New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 7 - Tiba di Kota Caulis [Revisi √]



"Akhirnya kita sampai juga!"


Mendengar Haru berseru, Erythia yang berada di dalam gerbong pun segera ke luar menampakkan sosoknya.


Saat ini, sebuah gerbang raksasa nan kokoh untuk masuk ke dalam kota sudah menyambut hangat kedatangan semua orang, tak terkecuali dengan mereka berempat.


Kota Caulis, adalah kota terbesar, sekaligus menjadi Ibu Kota Kerajaan Radix. Sebagai pusat perdagangan, kota tersebut 'bisa dikatakan' sebagai sumber pertumbuhan ekonomi yang positif bagi kerajaan.


Seiring dengan meningkatnya permintaan penjualan ramuan obat yang didistribusikan ke dalam dan ke luar wilayah, menjadikan sektor perdagangan bersinergi dengan sektor pertanian. Yang mana sudah ada beberapa kelompok petani yang memang ditugaskan secara khusus dan terkoordinir, untuk mengelola perkebunan Ailanthus Altissima oleh sang Raja.


Meski begitu, bukan berarti sektor lain yang turut berperan mendongak perekonomian Kerajaan Radix menjadi pasif. Mereka tetap aktif sebagaimana mestinya.


Mengingat Kota Caulis adalah sebuah sumbu untuk menopang banyaknya kehidupan. Diibaratkan seperti tubuh manusia, menjadikannya sebagai wadah bagi semua organ lain bertumpu dan tumbuh. Yang tidak lain itu adalah kehidupan makhluk hidup dari beragam macam ras yang ada.


Setelah para penjaga gerbang memeriksa terkait barang bawaan di dalam gerbong dan menyatakan oke, mereka berempat pun dipersilakan untuk masuk ke dalam kota.


"Kota ini … sungguh luar biasa, ya."


Haru semakin terkagum dengan pemandangan yang dia saksikan di dalam kota tersebut, dan Erythia mengangguk menyatakan penilaiannya.


"Um … aku setuju denganmu, Haru."


"Saya ucapkan selamat datang untuk kalian berdua."


Arde turut memberikan sambutannya pada Haru dan Erythia.


"Terima kasih, Paman."


Sesampainya di Alun-Alun Kota, mereka berempat berhenti sejenak. Karena sudah saatnya untuk berpisah, Haru bersama Erythia kemudian turun dari kereta kuda tersebut. Diikuti oleh Arde dan Ardalia.


"Paman Arde, terima kasih banyak karena sudah memberikan kami berdua tumpangan," ucap Haru membungkuk sopan.


"Maafkan kami yang malah merepotkan Anda," dilanjut oleh Erythia.


"Tidak apa-apa. Justru saya senang bisa membantu, walau hanya sekedar memberikan tumpangan."


"Tidak, Paman." Haru menggeleng ringan. "Kami berdua sungguh berterima kasih. Kalau saja kami tidak bertemu paman, sudah pasti aku dan Ery tidak akan sampai di kota dalam waktu yang secepat ini."


Haru benar-benar berterima kasih pada Arde, dan merasa sangat bersyukur atas pertolongan yang telah diberikan olehnya.


"Lagi pula, perjalanan ke sini menjadi tidak terasa sepi karena adanya kalian berdua. Aku yakin, Lia juga pasti berpikiran sama. Benar, kan … Lia?"


"Um! Aku sangat senang bisa bertemu dengan Kak Haru dan Kak Ery!"


Gadis mungil itu benar-benar ceria. Kemudian Haru berjongkok di hadapan Ardalia.


"Terima kasih, Lia. Kelak kita akan bertemu lagi."


"Um! Aku sangat tidak sabar menunggu waktu itu datang lagi, Kak Haru!"


Ardalia mengatakannya dengan sangat lantang, lalu tersenyum lebar. Haru pun membalas senyuman dari Ardalia, lantas mengelus lembut kepalanya.


"Jadi, apa yang akan kamu lakukan selanjutnya, Haru?" tanya Arde.


Seraya beranjak berdiri, Haru menjawab, "Kurasa aku akan menelusuri kota ini terlebih dahulu, Paman. Selanjutnya aku dan Ery akan mencari penginapan di sekitar sini. Mungkin seperti itu."


"Begitu, ya. Baiklah, pastikan kalian menikmati kesenangan di kota ini."


"Akuーum … bukan, tapi kami berdua. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih banyak padamu, Paman Arde."


Haru dan Erythia kembali membungkuk sopan.


"Ya sudah, kalau begitu kami berdua juga permisi. Saya harus segera melanjutkan menuju ke pasar untuk menjual hasil panen desa kami. Jaga diri kalian, ya."


Arde memegangi pundak Haru, dan menepuknya beberapa kali.


"Baik, paman dan Ardalia juga."


Setelahnya pria paruh baya dan gadis mungil itu pun pergi, kemudian berpisah dengan kedua muda-mudi tersebut.


...***...


Suasana di Kota Caulis benar-benar ramai, mungkin 'bisa dikatakan' sebagai kota yang sangat sibuk. Selain itu, tidak hanya ras manusia yang dapat dijumpai di sana. Beberapa ras lain seperti halnya Demi-Human, Dwarf, Elf, terlihat berlalu lalang di jalanan.


Sebagai pendatang, bahkan ras lain pun ada yang memutuskan untuk tinggal menetap di Kota Caulis, demi melangsungkan kehidupan tenang bersama keluarga mereka.


Selain itu, penataan di antara bangunan satu dengan yang lainnya terlihat sangat rapi. Terdapat juga banyak pertokoan, dan itu menjadikannya sebagai pemandangan yang lumrah.


Sebagai kerajaan yang memanfaatkan sektor perdagangan bebas, tentu merupakan pusat perdagangan di antara semua jenis ras. Oleh karena itu, Kerajaan Radix mempertahankan kebijakan netralitas mutlak, yang mana kekerasan sangat tidak diperbolehkan di dalamnya.


Apabila ditemukan tindakan kekerasan, atau mungkin kejahatan yang dapat merugikan orang banyak di sekitar, yang bersangkutan akan langsung diciduk oleh pihak berwenang yang memang mengatasi terkait permasalahan seperti itu. Dikarenakan kerajaan sangat menjunjung tinggi kehidupan rukun dan tenang.


Tentu saja tersangka tidak akan langsung mendapatkan eksekusi secara sepihak. Yang jelas akan dilakukan introgasi terlebih dahulu, hingga motif apa yang membuat tersangka berani melakukan tindakan kejahatan diungkapkannya. Lalu terkait pengakuannya itu, pihak kerajaan akan mempertimbangkan hukuman apa yang pantas diberikan pada tersangka sampai diputuskannya hal tersebut.


Tidak hanya itu, fasilitas yang tersedia pun membuat penduduknya merasa nyaman. Ditambah juga dengan memiliki banyak akses jalan menuju dan dari kota tersebut, untuk memudahkan perjalanan ke dan dari Kota Caulis. Sehingga penduduk setempat atau bahkan pengunjung dapat menuju ke kota melalui gerbang-gerbang lain yang sudah tersedia.


Karena rombongan Haru datang dari arah selatan, tentu itu bukanlah gerbang utama yang lokasinya berada di timur. Sedangkan pintu gerbang pusat hanya akan dibuka pada saat-saat tertentu, yang biasanya hanya terjadi dalam kurun waktu seminggu sekali, bahkan sebulan sekali, atau ketika Kerajaan Radix sedang menerima tamu penting dari kerajaan atau negara tetangga.


Di bawah gerbang pusat yang ukurannya lebih besar dari pada gerbang lainnya, terdapat juga sebuah pintu kecil yang dipasang untuk memudahkan penduduk dan pengunjung masuk ke dalam dan ke luar kota tersebut. Jalur di sisi kanan gerbang adalah untuk para bangsawan dan tokoh penting lainnya, sedangkan di sisi kiri gerbang untuk orang lain.


"Tidak kusangka, ternyata kota ini benar-benar luas, ya. Bahkan di sini aku bisa melihat gadis-gadis bertelinga panjang, juga yang memiliki ekor. Betapa imutnya mereka."


"Ya, kamu benar. Aku pun sama terkejuーEh? Telinga panjang? Ekor?"


Sontak Erythia langsung menghentikan langkahnya sejenak. Dia tampak seperti ingin memastikan kembali, jikalau dirinya tidak salah mendengar apa yang Haru katakan.


"Kamu kenapa?"


Haru turut menghentikan langkah seraya menoleh ke arah Erythia.


"Eh? Ah, um … tidak apa-apa."


Erythia kemudian menghampiri Haru lagi dan melanjutkan berjalan.


Laki-laki ini … matanya itu memang tidak bisa dikontrol ya ?


Padahal ada aku di sini yang bersamanya. Apa mungkin aku kurang imut ?


Entah kenapa Erythia malah merasa jengkel. Seraya melihat ke arah Haru, dia bahkan sampai mengernyitkan dahi dan menggembungkan pipinya itu.


◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷


【 Author ; “Padahal itu insting yang wajar. Bisa bertemu gadis Elf dan gadis nekomimi? That's a dream come true, Ery! Ayolah ....” 】


◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷◀▷


"Meski peradaban di sini bukanlah peradaban modern seperti di duniaku sebelumnya, tapi di periode ini, menurutku sudah termasuk ke dalam kategori makmur."


"Memang bagaimana kondisi dunia tempatmu tinggal dulu?"


"Kamu yakin ingin mengetahuinya, Ery?"


"Memangnya seperti apa? Katakan saja, jangan malah membuatku penasaran!"


Haru menyeringai puas, tetapi Erythia tidak menyadarinya. Dengan tatapan tidak meyakinkan, kemudian Haru menatap tajam Erythia. Jiwa jahilnya berapi-api, membuat dia jadi ingin menjahili sang Dewi.


"Dengar, di dunia tempatku tinggal, terdapat sekumpulan orang-orang yang mengenakan helm atau penutup kepala, dengan kostum berwarna-warni.


"Setelah mereka selesai bertransformasi, lalu menunjukkan pose kerennya mereka masing-masing."


"Hah? Helm dan kostum?"


Erythia menjadi kebingungan, otaknya tidak dapat mencerna perkataan Haru.


"Ya, benar. Helm yang mereka kenakan pun, tentu saja memiliki motif serta bentuk yang berbeda pada setiap orang yang mengenakannya. Intinya selaras dengan warna kostumnya juga.


"Ah, satu lagi. Tidak lupa dengan ledakan yang terjadi di akhir."


"Tunggu, Haru! Bukankah itu hanya sekumpulan orang-orang aneh? Dan lagi, kenapa juga harus ada ledakan di sana?"


"Hey, mereka tidaklah aneh. Tapi keren, tahu!


"Kamu ini tidak mengerti ya, Ery. Justru ledakan itu menjadi bumbu penyedap untuk menaikan level kekerenan mereka."


Lah … keren dari mananya? Sudah jelas kalau itu aneh. Aku yakin sekali.


Kok bisa, ya … Haru malah berpikiran hal tidak logis itu keren ?


Erythia berkata di dalam hati karena merasa heran, seraya menatap Haru dengan tatapan datar.


"Selain itu ...."


"Selain itu?"


"Jadi begini ...."


Haru langsung mengalihkan pandangan, dan menahan melanjutkan perkataannya. Cara itu berhasil membuat Erythia semakin menunjukkan jelas ekspresi wajah penasaran dengan kelanjutan cerita dari Haru.


Tidak berselang lama, karena jengkel menunggu Haru yang tak kunjung berbicara, Erythia pun menegur dengan sedikit meninggikan nada bicaranya. Namun, masih saja tampak penasaran.


"Hey, cepat katakan. Kenapa kamu malah diam saja?"


"Eh? Memangnya tadi aku ingin mengatakan apa?"


Haru berlagak polos, membuat sudut bibir Erythia berkedut, dahinya pun mengerut. Lalu Erythia berkata, "Kamu tadi ingin mengatakan kelanjutan dari orang-orang aneh yang mengenakan helm itu!"


"Oh, jadi dari tadi kamu terdiam, karena menungguku mengatakan kelanjutannya?"


Erythia mengangguk dengan tergesa seraya menatap tajam Haru. Bagaimana mengatakannya ya? Hmm … ekspresinya itu benar-benar imut!


"Ah, jadi begini ....


"Dengarkan aku baik-baik, Ery .... Aku akan mengatakannya lain kali. Bweee!"


Haru menjulurkan lidahnya, kemudian dia segera berlari menjauh seraya tertawa puas sekencang-kencangnya.


"Heh ...?!"


Erythia yang menjadi sangat kesal karena akhirnya menyadari bahwa dirinya telah dijahili oleh Haru pun langsung berteriak, "Haru bodooohhhh ...!! Tunggu, jangan kabur!"


^^^To be continued ...^^^