
Filgard mengangkat tangan kanannya memberikan aba-aba untuk berhenti. 15 orang assasin yang mengikutinya pun turut menghentikan langkah.
Sontak senyuman penuh kepuasan terlukis di bibir Filgard. Dikarenakan dari atas pepohonan saat ini, dia dapat melihat Argha bersama pasukan pertahanan desa tengah berlari tergesa-gesa. Dia menebak, jikalau mereka hendak menuju gerbang utama desa untuk memberikan bantuan.
“Kalian semua, bersiaplah untuk pertarungan. Mangsa berada di depan mata!”
“Baik!”
Memberikan pernyataan tegas, pasukannya menjawab dengan kompak. Pada moment ini, Filgard menunggu timing yang pas. Lalu ketika jarak di antara kedua kubu sudah cukup dekat, Filgard langsung melompat tepat ke arah Argha. Begitu pula dengan seluruh assasin yang turut menghilang dari tempat mereka berdiri masing-masing.
Seraya menyilangkan kedua tangan dengan memegangi belati tajam, serangan kejutan pun diberikan pada Argha. Itu berhasil dilakukan!
Filgard menyayat bagian tubuh sebelah kiri Argha, dan memberikan luka yang signifikan. Pergerakkan Filgard sangatlah cepat, bahkan Argha sendiri pun tidak dapat merasakan serangan tiba-tiba tersebut.
Sontak Argha mengerang. Bagian tubuhnya yang terluka itu, memuncratkan begitu banyak darah segar. Dia pun langsung jatuh berlutut di tanah berbatu seraya memegangi lukanya yang semakin terbuka.
“Si-Sial!”
“Wakil Ketua!”
Pasukan pertahanan desa jelas terkejut melihat Argha seketika tumbang, bahkan merasa tidak percaya. Pasalnya, tidak seorang pun dari mereka melihat sosok yang telah menyerang Argha. Kemudian mereka semua bergegas menghampiri Argha di sana. Namun, 15 orang assasin muncul di hadapan untuk menghentikan aksi tersebut.
“Biarkan di sana bersenang-senang, karena lawan kalian adalah kami!”
Salah seorang assasin memberikan pernyataan tegas. Lalu dia memperhatikan setiap orang dari pasukan pertahanan desa dan melanjutkan, “Kalian semua ternyata masih muda, ya.”
“Memangnya kenapa?!”
Dia yang berasal dari ras rubah menanggapi dengan meninggikan nada bicaranya. Dia tampak tidak senang dengan perkataan yang dilontarkan sang assasin, ‘Karena usia bukanlah sebuah masalah!” begitulah pikirnya.
“Tidak. Aku hanya menyayangkan masa muda kalian, yang justru malah harus terlibat langsung ke medan perang.”
“Tcih !ーKami tidak butuh simpatimu!”
“....”
“Dengan senang hati kami akan meladeni kalian semua, dan jumlah kita pun seimbang!”
“Hou … menarik. Baiklah, berikan kami pertunjukkan yang bagus. Kuharap itu tidak membosankan.”
“Sesuai permintaanmu!”
Pasukan pertahanan desa kemudian memulai aksi penyerangan mereka, pertempuran di antara kedua kubu pun langsung terjadi begitu saja.
___
“Hmm … ternyata kau memiliki kemampuan regenerasi yang cukup baik, ya. Luka yang kuukir di tubuhmu barusan, perlahan mulai terhapus.”
Seraya memperhatikan keadaan Argha dengan seksama, Filgard berkata dari jarak yang agak jauh. Dia sama sekali belum menunjukkan sosoknya di hadapan Argha, dan lebih memilih untuk menyaksikan sejenak peristiwa yang mungkin saja terjadi kemudian.
Ternyata mengejutkan. Fakta bahwa Argha memiliki kemampuan penyembuhan diri di luar perkiraan. Meski bukan termasuk kemampuan tingkat tinggi, tetapi dapat menemukan seseorang yang memiliki kemampuan tersebut, justru membuat Filgard bersemangat. Sekalipun itu adalah ras Demi-Human.
“Oy-Oy … seorang pengecut yang menyerang secara tiba-tiba, tidak pantas berkata angkuh seperti itu. Dasar brengsek!” balas Argha dengan lantang.
“Aku, pengecut? Kau yakin berkata demikian?”
“Setidaknya tunjukkan sosokmu!”
“Kau bersemangat sekali, ya. Padahal aku berencana mengajakmu bermain dengan santai, lho ....”
“Bajingan tengik!”
“Ya, lupakan. Lagi pula, kau adalah contoh yang cukup bagus untuk dijadikan oleh-oleh.”
“Apa maksudmu itu?! Sialan!”
“Bersabarlah. Kau akan mengetahuinya nanti.”
“Tcih!”
Pria yang mengenakan jubah tudung berwarna hitam khas seorang assasin dengan penutup wajah pun, kemudian muncul di hadapan Argha yang masih memulihkan diri. Kehadiran sosoknya secara tiba-tiba, membuat Argha mendapati kejutan serupa untuk kedua kalinya.
“Kau ingin melihat wujudku, bukan? Sesuai permintaanmu, anjing kampung!”
Menatap Argha penuh hina, Filgard berkata dingin. Sedangkan mata Argha terbelalak tampak tidak percaya melihat seorang assasin yang sama percis seperti waktu itu. Adalah hari ketika pembantaian massal ras anjing pernah terjadi di suatu tempat.
“Ti-Tidak mungkin!”
“Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, bahkan untuk membunuhmu sekalipun. Tapi tenang saja, aku tidak akan melakukan hal itu, karena kau adalah aset yang cukup bagus untuk kubawa pulang.”
“Gehー”
Argha menatap Filgard penuh amarah. Emosinya kini meluap-luap, seperti sebuah bom yang siap untuk diledakkan kapan pun.
“Adakah salam terakhir sebelum kau tertidur untuk sementara waktu?”
“Jawab pertanyaanku ini. Kau adalah assasin bayaran yang dulu pernah membantai habis Clan-ku, bukan?!”
“Clan ?”
“Jangan berlagak bodoh! Kau bahkan membunuh orang tua dan adikku di depan mataku!”
“....”
Filgard tampak mencoba untuk mengingat moment yang dikatakan Argha. Karena sudah banyak sekali pekerjaan yang dia dan kelompoknya kerjakan untuk membunuh, bahkan tidak ada satu pun ingatan yang ingin dia ingat mengenai hal monoton juga membosankan tersebut.
“Aku tidak ingat pernah melakukannya. Ya, lagi pula itu tidak penting bagiku.”
“Ti-Tidak penting, katamu ...?!”
“Begitulah.”
DUAR !
Perkataan Filgard memicu bom untuk meledak. Tingkat amarah pada diri Argha saat ini semakin tinggi, membludak dan tak terbendung lagi. Bersamaan dengan pemulihan dirinya yang telah sempurna, Argha kemudian bangkit untuk membuat Filgard membayar atas perbuatannya.
“Kau … manusia bajingan yang ingin kubunuh dengan kedua tanganku ini. Kita selesaikan semuanya di sini!”
Menyadari kondisi Argha mulai stabil, Filgard kemudian melompat mundur beberapa langkah. Itu memang tujuan utamanya untuk membuat duel menjadi semakin menarik.
Tentu cukup mudah dan menguntungkan bagi Filgard, jikalau langsung mengalahkan Argha dengan kondisinya yang masih memprihatinkan, tetapi dia tidak menginginkan hal seperti itu.
“Pertanyaan konyol! Tidak peduli menang atau kalah, yang kubutuhkan adalah menghajarmu habis-habisan!”
“Menarik, sangat menarik, bukan?” Filgard memberikan tepuk tangan. “Baiklah, tunjukkan padaku semua serangan terbaikmu!”
“Sesuai permintaanmu, bajingan!”
Argha membakar semangat. Dia berteriak dan mulai menyerang Filgard yang hanya menatapnya dengan tenang. Adu kekuatan pun terjadi, dan pertarungan mereka berdua akhirnya berlangsung hingga mendapati seorang pemenang.
...***...
“Membosankan!”
Cardigra memberikan kesan dingin. Menyaksikan pertarungan antara Riger dan Verzha dari atas bukit, baginya hanyalah sebuah pertunjukkan yang tidak menarik. Dia merasa waktu justru habis terbuang sia-sia.
“Kalian semua, mulailah bergerak. Aku sudah muak berlama-lama di sini!”
Dengan penuh kemarahan, Cardigra memerintahkan pasukannya mengambil alih panggung pertunjukan. Sebanyak 100 orang bawahannya yang mengenakan pelindung tubuh dan persenjataan lengkap pun, kemudian bersiap untuk memulai aksi mereka.
“Selesaikan dengan cepat!”
“Baik!” jawab serempak seluruh pasukan.
Perintah Cardigra memicu semangat pasukannya yang hanya terdiam menunggu aba-aba sedari awal invasi dilakukan. Lalu mereka semua pun berlari menuruni bukit, menuju ke arah dua kubu yang tengah bersiteru dengan sengit.
“Kuharap kalian tidak mengecewakanku di sini. Selain itu, pilihan tepat bagiku karena tidak mengajak Evelyn datang ke tempat ini bersamaku,” gumam Cardigra seraya melihat dari atas bukit.
Evelyn, adalah seorang gadis berusia setahun lebih muda dari Cardigra. Gadis itu menjadi tangan kanan, sekaligus seorang adik baginya. Meski mereka berdua tidak memiliki ikatan darah, Evelyn merupakan sosok yang sangat dicintai dan disayangi oleh Cardigra.
___
“Cepat menyingkir dari hadapanku kalau kalian tidak ingin mati konyol, bandit-bandit sialan!”
Seraya berlari, dia berteriak. Sosok bertubuh besar itu bersiap mengayunkan palu bodem berukuran raksasa yang tengah dia genggam, pada pasukan keamanan desa yang telah dikunci menjadi target serangan.
Setelah menoleh dan memperhitungkan situasi berbahaya tersebut semakin mendekat, para bandit langsung menghentikan serangan mereka, lalu segera menghindar secepat mungkin. Tentunya agar memberikan ruang yang cukup untuk melancarkan satu serangan telak.
Hal tersebut sempat membuat pasukan keamanan desa bertanya-tanya. Mereka tidak menyadari adanya bahaya tengah mengintai, dan justru malah berpikir mendapati kesempatan bagus untuk mundur, agar dapat mengatur ulang strategi melawan balik.
Akan tetapi, sungguh naas. Ketika hendak membubarkan diri dari sana, teriakan keras seseorang terdengar sangat jelas …
“Matilah kalian semua!”
… dan DUAK !
Pada saat menoleh ke arah sumber suara, 10 orang pasukan keamanan desa justru menerima serangan mematikan berasal dari palu bodem raksasa. Serangan tersebut langsung mementalkan mereka semua sekaligus sejauh beberapa meter.
Serangan brutal yang berhasil dilancarkan sosok bertubuh besar itu, semakin menegangkan situasi pertempuran. Bersamaan dengan seluruh pasukan Cardigra yang juga turut menyebar, bergabung dengan kelompok bandit di setiap lokasi terkait.
Teriakan putus asa terdengar semakin mencekam. Kubu ras Demi-Human dengan pesat mengalami kemunduran yang signifikan. Tidak hanya dari segi mereka yang kalah jumlah, korban berguguran juga bertambah.
“Hou … akhirnya pasukan utama mulai bertindak, ya. Timing yang bagus, Cardigra.”
Riger yang tengah menyiksa Verzha, menghentikan sejenak sesi penyiksaan. Dia bergumam merasa puas seraya menoleh ke arah kerusuhan berlangsung.
Verzha bahkan sudah tampak buruk saat ini. Keadaannya benar-benar babak belur. Dia yang merupakan salah satu orang kuat di Desa DeAn sekalipun, bahkan tidak sanggup menghadapi sosok Riger yang hanyalah seorang pria paruh baya.
Pengalaman bertarung, juga kekuatan personal. Itu yang menjadi pembeda di antara sosok Riger dan Verzha. Pada dasarnya Riger telah memiliki semua hal terkait, sedangkan Verzha ‘bisa dikatakan’ masih dalam masa perkembangan. Karena itu dia mengalami kesulitan menghadapi sosok kuat sebagai lawannya.
Pasukan keamanan desa yang berada di posisi tidak jauh dari lokasi Riger dan Verzha bertarung, terkejut setelah melihat Verzha telah tumbang dan tampak tidak berdaya. Lima orang itu menjadi sangat marah pada Riger. Lalu mengabaikan para musuh di sekitar mereka, dan langsung berlari ke arah pria paruh baya tersebut untuk menyerangnya secara bersamaan.
“Nekat sekali, tapi aku tidak membencinya. Tentu saja aku akan meladeni kalian juga!”
Jelas Riger menyadari hal tersebut. Dia pun kemudian bangkit, dan justru tampak tidak sabar menanti kedatangan hidangan lezat di depan mata semakin mendekatinya.
“Brengsek! Matilah kau!”
Serangan dilancarkan, tetapi Riger masih tetap bersikap tenang. Dia pun lantas tersenyum mengerikan. Kemudian menghindari serangan yang datang mengepung dari segala arah dengan gesit, dan menghempaskan satu per satu pasukan keamanan desa dengan tendangan mautnya itu. Hingga menyisakan satu orang dari mereka saja.
Riger kembali bergerak cepat ke arah titik buta target terakhir. Lalu dia mengangkat kaki kanannya di udara, bermaksud menyerang dari arah atas ke bawah menggunakan telapak kaki atau bagian tumitnya.
Sebelum melakukan serangan terakhir, Riger berkata, “Biar kuberitahukan satu hal penting padamu. Berteriak ketika kau melakukan serangan, itu tidak membuatmu terlihat keren sama sekali!”
“GehーCelaka!”
Menyadari situasi berbahaya mengintai dari arah belakang, orang itu mencoba untuk mengelak dari posisinya. Namun, terlalu lambat, karena sudah tidak ada lagi kesempatan bagi dia melakukan hal tersebut.
Kemudian Riger melanjutkan perkataannya, “Ingatlah pesan yang kusampaikan barusan di neraka sana!”
DUAK !
Tanpa segan Riger mengarahkan tendangannya itu ke bahu orang tersebut hingga jatuh berlutut. Lalu Riger membalikkan tubuh, dan melakukan satu tendangan lain. Kali ini tepat mengarah ke kepala, hingga menghancurkan tengkorak targetnya.
Dengan sangat mudah Riger menumbangkan lima orang sekaligus dalam waktu singkat. Akan tetapi, hal itu juga menjadi satu kesalahan untuk Riger. Karena pengorbanan pasukan keamanan desa tersebut, justru memang sengaja dilakukan agar menciptakan celah dan memiliki waktu yang cukup bagi anggota lainnya di sekitar menyelamatkan Verzha.
Ketika hendak kembali menghampiri Verzha, Riger justru tertawa setelah berbalik dan mengetahui jikalau lawan bertarungnya itu sudah menghilang dari tempat terkait. Meski begitu, Riger sendiri merasa cukup puas. Setidaknya tubuh Verzha sanggup menahan serangan brutal yang dia berikan, dan tentu point pentingnya adalah, tidak langsung mati seketika.
Namun, Riger memutuskan untuk tidak mengejar Verzha yang melarikan diri. Dikarenakan sekitar 30 orang dari pasukan Cardigra datang menghampirinya, dan mengatakan akan melanjutkan peranan. Mereka juga meminta pada Riger dan pasukannya, agar berfokus pada tujuan utama mereka, yaitu penjarahan.
“Kucing itu cukup kuat. Kalau saja dia memiliki kemampuan regenerasi, maka kalian semua akan tamat. Tapi kalau sebaliknya, kalian justru akan sangat mudah membunuhnya pada kondisi dia yang sudah seperti itu.”
Riger memberitahukan terlebih dahulu informasi penting yang tidak boleh pasukan Cardigra abaikan begitu saja. Sebuah fakta terkait perkataannya itu adalah benar. Karena jikalau dalam keadaan prima, Verzha bukan lawan yang sebanding bagi mereka.
“Terima kasih atas informasinya, Tuan Riger. Kami akan berhati-hati.” Salah seorang menanggapi.
“Tidak masalah. Lagi pula, aku hanya tidak ingin kalian semua mati konyol. Hahaha ...!!” Riger tertawa sangat kencang. Dia pun melanjutkan, “Pergilah ke arah hutan, aku yakin mereka melarikan diri masuk ke dalam sana.”
“Baik, Tuan!”
Setelah itu Riger memerintahkan pasukannya yang masih tersisa sebanyak 70 orang untuk berkumpul, dan segera bersiap-siap melakukan tujuan utama dari divisi pencurian. Mereka juga ditemani oleh pasukan Cardigra sebanyak 50 orang.
Riger yang memimpin dua pasukan sebanyak 120 orang, mulai memasuki Desa DeAn. Dengan divisi pencurian yang akan melakukan penjarahan, dan divisi perbudakkan membawa semua wanita ras Demi-Human untuk dijadikan budak.
Gerbang utama Desa DeAn yang berhasil ditembus, pasukan keamanan desa pun telah dibantai. Meski kedua kubu sama-sama mendapati pasukan berguguran, perbandingannya adalah hampir sama.
Mondlicht Dunkelheit juga kehilangan sebanyak 90 orang dari dua pasukan mereka yang turut bertempur.
Selain itu di kubu ras Demi-Human, hanya menyisakan kelompok kecil yang berhasil melarikan diri dengan membawa Verzha bersama mereka. Akan tetapi, 30 orang pasukan Cardigra, tetap memburu ke mana pun Verzha dan kelompok kecilnya itu bersembunyi.
^^^To be continued …^^^