
Rekaman CCTV parkiran kantor menunjukkan Erren keluar dari sebuah mobil membawa kotak hadiah berwarna biru navy yang hari ini diberikan kepada Nicholas. Ternyata benar Erren orangnya.
"Kenapa dia melakukan ini?" gumamku benar-benar bingung. Sejak tadi, aku sama sekali tak menemukan motif Erren melakukan ini. Dia sama sekali tak ada hubungannya dengan Mia.
"Kita akan tahu dari mulutnya sendiri. Aku harus memanggilnya sekarang," ucap Nicholas.
"Lalu setelah kamu tahu dia yang melakukan teror ini, apa yang mau kamu lakukan, Nicho?" tanyaku sebelum Nicholas menghubungi stafnya untuk memanggil Erren.
"Setelah kita tahu apa motifnya, aku akan mencari bukti dalam kematian Mia dan Hero, lalu mengajukannya ke polisi agar mereka mengusut kasus ini," jawab Nicholas dengan lugas. Dia seolah yakin dengan rencananya.
"Tapi kalau selama ini polisi aja gak bisa menyentuh mereka, apa yang membuat kamu berpikir sekarang bisa? Sebaiknya kita sendiri yang membereskan ini, Nicho."
"Sayang, dengar. Aku akan melakukan semuanya secara rapi, dan aku akan memastikan mereka tidak tahu kita terlibat dalam pelaporan ini, karena aku gak mau mereka menyerang kita lagi. Jadi aku mohon sama kamu untuk hati-hati, okay?" ucap Nicholas menjelaskan. Aku menganggukkan kepala paham. Baiklah, jika memang harus sembunyi-sembunyi. Lagi pula, aku selalu percaya dengan rencana Nicholas.
Akhirnya, Nicholas pun memanggil Erren untuk datang ke ruangannya. Begitu Erren sampai di ruangan ini pun, dia kelihatan sangat tenang seolah tak curiga sama sekali tentang alasan mengapa Nicholas memanggilnya.
"Maaf, Pak. Ada apa ya?" tanya Erren dengan sopan.
Nicholas tak menjawab, dia mengeluarkan kotak hadiah yang diterimanya tadi siang, dan menaruhnya di atas meja. Aku melirik Erren yang kelihatan berusaha untuk tetap tenang. Lalu, Nicholas mengisyaratkan aku untuk memutar rekaman CCTV di laptop ku dan mengarahkannya kepada Erren.
Barulah, saat ini raut wajah Erren mulai kelihatan menegang. Senyum keramahan di wajahnya seketika sirna.
"Saya gak perlu alasannya. Siapa yang menyuruh kamu?" tanya Nicholas.
Awalnya Erren masih diam. Dia menundukkan kepalanya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Erren, saya gak akan buang-buang waktu untuk ini. Jika kamu gak memberitahu saya, saya akan melaporkan hal ini ke polisi," ancam Nicholas dengan nada suara yang terdengar dingin, sampai aku pun tak berani menoleh ke arahnya.
"Pak Mahendra yang menyuruh saya, Pak," jawab Erren dalam satu helaan napas.
Nicholas masih menatap Erren dengan tatapan tajam. Dia segera meraih gagang telepon, kemudian menghubungi seseorang. Ku rasa salah satu staf kantornya.
"Widya, tolong siapkan surat pemutusan kontrak kerja pada devisi management bernama Erren Daniar. Sore ini harus sudah ada di meja saya," Setelah mengatakan itu, Nicholas menaruh kembali gagang teleponnya. Sementara aku masih terdiam kaget karena Nicholas langsung memecat Erren tanpa basa-basi.
"Sepertinya, kamu sudah mendengarnya, Erren. Hari ini, hari terakhir kamu berada di kantor ini. Saya akan mengurus semua dokumennya hari ini. Silakan keluar," ucap Nicholas mempersilakan Erren keluar dari ruangannya.
Aku sebenarnya kasihan melihat Erren hanya menundukkan kepala tanpa bisa berkata apa-apa. Namun, dia tetap berbalik tanpa perlawanan atau mencoba memberi alasan, lalu berjalan keluar. Seolah-olah, dirinya tahu kalau semua yang dia katakan tidak akan berguna untuk Nicholas.
"Nicho, kamu ... Serius memecat dia? Kenapa kamu gak mendengarkan dulu alasannya?" tanyaku agak panik sambil menghampiri Nicholas.
"Apa pun alasannya, yang dia lakukan itu tidak benar, Sayang. Aku yakin dia sudah tahu konsekuensinya jika melakukan kesalahan di perusahaan ini," jawab Nicholas dengan tenang. Dia beranjak dari kursi, lalu membawa beberapa barang bersamanya.
"Kamu mau kemana?" tanyaku menyadari gerak-gerik Nicholas hendak pergi keluar.
"Aku akan menemui Mahendra, ayahnya Mia. Kamu tunggu di sini, jangan kemana-mana," ucap Nicholas.
"Tapi, Nicho. Sebentar lagi kamu harus rapat ..."
"Aku harus ikut Nicho. Mereka pasti masih marah dengan kamu, dan mungkin aja mereka akan mencelakai kamu," ucapku mencoba memberi penjelasan pada Nicholas. Aku benar-benar khawatir.
"Tenang aja, Fio. Lagi pula, mereka akan lebih marah kalau kamu ikut dengan aku. Ingat? Mereka tahu kalau sekarang kamu adalah istri aku," bisik Nicholas, lalu tiba-tiba dia mencium bibirku sekilas.
"Nicho! Jangan sembarangan cium gini, nanti diliat orang," tukasku pelan tetapi terdengar penuh penekanan. Nicholas malah tertawa pelan, lalu sengaja mencium pipiku sambil memeluk pinggangku.
"Ya udah, udah. Sana katanya mau nyamperin Pak Mahendra." Aku menepuk-nepuk lengan Nicholas pelan sambil tersenyum geli saat Nicholas mengelus punggungku dengan jarinya.
"Kenapa? Geli, ya?"
"Iya, makanya lepasin," jawabku berusaha menurunkan tangan Nicholas dari punggungku.
"Okay, okay. Tapi jangan lepasin pelukan aku dulu, please ... Aku butuh semangat untuk menghadapi mereka," bisik Nicholas masih memeluk pinggangku.
"Nicho ... Pantesan kamu nyuruh aku untuk jadi asisten kamu lagi. Jadi ini gunanya aku sebenarnya?" tanyaku dengan nada bercanda.
"Pekerjaan kamu bagus, kok. Tapi, ini pekerjaan utama kamu sebenarnya. It feels very nice when i hug you, like we're in our home," bisik Nicholas kali ini mengelus punggungku dengan telapak tangannya terasa lebih lembut dibanding geli.
"Because i'm your home, Nicholas," bisikku tersenyum. Nicholas melepaskan pelukannya, dia meraih wajahku lalu kembali mencium bibirku sambil tersenyum.
Aku ikut tersenyum dengan ciumannya, lalu membalasnya dengan ******* kecil di bibirnya. Nicholas juga membalasnya dengan ******* bibirku lembut, sangat lembut sampai aku memejamkan mata. Tubuhku melangkah mundur hingga memepet dinding.
"Nicho ... Nicho." Aku reflek menahan tangan Nicholas yang hendak menarik kemeja blouse ku dari dalam rok saat kami berdua hampir terhanyut terlalu dalam.
"Katanya mau berangkat sekarang. Berangkat dulu sekarang, selesain urusan kamu di sana. Kita lanjut di rumah," bisikku sambil merapikan rambut Nicholas.
"Di rumah? Apa kamu gak kangen private room?" bisik Nicholas dengan senyum meledeknya.
"Enggak, di rumah aja. Biar fokus," bisikku mencium pipinya, kemudian melepaskan pelukan Nicholas di pinggangku.
"Ingat, kamu jangan kemana-mana. Tetap di sini sampai aku kembali. Derry akan ikut aku kali ini," ucap Nicholas memperingatiku lagi. Dan aku hanya menganggukkan kepalaku paham, lalu melambaikan tangan padanya.
Begitu Nicholas keluar, aku berjalan ke arah private room Nicholas untuk mencoba fokus berpikir apa yang kira-kira Nicholas rencanakan. Yang jelas, dia datang ke rumah Mahendra pasti mencari bukti yang bisa menguatkan kemungkinan bahwa kematian Mia memang tak wajar. Lalu, bagaimana dengan Hero? Sejujurnya aku takut ada orang-orang dari kelompok aneh itu mengetahui apa yang sedang Nicholas rencanakan.
Sambil mengotak-atik ponsel baru yang dikirimkan di kotak hadiah itu, aku mendengarkan kembali rekaman itu satu persatu. Di dalam rekaman ini, Mia terdengar begitu berapi-api.
Sampai, aku menemukan salah satu rekaman yang sepertinya terlewatkan.
"Nicholas ... Aku tahu kalian ... Kalian bukan ... Nicholas ... Bukan siapa ... Siapa ... Nicholas... Kalian ..."
Aku mengeriyitkan kening. Tiba-tiba aku merasa merinding mendengar suara Mia yang tersendat-sendat seperti ada sesuatu yang mencekiknya, atau menahannya bicara. Namun, aku terpaksa memutar rekaman itu lagi. Sampai aku menyimpulkan sesuatu yang mungkin bisa memiliki arti yang salah.
Aku tahu kalian bukan siapa-siapa Nicholas.
Hanya itu yang bisa aku simpulkan dari kalimat Mia. Namun, apa maksudnya? Dan siapa yang dimaksud Mia? Tapi setiap dia mengatakan kalian di semua rekaman ini, pasti merujuk pada paman dan kakeknya Nicholas. Tunggu, kakek dan paman-pamannya Nicholas ... Kurasa itu kata kuncinya.