New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 15 - Aria【3 - End】



【PoV Aria】


Hari berganti, bulan pun berlalu. Kedua orang tuaku mengeluh tentang hubunganku dengan Haru. Meski sudah kujelaskan seperti apa pun, mereka tetap tidak mempercayai perkataanku.


Salah satu faktor penyebabnya mungkin itu karena penampilan Haru yang tidak mencerminkan kalau dia orang baik. Tapi tidak seperti itu kenyataannya! Dia adalah laki-laki yang baik, jadi jangan berpikiran negatif tentangnya.


Sering kali aku dibuat kesal sendiri, ketika mendengar mereka membicarakan tentang Haru dengan penuh emosional. Itu tidaklah lucu! Bukankah kalian tidak bisa menilai seseorang hanya dari satu sisi saja?


Untung saja saat aku bercerita padanya, Haru tidak pernah marah. Dia hanya tersenyum setelah mendengarkan semua ocehanku ...


"Kamu tidak perlu merasa khawatir, Aria. Sudahlah, tidak apa-apa. Aku hanya harus meyakinkan mereka berdua saja, kan?"


... dan selalu menanggapinya dengan santai. Seolah Haru sudah memiliki rencananya sendiri terkait hal tersebut.


Ya, aku tidak akan meminta dia untuk melakukan hal yang sembrono. Aku bukanlah gadis yang berpikiran pendek seperti itu, jadi aku percaya padanya.


...***...


Tak terasa dua tahun terlewati dengan penuh kebahagiaan. Hubunganku dengan Haru berjalan sebagai mana mestinya, kami menjadi semakin dekat. Bahkan kedua orang tuaku pun mulai menerima sosoknya dan merestui hubungan kami berdua.


Entah bagaimana caranya dia bisa meyakinkan mereka, aku sendiri pun tidak mengerti. Seolah seperti keajaiban memihak pada kami, dengan membantu meluluhkan hati Ibu dan Ayahku secara perlahan dan pasti.


Hari-hariku dengan Haru sangatlah damai, aku tidak ingin semua yang sudah kami lalui menghilang begitu saja dari genggaman. Dia bahkan bekerja keras agar dapat membahagiakanku.


Bagaimana mungkin aku tidak bahagia setelah semuanya itu? Hanya wanita bodoh yang tidak merasa bahagia dan malah tega meninggalkan sosok laki-laki yang benar-benar tulus berkorban untuk dirinya!


Bahkan aku pun memiliki pemikiranku sendiri. Demi membalasnya, sebagai wanita aku juga harus siap mengorbankan apa pun demi orang yang kucintai. Itulah kenapa aku memutuskan untuk menjalani sisa hidupku bersama dengan Haru.


Beberapa hari sebelumnya, Haru menjemputku. Dia menunggu di depan gerbang kantor perusahaan tempatku bekerja, dan terlihat sedang mengobrol dengan para penjaga. Aku segera menghampirinya ke sana, dan setelah berpamitan dengan mereka, kami pun melanjutkan untuk segera pulang.


Di perjalanan, kami menghabiskan waktu mengobrol banyak hal dengan penuh keceriaan. Aku benar-benar menikmati moment ini.


"Hey, Haru. Apa mungkin karena cuaca bersalju yang dingin ya? Percakapan ini jadi terasa hangat."


"Apa hubungannya? Kamu selalu saja asal bicara."


"Tehee~ Kamu pun jadi lebih dekat denganku. Aku bahkan tidak pernah menyangka, jika semua ini benar-benar terjadi.


"Kau tahu ... andai kata jika kamu menolakku pada waktu itu, aku bahkan rela menjadi pengganti atau apa pun untukmu. Asalkan kita bisa selalu dekat seperti saat ini."


Haru malah menyentil dahiku. Dia tidak marah, hanya tersenyum seperti biasanya.


"Aku ingin bertanya padamu, Aria. Katanya manusia itu bisa berubah, bagaimana menurutmu?"


"Eh? Menurutku ya, hmm ... Tentu bisa! Contohnya saja aku. Karena aku sedang merasakan cinta yang menggebu-gebu padamu, dunia ini jadi terlihat lebih berwarna! Padahal sebelumnya, tampak abu.


"Bukankah itu berarti kalau aku pun sudah berubah? Ya, kan?"


"Huh ... jangan bilang kalau kamu hanya asal menjawabnya."


"Hehehe ... lalu bagaimana menurutmu, Haru?"


"Kurasa itu tidak benar."


"Eh? Kenapa demikian?"


"Seandainya kita ingin terbang, perlukah kita menumbuhkan sayap? Tentu tidak, kan? Karena kita bukanlah burung.


"Yang berubah bukanlah diri kita, tetapi cara kita agar bisa mencapai tujuan tersebut. Kita hanya harus memikirkan bagaimana cara yang bisa membuat diri kita terbang tanpa mengubah diri kita saat ini."


"Aku tidak benar-benar mengerti maksudmu."


"Kamu tidak perlu memikirkannya, nanti rambutmu bisa beruban, Aria."


"Ih, kamu malah menjahiliku!"


"Hahaha ... ekspresimu itu terlihat lucu saat kamu seperti itu. Aku menyukainya."


"Haru jahat! Hmp ...!!"


"Karena itulah kamu begitu berharga bagiku, Aria."


Aku bisa mengetahui hanya dengan melihat tatapannya saja, Haru sangat tulus mengatakannya. Ya, tidak ada kebohongan di sana.


Seorang wanita tentunya akan merasa senang jika diperlakukan secara lembut. Karena itu aku tidak keberatan meski hanya memiliki Haru di dalam hidupku, aku bisa tetap menjalani kehidupanku selama dia membutuhkanku.


___


Musim semi mulai menyambut hangat. Meski begitu, prediksi cuaca masih tidak menentu. Angin bertiup kencang, diiringi derasnya hujan yang mengguyur permukiman. Menjadikan udara masih terasa dingin dan menusuk, sekali pun musim dingin telah lama berlalu.


Saat ini Haru sedang dalam perjalanan menuju ke sini. Dia meneleponku karena memutuskan akan mampir ke rumah setelah selesai dengan pekerjaannya.


Aku sangat tidak sabar menanti kedatangannya. Aku bahkan bingung harus berdandan atau tidak? Ini bukan berarti kalau diriku menjadi centil, bukan begitu. Hanya saja, aku ingin Haru lebih memperhatikanku.


Satu jam berlalu, bel rumahku berbunyi. Aku benar-benar yakin kalau itu adalah Haru yang sudah sampai. Dengan tergesa aku menghampiri untuk membukakan pintu.


"Hey, Aria. Jangan berlarian di dalam rumah! Kamu ini seperti anak kecil saja."


"Hehehe ... tidak apa-apa, Bu. Haru sudah ada di depan."


"Kamu ini ya."


Dan ya ... tepat seperti dugaanku, karena insting seorang wanita tidak pernah meleset. Aku pun langsung memeluknya.


"Hey, ada apa denganmu? Kamu semangat sekali."


"Tidak apa-apa, biarkan aku seperti ini sebentar saja. Hehehe ...."


"Kamu ini seperti anak kecil saja ya, benar-benar manja."


Kau tahu, aku sangat senang ketika Haru mengelus lembut kepalaku. Kasih sayangnya itu bisa kurasakan dari belaian tangannya.


"Kamu sudah puas memelukku, kan?"


"Hehehe ... baiklah, kurasa cukup untuk saat ini. Oh iya, apa yang kamu bawa?"


"Coba tebaklah."


"Hmm ... ah! Kembang api, yey!"


"Terima kasih, Haru. Kita nyalakan nanti ya."


"Baiklah."


Seperti biasa, Haru segera menyapa kedua orang tuaku di dalam. Bahkan ketika melihat mereka asyik mengobrol, terlihat begitu akrab.


Banyak hal yang mereka bicarakan. Itu berkaitan dengan bagaimana pekerjaannya, dan apa rencana Haru untuk ke depannya. Ibu pun tidak ragu menanyakan tentang kesiapan dia untuk segera menikahiku? Itu membuatku tersipu, tahu!


Haru juga memberikan respon yang baik terkait hal tersebut. Ya, dia mengatakan akan segera melakukannya. Aku sangat senang mendengar pernyataannya itu.


Setelahnya, kami bermain kembang api di halaman. Mungkin kekanak-kanakan, tapi Haru menuruti permintaanku ini.


"Hey, Haru. Apa yang kamu pikirkan tentangku?"


"Kamu ingin tahu?"


"Um ... katakan saja."


"Baiklah. Kamu itu seperti kucing."


"Eh, kucing?"


"Ya. Itu karena saat aku mendekat, kamu malah menjauh. Saat aku mengabaikanmu, kamu justru mendekatiku lagi.


"Dan saat kamu sedang terluka, kamu pasti akan bersenang-senang menghadapi tangisanmu. Seakan ingin membagi rasa sakitmu. Karena itulah aku tidak bisa meninggalkanmu."


"Begitukah?"


"Ya, begitulah."


Tidak lama kemudian, rintik hujan mulai menyiram. Dan kami berdua pun kembali masuk ke dalam ruangan.


___


Melanjutkan membaca buku, Haru mencoba menirukanku. Padahal aku hanya membaca laporan terkait pekerjaanku, namun wajah seriusnya itu sungguh menggemaskan. Aku pun tersenyum lebar setelah melihatnya.


"Haru, hujan malam ini sangat deras. Sebelumnya Ayah dan Ibu berkata padaku, untuk memintamu menginap di sini."


"Akan kupikirkan nanti, tapi terima kasih atas tawarannya."


"Baiklah. Kalau begitu, aku akan membuatkan susu hangat untukmu."


"Terima kasih, Aria."


Setelahnya, aku mengajak Haru ke kamarku. Meski enggan, tapi aku terus memaksa. Sampai akhirnya dia mengangguk menuruti perkataanku. Lagi pula, ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan juga padanya.


"Sebenarnya apa yang ingin kamu perlihatkan padaku, Aria?"


"Itu ada di hadapanmu."


"Kain ini?"


"Ya, di baliknya. Bukalah."


"Ini ...."


"Hehehe ... aku harap kamu menyukainya. Aku memiliki dua, dan yang satu adalah milikmu, Haru."


Aku tahu, kalau Haru sangat menyukai seni. Karena itu aku memesan lukisan cantik ini. Setidaknya aku ingin mengabadikan foto kami berdua ke dalam bentuk sebuah lukisan.


Sambil duduk bersandar ke tembok bangunan kamar, kami memandangi lukisan tersebut. Itu benar-benar indah.


"Haru, tetaplah menjadi tempat untukku bersandar seperti ini. Ketika aku sedang merasa sedih, ataupun bahagia. Aku tidak ingin kamu pergi meninggalkanku."


"Bodoh, aku tidak akan ke mana-mana. Lagi pula kita semua memiliki perasaan tersendiri untuk bersandar."


"Kalau begitu, bagaimana denganmu? Apa yang kamu gunakan untuk bersandar ketika kamu membutuhkannya?"


"Bukankah itu sudah jelas, jawabannya adalah kamu, Aria."


"Pastikan kamu akan bertanggung jawab sampai akhir, karena kamu telah membuatku seperti ini."


"Ya, akan kulakukan. Hidupku adalah milikmu, tidak akan kuserahkan pada orang lain."


"Terima kasih, Haru. Aku sangat mencintamu."


"Aku juga, Aria."


Memeluk erat Haru sampai aku terlelap di dalam pelukannya.


Waktu pun berlalu, hujan deras yang sempat mengguyur permukiman akhirnya berhenti. Namun, Haru memutuskan untuk pulang.


Padahal sebenarnya besok dia mendapatkan libur. Tapi aku malah dibuat kesal, saat membaca isi pesan yang mengharuskannya untuk ikut andil mengerjakan proyek terbaru di perusahaan tempatnya bekerja itu.


Benar-benar tidak bisa diharapkan! Meski Haru adalah pegawai yang dijadikan andalan oleh mereka, bukan berarti mereka harus merusak hari liburnya juga! Ini mengecewakan!


Ya, walau aku mengeluh hebat pun tidak ada gunanya. Aku juga tidak bisa melarang dan menahan Haru untuk tidak pulang. Meski begitu aku cukup senang, karena besok dia akan menemuiku lagi setelah pekerjaannya selesai.


Hingga akhirnya Haru melangkahkan kaki meninggalkan rumahku, sampai sosoknya menghilang dari pandangan mataku.


...***...


Ya, itu menjadi obrolan sekaligus pertemuan terakhir Aria dengan Haru. Karena sang pria harus pergi jauh meninggalkan dunia ini.


"Haru, bagaimana jadinya aku. Aku tidak bisa melanjutkannya sendiri tanpamu," gumam Aria sangat lirih.


Terpuruk akan kesedihan, hati Aria benar-benar terguncang. Setelah kehilangan cahaya yang menerangi kehidupannya, dia terjatuh ke dalam keputusasaan.


Hanya terus berharap agar bisa kembali dipertemukan dengan sosok yang teramat dicintai olehnya.


Doa pun terkabulkan, harapan mulai menampakkan wujudnya. Karena jawaban telah didapatkan. Hanya saja, akankah benang takdir kembali mengikat keduanya?


Bersabar menunggu saatnya tiba dan menjemput besarnya keinginan dari sang gadis. Akan tetapi, hanya kenyataan pahitlah yang menghadang. Karena pertemuan mereka berdua akan terasa sangat menyakitkan.


^^^To be continued ...^^^