NICHOLAS And His Plan

NICHOLAS And His Plan
BERITA TENTANG NICHOLAS



"Sebagian proyek film tahun ini sudah selesai. Dan seperti yang kita rencanakan sebelumnya untuk proyek akhir tahun, sudah masuk beberapa naskah film dengan genre horor..."


Aku tak pernah mengatakan kalau Nicholas adalah pria yang manis. Tidak pernah. Tapi, sejujurnya saat ini aku ingin mengatakan itu. Entah aku baru menyadarinya atau memang Nicholas terlihat sangat berbeda setelah kami berdua menikah.


Bahkan disaat rapat sedang berlangsung seperti ini, pandangan Nicholas tak lepas dari ku. Dia terang-terangan memandang ke arah ku. Dan harus aku akui, Nicholas terlihat manis tanpa perlu berusaha untuk melakukannya.


"Kami sudah melakukan pemilihan naskah dengan tim. Dan ada beberapa naskah film yang kami rekomendasikan. Apa Anda ingin saya mengirimnya lewat email?"


"Jangan. Saya mau naskah print-nya. Taruh di atas meja saya secepatnya," ucap Nicholas dengan tenang. Bahkan aku sudah sangat khawatir Nicholas tak memperhatikan apa yang dijelaskan oleh staf nya ini.


"Baik, kalau begitu saya akan membawa naskah print-nya sesegera mungkin, Pak."


"Apa ada lagi yang dilaporkan?" tanya Nicholas.


"Oh ya, Pak. Ada beberapa sponsor yang mengundurkan diri ... Karena skandal Pak Nicholas dan Bu Mia kemarin. Mereka juga khawatir karena hal itu, Pak Nicholas menghilang selama berminggu-minggu. Saya juga jadi sedikit khawatir mengenai ... anggaran yang akan kita gunakan untuk beberapa proyek film kedepannya, Pak."


"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan soal itu. Saya bisa mengeluarkan anggaran perusahaan tanpa sponsor untuk proyek film. Sementara itu, saya juga sudah berkoordinasi dengan staf lain untuk memulihkan keadaan."


Staf bernama Andi itu beranjak dari sofa sambil membawa laptop dan beberapa map yang sebelumnya sudah ditandatangani Nicholas. Kemudian ia tersenyum ramah ke arah ku, dan tentu saja aku membalasnya dengan ramah pula.


"Apa berita kemarin sudah keluar, Fiona?" tanya Nicholas sementara pandangannya terfokus pada layar iPad nya.


"Maaf, Pak. Tapi saya rasa tak ada berita yang terlalu penting..."


"Gak mungkin. Kasih tahu saya aja, apa yang wartawan-wartawan itu beritakan tentang saya."


Aku menahan napas, sejujurnya hal itulah yang dari tadi aku hindari. Aku tak mau melihat berita-berita aneh tentang Nicholas.


"Fiona ..."


"Untuk apa Pak Nicholas perlu melihatnya?"


"Kamu belum mencari berita apapun kan?" tebak Nicholas menahan senyumnya. Dan aku mengangguk.


"Kalau gitu, cari berita terbaru. Dari situs media terpercaya. Kita perlu tahu bagaimana pandangan perusahaan kita di media maupun orang-orang awam."


Akhirnya aku menurut. Aku segera mencari berita terbaru tentang Nicholas dan Ark's Film dari situs-situs berita terpercaya.


Dan seperti yang sudah aku duga isi beritanya. Bahkan aku tak mau memberitahu Nicholas tentang ini.


GARA-GARA NICHOLAS, DUA NYAWA MELAYANG. MASYARAKAT MENILAI TINDAKAN OWNER ARK'S FILM ITU BERLEBIHAN DAN KEJAM


NEKAT MENCERAIKAN MIA YANG DIDUGA MEMILIKI PENYAKIT MENTAL, NICHOLAS MENJADI PENYEBAB UTAMA MENDIANG MIA MENGAKHIRI HIDUPNYA.


DIDUGA TAK KUAT MENAHAN MALU, HERO MENYUSUL MIA UNTUK MENGAKHIRI HIDUPNYA. CINTA SEJATI ATAU HANYA EFEK DARI KEJAMNYA RESPON MASYARAKAT?


Berita-berita macam apa ini? Aku harus mencari tahu sebenarnya apa yang terjadi pada Mia dan Hero. Mereka tak bisa menyalahkan Nicholas atas semua ini.


***


"Sepertinya kita perlu menyortir beritanya telebih dahulu, Pak. Setelah itu, saya akan mengirimkannya kepada Anda," ucap ku pada Nicholas setelah mempertimbangkan dalam waktu beberapa menit. Jujur saja, aku sendiri sudah kesal membaca berita-berita omong kosong ini yang seolah menyudutkan Nicholas. Bagaimana jika Nicholas yang membacanya?


"Kalau gitu, saya akan mencarinya sendiri. Terimakasih Fiona," ujar Nicholas tanpa menoleh ke arah ku. Astaga, sepertinya dia tak menyetujui gagasan ku barusan. Lalu aku harus apa?


Aku menghela napas panjang, lalu menghampiri Nicholas dan memberikan ponsel ku kepadanya. Ia menerima ponsel ku, lalu melihat ke arah layar. Bukannya Nicholas tak bisa mencarinya sendiri, tapi dia terlalu sibuk menyusun strategi baru untuk memulihkan nama perusahaannya.


Wajahnya tampak sangat serius membaca artikel-artikel yang muncul di layar ponsel ku. Meskipun tak mengatakan, aku yakin Nicholas hanya membaca sekilas-sekilas dari semua artikel itu. Hebatnya, Nicholas masih kelihatan tenang. Wajahnya memang sempat kelihatan menegang, namun hanya untuk beberapa saat saja. Dan aku khawatir Nicholas sedang memendam rasa kesalnya.


"Oke, saya sudah paham. Kalau begitu, tolong jadwalkan rapat gabungan sore ini untuk seluruh staf Ark's Film. Sementara itu, saya akan menyiapkan isi rapat," ucap Nicholas beranjak dari sofa lalu berjalan menuju meja kerjanya.


"Nicho ..."


Nicholas berhenti melangkah, lalu ia berbalik menatapku.


"Kamu baik-baik aja?"


Nicholas hanya tersenyum miring kemudian ia menghela napas panjang.


"Of course, not. Tapi hal semacam ini bukan hal yang baru bagi aku," jawab Nicholas dengan tenang, "maksudnya, kegoyahan perusahaan ini sudah saya tangani selama beberapa kali dalam sepuluh tahun ini."


Wah, aku terkejut dengan kepercayaan diri Nicholas. Tapi, aku juga baru menyadari kalau masalah perusahaan, Nicholas selalu berpikir positif. Tapi syukurlah Nicholas tak nekat mencari si pembuat berita dan membalas mereka. Mungkin, selama semua ini tak menyangkut keselamatan orang-orang terdekatnya, Nicholas akan cenderung bersikap tenang.


***


Seorang perempuan yang katanya merupakan sekretaris baru Nicholas akhirnya masuk ke ruang kerjanya. Sejujurnya, Nicholas sendiri tak memberitahu ku atau meminta pendapat ku tentang calon sekretaris barunya. Ya, aku percaya dia memiliki tipenya sendiri dalam mencari sekretaris.


Aku berdiri gugup di sebelah Nicholas yang tentu saja kelihatan lebih tenang. Aku merasa gugup, karena khawatir sekretaris ini lebih cantik bahkan dari Angeline.


Tapi begitu perempuan itu benar-benar berdiri di hadapan kami, aku tersentak kaget. Bagaimana tidak? Yang berdiri di hadapan kami adalah seorang perempuan bertubuh gempal, memakai kacamata tebal, rambut yang pendek bergelombang, dan pakaian yang sedikit kebesaran. Maksud ku, benar-benar kebesaran di tubuhnya yang sudah besar.


Wajahnya kelihatan ramah, dan dia juga terlihat malu-malu. Tapi, bukannya aku berniat untuk merendahkan fisiknya, tidak sama sekali. Aku hanya kaget saja, kenapa orang sekelas Nicholas yang biasanya dikelilingi wanita cantik termasuk sekretarisnya, tiba-tiba memilih wanita ini.


Tentu aku tahu, kepintaran seseorang tak dinilai dari penampilannya. Dan aku pun sangat percaya perempuan ini bisa menjadi sekretaris yang handal. Tapi tetap saja aku terkejut dengan perubahan tipe Nicholas khususnya di bagian fisik. Apa dia terlalu terburu-buru memilih sekretaris untuk membantunya menyelesaikan masalah di perusahaannya ini? Ku rasa tidak.


Karena menurut pengalaman ku, ketika aku menghadiri interview di perusahaan ini, semua kandidat kelihatan sangat cantik dan modis. Hanya aku yang terlihat biasa saja. Makanya aku sempat mengira salah masuk interview.