolah membantai semua orang-orang yang ia sayangi. Bahkan, seekor kucing pun mereka habisi.
"Kita pergi dari hotel ini, saya akan bawa kamu ke tempat yang lebih aman. Dan saya akan balas mereka sekarang," ucap Nicholas meraih tangan ku paksa.
"Kabur dan balas dendam itu gak menyelesaikan masalah Nicho -"
"Terus gimana caranya saya harus lindungin kamu?!" sergah Nicholas marah. Aku sampai terdiam mematung menatap Nicholas yang kelihatan kalut. Ini pertama kalinya aku melihat Nicholas marah. Maksud ku, benar-benar marah.
Nicholas melepaskan tangan ku dan dia terduduk di pinggir ranjang, terlihat berusaha keras menenangkan dirinya dengan menunduk sambil memejamkan matanya sementara kedua tangannya bertumpu di atas lututnya.
Kedua tangan Nicholas mengepal keras. Aku tak tahu kenapa reaksi Nicholas seperti ini. Reaksinya sangat tak terbayangkan oleh ku. Dan melihatnya begini, aku benar-benar tak tega. Aku tak tahu apakah Nicholas tak mau menceritakan semuanya, atau mungkin ia tak bisa menceritakannya.
Aku menghela napas panjang, lalu duduk di sebelah Nicholas, meraih kedua tangannya yang mengepal, lalu menggenggamnya, hingga Nicholas akhirnya menoleh ke arah aku.
"Saya bisa membalas mereka sekarang, Fiona. Saya bisa bikin mereka berhenti untuk ganggu kamu. Tapi saya gak akan biarin mereka masuk penjara dulu," ucap Nicholas menegaskan.
Aku ingin bertanya apa alasannya. Tapi rasanya, malah akan memperburuk suasana. Jadi aku hanya diam saja.
"Untuk sekarang, bisa gak kamu ikutin saya aja? Trust me, Fiona. Saya mau kamu terus aman tanpa perlu jauh dari saya, oke?" tanya Nicholas menatap ku putus asa.
Aku menghela napas, setelah berpikir selama beberapa detik, akhirnya aku mengangguk.
"Kamu gak lagi memanfaatkan saya lagi kan?" tanya ku hanya memastikan.
"No, no, Fiona. Kali ini saya bener-bener mau kamu aman," jawab Nicholas dengan cepat sambil menggenggam tangan ku sambil menatap ku lamat-lamat.
"Oke, tunggu dulu. Saya beresin barang-barang saya dulu," ucap ku pelan.
"Ambil barang kamu yang penting aja, Fiona. Sisanya biar Ardi yang urus," bisik Nicholas.
Baiklah, aku harus kembali membereskan barang-barang ku. Entah kemana Nicholas akan membawaku.