NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
ORANG ASING



Akhirnya, aku berhasil menyiapkan TV LED di hotel untuk tersambung ke salah satu platform streaming film online. Nicholas juga sudah memesan popcorn dan softdrink.


"Bisa dibuka aja jasnya, Pak Nicholas?" tanya ku sebelum Nicholas duduk di sofa.


Nicholas menoleh ke arah ku, dia kelihatan menahan senyum sambil mengangkat alisnya.


"Jadi jas ini yang selalu bikin kamu manggil saya 'Pak'?' tanya Nicholas dan aku tersenyum lebar.


"Tepat sekali," jawab ku sambil membantu Nicholas melepaskan jasnya yang sangat mahal ini.


"Kalau kamu mau nonton dengan nyaman, kamu harus santai," ucap ku sambil menyampirkan jas Nicholas di atas sisi sofa yang paling ujung. Sementara Nicholas melipat lengan kemejanya sampai siku.


"Okay, now ... Here we go," ucap Nicholas sambil menarik lengan ku untuk duduk di sebelahnya.


"Ini tontonan anak kecil," komentar Nicholas menggelengkan kepalanya seolah masih tak percaya dirinya sekarang nonton film seperti ini bersama seorang wanita.


"Bagi kamu. Bagi saya ini tontonan saya saat remaja," jawab ku mulai memakan popcorn.


"Nah, apa bedanya?" tanya Nicholas sambil merangkul bahu ku. Oh My God, dia kelewat santai.


Kali ini aku tak menyahuti Nicholas karena aku ingin fokus menonton film. Melihat kelucuan Danniel, Tom, Emma, dan yang lainnya di seri pertama film Harry Potter ini. Aku tak yakin apakah aku dan Nicholas akan mampu menonton sampai seri film terakhir.


Tapi sejauh ini, aku rasa kami berdua menikmatinya. Tunggu, benarkah Nicholas juga?


Saat aku menoleh, astaga aku hampir tergelak tertawa melihat Nicholas kelihatan serius sekali menonton. Saat ini memang sudah sampai ke film seri ke 5. Dimana rahasianya semakin terbongkar.


Nicholas tetap dalam posisinya menyilangkan kaki dan kedua tangan di depan dada. Dia tidak terlihat sedang menonton, tapi dia terlihat sedang mengamati.


"Nicho," panggil ku pelan. Nicholas menoleh ke arah ku dengan raut wajah bingung.


"Mana tangan kamu," ucap ku meminta. Dengan bingung, Nicholas memberikan tangan kanannya. Aku segera merentangkan tangan kanan Nicholas di atas senderan sofa, lalu aku menyenderkan kepala ku di bahunya.


"Kamu gak nonton film-nya," ucap ku menebak.


"Saya nonton dari tadi."


"Kamu lagi mengamati. Iya kan?" tanya ku.


"Saya cuma lagi mikir. Kira-kira berapa biaya yang dihabiskan untuk keseluruhan seri film begini? Butuh waktu berapa lama? Kira-kira bisa gak saya terapkan untuk film-film Indonesia."


Sontak aku kembali tertawa konyol. Tak habis pikir dengan apa yang ada dipikiran Nicholas bahkan ketika aku pikir ini waktunya bersantai.


"Kamu gak percaya film Indonesia juga bisa?"


"Saya gak percaya otak kamu terus berpikir soal bisnis," jawab ku tertawa lagi.


Aku tak mendapatkan jawaban lagi dari Nicholas, jadi aku mendongakkan kepala ku untuk melihatnya.


"Saya suka denger suara ketawa kamu, Fiona," ucap Nicholas tersenyum.


"Saya juga suka senyum kamu, Nicho. Kamu kelihatan lebih hidup kalau senyum."


Senyum Nicholas semakin lebar. Ia menarik bahu ku dengan tangan kanannya tadi ke dalam pelukannya. Untuk kesekian kalinya, aku merasa sangat nyaman berada di pelukan seorang laki-laki, yaitu Nicholas. Tapi untuk pertama kalinya, aku mengabaikan film Harry Potter, hanya untuk menyenderkan kepala ku di dada Nicholas, mendengarkan detak jantung Nicholas sedekat ini.


Sampai akhirnya tiba, waktu Nicholas untuk pulang. Aku senang sekarang Nicholas mulai memahami ku. Kalau aku membutuhkan privasi, dan tak mungkin tidur bersamanya.


"Hati-hati ya," ucap ku ketika Nicholas memeluk ku lagi sambil mengelus rambut ku.


"Ardi tinggal di sebelah kamar kamu. Kamu tinggal hubungi Ardi. Jangan percaya siapapun kecuali Ardi, oke?"


"Apa Mia dan keluarga kamu masih mencari saya sekarang?"


Nicholas terdiam sejanak. Ia seperti sedang memikirkan sesuatu atau mempertimbangkan sesuatu.


"Itu yang masih saya cari tahu, Fiona. Dulu saya bisa berpura-pura menemani Mia minum untuk tahu rencananya. Tapi, sekarang gak bisa."


"Dia udah tahu kamu lakukan itu?"


Nicholas menggelengkan kepalanya.


"Dia tahu kalau saya berusaha melindungi kamu."


"Nah, apa bedanya?"


"Bedanya, Mia jadi semakin yakin kalau saya benar-benar menaruh perasaan ke kamu," jawab Nicholas.


"Itu bukan hanya pikiran Mia. Itu kenyataannya," jawab Nicholas seketika membuat ku terdiam sambil menatapnya.


'Kalau Nicholas benar-benar menaruh perasaannya padaku.'


Nicholas kembali tersenyum. Ya ampun, aku senang Nicholas jadi lebih banyak tersenyum.


"See you," ucap Nicholas mencium kening ku kemudian berjalan keluar dari pintu kamar ku.


Aku langsung mengunci pintu kamarku dan merapikan semuanya. Tiba-tiba aku merasa parnoan ketika ditinggal sendirian. Aku berpikiran buruk tentang keluarga Nicholas, dan sepertinya aku harus mencaritahunya.


***


Aku tak memasang alarm. Tapi ponsel ku yang bergetar dan suara deringnya membangunkan ku.


Sekarang pukul 07:00 WIB. Nicholas sudah mengirimi ku pesan sepagi ini. Baru membukanya saja sudah membuatku tersenyum. Aneh, Nicholas kelihatan lebih ceria dari sebelumnya.


From: Nicholas


Wake up, sweetheart. Ayo sarapan!


Sweetheart? Nicholas, berhenti membuat ku merinding! Namun, setelahnya aku merasakan perasaan yang menyenangkan setiap dia memanggilku dengan panggilan manis seperti ini.


To: Nicholas


Baru bangun. Kamu bangun jam berapa sih?


From: Nicholas


Jauh lebih pagi dari kamu. Bahkan, sekarang saya udah siap untuk sarapan sama kamu.


To: Nicholas


Bohong. Mana mungkin kamu udah siap keluar jam segini?


From: Nicholas


Saya harus ke kamar kamu sekarang kayanya.


To: Nicholas


Jangan becanda deh. Coba kirim foto kamu sekarang.


From: Nicholas


Untuk apa?


To: Nicholas


Cuma buat bukti kalau kamu beneran udah siap keluar. Aku bukan anak kecil ya, Nicho.


From: Nicholas


Really?


To: Nicholas


Just take a selfie, sir!


Butuh waktu beberapa menit, sampai akhirnya ponsel ku kembali berdering notifikasi masuk dari Nicholas.


Dia benar-benar mengirimi ku foto! Hanya sebuah foto selfie dengan pesan di bawahnya.


To: Nicholas


Jangan panggil Pak. Saya gak lagi pakai setelan formal, sayang.


Aku butuh air mineral! Nicholas benar-benar sudah siap keluar. Ya ampun, aku harus buru-buru membersihkan diri ke kamar mandi.


Tapi, sebelum itu, tiba-tiba pintu bel kamar ku berbunyi. Aku berjalan mendekati pintu, lalu sebelum membuka pintu, aku melihat dulu melalui camera.


Seseorang dengan memakai seragam staf hotel berdiri di depan pintu membawa sebuah nampan. Aku baru saja hendak membuka pintu, tapi tiba-tiba aku terkejut ketika laki-laki itu mengeluarkan sebuah kartu dan menempelkannya ke bagian kunci, kaki ku lemas ketika terdengar kunci kamar ini benar-benar berhasil dibuka olehnya. Jantungku mencelos dan lidahku kelu saat ini juga.


Bagaimana bisa? Siapa orang ini?