
"Woah ... kurasa aku terlalu berlebihan ya?" Haru bergumam dengan tampang polos, setelah menyaksikan perbuatan brutalnya sendiri.
Memang benar, itu tidak dapat disangkal. Seharusnya Haru tidak perlu repot-repot menggunakan kekuatan gift yang kini telah bersemayan di dalam tubuhnya. Alasannya sederhana saja, itu tidaklah sebanding jika lawan yang dihadapi hanyalah kroco.
Padahal Haru sendiri pun sadar, hanya dengan melancarkan serangan yang dialiri oleh energi sihirnya saja, itu cukup untuk membunuh kroco Chaos Dragon. Namun karena dia sendiri memiliki sifat tengil, ditambah dengan penasaran terkait kekuatan gift tersebut, lantas dia memutuskan untuk mencoba menggunakannya.
"Lain kali aku harus pilih-pilih lawan dulu. Aku jadi merasa kasihan dengan 4 reptil tadi."
Tidak berselang lama setelah kekuatan yang telah dibangunkan tersebut tidak digunakan lagi, itu otomatis meredup dan menghilang. Yang mana status perwujudan dari Haru kembali tenang seperti semula.
"Apa Ery baik-baik saja ya? Kurasa aku tidak perlu khawatir tentangnya. Meskipun Ery terlihat imut, sebenarnya dia cukup sadis juga sih." Haru terkekeh.
"Yang jadi masalah sekarang adalah, 4 ekor yang masih memperhatikan dari atas langit. Tampaknya mereka benar-benar berbeda dari kroco-kroco itu."
Haru memandangi 4 ekor Chaos Dragon lainnya dengan tajam dari kejauhan. Dia menyadari hal tersebut, jikalau mereka tidaklah sama dengan beberapa ekor Chaos Dragon yang sudah dia taklukkan.
...***...
Para prajurit sangat terkejut, melihat sebuah portal dimensi yang tiba-tiba muncul dan memberikan serangan telak dari dalamnya. Mereka tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.
[Oy-oy, kali ini serangan apa lagi itu?]
[Jangan tanyakan aku!]
Erythia pun akhirnya ke luar dari portal dimensi milik Haru, dia berjalan dengan santainya sambil berkata, "Hou ... ternyata kuat juga dia, padahal aku sudah mengurangi tingkat kekuatan dari seranganku barusan lho."
Banyak pasang mata dari para prajurit langsung menatap ngeri ke arah Erythia. Mereka ketakutan dan menjadi was-was membayangkan hal buruk lainnya akan terjadi menimpa mereka.
Bagaimana tidak, langsung disapa oleh serangan brutal yang dilancarkan sang Dewi kepada satu ekor Chaos Dragon barusan, bagi seorang manusia biasa itu terlalu mencengangkan. Mereka mengukur tingkat serangan tersebut setara dengan serangan milik Clay Senka, sang penyihir tua.
[Mo-Monster lainnya telah muncul!]
[Tamatlah kita!]
Erythia yang mendengar perkataan tidak menyenangkan tersebut, menatap para prajurit yang sedang membicarakannya. Dia hanya tersenyum, dan senyuman itu sangatlah kecut. Yang mana membuat mereka semua bergidik ngeri.
"Tidak sopan! Apakah itu kalimat yang cocok diucapkan pada penyelamat kalian?"
[Eh? Penyelamat?]
"Ya! Aku bersama partner-ku turut membantu untuk menyelamatkan kalian semua, tahu!"
[Ma-Maafkan kami, Nona. Telah berkata lancang.]
"Tidak apa-apa. Kalian minggirlah, cari tempat aman dan bantulah para prajurit lain yang terluka. Aku akan menumbangkan reptil satu ini."
[Te-Terima kasih, Nona.]
Para prajurit pun menuruti perkataan Erythia, mereka semua mencari tempat aman dan membantu teman-teman lainnya yang terluka.
Chaos Dragon yang sempat terkena serangan dari Erythia, mulai memulihkan diri. Meski cukup memberikan damage berarti, namun masih kuat untuk berdiri.
"Aku cukup salut padamu, karena mampu menahan seranganku tadi. Ya, meskipun bukan dengan kekuatan penuh sih."
Menatap tajam Erythia penuh dengan kemarahan. Chaos Dragon pun meraung, dan memaksakan diri untuk menyerang balik. Tanpa keraguan langsung menghembuskan napas api pada sang Dewi. Namun usahanya sangatlah sia-sia, karena mudah bagi Erythia untuk menghapuskan serangan tersebut hanya dengan mengayunkan tangannya saja.
"Huh ...." Erythia menghembuskan napas dengan bosan. "Ya, tidak masalah. Setidaknya kau bersedia untuk menjadi samsakku."
Menjentikkan jarinya dengan posisi telunjuk menghadap ke atas, bola petir berukuran seperti bola bekel muncul di atasnya.
<< Lightning Ring >>
Chaos Dragon terjerat dalam serangan, tanpa bisa berkutik sedikit pun. Tak lama setelah cincin petir mengikatnya, langsung menyambarkan inti kekuatan skill terkait ke seluruh tubuhnya. Diikuti dengan menyusutnya ukuran cincin petir tersebut.
"Ini yang kusebut dengan perlahan tapi pasti." Erythia pun tersenyum sadis.
Hingga akhirnya Chaos Dragon yang terkena serangan telak menjerit kesakitan, tubuhnya terbagi dua dan seketika hangus tak bersisa ditelan oleh voltase yang sangat tinggi.
"Terima kasih atas santapannya," gumam Erythia seraya menjilat bibirnya.
...***...
Sementara Claude yang masih berusaha melawan 2 ekor Chaos Dragon, sudah mencapai batasnya. Dia tidak mampu bertahan lebih lama lagi, itu karena modus Berserk sangat membebani tubuhnya.
Untuk ukuran manusia biasa, memiliki kekuatan besar seperti itu sangatlah menyiksa dan merepotkan. Apa lagi bagi Claude yang notabene adalah seorang ksatria tanpa afinitas sihir.
Benar, Claude memang tidak memiliki aliran energi sihir dalam tubuhnya. Akan tetapi pada saat dia mengaktifkan modus Berserk, kekuatan tersebut mengalirkan meski hanya sedikit kapasitas energi sihir ke seluruh tubuhnya. Yang mana itu berakibat sangat membebani fisiknya. Bisa dibilang jika hal tersebut adalah injeksi secara paksa.
Claude mampu bertarung dengan menggunakan modus Berserk sekitar 20 menit saja. Setelah dia kembali normal, dipastikan dia akan sangat kelelahan. Dan jika saja dia memaksakan melebihi batas waktu yang mampu ditahan oleh tubuhnya, bisa dipastikan juga Claude akan remuk termakan oleh kekuatannya sendiri.
Selama pertarungan berlangsung dengan menggunakan modus Berserk, Claude selalu bertaruh. Apakah dia akan berhasil menang, atau justru sebaliknya? Ya, hal itulah yang selalu dia lakukan.
Napas Claude terengah-engah, kakinya pun sudah tidak mampu lagi untuk berdiri tegak. Musuh yang dihadapi kali ini benar-benar tidak sepadan baginya, karena hampir setiap serangan yang dilancarkan tidak memberikan damage berarti.
Sial! Sampai di sini saja, kah? Aku sangat benci dengan batas kekuatanku ini.
2 ekor Chaos Dragon yang Claude hadapi tidak memberikan ampun, mereka terus-terusan menyerang. Seolah meremehkan dan merendahkan lawannya, para reptil tersebut bahkan hanya menyerang dengan menggunakan ekornya saja.
Claude bertahan, dan terus bertahan. Menangkis serangan yang diberikan. Sampai memasuki titik yang membuatnya benar-benar terdesak, dia mengamuk sejadi-jadinya dan menghempaskan kedua Chaos Dragon tersebut dengan satu dorongan.
"Tidak akan kumaafkan kalian! ARGH ...!!" teriak Claude.
Semakin mengamuk, sang kapten benar-benar murka. Claude berlari menerjang dan melompat masuk di antara 2 ekor Chaos Dragon. Berdiri di tengah dengan gagah, bermaksud untuk memberikan serangan terakhir sebelum modus Berserk miliknya mencapai batas.
"Kupertaruhkan pada serangan terakhirku ini!" teriaknya, dan segera memasang kuda-kuda menyerang.
<< Swordsman Art - Dancing Slash >>
Dengan kecepatan, kelincahan, kegesitan, akurasi, dan fleksibilitas. Claude memotong mengayunkan pedangnya, memberikan tebasan lintas tidak beraturan dengan putaran yang indah secara cepat. Pedang tetap bergerak lembut, tetapi tetap terlihat "gentle." Jurus pamungkas miliknya ini, menitik beratkan pada tebasan, guna memberikan damage yang berarti pada lawan.
[Lihat! Dancing Slash!]
Para prajurit di sekitar terkagum pada sang kapten. Mereka mengetahui jika itu adalah jurus mematikan milik Claude.
[Kali ini Tuan Claude sangat serius.]
[Bisa! Serangan itu pasti berhasil!]
[Aku sependapat!]
Dalam ketegangan, seseorang menghampiri para prajurit yang saling membalas perkataan. Dia pun turut memberikan balasan, "Siapa yang tahu. Kupikir dia sudah pada batasnya."
[Eh?]
Para prajurit menoleh ke arah sumber suara. Mereka sangat terkejut ketika tahu bahwa seorang gadis lah yang ternyata turut berbicara.
"Benar, kan? Sudah saatnya aku yang menggantikan di ronde kedua," ucap sang gadis.
Mata cantik dari gadis itu memberikan tatapan dingin, namun menusuk. Lalu tersenyum tipis, tetapi sadis. Erythia akan kembali mengambil alih pertunjukkan.
^^^To be continued ...^^^