New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 45 - Penyelamatan Spontan【2】



"Hou ... jadi di dalam sini mereka membawa teman gadis itu. Ya, terserahlah. Aku hanya perlu menyelamatkannya saja." Haru mengamati tekstur luar bangunan sejenak.


"Menyelinap lewat atas, kah? Merepotkan sekali. Kusapa saja mereka secara langsung!"


Kemudian Haru membuka pintu bangunan tersebut dan mulai memasukinya. Matanya berkeliling melihat-lihat sekitar, guna memastikan terkait denah bangunan di dalam.


"Dua lantai ya. Biasanya dalam kasus seperti ini, mereka pasti bersembunyi di salah satu ruangan yang ada di ujung. Harus kupastikan."


Lantas Haru memeriksa setiap ruangan dengan sangat hati-hati, agar tidak mencolok dan justru malah memberitahukan keberadaannya yang telah menyusup ke dalam bangunan.


Akan tetapi pemeriksaan yang dia lakukan ternyata tidak membuahkan hasil, itu karena tidak terlihat batang hidung dari mereka sama sekali.


"Huh ... benar-benar merepotkan! Kalau begini sudah pasti mereka semua ada di atas," ucap Haru seraya menatap tangga menuju ke lantai atas.


Haru pun bergegas untuk menuju ke sana, namun terdengar jelas langkah kaki yang berjalan menuruni tangga. Dia kemudian menghentikan langkahnya, dan segera bersembunyi di balik tembok yang menuju koridor.


[Oy, mau kita apakan bocah kucing itu?]


[Memangnya mau kau apakan, bodoh? Bocah sepertinya bahkan tidak memiliki bagian apa pun yang bisa dibanggakan.]


[Memang benar sih.]


[Kau ini bodoh sekali. Akan beda cerita kalau bocah itu sedikit tumbuh. Ras Demi-Human sendiri cukup layak untuk diajak bersenang-senang, tahu!]


[Hmm ... aku tidak menyangkal itu.]


[Benar, kan? Jadi berhentilah memikirkan hal konyol seperti itu terhadapnya. Lebih baik kita menunggu tangkapan mantap hari ini.]


[Aku sangat setuju denganmu. Hahaha ...!!]


Bocah mereka bilang? Orang-orang brengsek! Bagaimana bisa kelompok bandit seperti mereka berkeliaran bebas melakukan tindak kejahatan di kerajaan ini ?


Keamanan di Kota Caulis ternyata harus lebih ditingkatkan lagi. Ini sangat menyebalkan sekali! Cih ....


Mendengar percakapan mereka, itu membuat Haru kesal. Sudah sepatutnya mereka menerima balasan yang setimpal, pikirnya.


Mereka mendekat.


[Oy, kau tunggulah di sini. Aku harus ke kamar mandi sebentar.]


[Ya, lakukan saja.]


Salah seorang dari mereka berdua pergi. Hanya tinggal menyisakan satu orang lainnya saja yang kini duduk santai di kursi di ujung koridor.


Ini kesempatanku.


Haru yang sedari tadi mengintai, mencoba mendekatinya secara perlahan dari belakang. Dia akan melancarkan serangan diam-diam.


<< SKILL - AURA CUTTER >>


Keberadaan Haru tidak disadari oleh bandit itu. Setelah cukup dekat, dia segera menusuk punggungnya hingga menembus sisi lain tubuhnya. Seraya menutup mulut sang bandit, agar tidak mengeluarkan suara berlebih.


Satu tumbang, kita lanjutkan.


Haru kemudian menyeret tubuh bandit itu ke dalam satu ruangan kosong, dan meletakkannya begitu saja di sana. Lalu dia kembali melanjutkan aksinya dengan bersembunyi di tempat yang sama, menunggu timing selanjutnya datang.


Sementara bandit yang lain telah kembali. Dia kebingungan dengan temannya yang tidak ada di tempat. Dia menunjukkan ekspresi datar.


"Huh ... si bodoh itu. Sudah kubilang tunggu di sini, masih saja keliaran seenaknya."


Memperhatikan lantai yang terdapat bercak darah, bandit itu mengira temannya melakukan sesuatu yang membuat dirinya sendiri terluka ...


"Si bodoh itu. Bisa-bisanya terluka di saat begini. Sial!"


.. dan segera memeriksa mengikuti jejak darah di lantai.


Bandit itu melewati Haru yang tengah bersembunyi di celah tembok koridor, dan tiba di depan pintu ruangan yang dijadikan tempat untuk menaruh jasad mereka.


[Apa yang dia lakukan di ruangan ini sih? Bahkan sampai terluka. Kebodohannya itu benar-benar.]


Bandit itu membuka pintu ruangan tersebut. Namun dia dikejutkan melihat temannya yang sudah tidak bernyawa. Ekspresi yang terlukis di wajahnya menjadi pias seketika.


Dan saat hendak berteriak memberitahukan teman-temannya di atas, Haru telah berdiri tepat di belakangnya seraya menyekapnya.


"Jangan berteriak kalau kau ingin selamat."


"Beritahukan padaku, ada berapa orang di atas sana?"


"7 orang."


"Jawab dengan jujur!"


"Ba-Baik. Ada 8 orang. Di antara mereka, ada satu bocah ras kucing."


7 orang ya. Sudah kuduga, ini akan merepotkan.


"Jawab aku. Apa yang sudah kalian lakukan pada bocah itu?"


"Ka-kami hanya melakukan perintah saja."


"Hou ... benarkah?"


"Be-Benar."


"Baiklah kalau memang begitu."


Bandit itu semakin ketakutan, dia memikirkan bagaimana caranya agar dia lolos dan selamat, serta kabur dari situasi mengerikan tersebut. Dia menyadari, jikalau pemuda itu tidak sedang bercanda.


Fakta karena melihat jasad temannya yang sudah tidak bernyawa tergeletak di depan mata, itu memperkuat asumsinya.


"He-Hey, kau akan melepaskanku, kan?" tanya bandit itu dengan nada resah.


"Tentu saja," jawab Haru dingin.


"Te-Terima kasih banyak."


Haru melepaskan sekapannya secara perlahan, dan ketika bandit itu berbalik badan hendak pergi meninggalkan ruangan.


JLEB


"Eh?"


Bandit itu sontak melihat tubuhnya yang sudah ditusuk oleh sebuah tangan hingga menembus sisi lain tubuhnya. Matanya melebar dengan mulut yang menganga.


"Bagaimana mungkin aku melepaskanmu begitu saja, bukan?"


"Bre-Brengsek kau!" ucap bandit itu seraya menatap tajam Haru.


Setelah beberapa saat, Haru menyabut tangannya dengan cepat. Bandit itu pun perlahan kehilangan kesadaran dan terjatuh di lantai ruangan.


"Maaf saja, aku tidak sebaik itu. Banyak hal yang sudah terjadi, sehingga membuatku menjadi seperti ini," gumam Haru menunjukkan tatapan dingin yang menusuk.


Setelah menumpuk jasad bandit lainnya. Haru pun bergegas menaiki lantai atas untuk menyelesaikan penyelamatannya.


...***...


Andora yang masih duduk bersandar di tembok bangunan merasa cemas. Dia mengkhawatirkan kondisi Haru yang kini tengah menyelamatkan bocah ras kucing itu.


"Apa dia baik-baik saja ya? Semoga saja tidak terjadi hal buruk menimpanya."


Mendongak menatap langit sore hari ini. Andora tampak memikirkan sesuatu dalam pikirannya. Itu terkait apa yang akan dia lakukan selanjutnya di kota.


Setelah aku membohongi Tuan Claude dan bawahannya, lalu berhasil selamat dari situasi tanpa harapan kemarin. Memang itu bisa membantuku untuk tiba di Ibu Kota, tapi aku sendiri bahkan tidak memiliki tujuan jelas di sini.


Aku ingin ke mana? Apa yang ingin aku lakukan di sini? Aku tidak memikirkannya sama sekali, dan itu hanya karena sebuah pilihan konyol yang kutentukan sendiri.


Melarikan diri dari tempat tinggalmu, ternyata tidak semudah yang kubayangkan.


Andora menghela napas panjang. Keraguan benar-benar menyelimutinya saat ini.


"Kurasa aku harus mencobanya. Um ... sudah kuputuskan!"


Entah apa yang sedang Andora rencanakan. Dari tatapan matanya itu, memancarkan sebuah tekad dan keseriusan. Hanya tinggal menunggu moment tepat untuk memberitahukan semua yang akan dia lakukan.


"Semoga Haru cepat kembali bersama anak itu," gumam Andora.


^^^To be continued ...^^^