New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 65 - Yang Sudah Terjadi



“Hey, Erycchi ....” Andora menegur.


“Erycchiー”


Dia bahkan memberikan nama panggilan seperti itu padaku ?


Panggilan yang Andora berikan untuk Erythia, membuat Erythia merasa sedikit geli ketika mendengarnya.


“Masakan ini, benar kamu yang memasaknya?”


Andora bertanya dan tampak tidak percaya ketika melihat lebih fokus pada tampilan masakan tersebut di atas meja makan. Padahal, menu masakan sederhana Yasai Itame memang terlihat biasa saja, tetapi justru membuat Andora terkesima.


“Kau tahu, aku baru pertama kali melihat olahan masakan seperti ini,” lanjutnya.


“Hmm … begitukah?”


“Ya. Apa mungkin saja kamu menciptakan resepmu sendiri?”


“Tidak juga.”


“Heh … kalau begitu?”


“Andora, dengar … resep masakan ini sudah lama ada, setidaknya di duniaku dulu. Ery mengetahui cara untuk memasaknya, dengan sayuran sebagai bahan utamanya.” Haru turut menanggapi.


“Begitu rupanya .... EhーDi duniaku dulu?”


Andora berhenti sejenak. Dia mendapati beberapa kata yang janggal di telinganya. Perkataan Haru barusan, membuatnya jadi ingin memastikan terkait hal tersebut.


“Tu-Tunggu sebentar, Haru!”


Haru yang hendak menuju ke kamar membalas, “Hmm … kenapa lagi? Aku harus membangunkan anak itu untuk makan malam bersama.”


“Hey, kamu tadi mengatakan sesuatu seperti ‘di duniaku dulu’, bukan?”


“Ahー”


Gawat, aku keceplosan.


Seketika Haru memikirkan cara untuk mengelak menjawab pertanyaan Andora. Rahasia tentang dirinya yang adalah seorang reincarnator, tidak boleh diketahui oleh siapa pun. Cukup dia dan Erythia saja yang tahu, setidaknya untuk saat ini.


Bagi Andora yang mempelajari banyak hal sebagai seorang Putri, dia juga sempat mempelajari tentang fenomena orang yang direinkarnasikan, dan orang yang dipanggil oleh sihir pemanggilan ke dunia tersebut.


Semua itu tertulis di salah satu buku milik ‘Gereja Suci Runamaria’, dan menjadi buku yang terlarang serta disegel di ruangan rahasia. Publik bahkan tidak mengetahui terkait hal tersebut, atau mungkin lebih tepatnya hanya orang-orang tertentu yang mengetahuinya.


Entah bagaimana Andora bisa mengetahui tentang hal sakral itu, tetapi terkait Kerajaan Clivora yang memiliki hubungan dengan Gereja Suci Runamaria adalah fakta.


Mungkin saja Andora pernah mengalami waktu yang tidak sengaja, dan karena ketidaksengajaan itu juga, sehingga dirinya dapat dan sempat mengetahui hal yang bahkan ditutupi dari publik di seluruh benua De Runa.


“Telingamu tidak bermasalah, kan? Aku pikir, kamu mungkin salah dengar.”


Andora kemudian berjalan mendekati Haru, dan mendekatkan wajahnya hanya sekitar sejengkal tangan dari wajah Haru.


“Tidak sopan! Mana mungkin aku salah dengar. Telingaku masih normal, tahu!”


Haru mengalihkan pandangannya dan berkata, “Anu, Andora … bukankah jarak ini terlalu dekat?”


“Eh?”


Karena terlalu bersemangat, Andora sampai tidak menyadari hal itu. Seketika wajahnya menjadi matang, uap halus bahkan terlihat muncul di atas kepalanya.


Merasa malu dengan tingkah yang dia lakukan barusan, Andora segera mundur menjauh dari tempatnya berdiri saat ini. Kemudian dia menyembunyikan wajahnya dengan kedua tangannya itu, dan berbalik membelakangi Haru.


“Huh ....” Erythia menghembuskan napas panjang. “Haru, berhati-hatilah dalam berbicara untuk ke depannya.”


“Aku keceplosan, Ery.”


“Setidaknya untuk saat ini, ya … apa boleh buat.”


Mendengar itu, Andora kembali berbalik dan turut bertanya, “Jadi itu benar, kalau Haru adalah seorang yang direinkarnasikan ke dunia ini?”


“Ya, sangat benar,” jawab Erythia.


“Apa mungkin kamu juga, Erycchi?”


Andora semakin penasaran.


“Sayangnya bukan. Eksistensiku sendiri sangat berbeda dengan kalian berdua. Lagi pula, kalau aku memberitahumu pun, kamu juga pasti tidak akan percaya.”


“Hmm … begitu rupanya. Ya, lebih baik lupakan terkait pembahasan ini, oke. Kita bahas di lain waktuー”


Sebelum Erythia menyelesaikan perkataannya, teriakan penuh rasa ketakutan terdengar memenuhi rumah sederhana tersebut. Mereka bertiga pun sangat terkejut, karena teriakan barusan berasal dari kamar di mana bocah Demi-Human itu beristirahat.


Haru langsung berlari menuju ke kamar untuk memastikan apakah keadaan sang bocah baik-baik saja? Diikuti dengan Andora dan Erythia di belakangnya.


Haru membuka pintu kamar tersebut, mereka bertiga kemudian masuk ke dalam dan mendapati bocah Demi-Human itu tengah meringkuk dengan tubuh gemetar, serta kedua tangan memegangi kepalanya.


Erythia segera menghampirinya di sana. Dia langsung memeluk bocah itu, mencoba untuk menenangkannya.


“Tidak apa-apa, kamu akan baik-baik saja. Kami ada di sini bersamamu.” Erythia berkata dengan lembut.


Tubuh bocah Demi-Human itu semakin gemetar. Keadaan mentalnya benar-benar tidak stabil. Dia terlihat mendapati situasi yang sangat rumit pada dirinya sendiri.


Erythia bahkan semakin memeluk erat bocah itu seraya mengelus lembut kepalanya. Ini merupakan situasi tidak terduga. Mereka bertiga pun tidak menyangka jikalau akan mendapati situasi separah ini.


“Ery, ini benar-benar buruk.”


“Aku tahu. Kita hanya harus membiarkan dia sejenak, sampai dia cukup tenang.”


Bukan hanya Haru seorang, jelas Erythia pun merasa khawatir, bahkan Andora. Namun, mereka tidak mungkin mendesak bocah Demi-Human itu untuk menberitahukan apa yang sudah terjadi padanya.


Karena itu untuk sementara waktu, mereka bertiga memutuskan menunggu di dalam kamar, hingga kondisi dari sang bocah kembali stabil dan dirasa cukup tenang.


...***...


Setengah jam berlalu. Mungkin waktu yang cukup singkat sampai bocah Demi-Human itu merasa sedikit baik. Sebelumnya dia kembali tertidur dalam pangkuan Erythia, dan Erythia menidurkannya di kasur.


“Kalian berdua, lihat … sepertinya anak itu sudah bangun.”


Haru yang tengah berdiri bersandar di tembok bangunan, memberitahukan pada Erythia dan Andora ketika menyadari sang bocah telah membuka kedua matanya.


Bocah Demi-Human itu dapat mendengar jelas suara dari seorang pria berkata menyangkut tentang dirinya. Kemudian dia melihat dua orang gadis cantik dalam jangkauan pandangannya saat ini, yang tengah menatap penuh rasa khawatir tepat ke arahnya.


“Syukurlah … kuharap kamu sudah sedikit tenang.”


Erythia berkata lega, dan membantu bocah itu duduk di atas kasurnya.


“Ya, kuharap juga begitu, Erycchi.”


Andora pun turut berkata demikian. Dia terlihat sangat mengkhawatirkan bocah Demi-Human itu. Tersirat dari raut wajahnya kini.


Akan tetapi, bocah itu teringat lagi dengan ingatan kelam dan mengerikan yang benar-benar ingin dia lupakan dalam memorinya. Dia kembali berteriak sangat kencang.


“Tidak! Aku tidak ingin mengalami hal buruk seperti itu lagi! Tidaakkk ...!!”


Bocah Demi-Human itu kembali memegangi kepalanya. Dia tampak kacau dan sangat tertekan. Air mata yang mengalir membasahi wajahnya itu, tidak berbohong.


“Tenanglah! Tenangkan dirimu.”


Erythia kembali memeluk bocah itu. Dia berusaha menenangkan dengan caranya. Namun, cukup memakan waktu hingga berhasil membuat kondisi bocah Demi-Human itu benar-benar stabil dan berhenti menangis.


Tak lama kemudian, bocah itu bergumam lirih, “Aku … tidak ingin menderita lagi.”


Erythia mengelus lembut kepala bocah Demi-Human itu dan membalas, “Kamu tidak akan mengalami hal buruk lagi mulai saat ini. Kami ada bersamamu. Jadi, kembalilah ceria.”


“Be-Benarkah ...?”


“Ya, itu benar.”


“Kakak … aku … anak baik. Aku juga anak penurut. Aku tidak pernah melakukan hal jahat sekalipun, tapi mereka … orang-orang jahat itu … membunuh papa dan terus saja berlaku kejam pada mama, juga padaku.”


Seraya terisak-isak, bocah itu mengatakan tepat pada point pentingnya.


Andora, Erythia, dan Haru di sana, seperti mendapatkan pukulan yang teramat keras. Mendengar seorang bocah berkata demikian dengan dipenuhi oleh kesedihan, benar-benar menyesakkan.


Awalnya mereka bertiga mengira jikalau bocah Demi-Human itu hanya mendapatkan mimpi buruk biasa, tetapi justru di luar terkaan. Itu bahkan lebih kelam daripada sekedar mimpi buruk pada umumnya.


“Bisa kamu ceritakan semuanya pada kami? Tentu kami tidak akan memaksamu kalau kamu tidak ingin menceritakannya,” ujar Erythia.


“Um … baik. Akan aku ceritakan.”


Bocah itu mengangguk, kemudian dia pun mulai menceritakan dengan detail seluruh rangkaian peristiwa kelam dan menyakitkan yang sudah dialaminya pada mereka bertiga.


^^^To be continued …^^^