
“Sial! Hewan-hewan itu memang cerdik bersembunyi, ya. Menyebalkan sekali!”
“Berhentilah mengeluh. Cepat atau lambat kita akan menemukan mereka semua.”
“Justru itu yang kuharapkan dari tadi!”
Saat ini, 30 orang pasukan Cardigra berpencar dan dibagi menjadi beberapa kelompok, dengan tiga personel di setiap kelompoknya.
Pencarian dilakukan dalam beberapa garis, yaitu depan, tengah, dan belakang. Sehingga tidak merusak formasi, dan agar tidak menyulitkan seluruh kelompok untuk saling memberitahukan informasi yang telah diketahui.
Setiap garis diisi oleh tiga kelompok, dan bergerak mengikuti arah bentuk huruf W. Dalam beberapa waktu yang telah ditentukan, setiap kelompok akan kembali pada posisi start awal mereka untuk melaporkan terkait pencarian mereka.
Pergerakkan yang cukup terkonsep, dengan begitu memudahkan dalam pembagian informasi terbaru. Namun, siapa sangka … itu ternyata merupakan metode yang diciptakan oleh Cardigra, yang kemudian dibagikan pada seluruh pasukannya.
“Ketemu, kalian semua.”
Memasang ekspresi wajah penuh kepuasan, salah satu dari tiga orang pada kelompok di barisan depan, telah berhasil menemukan para Demi-Human yang melarikan diri masuk ke dalam hutan.
Dia kemudian membuat tanda di sekitar lokasi tersebut, dan memanggil dua orang lainnya. Lalu mereka bertiga bergegas kembali untuk memberitahukan kawanan, bahwa lokasi di mana buruan berada sudah terkonfirmasi.
___
“Situasinya?”
“Bayangkan saja bagaimana hewan yang sedang ketakutan. Kau pasti mengerti, bukan?”
“Hoho … malang sekali.”
“Kita bergerak sekarang. Semakin cepat tugas ini selesai, akan semakin bagus.”
“Ya. Aku juga tidak ingin mengecewakan Tuan Cardigra yang sedang menunggu di atas sana.”
“Itulah maksudku.”
30 orang sudah kembali berkumpul di satu titik, dan laporan terkait di mana lokasi mangsa berada, telah disampaikan pada seluruh pasukan.
“Angkat senjata kalian semua. Kita lanjutkan perburuan ini!”
“Ya!”
Pria bertubuh besar itu mengatakannya dengan tegas, dan semua orang menanggapinya dengan penuh semangat.
...***...
“Terlalu hening.”
“Bukankah bagus? Setidaknya situasi memihak kita untuk kabur.”
“Bukan itu maksudku.”
“Lalu?”
Ketika dua orang pasukan keamanan desa tengah berbincang dalam patroli mereka, salah satu dari mereka berdua merasakan adanya sedikit keanehan. Suara para binatang yang sebelumnya jelas terdengar, seketika meredam.
Dia memiliki pendengaran yang cukup peka terhadap lingkungan sekitar, dan menganggap situasi yang tiba-tiba langsung berubah itu cukup aneh.
“Hey, kau tidak apa-apa?”
“Ssttt … berhentilah berbicara.”
“O-Oke.”
Pendengarannya semakin peka di tengah keheningan. Dia dapat mendengar suara langkah kaki yang cukup berat, semak-semak berdesis ketika diterjang material, dan suara kaleng yang tidak asing.
“Kita kembali.”
“Eh?”
“Musuh mendekat. Kita harus segera pergi dari sini secepat mungkin.”
Dia pun berlari, tetapi tidak dengan rekannya itu. Sepertinya masih belum dapat mencerna keadaan gawat yang tengah mendekat.
“Oy-Oy, yang benar saja. Jangan bercanda di saat seperti ini!”
Menoleh ke belakang, dia menegur temannya yang masih saja berdiri di sana, “Kenapa kau malah diam saja di situ, bodoh?! Ayo bergegas!”
“I-Iya!”
Mereka berdua pun akhirnya kembali ke tempat seluruh pasukan keamanan desa berada.
___
Sesampainya dia melaporkan, “Kita harus segera pergi dari sini!”
Pasukan keamanan desa yang lain bertanya, “Tenanglah, apa yang terjadi?”
“Mereka sedang mengarah ke sini.”
“Sudah saatnya, ya ....”
Menanggapi itu, Verzha beranjak berdiri dari sebuah batu besar yang dia duduki. Cepat atau lambat, permainan kejar-kejaran ini sudah pasti akan segera berakhir. Itu tidak dapat dihindari.
Verzha pun sudah memikirkannya dengan matang apa yang harus dilakukan kemudian. Pilihannya hanya ada dua, antara terus-menerus kabur, atau justru memberikan perlawanan sampai titik darah penghabisan.
Dengan kondisinya yang saat ini, Verzha sendiri yakin jikalau dirinya dapat melakukan perlawanan. Akan tetapi, bagaimana dengan durasi pertempuran? Itulah yang justru dia khawatirkan.
Meski telah memulihkan diri berkat bantuan tim medis dadakan, itu tidaklah cukup untuk melakukan pertempuran jangka panjang. Luka yang memang berhasil disembuhkan hanya meredakan sedikit rasa sakit, dan energi yang dia miliki saat ini pun cukup terbatas.
“Kali ini, hanya bisa berharap pada keberuntungan, kah ...?” gumam Verzha.
Kemudian Verzha menarik napas panjang untuk mencoba tetap tenang. Lalu dia berkata di hadapan seluruh pasukan keamanan desa dengan lantang dan tegas, “Siapa pun yang ingin menyelamatkan diri, maka pergilah sejauh mungkin dari sini!
“Dan siapa pun yang ingin terus berjuang, maka angkatlah senjata kalian, lalu ikuti aku!”
Para pasukan keamanan desa juga tidak mungkin melakukan hal konyol meninggalkan tetua mereka, sekaligus seorang panutan di Desa DeAn berjuang sendirian begitu saja. Meski keinginan untuk hidup mendominasi dan jauh lebih besar daripada apa pun, tetapi sangat sulit bagi mereka untuk menentukan pilihan yang tepat.
Salah seorang pasukan keamanan desa kemudian berkata di tengah keheningan, “Oy, kalian semua. Memangnya dengan kabur dari tempat ini, hidup kalian akan benar-benar terjamin, hah?!
“Kalau iya, aku akan mengambil pilihan itu. Tapi bagaimana kalau sebaliknya? Itu sama saja lebih baik mati di sini, daripada pergi dan tetap saja mati di tempat lain.
“Keputusanku adalah, akan tetap berjuang bersama Tuan Verzha. Kalau memang harus mati sekalipun, aku akan mati secara terhormat sebagai prajurit bersama beliau!”
Dia kemudian mengangkat pedangnya dan berjalan menghampiri Verzha untuk berdiri di sampingnya.
Sedikit motivasi sebelum kembali berperang? Mungkin saja. Namun, itu cukup berhasil membangkitkan keyakinan akan kebimbangan yang tengah dirasakan oleh para pasukan keamanan desa. Bahwasanya pilihan yang paling tepat bagi mereka semua saat ini adalah, terus berjuang di tengah terror kematian.
Seluruh pasukan keamanan desa pun mengangkat senjata mereka, dan bersiap menunggu perintah dari sang pemimpin.
“Inikah jawaban kalian?” tanya Verzha.
Mereka semua menanggapi dengan sikap gagah layaknya seorang prajurit. Tidak ada keraguan sama sekali, hanya semangat juang yang semakin berapi-api.
“Terima kasih, aku sangat menghargainya.” Verzha tersenyum sejenak sebelum melanjutkan perkataannya.
“Bentuk formasi! Kita tidak akan menunggu mereka datang menyerang, tapi kitalah yang pertama akan menyerang mereka di sana!”
Dengan begitu, Verzha bersama kelompok kecilnya itu menerjang langsung pada pasukan Cardigra yang tengah menghampiri untuk memberikan serangan sambutan.
Setelah kedua kubu saling bertemu satu sama lain, pertempuran pun langsung terjadi begitu saja. Suara logam keras yang beradu dari kedua belah pihak, terdengar nyaring dan memekakkan di medan pertempuran mereka.
...***...
“Xera, bangunlah!”
Wanita yang tampak muda dan cantik itu, mencoba membangunkan seorang bocah dari tidurnya berulang kali. Dia adalah Zheea, yang berhasil kembali ke kediamannya.
Karena Zheea tidak yakin jikalau Xera turut bersama rombongan evakuasi, insting seorang ibu menggerakkannya untuk segera kembali ke kediamannya demi memastikan keadaan Xera.
Keputusan itu ternyata tepat. Xera bahkan sedang tertidur lelap tanpa mengetahui apa pun yang tengah terjadi menimpa desa. Setelah mengetahui dengan pasti terkait keadaan Xera baik-baik saja, itu berhasil menekan rasa kekhawatiran pada diri Zheea sebelumnya.
“Mama ...?”
Xera membuka kedua matanya. Dia menatap dengan polos pada Zheea.
“Syukurlah kamu cepat terbangun. Xera, dengarkan ibu … kita harus segera meninggalkan rumah ini.”
“Tapi, kenapa?”
“Desa ini sekarang sedang tidak baik-baik saja. Kalau kita tidak segera pergi dari sini, cepat atau lambat kita pasti akan tertangkap oleh mereka.”
“Mereka? Mama, sebenarnya ada apa?”
“Mama tidak bisa menceritakannya saat ini, akan terlalu memakan banyak waktu. Tunggulah sampai kita berhasil menemukan tempat bersembunyi, akan mama jelaskan padamu nanti.”
“Um, baik.”
“Kamu bisa berjalan, kan? Tidak masalah untuk berlari?”
“Um, aku baik-baik saja.”
“Bagus. Kalau begitu, ayo bergegas!”
Zheea dan Xera pun segera meninggalkan kediaman mereka melalui pintu belakang. Dengan mengendap-ngendap dan mengintip dari balik tembok bangunan untuk melihat situasi di sekitar, hal tersebut terus dilakukan secara berulang ketika mereka berdua berpindah antara bangunan satu ke bangunan lainnya.
Hingga sampailah mereka berdua di pintu gerbang kayu seukuran orang dewasa, yang dibuat cukup tinggi dan berada di sisi kanan desa. Di baliknya merupakan sebuah jalan rahasia yang sengaja dibuat, dan dapat menghubungkan langsung ke arah hutan.
Setelah memastikan berhasil ke luar dari desa dengan aman, kemudian mereka berdua pun melanjutkan pelarian memasuki hutan.
Seraya berlari, Xera bertanya dengan penasaran, “Mama, di mana papa? Kenapa papa tidak ikut pergi bersama kita?”
“Papa bersama pasukan keamanan desa, sedang bersiaga untuk melindungi semua orang di desa. Papa akan segera menyusul kita nanti, Xera.”
Zheea menjawab dengan berat hati. Dia terpaksa harus berbohong pada Xera. Hal itu dia lakukan, agar Xera tidak merasakan kekhawatiran yang berlebihan.
“Papa akan baik-baik saja, kan?”
“Ya, kamu tidak perlu khawatir tentang itu. Karena papa seorang pria yang cukup kuat di desa.”
Zheea memberikan senyuman yang tampak meyakinkan, bertujuan agar Xera merasa tenang. Meski pahit dan dia sendiri pun tidak yakin, jikalau Verzha akan kembali dengan selamat dan dalam kondisi yang baik-baik saja.
“Baiklah, kalau mama berkata demikian.”
“Anak baik. Kita lanjutkan untuk mencari tempat bersembunyi.”
“Um!”
Dengan napas terengah-engah, Zheea dan Xera berlari semakin jauh meninggalkan desa dan semakin masuk ke dalam hutan. Hanya terus berharap jikalau pelarian mereka berdua akan lancar tanpa mendapati kendala tidak menyenangkan.
Akan tetapi, kesialan justru hadir menyapa. Karena setelah mereka berdua berhasil melewati pohon-pohon besar di depan, siluet hitam yang menyatu dengan bayang-bayang pepohonan yang terlihat dari kejauhan pun, mulai menampakkan wujudnya.
Adalah sosok Verzha, dengan kondisinya yang sudah tidak bernyawa. Dia tengah dicengkram di udara oleh seorang pria bertubuh besar yang mengenakan pelindung tubuh lengkap, dengan sebuah pedang panjang yang telah menembus perutnya hingga ke sisi lain.
Bersamaan dengan jasad-jasad pasukan keamanan desa yang terbunuh dengan sadis, tergeletak di mana-mana. Darah dari mereka semua memenuhi tanah hingga membentuk sebuah kubangan, bahkan ada beberapa bagian tubuh yang telah terpisah entah hilang di mana.
Zheea dan Xera yang menyaksikan pembantaian di depan kedua mata mereka, langsung jatuh berlutut dengan mata terbelalak. Zheea seketika merasakan lemas sekujur tubuh, tak kuasa berdiri untuk melanjutkan pelarian setelah melihat Verzha yang terbunuh. Sedangkan Xera berteriak ketika dia menyadari, bahwa sosok pria yang ditusuk oleh sebuah pedang tak lain adalah sang ayah tercinta.
Teriakan Xera membuat pasukan Cardigra yang tersisa langsung menyadari keberadaan mereka berdua, yang justru malah membaurkan diri dengan situasi mencekam.
“Kalian semua, lihatlah siapa yang datang menghampiri kita. Mereka berdua bahkan terlihat sangat layak untuk kita persembahkan pada Tuan Cardigra.”
Pria bertubuh besar itu berkata dengan ekspresi wajahnya yang tampak mengerikan untuk dilihat oleh dua orang wanita. Selain itu, para pasukan berbaju besi pun tertawa lepas menyaksikan keputusasaan Zheea dan Xera.
“Tunggu apa lagi. Kalian semua, segera tangkap mereka berdua!”
^^^To be continued …^^^