New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 58 - Semakin Tidak Terkendali



Sesampainya di pesisir dan setelah menyandarkan kapal, satu per satu orang dari kelompok Zordan mulai menuruni kapal. Mereka semua belum menyadari jikalau hal buruk telah terjadi menimpa di desa, dan hanya terus berjalan dengan membawa barang-barang bawaan.


Namun, ketika salah seorang pria ras kelinci berniat untuk pergi menyimpan sebagian hasil tangkapan ke dalam gudang penyimpanan makanan. Genangan air berwarna merah segar terlihat di sepanjang jalan.


“Aneh sekali, genangan air apa ini?”


Dia bertanya-tanya, lalu mengikuti ke arah dari mana sumber genangan air tersebut berasal.


Dia terus melangkahkan kaki menuju belakang gudang penyimpanan alat-alat dan bahan-bahan untuk pembangunan. Pada saat itu juga matanya seketika terbelalak tidak percaya dengan keadaan mencekam yang dipertontonkan padanya di lokasi terkait.


Mayat-mayat suku Lizardman yang telah dibantai diletakkan di sana, dan itu sangatlah banyak. Jikalau dihitung pun, hanya satu kata yang dapat mendeskripsikan, yaitu ‘semuanya’. Pemandangan tersebut sangatlah mengerikan, hingga membuat dia berteriak panik ketakutan.


Teriakannya itu terdengar sangat jelas di telinga semua orang di sekitar. Membuat kelompok Zordan menjadi bertanya-tanya.


[Apa yang terjadi?]


[Siapa yang berteriak sekencang itu?]


[Teriakan tadi itu, sepertinya berasal dari belakang gudang penyimpanan alat dan bahan bangunan.]


Mereka saling menatap, lalu beberapa orang memutuskan untuk mendatangi langsung ke arah sumber teriakan berasal, dan tentu mereka pun turut terkejut dengan pemandangan yang dilihat di sana. Kemudian salah seorang suku Lizardman yang merupakan bawahan Zordan, bergegas untuk memberitahukan perihal tersebut pada pemimpin ras kadal itu sendiri.


“Tuan Zordan, keadaan genting!”


Seraya berlari menghampiri Zordan dengan panik dan tergesa-gesa, dia berteriak. Zordan yang juga tengah menunggu kabar bersama Zheea, lalu bertanya setelah bawahannya itu tepat berdiri lemas di hadapannya.


“Apa yang terjadi?”


“I-Ini … be-benar-benar gawat, Tuan! Te-teman-teman kita, se-semuanya di sa-sanaー”


Melaporkan dengan terbata-bata dan nafas terengah-engah seraya menunjuk ke arah yang dimaksudkan, jelas membuat Zordan kebingungan. Akan tetapi, dari perkataannya itu, Zordan dapat menyimpulkan jikalau ada suatu hal buruk terjadi.


Tanpa banyak bicara, Zordan langsung berlari ke lokasi terkait. Zheea pun turut mengikuti di belakangnya.


“Apa yang sebenarnya sudah terjadi. Ini benar-benar membuat khawatir.”


“Aku pun tidak tahu, tapi kita akan mengetahuinya nanti.”


“Kuharap bukan hal buruk.”


“Ya, semoga saja.”


Kekhawatiran Zheea semakin meningkat. Karena setibanya mereka berdua di lokasi, keduanya bahkan tidak sanggup untuk berkata sepatah kata pun. Mereka terkesima mendapati mayat-mayat suku Lizardman yang telah dibantai berserakkan di sana.


“Ti-Tidak mungkin!”


“Ini buruk, Nyonya Zheaa. Desa DeAn saat ini, kemungkinan sudah menjadi medang perang.”


“Eh?”


Seolah tidak ingin mendengar kesimpulan yang Zordan utarakan, Zheea menatapnya dipenuhi oleh rasa tidak percaya yang teramat besar. Itu membuat pikirannya sedikit kacau, dan seketika itu juga dia langsung teringat akan sesuatu yang teramat penting.


Begitu pun dengan Zordan. Dia merasa sangat terpukul melihat saudara-saudaranya mati mengenaskan. Sulit untuk mengungkapkan amarahnya, dan dia hanya dapat mengepalkan tangannya.


“Kita tidak mengetahui situasi di desa saat ini sudah sekacau apa, tapi yang kuyakini adalah, kemungkinan besar semua warga desa sudah mengevakuasi diri.”


“Kalau begitu … Xera ....”


Zordan mendengar apa yang Zheea gumamkan. Sejak awal keberangkatan mereka mencari sumber makanan di lautan, Xera memang tidak diperkenankan ikut. Zheea juga meminta anaknya untuk tetap tinggal di rumah, dan tentu sang bocah mengangguk patuh.


Kekhawatiran seorang ibu, Zordan dapat memahami hal tersebut. Raut wajah yang Zheea tunjukkan saat ini, memperlihatkannya dengan sangat jelas.


Segera ingin memastikan keadaan Xera, Zheea kemudian berlari dari tempatnya itu menuju kediamannya. Zordan pun tidak tinggal diam dan hanya menyaksikan, dia langsung berteriak pada semua orang di lokasi tersebut.


“Kalian semua, dengarkan aku. Untuk orang-orang yang bisa bertarung, segeralah ambil senjata di sana!


“Bagi ke dalam beberapa kelompok dan lindungi mereka yang tidak bisa bertarung, terutama wanita. Lalu pergilah sejauh mungkin mencari tempat yang aman untuk mengevakuasi diri kalian!


“Baik!”


Menerima perintah tegas dari Zordan, semua orang kemudian bergegas melakukan apa yang telah diperintahkan.


...***...


Seorang pria paruh baya mulai merasa bosan. Dia hanya duduk sedari tadi di atas batu besar, menunggu kejutan yang mungkin dapat mengenyangkan kegilaannya dalam pertarungan.


Seraya menikmati tontonan dua kelompok yang tengah bersiteru mengayunkan senjata mereka masing-masing, pria paruh baya itu menguap. Mungkin saja rasa kantuk sedang menyerangnya secara bertubi-tubi.


“Padahal aku sudah berbaik hati tidak membantai mereka secara langsung, tapi tetap saja, menunggu memang menyebalkan sekali ya!”


Pria paruh baya itu tentunya adalah Riger. Setelah dia menghancurkan beberapa menara yang menjadi pos pasukan keamanan desa, dia meminta dipertemukan dengan seseorang yang kuat untuk menghiburnya.


Di tengah peperangan, itu merupakan sebuah permintaan konyol. Pasukan keamanan desa bahkan mencap Riger sebagai orang tua sinting. Tidak hanya dari kekuatan, tetapi juga pikirannya.


Setelah Riger memberikan keringanan pada ras Demi-Human, dia pun berkata akan menunggu dengan sabar dan tenang hingga orang yang dimaksudkan datang. Akan tetapi, apanya yang menunggu dengan sabar dan tenang, jikalau dia justru malah membabi buta menghancurkan menara pos hingga menyeluruh tak bersisa di sekitar lokasi pertempuran?


“Waktu habis. Karena hewan-hewan ini tidak mampu memenuhi permintaanku, akan kuhancurkan mereka semuanya!”


Riger tampak kecewa. Dia mulai bangkit dan meregangkan otot-ototnya. Dia benar-benar siap untuk segera melakukan aksi brutalnya. Namun …


WHUSS !


… bongkahan kayu yang cukup besar, melesat tepat melewati wajahnya, dan bahkan berhasil membuat luka goresan di pipi Riger hingga mengeluarkan darah.


“Hou ... akhirnya datang juga ya.”


Riger menatap seseorang yang telah melancarkan serangan padanya. Tanpa tersenyum, dia menyeka darah dengan ibu jari yang kini mengalir di pipinya. Selain itu, guratan wajah Riger tampak tegas. Bahkan sorot matanya terlihat semakin tajam, hal tersebut menambah kesan bengis seorang pria paruh baya menyambut sosok yang tengah dinanti-nanti sedari tadi datang menyapa.


“Namamu?”


“Verzha.”


“Kau orang kuat di desa ini?”


“Entahlah … aku bahkan tidak merasa demikian.”


“Hou … begitu ya.”


Verzha menunjukkan kewaspadaannya. Dia dapat merasakan tekanan yang cukup dahsyat dari sosok Riger, dan itu membuat dia tidak nyaman karena langsung mendapati situasi seperti ini.


Pertanyaan yang Riger ajukan terkait tingkat kekuatan pun tampak memiliki maksud tersendiri, dan Verzha menyadari hal tersebut. ‘Ini jelas-jelas di luar perkiraanku. Orang ini, berbahaya!’ begitulah pikirnya.


“Hey, Tuan. Izinkan aku mengajukan pertanyaan. Kenapa Anda menyerang desa kami?”


“Apakah aku harus menjawab pertanyaanmu?”


“Tidak.” Verzha menggeleng. “Aku tidak akan memaksa kalau Anda tidak ingin menjawabnya.”


“Baguslah kalau begitu. Karena jawaban yang kuberikan pun, mungkin tidak akan memuaskan untukmu.”


“Begitu rupanya.”


“Tapi … akan kuberitahukan tentang arti dari kepuasan yang sebenarnya padamu.”


Riger menarik napas panjang dan melemaskan otot-ototnya. Kemudian dengan seketika, dia melesat ke arah Verzha dan melancarkan tinjunya. Itu sangat cepat, tetapi beruntung bagi Verzha dapat menangkis serangan tiba-tiba tersebut, meski dia sendiri harus terpental sejauh beberapa meter dari posisi sebelumnya.


Sial! Orang ini kuat sekali. Kekuatan dari pukulannya di luar nalar !


Merasakan dampak serangan yang mengerikan, membuat Verzha tidak mungkin bersantai untuk menghadapi musuh di hadapannya saat ini. Serangan yang Riger berikan pun terasa menyakitkan, kedua tangan Verzha yang menghalau serangan tersebut seketika mati rasa.


“Jadi … itulah kepuasan sebenarnya yang kumaksudkan. Kuharap otakmu dapat mencerna maksudku.”


^^^To be continued …^^^