
Ardi sudah melewati masa kritisnya. Aku benar-benar sangat bersyukur. Begitu juga Nicholas. Kami berdua masih menjaga Ardi di ruang rawat. Tubuhnya dipasang begitu banyak alat pernapasan.
Luka tusuk yang dialami Ardi cukup parah. Dokter mengatakan, ada kemungkinan terjadi komplikasi lainnya. Untuk itu kami harus terus memantau Ardi. Namun, Nicholas sudah membicarakan rencana selanjutnya dengan Damian, untuk membawa Ardi melakukan pengobatan di Singapura jika keadaannya tak kunjung membaik. Damian setuju, pasalnya, dia dan keluarganya pun berada di Singapura sehingga dia lebih mudah menjaga ayahnya.
Sementara itu, Nicholas masih menunggu hasil penyidikan pihak kepolisian tentang kasus ini.
Aku sudah menghubungi Rania dan mengabarkan bahwa Nicholas ada urusan mendadak untuk menjenguk temannya di rumah sakit, sehingga dia akan terlambat berangkat ke kantor. Sementara aku sendiri, sebagai asisten pribadinya, tentu sudah berada bersamanya, sehingga Rania hanya perlu menghubungiku saja jika ada keadaan darurat yang membutuhkan Nicholas di kantor.
Ada dua orang laki-laki bersetelan jas yang menghampiri kami. Nicholas berdiri dan menyambut mereka. Mereka menjabat tangan Nicholas satu persatu, kemudian Nicholas terlihat membicarakan sesuatu kepada mereka berdua. Sepertinya, kedua laki-laki itu adalah orang yang sengaja Nicholas bayar untuk menjaga Ardi selama di rumah sakit ini.
Setelah itu, dia mengajakku untuk pulang dan bersiap ke kantor. Raut wajah Nicholas murung, gelisah, dan tegang. Aku mengerti apa yang dia rasakan, pasti banyak kekhawatiran yang menyelimutinya. Dan dia juga pasti berharap bahwa bukan paman atau kakeknya lah yang melakukan penusukan ini.
Jika benar mereka, aku semakin yakin bahwa kematian Hero masih ada kaitannya dengan Mia. Atau, mereka hanya sekedar marah dengan Nicholas sehingga menyerang Ardi?
Jika saja polisi bisa segera menangkap mereka, pasti keadaannya tidak begini sekarang.
1 jam kemudian, kami sudah berada di kantor. Aku maupun Nicholas tak banyak bicara karena kami berdua sama-sama masih merasa kaget. Aku tak berhenti mendoakan Ardi agar selamat dan segera pulih.
Begitu sampai, Nicholas langsung disibukkan dengan berbagai dokumen di hadapannya, dan aku membantu apa yang aku bisa. Rania juga bolak-balik memberikan konfirmasi perusahaan-perusahaan yang mau mengikuti rapat kerja sama setelah rapat yang terjadi sebelumnya.
Meski keadaannya sedang kacau, Nicholas harus tetap fokus memulihkan perusahaannya yang sudah tercoreng karena kasus Mia dan Hero di kalangan publik.
"Kamu sudah selesai memeriksa dokumen-dokumennya, sekarang kamu makan dulu," ucapku sambil menaruh wadah makan yang sempat ku bawa dari rumah berisi sandwich daging asap. Karena Nicholas belum makan sama sekali dari pagi.
"Nanti aja, sayang. Ada beberapa laporan yang harus aku cek di sini," jawab Nicholas sambil menunjuk ke arah layar laptopnya.
"Kamu gak makan karena terlalu sibuk, atau memang gak mau makan?"
"Mungkin keduanya," jawab Nicholas pelan.
Aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 13:30 WIB. Seharusnya Nicholas sudah makan. Setidaknya makan sesuatu. Tapi, dari pagi hingga sekarang, dia belum memakan apa pun. Begitu juga aku.
"Ya udah, saya makan duluan di luar. Ini sudah lewat dari jam istirahat saya, Pak," ujarku dengan formal memberitahukan Nicholas. Sontak, Nicholas melirik jam di sisi layar laptopnya. Dan dia terkejut seolah baru sadar jam berapa sekarang.
"Oh, ya. Saya hampir lupa. Tapi, sebaiknya kamu makan di sini. Karena bos kamu ini gak ingin kamu keluar seorang diri, mengerti?"
Aku menghela napas panjang, pura-pura kecewa.
"Gimana bisa saya makan dengan tenang di depan orang yang gak makan."
Nicholas akhirnya tersenyum, kemudian dia meraih satu potong sandwich yang aku sodorkan. Lalu kami makan bersama.
"Masih kurang ya? Aku pesankan makanan lagi di luar, ya?" tanyaku menawarkan pada Nicholas. Namun, Nicholas menggelengkan kepalanya.
"Gak usah, kita pulang aja sekarang. Aku benar-benar gak bisa fokus di sini. Biar aku mengerjakan semua ini di rumah," ujar Nicholas membereskan barang-barangnya, dan aku pun membantunya.
"Aku akan bilang dulu ke Rania. Kamu duluan aja ke mobil ya."
"Sayang ... Stop suruh aku untuk jauh dari kamu. Okay?" sahut Nicholas sempat membuatku hampir tertawa.
"Nicholas, jangan bercanda. Dari sini ke parkiran tidak jauh," jawabku agak heran dengan sikap Nicholas yang baru aku sadari sejak tadi sedikit posesif sampai aku selalu diperintahkan untuk berada di dekatnya. Sayangnya, aku tak melihat raut wajah Nicholas yang ingin dekat denganku karena perasaan cinta yang berbunga-bunga, melainkan kekhawatiran. Hanya itu yang aku lihat.
"Oke, aku akan bilang ketika kita keluar. Ayo," jawabku sambil membantu membawakan tas laptop Nicholas dan tasku sendiri.
"Kamu itu mungil, kelihatan sangat kerepotan dengan semua ini, Fio," ledek Nicholas berusaha mengambil alih tas-tas yang kubawa.
"Nicho, biarin aja. Di sini aku itu asisten kamu. Biarin mereka melihat itu," jawabku tersenyum, kemudian mempersilakannya keluar duluan.
Begitu keluar dari ruangan Nicholas, aku segera menghampiri Rania di mejanya.
"Nia, Pak Nicholas harus kembali menjenguk temannya. Saya akan selalu aktif, kalau ada keadaan yang memerlukan Pak Nicholas, hubungi saya aja, ya," ujarku seperti biasa mengatakan pada Rania.
Dia tersenyum, kemudian menganggukkan kepalanya.
"Baik, Bu."
Aku membalas senyumnya. Aku harap Rania tidak mencurigai aku memiliki hubungan dengan Nicholas. Karena aku asisten pribadi Nicholas, sepertinya wajar-wajar saja jika aku terus mengikutinya kemana-mana.
Aku segera mengikuti Nicholas masuk ke lift. Rasanya, ruang lift yang hanya terisi kami berdua ini sangat dingin sampai membuatku merasa jauh lebih gelisah. Entah karena Nicholas yang juga sedang gelisah, aku tak tahu.
Kadang, aku masih berpikir. Betapa tidak normalnya kehidupanku sejak kecil. Dan sekarang, ketika menikah pun, aku berada di titik yang sangat jauh dari pikiranku. Menikahi bosku sendiri, terlibat dalam masalah-masalah Nicholas, yang tak pernah berhenti. Aku ingin marah sesekali, tapi aku juga tahu ini semua bukan keinginan Nicholas. Bahkan, aku merasa jauh lebih prihatin padanya.
Akhirnya lift berhenti di lantai dasar. Kami berjalan menuju mobil Nicholas yang terparkir di salah satu space khusus miliknya, sehingga kami tak perlu repot menemukannya.
Sambil memakai sabuk pengamanku, aku berpikir. Apakah Nicholas memiliki keluarga lain selain paman dan kakeknya itu? Namun, aku tak mungkin menanyakannya sekarang. Mungkin, pertanyaanku ini hanya akan mengungkit kisah yang lebih pahit lagi di hidup Nicholas.
"Hey, kamu baik-baik aja kan?" tanyaku sambil meraih tangan Nicholas dan mengelus punggung tangannya.
Nicholas sempat menoleh ke arahku, lalu dia menggelengkan kepalanya.
"Aku gak baik-baik aja."
Harusnya aku tahu itu. Hanya saja, aku masih berharap Nicholas tak terlalu memikirkan hal ini seperti sebelumnya. Tapi, mana bisa? Jika Mia dan Hero dia tak akan peduli toh mereka adalah salah satu musuhnya. Sedangkan Ardi? Dia adalah satu-satunya orang terdekat Nicholas. Lebih dari seorang kaki tangan. Dan apa yang terjadi padanya tentu saja menjadi pukulan yang keras bagi Nicholas.
"Wanna hug?" tanyaku.
Nicholas menoleh padaku, dia menatapku lekat-lekat, dan aku bisa melihat kedua matanya yang biasanya terlihat tegas, kini sayu.
"Please," jawab Nicholas pelan.
Aku tersenyum, lalu melepaskan sabuk pengamanku lagi dan bergerak memeluk Nicholas yang segera merengkuh punggungku dengan erat. Dia menyenderkan sebagian wajahnya dibahuku, dan terdiam. Sementara aku menepuk-nepuk punggungnya pelan-pelan, berharap bisa menenangkannya.
"Aku yakin kali ini polisi pasti bisa menangkap mereka. Pasti," bisikku pelan.
Nicholas tak menjawab, tapi aku tahu dia mendengarkanku.
"Kalau Ardi pergi ke Singapura, gimana kalau kita juga pergi dan tinggal di luar negeri?" bisik Nicholas pelan.
"Maksud kamu, kabur?"
Sebelum Nicholas menjawab, ponselnya berdering, tanda panggilan masuk. Nicholas mengeluarkan ponselnya tanpa melepaskan pelukannya. Namun, begitu melihat Damian yang menelepon, sontak dia melepaskan pelukannya dan segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
Aku tak bisa mendengar apa yang diucapkan Damian. Tapi lagi-lagi raut wajah Nicholas kembali menegang.
"Oke, saya segera ke sana. Tetap beritahu mereka untuk terus berjaga dan jangan lengah," ujar Nicholas lalu mengakhiri sambungan teleponnya.
"Ada apa, Nicho?"
"Pelakunya sudah ditangkap. Kita ke kantor polisi sekarang."
Aku terperangah mendengarnya. Meski masih terkejut, aku buru-buru memakai sabuk pengaman dan mobil Nicholas segera melaju meninggalkan kantornya. Semoga saja .... Semoga saja pelakunya bukan kelompok orang aneh itu. Atau kalaupun iya, setidaknya mereka harus dihukum seberat-beratnya.