
【PoV Aria】
"Selamat ulang tahun, Aria."
Ah, benar. Hari ini adalah ulang tahunku. Aku bahkan lupa hari kelahiranku sendiri, tetapi Haru mengingatnya.
Sesaat dia berbalik dan membuka ranselnya, ternyata untuk mengambil sebuah kotak berbentuk love dari dalamnya, dan memberikannya untukku sebagai hadiah. Yang kurasa tidaklah perlu dilakukan.
"Te-Terima kasih, Haru. Kupikir kamu akan melupakannya."
Haru melemparkan senyuman padaku. Tak lama dia berkata, "Bukalah. Aku harap kamu menyukainya." Itu terdengar begitu tulus.
Setelah membuka kotak hadiah tersebut. Aku tidak tahu harus menunjukkan sikap bagaimana untuk menanggapinya, aku hanya bingung. Ini bukan ditujukan padanya, melainkan untuk diriku sendiri!
Ya, aku hanya merasa tidak pantas untuk menerima sebuah kalung yang indah ini. Meski aku merasa senang sekali pun, bukankah lebih baik jika Haru memberikannya pada gadis lain? Bukannya malah untuk gadis sepertiku yang hanya sebagai figuran.
Mengepalkan kedua tanganku, aku meluapkan emosi yang bergejolak ini. Sampai diriku sendiri pun tidak sanggup menahan air mataku untuk berhenti menetes.
Aku hanyalah seorang gadis yang munafik! Aku tidak akan membantah jika ada orang lain mengatakan itu secara terang-terangan.
"Aria, kamu kenapa? Apa mungkin kamu tidak menyukai hadiah pemberianku?" Dengan santai Haru berkata seperti itu, dia benar-benar tidak mengerti!
Bukan begitu ... ini tidaklah seperti itu ....
Kurasa, memang sudah seharusnya aku mengatakan semua keraguanku.
"Kenapa?"
"Eh?"
"Kenapa kamu melakukan ini, Haru?"
"Melakukan ini? Aku tidak akan mengatakan ini adalah hal yang wajar untuk dilakukan, tetapi memang merupakan hal yang harus kulakukan."
"Kenapa harus aku? Bukankah masih banyak gadis lain di luar sana yang sangat menyukaimu? Jadi lebih baik kamu melakukan ini pada mereka, bukan padaku!"
Ah, aku benar-benar mengatakannya. Haru pasti akan membenciku setelah ini.
Tak lama dia terlihat beranjak berdiri. Kupikir kalau Haru akan meninggalkanku di sana seperti pada waktu itu. Akan tetapi, dia malah berjongkok di hadapanku dan memegangi kedua tanganku.
"Aria, dengar. Aku adalah aku, begitu pula dirimu. Kita sendirilah yang memutuskan apa yang ingin dilakukan. Jadi tolong, jangan mengatakan sesuatu yang seperti itu lagi ya."
Kemudian Haru mengusap air mataku. Aku bahkan membenci situasi ini, namun entah kenapa, aku merasa lega setelahnya.
"Haru, aku hanya merasa tidak pantas. Aku adalah gadis yang lemah, perasaanku ini sering kali berubah menjadi tidak karuan. Meski begitu, aku bersyukur karena memilikinya, mungkin inilah yang memperlihatkan jati diriku yang menyebalkan.
"Walau terkadang aku juga menyalahkan hidupku sendiri, aku tetap harus menerima kenyataan ini, bukan? Betapa bodohnya, padahal aku sendiri tahu, kalau aku tidak boleh mengeluh."
Mendengarku berkata demikian, Haru hanya tersenyum tipis. Kemudian dia membalas perkataanku, "Aria, dengar. Orang-orang sangatlah lemah. Aku, kamu, atau siapa pun itu. Terkadang karena kelemahan mereka, mereka bisa kehilangan harga dirinya.
"Tapi mau bagaimana lagi? Sekali pun kamu menanggung ribuan beban di dalam hidupmu, itu bukan alasan bagimu untuk merendahkan jalan hidupmu."
Mungkin benar. Haru bisa mengatakannya dengan tegas, bukanlah sekedar asal bicara. Dia lebih mengetahui terkait hal tersebut. Jika harus dibandingkan dengannya, seharusnya aku merasa malu berkeluh seperti ini.
"Jadi, berhentilah menangis, oke. Biar aku pasangkan kalung ini di lehermu."
Haru melakukannya dengan lembut. Aku benar-benar menjadi seorang gadis yang paling bahagia saat ini.
Setelahnya, aku dan Haru kembali menikmati waktu bersama kami. Dia mengajakku pergi berkeliling, makan siang bersama, dan menonton film yang sedang ramai di bioskop.
Tidak terasa waktu pun berlalu dengan begitu cepatnya hingga sore hari menjelang. Ini menjadi moment yang tidak akan kulupakan di dalam hidupku. Bersama dengan sosok laki-laki yang dicintai itu memang menenangkan.
Kupikir sudah saatnya. Ya, aku tidak bisa selalu seperti ini. Menyembunyikan apa yang ingin kuungkapkan itu sangat merepotkan, aku harus segera terlepas dari belenggu yang menyesakkan ini.
"Haru, ada yang ingin kukatakan padamu."
Ya, aku harus berani mengungkapkannya! Aku pasti bisa melakukan ini.
Memang benar, tidak selamanya hal yang kita inginkan akan tercapai dan terwujud begitu saja. Tetapi hal yang kita lakukan harus selalu dimulai dengan sebuah tekad, bukan?
"Hmm ...? Katakan saja."
Jika di dunia ini ada sesuatu yang sepatutnya dimaklumi, itu adalah mengasihi untuk cinta.
"Haru, aku tidak akan berbasa-basi lagi. Aku menyukaimu."
Mata kami saling bertatap dalam diam, denganku yang gemetar dan Haru yang tidak memberikan respon akan pernyataanku barusan. Walau aku sendiri menerka-nerka ke mana alur ini akan membawa hubungan kami nantinya, aku hanya harus menerima kenyataan.
"Ya, aku tahu. Terima kasih, Aria. Aku turut senang mendengarnya."
Haru hanya tersenyum menanggapinya, lalu dia berbalik membelakangiku.
"Aku ingin tahu bagaimana balasanmu, Haru."
"Hmm ...? Apakah harus?"
"Ya!"
"Baiklah. Bagaimana jika aku mengatakan yang sebaliknya?"
"Eh?"
Ah, maafkan aku yang tidak menyadarinya. Ya, benar. Sudah jelas pasti akan seperti ini, aku hanya terlalu berlebihan untuk berharap.
Ketika memandang ke arah langit, bahkan salju yang turun pun terlihat puas mentertawakanku. Ini terasa sungguh menyakitkan!
Sepertinya ... hatiku hanya akan kembali membeku.
"Maaf, Aria. Aku hanya bercanda." Dan ketika Haru kembali berbicara, sontak membuatku tersadar dari lamunanku itu ...
"Eh?"
... perlahan dia mendekat padaku, membelai rambutku, dan berbisik manis di telingaku, "Mulai saat ini ... mohon bantuannya, Aria."
Apakah aku sedang berhalusinasi? Bisa mendengarnya mengatakan hal yang manis seperti itu. Aku benar-benar tak kuasa menahan bahagia ini, aku hanya tidak percaya jika Haru memilihku juga.
Sungguh ... terima kasih.
Arti kebahagiaan bukanlah seperti malam bertaburan bintang, atau fajar yang mempesona berulang dan terus berulang. Melainkan untuk bisa memayungi orang yang berharga bagimu saat hujan turun dan menerpa mereka.
Meski kamu memaksakan matamu dan tidak sekali pun berkedip, tidak akan pernah kamu temukan. Itulah kenapa aku ingin selalu berada disisimu, Haru.
^^^To be continued ....^^^