
Rombongan pasukan yang dipimpin oleh Claude Ocaris akhirnya berangkat. Membawa sebanyak 250 orang prajurit dalam komandonya. Tujuan mereka adalah menuju Kota Caulis, atau Ibu Kota dari Kerajaan Radix itu sendiri. Dan perjalanan yang mereka tempuh, akan menyita waktu sampai satu hari lamanya.
Andora termasuk beruntung, karena Claude bersedia untuk membantu dengan memberikan tumpangan serta melindunginya. Jika saja dia harus pergi sendiri, entah berapa lama waktu yang harus ditempuh untuk bisa sampai ke sana. Terlebih, tanpa mengetahui arah jalan. Hal ini pun merupakan pertama kali baginya pergi meninggalkan Kastil sampai sejauh ini.
"Tuan Claude, apakah situasinya benar-benar kacau?" tanya Andora.
"Untuk saat ini, kondisi sudah terkendali. Itulah kabar terakhir dari yang kudengar," jawab Claude.
"Syukurlah kalau memang begitu."
"Ya. Sejujurnya aku sendiri pun sangat terkejut. Guncangan besar yang terasa saat itu, berhasil membuat kepanikan di Kota Folium. Meski hanya sesaat.
"Tetapi entah bagaimana dengan keadaan di Kota Caulis secara real time, sudah pasti lebih parah, bukan?"
"Guncangan, kah?" Ekspresi wajah Andora perlahan mulai berubah. Tampak seperti sedang memikirkan sesuatu yang rumit.
"Tidak perlu khawatir, Nona Andora. Aku yakin mereka semua akan baik-baik saja. Setidaknya di sana masih ada sosok kuat seperti Tuan Clay dan Shadow Stinger, yang adalah kelompok petualang dengan level tinggi yang melindungi kerajaan."
"Ya, semoga saja benar begitu."
"Hanya saja, kesimpulan yang diutarakan Raja, didukung penuh oleh Tuan Clay saat di pertemuan. Aku berharap jika hal itu tidaklah benar."
"Jika memang itu berkaitan dengan sejarah kelam yang terjadi beberapa ratus tahun silam, artinya ketenangan dunia saat ini benar-benar sedang terancam, bukan?"
"Eh?" Claude dibuat tercengang oleh perkataan Andora. Dia sampai tidak bisa mengalihkan pandangan pada sang gadis.
Gadis ini, sepertinya dia mempelajari sejarah terlalu banyak. Ya, meski itu tidak buruk sama sekali.
Memang benar, Andora telah banyak mempelajari ilmu pengetahuan yang menurutnya sangat penting. Terutama pada sejarah, itu adalah yang paling diminati olehnya.
Andora berpikir, seorang putri tidak hanya harus selalu mempelajari tentang etika dan tata krama saja. Membuat diri sendiri menjadi cerdas pun, itu merupakan hal yang perlu dilakukan. Setidaknya jika mempelajari lebih banyak hal, kelak akan bisa membantunya untuk memecahkan masalah.
Seorang putri adalah wanita kuat yang menggunakan keberanian dan otaknya untuk membuat kehidupan menjadi lebih baik bagi orang lain. Seorang putri harus berani menghadapi tanggung jawab menjadi putri dan membiarkan kecantikan dari dalam dirinya menyinari orang-orang di sekitarnya. Pemikiran seperti itulah yang dia tanamkan pada diri sendiri.
"Aku ingin segera sampai di sana," gumam Andora.
Ketika mendengar Andora bergumam, Claude hanya tersenyum. Dia seperti paham kekhawatiran dari seorang anak yang sedang memikirkan keadaan kedua orang tuanya.
"Tidak perlu khawatir, Nona Andora. Kita semua pasti akan sampai di Ibu Kota," ucap Claude mencoba menenangkan ...
Andora melirik. "Eh? Ah, um ...."
... lalu Claude tersenyum lebar.
Huh ... kurasa Tuan Claude benar-benar semakin salah paham sekarang. Ya, memang dari awal ini adalah salahku juga sih, karena sudah berbohong pada mereka.
...***...
Ery berkata, semua tentang gambaran, dan biarkan energi sihir perlahan memvisualisasikannya.
"Baiklah, akan kucoba. Semoga ini berhasil," ucap Haru.
Haru memejamkan mata, dan membayangkan bentuk dimensi ruang di dalam kepalanya. Dia menggambarkan sebuah pola dengan koordinat berbentuk elips atau oval yang beraturan. Itu seperti sistem koordinat kartesius.
"Sudah terlihat?" tanya Erythia.
"Sedikit lagi. Kurasa aku berhasil membayangkan sketsanya," jawab Haru.
Selang beberapa waktu, semua telah sempurna. Bentuk itu mulai terlihat jelas dalam pandangan alam bawah sadar Haru.
Perfect! Sekarang tinggal memberi sentuhan akhir sebagai finishing.
Kemudian Haru merentangkan tangan kanannya dan menekuk bagian pergelangan tangan ke atas, lalu melebarkan jari-jarinya. Dia memusatkan energi sihir pada telapak tangan untuk memvisualisasikan gambaran yang terbentuk di dalam kepalanya.
Lingkaran sihir rumit pun muncul, dan perlahan membuka celah ruang dimensi. Setelah itu menyesuaikan bentuk yang ada di kepala Haru, yakni elips.
Erythia yang melihat Haru berhasil melakukannya cukup terkejut. Meski dia sendiri mengakui tidak memberikan penjelasan yang rinci dan mudah dipahami, tetapi pemuda itu justru dapat memahami prosesnya secara akurat.
Sudah kuduga, Haru memang pintar.
Itu benar, pada dasarnya Haru memang memiliki otak yang encer. Hanya saja, terkadang dia malas membuang-buang waktu untuk berpikir. Tetapi jika mendapati keadaan atau situasi yang rumit, mau tidak mau dia akan memacu otaknya untuk bekerja dua kali lipat.
"Haru, kamu berhasil!" ucap Erythia.
Mendengar perkataan Erythia, Haru kembali membuka mata. Menurunkan tangan kanannya, dan segera melihat ke arah dia melepaskan sihirnya untuk memastikan.
Sebuah portal ruang dimensi benar-benar terbentuk. Kini berada tepat di depan mata Haru. Dia tersenyum dan cukup puas dengan hasil yang didapatkan. Membuatnya semakin percaya diri, bahwa menggunakan sihir serumit apa pun akan tampak mudah jika sudah menguasainya.
"Aku akan menambahkan. Sihir yang sudah kamu lancarkan, masih memiliki koneksi dengan energi sihir di dalam tubuhmu untuk beberapa saat. Karena itu portal dimensi yang sudah kamu buat tidak segera menghilang." Erythia menjelaskan.
"Hou ... begitu rupanya."
"Kamu bisa merasakan sendiri energi sihir yang terhubung itu, tentu kamu pun bisa memutusnya juga secara langsung."
"Memang benar, aku masih merasakan energi sihirku mengalir. Ini terasa seperti ada benang yang menghubungkan."
"Bingo! Tepat seperti yang kamu katakan."
"Lalu, bagaimana cara untuk memutusnya?" tanya Haru sedikit memiringkan kepalanya.
Erythia tertawa kecil mendengar pertanyaan tersebut, dia pun menjawab, "Ingat apa yang kukatakan? Sihir adalah tentang gambaran, dan energi sihir perlahan memvisualisasikannya ke dalam bentuk yang nyata.
"Langkahnya tetap sama, kamu hanya perlu membayangkan energi sihirmu yang terhubung itu. Dan lakukanlah seperti kamu sedang memotong sesuatu menggunakan alat potong," jawab Erythia.
"Ah, ternyata begitu ya. Oke, aku mengerti, Ery."
Erythia menanggapi dengan senyuman. Kemudian Haru mencoba melakukan apa yang barusan sudah dijelaskan kembali oleh sang Dewi, dan ya ... dia dengan sangat mudah melakukannya. Lantas portal dimensi yang sudah dia ciptakan pun segera menghilang.
"Sekarang aku sudah memahami konsep penggunaan sihir. Ery, kali ini aku akan mencoba menciptakan sihir yang sangat berguna," ucap Haru penuh percaya diri.
"Hou ... sekarang kamu sudah bisa berkata seperti itu ya. Besar kepala sekali," balas Erythia dengan menunjukkan tatapan mengejek.
"Hehehe ... lihat saja, kamu pasti akan terkejut, Ery."
"Memangnya sihir apa yang ingin kamu coba ciptakan?"
Dengan tegas Haru menjawab, "Teleportasi."
Melihat tatapan penuh ambisi dan keseriusan itu, Erythia tidak mengatakan sepatah kata pun. Dia selalu percaya, bahwasanya yang akan dilakukan oleh pemuda itu pasti akan membuahkan hasil. Karena Erythia sendiri meyakini, akan potensi besar yang dimiliki oleh Haru.
Sungguh ... aku memang tidak pernah bisa mengerti dengan jalan pikiranmu, Haru.
^^^To be continued ...^^^