
Sejak Nicholas menunjukkan pistolnya, aku kehilangan kata-kata ku. Bahkan, aku tak berani untuk membaca kertas yang ada di dalam kotak.
Nicholas kembali meninggalkan aku karena urusan pekerjaan meskipun tahu pembicaraan kami belum selesai. Aku belum memberikan pendapat apa-apa kepada Nicholas.
Tapi Nicholas sudah membenarkan pikiran ku soal apa yang ingin dia lakukan. Dia memang berniat untuk membunuh. Nicholas ingin membunuh.
Perasaan ku gelisah. Kenapa Nicholas begitu misterius? Selama ini dia terlihat amat tenang menghadapi Mia dan keluarganya.
Pandangan ku lurus ke dapan perkebunan tanaman hias pribadi rumah ini. Sungguh, meskipun rumah ini amat besar, tak ada kesan gelap dan kelam sedikitpun. Bagaimana bisa Nicholas merencanakan hal ini di rumah secerah ini.
Hampir setengah hari ini aku habiskan dengan berjalan-jalan tak jelas. Fiona, kamu gak bisa begini.
Saat malam tiba, aku sadar satu hal yang menjadi kekurangan di rumah ini. Sepi, hening, dan kesepian di bangunan yang besar ini ternyata lebih terasa mengerikan. Pantas saja Nicholas lebih banyak menghabiskan waktu di private room kantor. Meskipun sama-sama sepi, setidaknya, private room tak sebesar rumah ini.
Dan lagi, pasti ada kenangan baik dan buruk di rumah ini. Aku tak tahu mana yang dominan.
"Mbak Fiona," panggil Ardi yang berdiri di ambang pintu ruangan yang sedang aku tempati saat ini. Ruangan yang menyimpan banyak sekali lukisan-lukisan abstrak.
"Ya?" tanya ku.
"Pak Nicholas mungkin akan pulang terlambat malam ini. Jadi saya diminta untuk menjaga Mbak Fiona secara langsung," ucap Ardi meminta izin.
Aku terdiam sejenak. Nicholas akan pulang terlambat, dan Ardi harus menjaga ku secara langsung. Apa yang ingin dilakukan Nicholas. Tak mungkin dia memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan sampai malam.
"Kenapa Nicholas harus pulang terlambat?" tanya ku berharap Ardi akan menjelaskan sesuatu.
"Ada beberapa urusan yang harus diselesaikan hari ini," jawab Ardi dengan singkat, seolah menegaskan padaku bahwa dia tidak akan menjawab lebih.
Seperti ku duga, tak menjelaskan banyak. Jadi aku memilih untuk segera menelepon Nicholas. Cukup lama, sampai akhirnya dia mengangkat telepon ku.
"Kamu dimana?" tanya ku begitu Nicholas menjawab panggilan telepon ku.
"Saya ada di Dakota Restaurant. Ada apa, Fio?" jawab Nicholas terdengar tenang.
Dakota Restaurant, aku ingat betul itu tempat paman-paman Nicholas dan kakeknya berkumpul bersama komunitas aneh mereka.
"Ada perkumpulan aneh lagi?" tanya ku sinis. Aku sudah katakan padanya kalau aku tak suka dia berada di tempat mereka. Meskipun, aku tahu Nicholas tak pernah akan menjadi bagian dari perkumpulan aneh itu.
Nicholas tak langsung menjawab, butuh beberapa waktu sampai ia akhirnya menjawab.
"Ya."
Dugaan ku benar. Nicholas pasti sedang mengawasi atau bahkan mencari celah untuk melaksanakan rencananya. Apa dia benar-benar tak mendengarkanku?
"Bisa kamu pulang sekarang?" tanyaku. Jika Nicholas sadar, ada nada sedikit memaksa dalam kalimatku.
"Nanti. Sudah ya. Seseorang mungkin tahu saya telepon dengan kamu dan melacak lewat sinyal ponsel kamu."
Nicholas mengakhiri sambungan teleponnya. Tapi dari nada bicaranya, aku bisa mendengar suaranya terdengar marah.
Aku segera beralih pada Ardi yang sejak tadi menunggu di sebelahku. Dia mungkin menyadari kalau aku tak mendapatkan jawaban apa-apa dari Nicholas barusan.
"Mbak Fiona, Pak Nicholas mungkin -"
"Pak Ardi, saya tahu kamu itu kaki tangan dia. Kamu pasti tahu semuanya! Saya
mohon, jawab saja apa yang Nicholas lakukan di sana? Saya sangat mengkhawatirkannya."
Ardi tetap diam. Aku menahan napas ku. Meskipun tahu Nicholas bukan orang yang berapi-api, tapi justru dia lebih berbahaya. Tak ada yang bisa menebak apa yang Nicholas pikirkan, tak ada yang tahu apa yang ingin ia lakukan.
"Antar saya ke Dakota Restaurant," pinta ku kepada Ardi.
"Maaf, Mbak Fiona ..."
"Kalau gitu biar saya sendiri yang ke sana," jawab ku dengan tegas berjalan keluar ruangan. Aku berjalan cepat-cepat mengambil tas ku di kamar. Tak perduli Ardi terus menahan ku sambil memanggil nama ku.
Namun tiba-tiba, Ardi menghampiri ku. Dia merebut tas ku hingga membuat ku tercengang kaget melihatnya.
"Maafkan saya, Mbak Fiona," ujarnya kemudian berjalan keluar lalu menutup pintu kamar ku.
Aku tersadar dari keterpakuan ku dan berjalan menuju pintu. Astaga, Ardi benar-benar mengunci pintunya.
"Ardi! Buka pintunya! Saya harus nyusul Nicholas sekarang!"
"Maaf, Mbak Fiona. Ini demi kebaikan Mbak Fiona."
Aku menendang pintu dengan kesal. Sialan. Aku tak pernah dikurung seperti ini.
Tenang, Fiona. Aku harus tetap tenang supaya bisa berpikir dengan jernih. Oke, pertama, tadi ketika pergi, aku yakin Nicholas tak membawa senjatanya. Kotak itu masih tersimpan di ruangan mendiang ayahnya.
Tapi bagaimana kalau Nicholas menggunakan cara lain? Apa dia baru mengetahui informasi lain? Tunggu, jangan-jangan...
Nicholas mendapatkan telepon ketika kita berdua berada di ruangan mendiang ayahnya. Dia berjalan menjauh dari ku ketika mengangkat panggilan teleponnya. Lalu dia mengatakan akan pergi ke kantor. Jangan-jangan dia tidak pergi ke kantor. Melainkan sedang mencari informasi dan mengintai orang-orang itu?
Kenapa aku harus sampai dikurung seperti ini?
"Ardi! Buka pintunya. Saya gak suka dikurung begini!"
"Tapi Pak Nicholas yang meminta saya menjaga Mbak Fiona. Ini cara terakhir yang bisa saya lakukan," ucap Ardi yang sepertinya berdiri di depan pintu kamar.
Nicholas keterlaluan. Aku terduduk di pinggir tempat tidur dengan pikiran yang blank. Sungguh siapa yang menyangka keterlibatan ku dengan Nicholas membawa ku sampai sejauh ini?
Diam dalam keheningan, membuat pikiran ku mengawang kemana-mana. Rasa gelisah, ketakutan, kesal, seolah menggerogoti ku.
Aku benci dengan diri ku sendiri yang dengan sukarela terjebak dalam perasaan ku pada Nicholas. Ini salah. Sungguh ini semua salah. Nicholas bukan laki-laki yang aku pikirkan selama ini. Dia bahkan tak tahu perasaan apa yang dia miliki, dia tak pernah jatuh cinta. Hatinya sulit tersentuh. Dia tak akan mungkin bisa merasakan perasaan ku, bahkan mendengarkan ku.
Sejak awal saja, hubungan ini sudah salah. Dia seorang laki-laki menikah. Dia ingin membalas perlakuan istrinya meskipun Mia memang pantas mendapatkan balasan dari Nicholas. Tapi bukan seperti ini.
Aku tak tahu Nicholas akan bisa membereskan semua itu dengan uang dan kekuasaannya atau tidak. Tapi tetap saja, dia akan menjadi pembunuh. Dan apa aku akan tetap buta dengan perasaan ini?
Kepala ku rasanya berputar. Rasanya aku ingin kembali ke masa dulu, ketika aku belum bertemu dengan Nicholas dan menaruh perasaan padanya.