
"Tu-Tunggu dulu!" teriak Erythia.
"Hmm? Ada apa, Ery?" Haru malah balik bertanya dengan tampang polos.
"Kamu ingin melakukan hal konyol apa lagi?"
"Hah? Konyol? Hey, Ery. Dengar, aku hanya ingin masuk ke dalam sana." Sangat tegas Haru mengarahkan jari telunjuknya ke portal dimensi.
Erythia menyipitkan kedua matanya menatap tajam Haru. Dia merasa tidak yakin jikalau hal itu akan aman dan baik-baik saja.
"Kamu serius, Haru?" Erythia bertanya dengan sedikit meninggikan nada suaranya.
"Tentu saja! Memangnya apa yang kamu khawatirkan? Tidak perlu panik seperti itu, ayolah," jawab Haru mencoba meyakinkan.
"Huh ... entah kenapa feeling-ku mengatakan sebaliknya."
"Apa-apaan? Ya sudah, kamu tunggu di sini saja. Nanti aku akan memanggilmu saat aku tiba di sana, oke."
"Lho ... tidak seperti itu juga konsepnya! Haru bodoh!!"
Woah ... dia malah marah-marah, dong! Wanita memang selalu saja seperti itu ya. Emosian tingkat tinggi.
Haru menghela napas panjang, dan tidak menghiraukan Erythia sama sekali. Hanya terus melanjutkan berjalan mendekati portal, dia pun tak gentar masuk ke dalam sihir ruang ciptaannya itu.
"Ah ... dia benar-benar meninggalkanku," gumam Erythia. "Bodoh!" lanjutnya.
___
Suara ledakan yang terdengar secara beruntun, itu memang berasal dari sihir serangang milik Erythia. Karena serangan tersebut berhasil berpindah ke lokasi yang ditujukan dan mengenai sesuatu di sisi lain. Artinya, portal dimensi yang Haru ciptakan untuk melakukan teleportasi, telah berhasil direalisasikan.
Haru masuk ke dalamnya dengan tujuan untuk memastikan. Bilamana ada kesalahan dalam perhitungan, dia akan langsung mencari solusi untuk segera memperbaikinya.
Setelah memasuki portal, suasana di dalam hanyalah kegelapan pekat dan kesunyian yang mengelilingi. Haru bahkan tidak dapat melihat tangannya sendiri.
"Hou ... masuk ke dalam sini, aku merasa seperti De Javu. Tapi kapan ya? Hmm ...." gumamnya memikirkan situasi terkait.
Namun itu bukanlah masalah. Karena ketika meneruskan berjalan beberapa langkah, Haru pun tiba di sisi lainnya. Itu berarti dia telah berhasil melewati portal lain yang adalah gerbang yang menghubungkan antara titik koordinat awal dan akhir.
"Bingo!" ucap Haru sangat puas, karena telah disambut oleh pemandangan dari sisi lain luar portal. "Saatnya memanggil Ery," lanjutnya.
Kemudian Haru hanya memasukkan kepalanya saja ke dalam portal tersebut. Dia memanggil Erythia yang masih stay di dalam rumah untuk segera menghampirinya. Tapi sebelum itu, sang Dewi masih saja merasa tidak yakin kalau akan baik-baik saja.
"Haru, ini aman, kan?" teriak Erythia.
"Percayalah padaku, Ery." Haru membalas.
Dengan memberanikan diri, Erythia pun menghampiri Haru yang sudah lebih dulu sampai di sisi lain. Sesampainya, portal pun tertutup rapat dan menghilang.
___
"Woah ...."
"Lihat, aku tidak berbohong, kan?"
"Um ... kamu benar."
Erythia tertegun melihat sosok Haru. Ada hal yang membuatnya kepikiran suatu hal. Itu berkaitan dengan sihir teleportasi yang baru saja pemuda itu ciptakan.
Haru sampai menciptakan sihir ini dengan spontan. Bahkan aku yang pada dasarnya adalah seorang Dewi pun, tidak mampu untuk melakukannya.
Apa mungkin ini karena kekuatan gift yang dia miliki itu? Atau jangan-jangan ... ah, sudahlah. Untuk apa juga aku memikirkannya. Karena dia memanglah Haru.
Tak lama Haru kembali berkata, "Hey, Ery. Lihat," sambil menunjuk ke arah jauh di depannya. "Bukit itu sampai hancur oleh seranganmu lho. Woah ... benar-benar mengerikan!" lanjutnya.
Mendengar apa yang Haru katakan, sudut bibir Erythia berkedut, dahinya pun mengerut. Seketika tatapan dari mata cantik sang Dewi langsung berubah menjadi dingin. Pada moment ini, Haru tidak sengaja berulah lagi. Yang mana itu membuat Erythia menggerutu di dalam hatinya.
"Baiklah, Ery. Ayo kita berjalan-jalan sedikit lebih jauh dari sini," ajak Haru.
"Aku tidak ikut. Kamu pergi saja sendiri!" balas Erythia tidak peduli.
"Hmm ... ya sudah. Kalau begitu, aku pergi dulu."
Ketika Haru mengabaikan Erythia dan hendak bereksperimen dengan koordinat yang baru. Sebelum dia sempat memunculkan portal dimensi, sang Dewi mendekatinya. Erythia langsung memegangi jaket yang dikenakan sang pemuda.
"Kamu mau meninggalkanku lagi di sini?" Erythia berkata tegas. Ekspresi yang terlukis di wajahnya tampak menggemaskan, tetapi itu juga terasa mengesalkan.
Haru melirik dan membalas, "Lah, tadi kan aku sudah mengajakmu. Setelah itu kamu bilang padaku tidak akan ikut. Kamu ini plin-plan sekali, Ery."
Dan ya, pertengkaran rumah tangga pun sedikit pecah. "Bo-Bodoh, bukan begitu! Ini tidak seperti aku menginginkan kamu untuk tidak mengabaikanku. Jadi jangan berpikir yang aneh-aneh, oke!
"Dan lagi, kenapa kamu cuek begitu? Kamu juga malah mengabaikanku, dan tidak memaksaku untuk ikut denganmu! Hmp ...!!" Menyilangkan kedua tangan di dadanya, Erythia mengalihkan pandangan.
Woah ... dia langsung mengeluarkan jurus tsun-tsun andalannya. Untung saja aku sudah terbiasa menghadapi wanita seperti ini.
"Huh ...." Haru menghela napas panjang. Menatap Erythia yang baru saja selesai merengek, kemudian meletakkan tangan pada kedua bahunya.
"Jangan jauh-jauh dariku, ayo kita habiskan sore ini dengan berjalan-jalan ke tempat lain. Oke," lanjutnya, lalu tersenyum.
Erythia yang kembali menatap Haru pun mengangguk patuh. "Um ...."
...***...
Rombongan Claude Ocaris benar-benar terkapar. Mereka kekenyangan, bahkan untuk berdiri saja tidak sanggup. Dan tentunya sangat menikmati waktu istirahat ini.
Andora yang sedang duduk berbincang dengan Claude, melihat beberapa orang bawahan sang kapten berlari menghampiri. Itu adalah kelompok yang mendapatkan tugas untuk memantau kawasan peristirahatan rombongan. Mereka sangat ketakutan, seperti baru saja melihat hal yang mengerikan.
Mereka kenapa ya? Buru-buru sekali.
"Tu-Tuan Claude!" teriak salah satu prajurit.
Claude yang mendengar teriakan bawahannya pun berdiri, seraya menunggu mereka mendekat.
"Tu-Tuan Claude, i-ini ... ka-kabar buruk!" ucapnya terbata-bata karena panik dan terengah-engah.
"Oy, tenangkan diri kalian terlebih dahulu," balas Claude.
Setelah mengatur napas dan sedikit tenang, sang prajurit mengulang kembali perkataannya. "Tuan Claude, kita harus segera meninggalkan tempat ini!"
"Hah? Apa maksudmu? Sebenarnya apa yang sudah terjadi?" tanya Claude yang justru menjadi kebingungan.
"Saat kami memantau kawasan, kami melihat kawanan naga yang sedang mengudara di langit barat. Mereka sedang menuju ke arah sini!" jawabnya.
"Oy-oy, kau tidak bercanda, kan?"
"Mana mungkin aku berbohong pada Anda! Karena itu kami segera melapor."
Andora yang menyimak perbincangan mereka pun turut bertanya, "Anu, berapa jumlah mereka?"
"12 ekor!" jawab sang prajurit.
"Ti-Tidak mungkin!" Andora pun terkejut mendengarnya.
"Ini gawat ...." gumam Claude.
Kemudian Claude dengan tegas memerintahkan semua pasukan untuk segera meninggalkan lokasi peristirahatan. Sontak mereka semua pun berhamburan, membereskan barang-barang bawaan, dan bersiap-siap untuk pergi menjauh secepatnya dari sana.
^^^To be continued ...^^^