New Life in Another World

New Life in Another World
Bab 46 - Penyelamatan Spontan【3 - END】



Haru menaiki tangga dan kini sudah berada di lantai atas. Dia mengendap-endap menyusuri koridor seraya memeriksa setiap ruangan yang ada. Tetapi sama halnya seperti saat di bawah, satu per satu ruangan yang diselidiki cenderung kosong.


Para bandit dapat dipastikan berada di ruangan yang mungkin terletak di ujung bangunan. Mereka tidak sebodoh itu jika harus mencolok. Dengan begitu, Haru pun sedikit dimudahkan, karena dia tidak perlu menyelidiki dengan detail setiap ruangan yang ada dalam bangunan. Hanya tinggal fokus mencari keberadaan mereka sesuai dengan perkiraannya.


Tak lama setelah Haru melewati ujung koridor, dia sampai di ruangan yang menyerupai sebuah bar. Itu cukup besar, dan dapat menampung banyak orang tentunya. Pemandangan botol-botol minuman keras yang dipajang pun, dapat dilihat tertata dengan sangat rapi.


"Hou ... tidak kusangka, yang seperti ini ternyata ada juga di sini ya."


Haru bergumam seraya terus menyusuri bar tersebut. Hingga dia menemukan sebuah pintu yang terletak di sudut ruangan. Pintu itu sepertinya tidak dipublikasikan, kemungkinan hanya orang tertentu saja yang dapat memasukinya. Dia pun memutuskan untuk masuk ke dalam. Beruntung pintu tersebut tidak dikunci, dan itu terhubung dengan koridor lain.


Seraya mengendap-endap, Haru mendengar suara gaduh orang-orang dari kejauhan. Dia cukup yakin, mereka adalah komplotan para bandit yang ditargetkan. Dia menghampiri sumber suara, lalu mencoba mengintip ketika berada tepat di ujung koridor.


Benar saja, para bandit sedang berbincang satu sama lain seraya meneguk minuman keras di sana. Mereka terlihat seperti sedang merayakan pesta kemenangan. Pemandangan tersebut tentu sangat menyebalkan dalam perspektif Haru.


"Ternyata kalian semua berkumpul di sini ya. Sayang sekali, aku akan merusak pesta kalian yang tidak berarti ini!"


Haru kembali memperhatikan posisi mereka masing-masing. Dia memperkirakan arah dan cara penyerangan yang hendak dilakukan.


"7 orang ya. Dua dari mereka tidak jauh dari tempatku saat ini. 5 orang di antara mereka cukup jauh terpisah. Kurasa aku bisa mengatasi ini."


Haru pun menarik napas sejenak mencoba menenangkan diri ...


<< SKILL - AURA CUTTER >>


.. lalu setelah energi sihir menyelimuti kedua tangannya, dia segera berlari ke luar menampakkan sosoknya.


Pertama yang diincar adalah, tentu 2 orang yang berada tidak jauh dari posisinya. Haru menuju ke arah mereka dengan cepat, kemudian menusuk kedua bandit yang sudah dijadikan target awal perburuan dari belakang.


JLEB


Kedua bandit itu teriak dan merintih hingga hembusan napas terakhir. Suara yang ditimbulkan menyadarkan komplotan lainnya karena mendapati seorang penyusup memasuki sarang mereka.


Ketika 5 bandit lain menoleh ke arah sumber suara, mereka melihat jelas sosok Haru yang telah membunuh rekan mereka. Mereka pun mengamuk, lalu mengambil benda-benda tumpul dan tajam di sekitar untuk menyerang balik.


Para bandit berlari ke arah Haru secara tidak beraturan dan melancarkan serangan. Tetapi Haru yang sudah memperkirakan hal tersebut, tentu menghindari serangan brutal mereka.


[MATILAH KAU, BRENGSEK!]


Serangan membabi buta dari para bandit, memorak-porandakan isi di dalam ruangan. Meja, kursi, hingga lemari hancur berantakan. Sedangkan Haru terus berusaha menghindari serangan yang diberikan secara agresif.


"Cihーmereka ini barbar sekali."


[Jangan menghindar terus! Hadapi kami, brengsek!]


Haru berlari ke belakang kursi yang berada tidak jauh dari posisinya kini. Dan ketika salah satu bandit dengan nafsu membunuh berlari menghampirinya, Haru menendang kursi tersebut ke arah sang bandit hingga membuatnya jatuh tersungkur.


Tak menyianyiakan moment bagus, Haru segera menghabisi bandit tersebut dengan menusuk bagian tubuhnya hingga tak bernyawa. Kemudian dia kembali sigap dan mundur beberapa langkah, untuk mengantisipasi serangan lain yang mungkin akan datang.


Serangan telak yang Haru lakukan barusan, berhasil menghentikan aksi brutal para bandit sebelumnya untuk sementara waktu. Mereka pun kini tampak berwaspada.


"Oy, ada apa? Kenapa kalian berhenti menyerangku?"


Haru memberikan tatapan dingin yang menusuk. Matanya berkeliling mengamati lawannya yang saat ini terdiam di posisi mereka masing-masing, dan tentu seraya mencari tahu keberadaan di mana bocah Demi-Human itu disekap.


[Cih! Kau bukan orang biasa, brengsek!]


"Hah? Apa maksudmu?"


[Kau bisa menggunakan sihir, bukan?!]


"Lalu?"


[Geh!]


Para bandit menyadari ketika melihat tangan Haru yang memancarkan energi sihir. Semakin terlihat jelas setelah dia menghabisi dua rekan mereka barusan. Tentu Haru bukanlah lawan yang sebanding untuk mereka, bahkan dengan satu serangannya saja, mereka dapat dipastikan kehilangan nyawa.


"Oy-Oy, di mana nafsu membunuh kalian yang sebelumnya? Apa hanya segini saja kemampuan kalian?"


Haru menyeringai dengan tengil. Dia mencoba memprovokasi para bandit. Ada rencana lain yang dia pikirkan untuk menghabisi mereka semua sekaligus dengan cepat.


[Brengsek!]


[Jangan terprovokasi olehnya. Kita harus berhati-hati mengambil tindakan!]


Salah satu bandit berteriak seolah memberikan perintah. Dia sangat waspada dengan sosok Haru yang tampak tenang di tengah situasi hidup dan mati. Dia berpikir, jikalau komplotan telah terjebak di situasi tidak menyenangkan dan tidak mungkin menghindari kematian.


"Ah ... membosankan sekali. Kupikir ini akan menarik. Ternyata hanya segini saja? Ckckck."


[Brengsek! Sombong sekali kau!]


"Kalau kalian tidak ingin menyerangku. Biarkan aku yang menyerang kalian semua."


Haru memberikan senyuman tengil pada para bandit. Tatapan matanya itu menunjukkan jikalau dia benar-benar serius!


"Oy, kalian. Lihatlah ke atas," ucap Haru seraya menunjuk ke langit-langit bangunan.


Mendengar perkataan Haru, para bandit pun spontan mendongak ke atas. Bola petir berukuran seperti bola kasti melayang tepat di atas mereka berempat. Melihat hal tersebut, mereka mulai merasa terancam.


[Oy, bola apa itu?]


[Eh?]


Ketika para bandit tersentak dan kembali menatap Haru, lalu ...


"Oke, bagus. Selamat tinggal, bedebah!"


.. suara jentikkan jari pun terdengar sangat tegas. Kemudian bola petir tersebut menyambarkan petirnya dengan sangat cepat, pada mereka berempat.


Tak membutuhkan waktu lama setelah suara ledakan terdengar. Para bandit pun seketika hangus terbakar di depan kedua mata Haru.


"Aku menyebut ini ‘ATM’. Amati, tiru, modifikasi. Ternyata skill yang kuciptakan berdasarkan skill andalan milik Ery cukup berguna juga. Aku harus berterima kasih padanya nanti.


"Padahal aku mencoba untuk tidak terlalu mencolok. Tapi biarlah, dengan ini selesai sudah. Sekarang hanya tinggal mencari bocah itu saja."


Haru pun segera mencari keberadaan sang bocah, hingga dia berhasil menemukannya tergeletak tidak berdaya di lantai bangunan di sudut ruangan tersebut.


...***...


Sebelum Haru meninggalkan bangunan. Dia membereskan jasad para bandit terlebih dahulu. Dengan menggunakan skill “DIMENSION LOCK” miliknya, dia mengamankan jasad mereka di dalam sana.


Menyadari raga tak bernyawa pasti akan membusuk seiring berjalannya waktu, Haru memutuskan untuk melakukan hal itu. Karena semesta dari skill miliknya, tidak terikat oleh ruang dan waktu 'di' dunia tersebut.


Haru berjalan ke luar dari dalam bangunan seraya menggendong bocah Demi-Human itu. Andora yang melihat sosoknya dari kejauhan, matanya melebar mulai merasa lega. Ekspresi wajah cemas yang terlukis sedari tadi pun, berangsur-angsur memudar.


Setelah menghampiri Andora, Haru menyandarkan tubuh sang bocah di dinding bangunan. Kondisinya benar-benar memprihatinkan.


"Mereka menyiksanya tanpa kenal ampun, dan itu terjadi di depan mataku. Walau anak ini bukanlah seorang ras manusia sekalipun, tidak sepatutnya dia menerima perlakuan seperti itu."


"Begitu rupanya."


"Padahal dia hanya ingin menyelamatkanku, dan hal keji itulah yang justru dia dapatkan."


Andora memberikan kesaksian seraya mengepalkan kedua tangannya. Perasaan yang campur aduk kini tengah dia rasakan, dan itu meluap begitu saja. Sedangkan Haru hanya mendengarkannya dengan tenang.


Pada dasarnya, Andora memang tidak pernah memperdulikan terkait perbedaan ras. Dia berpikir jikalau mereka pun memiliki hak untuk menjalani hidup tenang dan berbaur dengan manusia. Hanya saja, ras manusia justru cenderung sombong juga merendahkan mereka.


Andora pun menyadari, memang tidak semua manusia memiliki sifat menyebalkan seperti itu. Tetapi dalam banyaknya kasus yang dia pelajari dan temui, ras manusia selalu saja merasa menyandang derajat paling tinggi dari pada beragam macam ras yang ada, terutama Demi-Human.


"Kamu sangat menyukai mereka, bukan?"


"Ya, mungkin kamu benar tentang itu."


"Aku bisa mengerti perasaanmu."


Kemudian Haru bangkit berdiri, dan Andora pun memperhatikannya. Setelah itu Haru berkata, "Aku tidak memiliki keahlian untuk menyembuhkan seseorang. Tapi aku memiliki partner yang ahli dalam hal tersebut."


"Eh? Partner ?"


"Ya. Dia adalah seseorang yang berharga bagiku. Aku yakin, dia pasti bisa menyembuhkan anak itu dengan mudah."


"Jadi, maksudmu?"


"Malam sebentar lagi menyapa. Aku juga harus segera pulang. Jadi aku akan membawa anak itu ke tempat tinggalku untuk menyembuhkannya.


"Selain itu, kamu juga lebih baik segera pulang. Kurasa orang tuamu pun pasti khawatir padamu, bukan?"


Mendengar apa yang Haru katakan, kemudian Andora turut berdiri. Dia menunjukkan ekspresi wajah yang serius dan berkata dengan tegas, "Kalau begitu, izinkan aku ikut bersamamu."


"Hah?!" Tentu saja Haru terkejut mendapati permintaan seperti itu. "Ah, maksudku. Jangan mengatakan hal yang tidak masuk akal!"


"Aku serius!"


Oy-Oy, yang benar saja? Kalau kamu ikut denganku, alasan seperti apa yang harus aku jelaskan pada Ery ?!


Aku bahkan bisa membayangkan raut wajahnya yang akan marah padaku karena aku pulang telat. Ditambah dengan membawa pulang 2 orang gadis sekaligus bersamaku. Matilah aku ....


"Dan aku pun akan mendapatkan masalah yang serius, tahu!"


"Eh? Kenapa begitu?"


"Pokoknya ini juga menyangkut hidup dan matiku!"


"Hmm ... perkataanmu tampak mencurigakan sekali."


Andora menyipitkan kedua matanya. Melihat gelagat Haru yang seperti itu, dia justru menjadi penasaran.


"Gehーkamu harusnya pulang ke rumahmu sendiri."


"Aku tidak memiliki tempat tinggal."


"Hah?"


"Jadi, aku akan ikut bersamamu, oke. Mulai hari ini, mohon bantuannya, Haru~" Andora tersenyum lembut.


"Jangan malah memutuskan seenaknya ...!!


^^^To be continued ...^^^