New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 54 - Teror Dimulai



"Terkait perintahmu, kau tidak akan keberatan kalau aku membawa beberapa pria Demi-Human untuk oleh-oleh, bukan?"


"Lakukan sesukamu."


"Bagus!"


Tujuan utama Filgard turut andil mengambil peranan dalam invasi kali ini adalah, guna mendapatkan beberapa orang ras Demi-Human yang layak untuk divisinya. Karena itu dia menghampiri dan bertanya pada Cardigra untuk memastikan terlebih dahulu terkait tujuannya tersebut.


Divisi pembunuhan 'bisa dikatakan' sebagai sarang Assasin. Anggota yang Filgard miliki pun tidak hanya ras manusia, melainkan ada juga yang justru berasal dari ras lain. Itu karena mereka memiliki bakat atau kelebihan di masing-masing individunya.


Rydman, yang merupakan asisten dan tangan kanan Filgard sebagai contohnya. Dia bukanlah berasal dari ras manusia, melainkan seorang Half-Elf. Akan tetapi, yang cukup menarik dari sosok Rydman adalah, jikalau dia memiliki darah campuran antara Elf dan Iblis.


Cukup mengejutkan, dan memang itulah yang juga Filgard rasakan pada saat dia menemukan tubuh Rydman yang terkapar tidak berdaya kala itu. Hingga dia pun memutuskan membawa, memberikan tempat tinggal, dan melatih Rydman. Tentu dengan syarat sebanding serta menguntungkan untuk kedua belah pihak.


Setelah Cardigra menjawab dengan dingin pertanyaan Filgard, dia lantas segera berbalik pergi dan berjalan mendekati kuda tunggangan miliknya. Begitu pun dengan Filgard yang turut berjalan berlawanan arah kembali menuju pasukannya.


Riger yang memperhatikan Cardigra dan Filgard dari kejauhan, hanya tersenyum. Pada dasarnya, dia sangat menyukai kedua sosok tersebut. Dia bahkan menganggap mereka berdua sudah seperti anaknya sendiri.


"Pangeran dan Assasin ya. Sungguh … kelak mereka berdua mungkin akan menjadi sosok yang cukup berbahaya," gumam Riger.


___


"Rydman, kau di sana ?"


"Ya. Aku sudah di posisiku."


"Bagus !"


"Dengan jarak sedekat ini, aku bisa memantau keadaan di tempat tujuan."


"Bagaimana kondisinya ?"


"Hanya sekumpulan hewan yang sedang bercengkrama satu sama lainnya."


Hahaha … hewan ya ....


Terkadang perkataanmu itu cukup menyakitkan, Rydman. Tapi aku tidak membencinya.


"Lanjutkan pantauanmu. Terus cari dan perhatikan dengan seksama dari mereka yang layak untuk dijadikan oleh-oleh."


"Dimengerti."


"Kupercayakan padamu, Rydman."


Disela-sela keberangkatan, Filgard menghubungi Rydman melalui telepati. Dia mengutus asistennya itu untuk mengintai dari jarak sedekat mungkin dengan desa yang menjadi target invasi.


Tidak hanya itu, dari awal Rydman memang sudah mengantongi 2 tugas yang diberikan oleh Filgard padanya. Itu adalah pengintaian, dan tentu saja penculikan.


Divisi pembunuhan selalu bergerak satu langkah di depan daripada divisi lainnya. Itu karena Filgard merupakan orang yang kerap kali memperhitungkan untuk menuai hasil yang memuaskan dari segala tindakannya.


"Invasi kali ini, akan menarik." Filgard berguman dengan penuh percaya diri.


Tak berselang lama, Mondlicht Dunkelheit kemudian berangkat untuk melancarkan misinya.


...***...


Suasana Desa DeAn yang semakin padat, seperti biasanya, terasa damai dan tentram. Warga desa tampak ceria, juga selalu bersemangat mengerjakan aktifitas keseharian mereka masing-masing.


Saat ini Argha dan Verzha terlihat sedang melatih banyak orang. Itu merupakan latihan rutin. Dikarenakan penduduk yang kian membludak, kemudian membuat mereka memutuskan untuk membentuk pasukan pertahanan desa.


Kala itu Verzha dipercaya untuk memimpin pasukan tersebut. Tindakan dan pemikirannya itulah yang mendasari warga desa berunding memilihnya.


Tentu Verzha menolak gagasan sepihak. Dia merasa tidak layak jikalau harus merangkap sebagai pemimpin pasukan pertahanan desa. Dia justru merasa, bahwa sosok Argha-lah yang sudah sepatutnya dipilih.


Akan tetapi, penolakannya tidak bisa terealisasi dengan mudah. Nhera dan Sophia malah memberikan gagasan lain, yaitu dengan cara melakukan latih tanding untuk menentukan siapa yang layak mengemban tanggung jawab tersebut, antara Argha atau Verzha.


Latih tanding pun dilakukan, dan warga desa antusias untuk menyaksikan. Verzha bahkan tidak habis pikir, kenapa malah jadi seperti ini. Namun, karena sudah tidak mungkin lagi untuk dihindari, dia pun tetap menerima dengan sepenuh hati.


Pertandingan dimulai, itu berjalan cukup lama hingga selesai. Entah bagaimana, Verzha justru memenangkan pertandingan. Bukan berarti Argha mencoba untuk mengalahーya, tidak demikian. Dia bahkan mengerahkan seluruh kemampuannya. Meski begitu, sangat disayangkan bagi Argha. Dia harus mengakui jikalau sosok Verzha ternyata lebih kuat dari dirinya.


Dengan begitu Verzha pun kemudian memiliki tanggung jawab lain, yaitu menjadi pemimpin pasukan pertahanan desa. Bersama dengan Argha yang turut membantu sebagai wakil.


___


"Ya, kau benar. Aku percaya dengan potensi yang mereka semua miliki."


"Tenang saja. Bukankah di sini kita memiliki pelatih yang cukup handal?"


"Oy, itu ejekan atau pujian?"


"Hahaha ...." Argha tertawa. "Tentu saja aku memujimu. Kau lebih kuat daripada diriku, Verzha."


"Tolong hentikan. Mungkin pengalaman hidupku yang telah menjadikanku seperti sekarang ini."


"Pengalaman ya ...." Argha tersenyum. "Ya, apa pun itu, aku juga harus berusaha untuk menjadi lebih kuat lagi. Agar kita mampu melindungi semua keluarga kita di sini."


"Ya, kau benar."


Di tengah perbincangan, Argha dan Verzha melihat 2 orang anggota keamanan berlari tergesa-gesa untuk menghampiri. Kedua orang itu tidak seperti biasanya, justru terlihat panik dan ingin melaporkan kabar genting.


"Mereka berdua kenapa? Buru-buru sekali." Argha bertanya-tanya.


Verzha yang menyadari gelagat seperti itu, dia lalu menatap Argha dan menunjukkan ekspresi wajah yang cukup serius.


"Argha, dengar … kita mendapati situasi darurat. Hentikan latihan sekarang juga, dan segera evakuasi warga desa!"


Apa yang Verzha katakan, tentu membuat Argha sedikit terkejut. Namun, sebagai seorang pejuang, dia sendiri pun mengerti hanya dengan melihat ekspresi wajah yang ditunjukkan.


"Ya! Aku akan kembali secepat mungkin, setelah aku memberitahu Zordan dan yang lainnya."


Verzha mengangguk, lalu Argha berlari ke arah pasukan pertahanan desa untuk menghentikan sesi latihan. Dia memberitahukan pada mereka kemungkinan buruk yang akan terjadi. Kemudian mereka semua berpencar untuk segera mengevakuasi warga desa menuju tempat aman.


2 orang anggota keamanan itu menjelaskan apa yang telah mereka lihat dari luar gerbang pada Verzha. Jaraknya mungkin masih cukup jauh, tetapi kelompok pasukan yang tidak dikenali sudah menginjakkan kakinya memasuki wilayah Desa DeAn.


"Bagaimana ciri-ciri mereka?"


"Di depan, tampak dipenuhi dengan orang-orang yang mengenakan pelindung tubuh dan persenjataan lengkap. Lalu di belakang, mereka berpenampilan seperti bandit.


"Kami menyimpulkan, kalau mereka memang memiliki kelompok yang berbeda, dan sepertinya hanya 2 kelompok itu saja."


"Berapa jumlahnya?"


"Saya tidak bisa memastikan secara mendetail, tapi perkiraannya mungkin lebih daripada 200 orang."


"Oy-Oy, yang benar saja!"


Mendengar laporan tersebut, membuat Verzha sangat tidak tenang. Ini akan merepotkan jikalau pertarungan benar-benar terjadi. Ekspresi rumit terlukis di wajahnya saat ini.


"Apa perintah Anda, Ketua?"


Benar, cepat atau lambat, pasti akan ada yang mengincar kami semua di sini. Aku hanya tidak menyangka, kalau hal ini akan terjadi begitu cepat.


Tidak ada gunanya untuk lari dan bersembunyi. Lagi pula, ke mana lagi harus pergi ?


Takdir yang kami terima selalu saja mengerikan. Dewa benar-benar senang dengan skenario buruk yang Dia tuliskan untuk kami semua ya.


Verzha tertawa pahit, dan kemudian memberikan perintah. "Kalian berdua, kembalilah ke pos kalian. Beritahukan seluruh pasukan keamanan untuk bersiaga menghadapi pertempuran yang mungkin tidak dapat dihindari.


"Lindungilah garis depan sekuat tenaga kalian. Kami akan segera menyusul kalian ke sana!"


"Baik, Ketua!"


2 orang anggota keamanan itu pun kembali untuk menyampaikan perintah.


"Dengarkan aku, wahai Dewa!


"Kali ini, aku akan memutus rantai takdir mengerikan yang selalu Kau berikan pada kami, sekalipun harus mempertaruhkan nyawaku!"


Verzha mengepalkan tangannya. Dia berteriak dengan lantang diselimuti tekad yang berapi-api, seraya menatap jauh ke arah langit tak berujung.


^^^To be continued …^^^