New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 22 - New Adventurer



"Hey, Haru. Kamu tidak merasa ada kejanggalan di sana?" tanya Erythia.


"Maksudmu, terkait kekacauan yang sedang terjadi di tempat Kakek Clay tadi?"


"Ya, benar. Kurasa, sepertinya beliau sedang menyembunyikan sesuatu di laboratoriumnya."


"Pak tua itu memang sedang menyembunyikannya, Ery. Ini hanya pendapatku saja, tetapi aku memang meyakini ada hal yang tidak boleh diketahui oleh orang luar."


"Sudah kuduga."


"Itu bisa ditebak, kok. Dari caranya mengusir kita secara halus, sangat jelas sekali kalau pak tua itu tidak ingin kita berdua mengetahui terkait hal tersebut."


"Lalu, bagaimana menurutmu?"


"Sejujurnya aku juga penasaran. Kita bahkan jelas mendengar mereka membahas terkait eksperimen, bukan?"


"Ya, itu sangat jelas sekali."


"Nah! Entah eksperimen seperti apa yang sedang pak tua itu teliti di sana. Sungguh ... ini membuat rasa penasaranku meronta-ronta!"


"Apa kamu ingin menyelidikinya, Haru?"


"Untuk saat ini, kurasa itu tidak perlu. Kita hanya harus kembali fokus pada tujuan utama kita terlebih dahulu."


"Um ... baiklah."


Setelah pembahasan selesai, sambil berjalan, Haru dan Erythia terus berbincang dengan topik obrolan yang random. Hingga sampailah mereka kembali ke guild.


Mereka berdua pun langsung mendatangi Esra di meja resepsionis, lalu menyampaikan apa yang dikatakan oleh Clay Senka sebelumnya.


Esra mengangguk menyetujuinya, karena penyihir tua sudah berkata demikian. Kemudian membuatkan berkas sebagai data yang valid untuk kedua muda-mudi itu, karena telah bergabung dengan guild sebagai petualang baru (newbie) di Kota Caulis.


"Ini adalah lencana kalian," ucap Esra sambil menyodorkan dua buah lencana keanggotaan.


"Tunggu, Esra. Kenapa lencana seperti ini yang kami dapatkan?" tanya Erythia setelah memperhatikan jenis lencana yang diberikan dengan seksama.


"Ah, tentang itu. Setelah aku berunding dengan petinggi guild, kami memutuskan jika Tuan Haru dan Nona Erythia berada pada level Nova."


Mendengar apa yang Esra katakan, Erythia menolak keras pernyataan tersebut. Sedangkan Haru tidak berkata apa pun, dia malah asyik sendiri memikirkan sesuatu.


"Pokoknya aku menolak! Aku tidak mau awal karirku sebagai petualang, malah langsung berada pada tingkatan yang ekstrim begini!"


"Tapi, Nona Ery. Ini sudah menjadi keputusan dari guild. Melihat potensi yang dimiliki oleh kalian berdua, kami pun akhirnya membuat keputusan seperti itu."


"Huh ... pokoknya aku ingin bernegosiasi!" Erythia menghela napas panjang, kemudian menatap Haru dan menegurnya, "Hey, Haru. Kamu mendengar apa yang kami bicarakan, bukan? Apa pendapatmu?"


"Eh? Ah, terkait itu, aku serahkan padamu, Ery. Kupercayakan pada keputusanmu saja, oke," balas Haru.


Gezzz .... anak ini! Dia malah tidak mendengarkan sama sekali. Tidak bisa diharapkan.


"Baiklah, baiklah. Esra, bagaimana kalau begini saja. Berikan kami berdua lencana petualang level Platinum, setuju denganku?"


"Ta-Tapi, Nona Ery ... kenapa begitu? Padahal jika kalian menerima ini, kalian bisa langsung bekerja sebagai petualang di bawah perintah sang Raja."


"Aku dan Haru tidak menginginkan jabatan tersebut."


"Eh?" Esra sangat terkejut mendengar pernyataan tegas yang dilontarkan oleh Erythia.


"Dengar, Esra. Kami baru saja datang ke kota ini. Sejujurnya kami berdua pun masih menyesuaikan diri untuk menjalani kehidupan di sini. Untuk mendapatkan tempat tinggal saja, kami masih kesulitan.


"Karena itulah, aku tidak ingin semakin menyulitkan diriku dan Haru, jika harus langsung berada pada tingkatan yang tinggi seperti itu. Kamu pun tidak ingin melihat kami berdua menjalani hidup yang berat, bukan?"


"Soal itu ...."


"Lagi pula, itu adalah keputusan yang tidak bijak, tahu! Kamu sendiri bahkan tidak mengetahuinya secara pasti, apakah kami berdua memang layak mengemban title tinggi?


"Kalau harus jujur, kekuatan kami masih terbilang lemah. Itulah kenapa aku menolaknya. Kuharap kamu bisa mengerti, Esra."


Sejujurnya aku lebih memilih ditempatkan pada level petualang rendah. Karena aku dan Haru akan bisa bergerak bebas. Namun sepertinya, itu tidaklah mungkin. Benar-benar merepotkan.


"Ya, aku sependapat dengan Ery. Percayalah, Esra. Jika gadis ini berkata demikian, itu adalah faktanya," sambung Haru secara tiba-tiba.


Erythia mengangguk puas, dia sangat setuju dengan apa yang dikatakan oleh Haru barusan. Tetapi tidak berlaku pada Esra, dia menjadi tidak berdaya menghadapi protes dari mereka berdua.


"Argh! Baiklah, baiklah! Kalian berdua sangat keras kepala sekali. Tunggu sebentar."


Mengambil lencana sebelumnya, Esra kembali ke dalam. Itu karena dia akan menukarkannya tepat seperti permintaan dari Erythia.


"Hey, Haru. Kamu mengerti, kan?" tanya Erythia.


"Hah? Memangnya apa yang harus dimengerti?" jawab Haru menunjukkan tampang polos.


"Huh ... tidak apa-apa, lupakan saja."


DEZIG


Terasa seperti dilempari oleh batu raksasa. Erythia agak kesal, tapi dia tidak menunjukkan kekesalannya.


"Bodoh!" gumam Erythia.


...***...


"Ayahanda ... jika terus-terusan begini. Aku akan pergi meninggalkan kerajaan ini!"


Seorang gadis berambut pirang menunjukkan kekesalannya. Emosi hebat yang tidak terkendali, bahkan sang ayah pun tidak dapat untuk menenangkan dan meyakinkan putrinya itu.


"Tapi, Andora ... hanya ini yang bisa kita lakukan. Ayah mohon padamu."


"Tidak! Aku menolak hal konyol seperti itu! Ayah, mengertilah. Kenapa aku harus menanggung hal ini?"


"Soal itu ...."


Perkataan sang ayah terhenti. Pria paruh baya tersebut tidak dapat melanjutkan perkataannya. Memalingkan wajah, membuang pandangan ke arah lain, justru membuat putrinya itu semakin marah dan hilang kesabaran.


Mengepalkan tangannya, sang gadis berbalik badan dan hendak meninggalkan ruang tahta. Sebelum melangkahkan kaki, dia berkata, "Aku harap, tidak ada seorang pun yang berasal dari sini untuk mencariku." Lalu pergi.


"Andora ...."


...***...


"Hmm ... ya, kurasa tidak buruk untuk awalan."


"Apa kamu yakin, Ery?"


"Setidaknya untuk saat ini."


"Huh ... baiklah."


Setelah melewati perdebatan terkait penentuan level, akhirnya Haru dan Erythia pun resmi dinobatkan sebagai petualang yang berada di level Platinum. Meski tidak sesuai dengan keinginan, namun usaha yang gadis itu lakukan untuk bernegosiasi dan meyakinkan Esra cukup membuahkan hasil.


Sebagai seorang petualang baru di sana, tentunya mereka berdua akan mendapatkan tugas perdana dari guild. Hanya tinggal sabar menunggu kabar terkait hal tersebut, dan tentu saja agar keduanya bisa segera untuk mengeksekusinya nanti.


Sambil berjalan, Erythia bertanya, "Apa yang akan kita lakukan selanjutnya, Haru?"


"Hmm ... sebelum informasi terkait tugas perdana kita diberitahukan, sudah jelas kita akan menganggur dalam beberapa waktu ke depan," jawab Haru.


"Lalu?"


"Aku harap kamu tidak mengeluh, Ery. Sampai waktunya tiba, kurasa kita harus berkemah lagi seperti kemarin."


"Ya, mungkin kamu benar."


"Maaf, Ery. Andai saja aku memilih gift treasure saat itu, mungkin kita tidak akan kesulitan hidup di dunia ini. Bahkan untuk membeli makanan serta menyewa tempat tinggal."


"Sudahlah, aku percaya kita akan baik-baik saja."


"Ya, terima kasih, Ery."


Mendengar apa yang Erythia katakan, itu benar-benar membuat Haru menjadi tenang. Pria itu harus berpikir keras untuk melakukan sesuatu, agar mereka berdua tidak lagi mengalami hari-hari seperti ini.


"Sebentar lagi malam akan tiba. Kamu ingat taman bunga yang sebelumnya kita lalui?"


"Ah, itu ya. Aku masih mengingatnya. Memangnya ada apa di sana?"


"Aku melihat ada gubuk kecil yang berdiri di sana. Kurasa kita bisa memanfaatkannya untuk beristirahat malam ini."


"Begitu ya. Aku bahkan tidak menyadarinya."


"Apa tidak masalah untukmu, Ery?"


"Tidak apa-apa, Haru. Itu sudah cukup untuk menghabiskan malam ini."


"Baiklah. Ayo kita segera menuju ke sana."


"Um ...."


Sambil menatap Haru yang bergegas berjalan dari belakang, Erythia tersenyum tulus. Sebuah senyuman yang menyiratkan suatu fase awal, bahwasanya sang gadis mulai memiliki ketertarikan pada pria itu.


Tidak apa-apa. Ke mana pun kamu melangkahkan kaki di dunia ini, aku akan tetap mengikutimu, Haru. Karena kamu dengan tegas memilihku untuk menemanimu, kuharap kamu akan bertanggung jawab sampai akhir.


Kemudian Erythia pun turut berjalan mengikutinya.


^^^To be continued ...^^^