New Life in Another World

New Life in Another World
(Vol. 1) - Epilog



Pagi harinya, Haru mendapati tubuhnya terasa sedikit berat. Pemuda itu tahu bahwa dirinya sedang berbaring di atas sofa. Ingatan semalam sesaat sebelum dia benar-benar terlelap adalah, memikirkan tentang menciptakan skill agar uang yang ada di dalam dompetnya itu menjadi layak pakai.


“Hmm ...?”


Haru terbangun dengan kedua mata yang masih mengantuk, dan menatap langit-langit ruangan. Namun, fokusnya seketika terbentuk ketika dia merasakan hembusan udara yang menyusup menyentuh kulit dadanya.


“Angin?”


Memikirkan dari mana udara ringan yang menggelitik itu berasal, Haru mengubah arah pandangannya ke bawah. Apa yang dia lihat di sana adalah sepasang telinga berbulu yang bergerak-gerak. Rambut berwarna putih panjang terurai pun, jatuh di atas tubuhnya.


“Telinga? Rambut?” Haru bertanya-tanya dengan ekspresi wajah bingung.


Haru menyentuh telinga berbulu itu menggunakan jari telunjuknya berulang kali. Sensasi lembut dan tekstur halus yang dia rasakan di jari telunjuknya saat ini, justru membuat dia semakin tidak ingin berhenti dengan yang tengah dilakukannya.


“Unyaw~”


Suara menggemaskan pun terdengar. Telinga berbulu itu mulai bergerak menjauh semakin tinggi. Begitu pula dengan rambut panjang berwarna putih indah yang turut terangkat.


Wajah mungil seorang anak kecil tampak, dengan kedua matanya yang terpejam. Ujung rambut berwarna putih berkilaunya itu melengkung di atas dada Haru. Anak itu bahkan masih tertidur, dan saat ini tengah duduk mengangkangi perut Haru.


“Pantas saja tubuhku terasa berat. Ternyata Xera tidur di atasku, ya ....”


Untuk sejenak, Haru hanya menghela napas pendek. Tidak lama kemudian, pikirannya itu akhirnya mulai menyadari akan situasi tersebut.


“HahーXera ...?!”


Jelas itu membuat Haru terkejut. Xera yang kini tengah mengangkangi tubuh Haru di pagi hari seraya tertidur pulas, ini merupakan sebuah pemandangan tabu, tetapi menggemaskan.


“Apa mungkin Xera mengidap sleepwalking ?”


Umumnya, gangguan tidur ini biasanya menyerang anak kecil berusia 4-8 tahun. Meski begitu, orang dewasa dan lansia juga dapat mengalaminya.


Penyebab berlangsungnya episode sleepwalking pada Xera memang tidak dapat disalahkan juga. Ada beberapa faktor umum yang dapat mempengaruhi. Namun, faktor yang paling cocok menggambarkan kondisinya saat ini adalah karena depresi, kegelisahan hebat, dan stres berat.


Xera benar-benar tidur. Aku merasa tidak tega untuk membangunkannya.


Haru terus memperhatikan wajah polos nan imut di hadapannya itu. Siapa pun yang melihat, pasti ingin melindungi sosok rapuh tersebut. Namun, dia juga tidak habis pikir dengan orang-orang brengsek di luar sana yang justru tanpa ragu menyiksa Xera.


Aku tidak ingin kejadian buruk seperti itu terjadi lagi menimpa Xera. Kupastikan menjaga dan melindungi anak tidak berdosa ini !


Aku ingin melihat dia tumbuh dewasa menjadi seorang gadis yang baik, dengan membawa masa depan yang cerah.


Setelah cukup lama memperhatikan, Haru pun mencoba untuk membangunkannya.


“Xera, ini sudah pagi, lho .... Bangunlah.”


Mendengar suara seseorang berbisik dengan penuh kelembutan, telinga Xera merespon dan kembali bergerak-gerak. Dia akhirnya terbangun dan melihat sosok Haru yang tersenyum dalam jangkauan pandangannya kini. Tentunya dengan ekspresi wajah polos Xera yang baru saja bangun tidur.


“Selamat pagi, Xera.” Haru memberikan ucapan hangat.


“Cewlamat … pawgi, Kakak ....”


Xera membalas seraya mengucak kedua matanya. Bicaranya itu bahkan seperti sedang mengigau. Pelafalannya yang tidak jelas, terdengar sungguh menggemaskan.


Sisi Xera yang seperti itu, tidak disangka-sangka ternyata dapat mengacaukan sistem berpikir normal Haru.


Oh, my Lord ...!! Satu hal yang bisa kutegaskan, anak ini benar-benar IMUT! Dia malaikat !


Haru memandangi Xera dengan perasaan menyenangkan. Matanya berbinar dengan ekspresi wajah yang tampak bodoh.


Sial! Siapa yang berani macam-macam dengan Xera, lihat saja … akan kubunuh kalian semua !


...❧❧❧...


“Bagaimana tidurmu semalam, apakah nyenyak?” tanya Haru.


“Um ....”


“Syukurlah kalau begitu.”


Haru merasa lega mendengar jawaban tegas, meski dengan nada suara yang rendah. Mengetahui jikalau Xera dapat merasakan kenyamanan dalam beristirahat, itu adalah suatu kemajuan yang sangat bagus.


Setelah peristiwa pembantaian desa tempat tinggalnya dulu, Xera bersama ibunya terus-menerus mengalami hal sulit dan menyakitkan, dengan menjalani hidup di dalam kandang besi yang sempit setiap harinya. Sampai akhirnya mereka berdua terpisahkan karena berhasil terjual sebagai seorang budak.


Mereka yang merupakan ras Demi-Human, dianggap setara dengan hewan, dan yang berlebihannya bahkan dicap sebagai monster dengan akal layaknya manusia. Orang-orang yang tidak menyukai keberadaan ras tersebut, selalu saja beranggapan demikian.


Setelah Xera dibeli pun, dia tidak pernah mendapatkan tempat untuk beristirahat yang layak. Alas untuknya tidur hanyalah lantai keramik berdebu dan kotor, juga terasa sangat dingin ketika udara malam datang menyapa. Terkadang dia harus tidur di dalam gudang penyimpanan barang-barang yang teramat sempit, bahkan di kandang kuda atau sapi.


Selain itu, makanan yang selalu Xera makan setiap harinya, seperti makanan sisa yang bahkan minim gizi untuk pertumbuhannya. Ada pun ketika dia tidak bekerja dengan benar, atau seperti melakukan kesalahan sepele. Hukuman yang dia dapatkan justru tidak diberikan makan selama satu hari penuh.


Status sebagai seorang budak yang melabelinya itu, membuat Xera harus mengalami penderitaan setiap hari. Siksaan yang dia dapatkan, sudah seperti makanan sehari-hari. Bahkan tak jarang juga dia tidak mampu untuk berdiri, apa lagi berjalan dan berlari.


Tangisan di malam hari selalu menyertai kehidupan yang Xera jalani. Air matanya yang menetes pun seperti tiada arti. Ingin melawan, tetapi tidak mampu untuk melakukan. Terus bertahan, justru semakin terasa menyakitkan. Dia berusaha tegar menghadapi nasibnya itu, dan berharap suatu hari nanti akan dipertemukan dengan orang-orang baik yang tulus menyayanginya.


Haru kemudian setengah bangkit dan mengangkat Xera untuk memindahkannya duduk di sofa. Setelah berhasil berdiri, dia berkata, “Basuhlah wajahmu nanti, oke.” Lalu mengelus lembut kepala Xera.


Setelah itu Haru menuju ke kamar mandi. Sedangkan kedua mata Xera terus memandangi sosok Haru, hingga menghilang dari pandangannya dan meninggalkannya sendirian di sana.


Kakak itu ternyata baik. Sama baiknya seperti Kak Erythia. Baru pertama kali aku diperlakukan dengan lembut seperti seorang adik oleh orang lain.


Ibu … di mana pun engkau berada, aku di sini sudah baik-baik saja. Semua orang di tempat ini memperlakukanku seperti keluarga, jadi ibu tidak perlu mengkhawatirkan keadaanku.


Kuharap ibu juga baik-baik saja, dan dikelilingi oleh kebahagiaan di sana.


Berkata di dalam hatinya, Xera meneteskan air mata. Kali ini, bukanlah tangisan penderitaan, melainkan tangisan bahagia setelah sekian lama bersabar menunggu doanya terkabulkan.


...❧❧❧...


“Kalau harus terus begini, lebih baik aku mati ....” Seorang wanita berlinang air mata bergumam lirih.


Kondisinya sangat memprihatinkan, dengan tatapan dari kedua matanya yang tampak kosong. Di sekujur tubuhnya pun terdapat beberapa luka lebam, dan dia terkapar lemas tidak berdaya di atas kasur di sebuah kamar tanpa mengenakan sehelai busana.


Tidak lama kemudian, seseorang membuka pintu kamar tersebut. Pria paruh baya itu menghampiri sang wanita. Dia menatapnya penuh gairah, lalu melucuti semua pakaian yang dia kenakan.


“Sudah seminggu aku menahan hasrat ini. Zheea, hari ini kau harus memuaskan nafsuku dengan tubuhmu yang menggairahkan itu.”


Pria itu kemudian naik ke atas kasur, dan mulai menjamah tubuh wanita tersebut.


“Bermainlah dengan liar hari ini. Akan aku keluarkan semuanya di dalam seperti biasa!”


Wanita ras Demi-Human itu, tak lain adalah ibu dari Xera. Sebelumnya Zheea dibeli oleh bangsawan untuk dijadikan sebagai alat pemuas nafsu pribadi. Akan tetapi, setelah bangsawan itu mulai merasa bosan, kemudian dia menjual Zheea ke rumah bordil dengan harga yang tidak masuk akal.


Dikarenakan Zheea memiliki paras yang cantik serta kemolekan tubuhnya yang sangat menggairahkan, sang owner pun tidak memiliki keraguan untuk membelinya, meski dengan harga yang sangat tinggi sekalipun.


Dengan spesifikasi tersebut, dipastikan mendapat respon yang bagus bagi para pelanggan, dan tentu saja akan memberikan keuntungan yang berlimpah untuk bisnisnya.


Setelah proses jual-beli antara mereka berdua berhasil dilakukan, nasib buruk yang menimpa Zheea pun terus berlanjut. Karena dia harus berakhir menjadi mainan pemuas nafsu para oknum yang menginginkan kepuasan surgawi.


^^^To be continued …^^^