
"Aku akan menyembuhkan anak ini. Tunggulah di sini."
"Tolong lakukan itu, Ery."
"Serahkan padaku."
Haru mempercayai Erythia dalam bidang penyembuhan. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan dengan tingkat keberhasilannya, karena skill medis yang Erythia miliki sangatlah luar biasa. Setidaknya meski baru sekali, Haru pernah menyaksikan penggunaannya secara langsung.
Kali ini mungkin akan sedikit berbeda, karena Erythia hanya menangani satu orang dibandingkan pada saat tragedi Chaos Dragon. Dia justru melakukan pemulihan secara menyeluruh. Tak hanya terhadap puluhan manusia yang terluka, bahkan makhluk hidup lain seperti serangga dan tumbuhan dalam cakupan area sihirnya, ikut merasakan efek healing yang diberikan.
Pada dasarnya, kekuatan seorang Dewi sangatlah berbeda dari semua makhluk yang ada di dunia tersebut. Energi sihir yang Erythia miliki pun, bahkan tidak dapat dijelaskan. Meski sempat terukur saat di guild, tetapi itu bukanlah kekuatan yang sesungguhnya. Melainkan sekian persen saja, karena Erythia menekan energi sihirnya dengan ekstrim agar tidak mencolok.
Erythia kemudian memasuki kamar seraya menggendong bocah Demi-Human itu. Dia segera menidurkannya di atas kasur. Melihat kondisi memprihatinkan seorang anak kecil yang kini terbaring di hadapannya, Erythia merasa geram.
Seorang bocah hanyalah bocah. Tidak peduli sekuat apa fisiknya, mereka cenderung lemah. Ditambah mendapatkan siksaan yang terlampau brutal setiap saat, keadaan mentalnya pun dapat dipastikan terganggu dan perlahan semakin rusak.
Erythia sangat menyayangkan perlakuan orang-orang brengsek di luar sana yang tega melakukan perbuatan keji seperti itu. Walaupun dia sendiri tahu jikalau hukum rimba benar-benar menjadi bagian dari dunia tersebut, dan tidak dapat dipisahkan.
Erythia sudah bersiap untuk melakukan proses pemulihan. Dia meletakkan tangan kanannya di atas tubuh bocah Demi-Human itu, kemudian berucap …
<< RECOVERY >>
… lalu energi sihir pun mengalir dari tangannya, dan menjamah seluruh tubuh sang bocah hingga diselimuti oleh semacam aura.
Energi sihir yang berubah menjadi partikel cahaya berwarna kehijauan itu, terasa begitu hangat. Menandakan bahwa skill miliknya telah bekerja. Tak berselang lama, aura yang menyelimuti bocah Demi-Human itu pun lenyap secara perlahan.
Proses penyembuhan yang dilakukan Erythia tentu saja berhasil, dan membuat keadaan sang bocah benar-benar pulih seutuhnya. Luka-luka yang sebelumnya tampak di sekujur tubuh, semuanya menghilang.
Beberapa saat kemudian, bocah Demi-Human itu mulai membuka kedua matanya. Pandangannya saat ini masihlah samar, hingga dia dapat melihat dengan jelas sosok Erythia yang tengah duduk di atas kasur di sampingnya.
"Syukurlah … kamu sudah sadar."
Erythia merasa lega. Dengan begitu, tugasnya untuk melakukan proses healing pun selesai.
"Ini, di ma … na?"
Bocah Demi-Human itu bertanya dengan nada lemas. Matanya berkeliling mengamati sekitar dengan seksama. Dia merasa kebingungan karena tersadar di tempat yang bahkan tidak diketahui.
"Ini adalah tempat tinggalku dan Haru. Kamu akan aman di sini." Erythia memberitahukan.
"Haru?"
"Dia adalah orang baik yang sudah menyelamatkanmu, dan membawamu ke sini."
"Menyelamatkanku?"
"Um, benar."
"Lalu, Kakak siapa?"
"Aku Erythia."
"Ery … thia?"
"Um, itu namaku. Siapa namamu, Adik kecil?"
"Namaku ...?"
"Setiap orang pasti memiliki nama, bukan? Kamu pun tentu memilikinya."
"Eh?"
Bocah Demi-Human itu semakin kebingungan. Ekspresi wajahnya tampak rumit. Dia seperti tidak memiliki ingatan terkait namanya sendiriーmungkin lebih tepat jati dirinya.
Erythia tidak sanggup berhadapan dengan situasi ini karena merasa iba. Mengingat Erythia memang memiliki sifat lemah lembut terhadap anak kecil dan sosok yang penyayang. Itu mengingatkannya pada sang adik, yakni Hyranhia. Yang selalu saja menempel dan bersikap manja padanya dulu, ketika Hyra masih kecil.
"Kalau kamu tidak ingat, tidak apa-apa. Beristirahatlah sedikit lebih lama untuk menenangkan pikiranmu."
"Um ...."
Sang bocah mengangguk patuh, lalu menarik selimut untuk menutupi setengah bagian wajahnya.
Erythia menunjukkan senyum lembut, kemudian dia bangkit dari duduknya meninggalkan bocah Demi-Human itu di dalam kamar, dan menghampiri Haru yang menunggu di luar.
Setelah Erythia menampakkan diri, Haru segera bertanya, "Ery, bagaimana?"
"Syukurlah ...."
Haru tampak lega mendengar perkataan Erythia. Mengetahui kabar seperti itu, cukup menenangkan untuk saat ini. Haru menyadari kekurangan pada dirinya. Jikalau saja dia sudah menguasai sihir penyembuhan, tentu tidak harus merepotkan sang Dewi untuk memberikan pemulihan.
"Namun, aku mengkhawatirkan kestabilan mentalnya," lanjut Erythia dengan nada bicara yang terdengar lirih.
"Begitu, ya ...."
"Bagi anak seusianya, selalu mendapati perlakuan keji dengan menyiksanya tentu akan mengganggu kestabilan mentalnya, bukan?
"Melihat ekspresi wajah polos yang memancarkan kesedihan itu, bahkan membuatku ingin menangis."
Haru seketika menjadi lemas dengan pernyataan yang Erythia lontarkan. Perasaan lega yang sempat dia rasakan pun kembali meluruh. Ekspresi wajahnya kini seolah mengatakan, “Dunia ini bahkan tidak memiliki keadilan yang layak untuk seorang anak di bawah umur !”
Haru membandingkan dengan dunia tempat tinggal dia sebelumnya. Penyiksaan terhadap anak di bawah umur adalah perbuatan yang tidak dapat dimaafkan. Pelaku dapat dipastikan memiliki ancaman sanksi pidana yang cukup berat, sehingga tidak dapat bebas dari tuntutan dengan mudah.
"Dia anak yang kuat. Dia benar-benar menghadapi cobaan yang menimpanya dengan tegar. Haru, dengarkan aku … kita harus melindunginya!" Erythia melanjutkan dengan tegas.
Di dunia Haru, perlindungan anak yang menjadi korban kekerasan adalah tanggung jawab bersama antara keluarga, masyarakat, dan pemerintah. Serta perlu mendapatkan hak perlindungan hukum dalam rangka mengembangkan kebenaran, keadilan, dan kesejahteraan untuk mereka.
Berkaca pada konsep itu, ditambah melihat Erythia yang menjadi serius dengan perkataannya, Haru pun tidak mungkin mengabaikannya begitu saja. Dia mengangguk setuju dengan gagasan tersebut.
"Tentu saja, Ery!"
Pilihan bijak telah diambil. Di satu sisi positif, bocah Demi-Human itu akan mendapatkan perlindungan secara langsung dari Haru dan Erythia. Mereka berdua bertekad untuk menjaganya.
Akan tetapi, di sisi berlawanan, mereka mungkin terlalu cepat mengambil keputusan. Mengingat Haru dan Erythia sedang bersembunyi saat ini, tentu akan sulit menjalani hari-hari mereka dengan kondisi yang sekarang.
Selain itu, tak hanya bocah Demi-Human seorang, sosok Andora juga ada di antara mereka. Meski belum mendapati keputusan lanjut terkait dirinya, Haru tetap harus memikirkan lebih jauh rencana kehidupan untuk ke depannya. Situasi akan terasa lebih rumit kali ini.
"Baiklah. Karena aku sudah melakukan bagianku, sekarang giliranmu, Haru. Aku harap kamu memiliki alasan yang masuk akal untuk dijelaskan padaku."
Seraya tersenyum lembut tetapi mengerikan, tatapan Iblis tampak mengintimidasi. Haru yang mencoba mengesampingkan terkait hal tersebut, justru harus bersiap menghadapinya.
"Ahー"
Ekspresi wajah Haru seketika tampak bermasalah. Keringat sampai mengucur membasahi punggungnya.
Aku lupa, kalau Ery tidak mungkin melepaskanku begitu saja. Sial! Dia ini benar-benar menyeramkan.
...***...
Haru, Erythia, dan Andora kini tengah berkumpul di ruang tengah. Mereka berdua baru saja menghampiri sang Putri yang sedari tadi duduk manis di kursi menunggu di sana.
Erythia tampak serius seraya menyilangkan kedua tangan di dadanya, meski cukup tenang. Dia menunggu penjelasan dari Haru, dan tidak berkata apa pun. Karena banyak hal yang sudah terjadi, Haru bahkan bingung harus memulai untuk menjelaskannya dari mana.
Sesekali Haru melirik pada Andora. Entah apa tujuannya, itu terkesan seperti dia ingin meminta pertolongan. Sedangkan Andora mengabaikan lirikan itu, meski dia menyadarinya. Ekspresi wajah tenang yang ditunjukkan oleh sang Putri, seperti memiliki maksud tersembunyi.
"Anu … entah kenapa, rasanya tegang sekali."
Menyadari situasi tidak begitu baik, Haru memulai perbincangan seraya tertawa kecil. Dia bermaksud mencairkan suasana yang terasa menyesakkan ini.
Erythia dan Andora bahkan tidak memberikan respon. Mereka tetap dengan posisinya masing-masing, dan semakin membuat Haru merasa tertekan.
Ini buruk! Terlalu berat untuk kuhadapi. Kenapa aku harus terjebak dengan situasi rumit seperti ini sih ?!
Ini bahkan tidak seperti adegan manis di komik komedi-romantis anak sekolah yang menimpa sang tokoh utama, tahu !
Aku sama sekali tidak merasakan niat berdamai dari gadis-gadis ini. Diamnya mereka berdua terlalu mengerikan untukku !
Haru tampak semakin frustasi, kesuraman benar-benar menyelimutinya saat ini. Dia sudah pasrah jikalau Erythia harus memarahinya. Akan tetapi, Andora yang memperhatikan Haru terlihat mulai mengambil tindakan.
Andora menarik napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya secara perlahan. Dia pun angkat bicara, "Haru, tenangkan dirimu. Mulai dari sini, biar aku yang menjelaskannya."
"Eh?"
"Hou … baguslah. Kuharap kamu bisa memberikan penjelasan yang meyakinkan."
Mendengar pernyataan tegas seperti itu, Erythia memberikan perlawanan. Sedangkan Haru yang tersentak dengan perkataan Andora, kini melihat mereka berdua layaknya seekor Naga dan Singa yang hendak memulai pertarungan.
“Ah … ini akan semakin merepotkan,” pikirnya.
^^^To be continued …^^^