
Mendengar suara pintu yang dibuka lalu ditutup kembali, Erythia terbangun dari tidurnya. Burung-burung yang bernyanyi di luar, menandakan bahwa pagi hari telah menyambut.
Pagi ini agak berbeda. Erythia yang kini duduk di kasurnya tidaklah sendirian. Itu karena dia mendapatkan teman sekamar sejak semalam, yakni Andora. Memang tiba-tiba, tetapi dia tidak terlalu memperdulikannya.
Andora sendiri masih tertidur pulas dengan posisi tidur yang cukup menggemaskan. Saat memejamkan mata, dia tampak seperti gadis yang berbeda dari sudut pandang Erythia saat ini.
Wajah polos yang Andora tunjukkan, seolah memperlihatkan jikalau dia adalah sosok yang rapuh. Entah alasan apa yang membuat Erythia beranggapan seperti itu, tetapi intuisi seorang wanita tidak boleh diremehkan, bukan?
Erythia hanya tersenyum menatap gadis yang tertidur pulas di sampingnya itu.
“Dia ini tipikal gadis yang manja, ya ....” gumam Erythia.
Kemudian Erythia bangkit dari kasur, dan berjalan ke luar dari kamarnya. Saat suara pintu kamar tersebut kembali ditutup, lantas Andora pun tersadar dari mimpi indahnya semalam.
Di luar kamar, sepertinya Erythia mengira jikalau suara pintu yang terbuka dan tertutup yang sempat dia dengar sebelumnya itu, berasal dari kamar Haru.
Sejenak Erythia menatap ke arah pintu kamar lain. “Xera sudah bangun, ya?” Lalu dia berjalan di lorong melewati kamar tersebut, dan menuju ruang tengah, tempat di mana Haru beristirahat semalam.
Di sana Erythia mendapati Xera yang sedang duduk seraya memeluk kedua kakinya di atas sofa, hanya sendirian.
“Eh? Haru tidak ada?” Erythia bertanya-tanya.
Kemudian dia menghampiri Xera di sana, dan memberikan salam hangat.
“Selamat pagi, Xera.”
Xera agak terkejut seseorang menyapanya. Dia menoleh ke arah Erythia yang berjalan menghampirinya.
“Se-Selamat pagi, Kakak.” Xera menanggapi dengan suara yang rendah.
“Kamu ternyata bangun pagi sekali, ya. Bagaimana tidurmu semalam?” tanya Erythia, lalu duduk di samping Xera.
“Ti-Tidurku nyenyak, Kak.”
“Syukurlah kalau begitu. Aku turut lega mendengarnya.”
“U-Um ....”
Bagi Xera, situasi sekarang ini terasa sangat canggung. Dia belum pernah merasa setenang ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, tetapi tetap saja, dia tidak dapat berkata banyak.
Mungkin mirip seperti culture shock. Menggambarkan kegelisahan dan perasaan yang dirasakan apabila seseorang tinggal dalam kebudayaan yang berlainan sama sekali, seperti halnya ketika berada di negara asing.
Namun, pada kasus Xera saat ini, tentunya tidak menyangkut terkait budaya, melainkan beberapa orang baru yang sudah menyelamatkan dan merawatnya (meski baru semalam).
Untuk sejenak, mereka berdua hanya saling diam. Xera pun tampak seperti kebingungan. Dia ingin memulai percakapan, tetapi tidak tahu apa yang harus dikatakan? Jadi, dia hanya memainkan jari-jarinya untuk mengesampingkan kegelisahannya itu, dan bersikap tenang.
Erythia tentu mengerti kecanggungan ini. Dia pun tidak memberikan tekanan yang mengharuskan Xera untuk mengajaknya bicara. Dia tetap duduk santai, dan sesekali melirik bocah itu. Tingkah Xera sungguh menggemaskan, dan Erythia hanya tersenyum.
“A-Anu ....”
Tampaknya Xera mulai mencoba memberanikan diri untuk berbicara, meski agak malu-malu.
“Hmm ...? Kamu ingin mengatakan sesuatu?” Erythia menanggapi dengan ramah.
“Anu … Kakak yang tidur di sini, belum lama, dia pergi ke luar.”
“Maksudmu Haru?”
“I-Iya.”
“Dia memberitahumu ingin pergi ke mana?”
“Kakak itu hanya mengatakan, ada yang harus ia lakukan. Terus memintaku untuk menyampaikannya pada Kak Erythia.”
“Begitu rupanya.”
“I-Iya.”
“Terima kasih sudah memberitahuku, Xera.”
Erythia beranjak dari duduknya, kemudian berdiri di depan Xera. Dia mengelus lembut kepala bocah itu dan melanjutkan, “Kamu bisa menyingkat namaku, oke.”
“Eh?” Xera mengangkat wajahnya menatap Erythia. “Apakah tidak masalah?”
“Tentu saja.”
“Kalau begitu … Kak Ery?” Xera mengatakan itu agak malu-malu seraya menundukkan kepalanya.
Erythia kembali mengelus lembut kepala Xera seraya tersenyum, dan Xera benar-benar senang. Dia merasakan adanya kasih sayang yang Erythia coba tuangkan melalui sentuhan. Kehangatan layaknya keluarga, setelah sekian lama akhirnya kembali dia rasakan.
Beberapa saat kemudian, perut Xera berbunyi. Ekspresi wajahnya seketika langsung berubah menjadi kaku dan memerah karena merasa malu. Sedangkan Erythia tertawa kecil sebagai sebuah tanggapan.
“Nah, perut siapa itu yang mulai berontak?”
“Ma-Maaf, Kak Ery.”
“Tidak apa-apa, Xera.”
Setelah itu, Erythia berbalik dan berjalan beberapa langkah. Dia pun berkata, “Jadi, maukah kamu membantuku untuk membuat sarapan?” Lalu menoleh pada Xera.
Mendengar ajakan tersebut, ekspresi wajah murung Xera berubah cerah. Dia tampak sangat antusias, dan memberikan jawabannya dengan penuh semangat.
“Um!”
“Sudah diputuskan! Kalau begitu, tunggulah di dapur. Aku akan segera menyusulmu di sana setelah aku kembali dari kamar mandi, oke.”
“Um ...!!”
Ini adalah pengalaman memasak pertama Xera bersama orang lain, dan kesempatan ini tidak boleh diabaikan, apa lagi disia-siakan. Dia juga ingin dapat diandalkan, tentunya. Begitulah apa yang Xera pikirkan.
...❧❧❧...
“Hoho … cuaca hari ini juga bagus.”
Aku mengangguk puas. Setelah itu meregangkan otot-ototku.
Semenjak direinkarnasikan ke dunia ini, aku belum mengalami cuaca yang buruk, apa lagi ekstrim.
Sudah berapa lama aku menjalani kehidupan baruku di sini, ya? Aku bahkan tidak mengingatnya dengan pasti.
Yang jelas, ketenangan seperti ini yang memang aku inginkan. Bisa menikmati hari-hari kehidupan damai, itu adalah terbaik, bukan? Ya, setidaknya itulah yang kuharapkan.
Sebelumnya aku mungkin mendapati beberapa masalah. Mulai dari peristiwa saat mendaftarkan diri sebagai seorang petualang di guild, menyebabkan kegaduhan di Ibu Kota karena membuka segel kekuatan gift yang kumiliki, dan terlibat dalam tragedi Chaos Dragon yang menyerang para ksatria Kerajaan Radix di tengah perjalanan mereka kembali ke Kota Caulis.
Agak merepotkan … tetapi terkait peristiwa Chaos Dragon saat itu, aku hanya ingin membantu para ksatria, dan memang secara tidak sengaja, aku bersama Ery sedang berada di wilayah itu juga.
Sebenarnya aku bahkan tidak terlalu peduli. Dari beberapa faktor, salah satu faktor kemungkinannya adalah, bisa membongkar identitasku setelah ikut campur tangan menangani peristiwa tersebut. Lagi pula, aku hanya menganggap timing-nya cukup bagus untuk melakukan uji coba kekuatan cheat itu, dan ternyata sungguh di luar ekspektasiku.
Kuakui kekuatan yang kumiliki ini terlalu berlebihan, aku serius. Aku harus berhati-hati dalam menggunakannya lain kali. Karena memiliki kekuatan besar itu bagaikan pedang bermata dua. Kemungkinan dapat mencelakai diriku sendiri juga sangatlah tinggi.
Ngomong-ngomong tentang naga. Saat tragedi Chaos Dragon, aku berhasil menangkap salah satu dari mereka. Naga itu saat ini berada di dalam dimensi lain skill milikku. Aku juga belum melihat bagaimana kondisinya sekarang? Entahlah ....
Jikalau melihat dari kekuatan tempur yang mereka miliki, sepertinya aku tidak perlu terlalu khawatir. Ras seperti mereka jelas-jelas tidak mungkin mati semudah itu, bukan? Dan lagi, semesta dari skill milikku juga tidak terikat oleh ruang dan waktu 'di' dunia ini. Aku cukup yakin jikalau naga itu akan baik-baik saja.
Lalu terkait kehidupan ke depannya, ini yang jadi permasalahan party kecil ini sekarang. Sebelumnya hanya aku dan Ery pun, sudah terasa sulit menjalani hari-hari kami, dan sekarang ada dua orang lagi yang bergabung dalam kelompok ini. Mereka berdua adalah Andora dan Xera.
Setelah mendengar cerita masa lalu Xera, aku dan Ery berinisiatif akan menjaga dan melindunginya. Dia adalah malaikat kecil, kau tahu. Aku tidak rela orang lain merusak hidupnya lagiーHadapi aku dulu, brengsek !
Juga, terkait Andora. Kurasa aku pernah mendengar nama itu sebelumnya, tetapi di mana, ya? Siapa pula orang yang mengatakannya? Aku benar-benar lupa, serius.
Yang jelas untuk saat ini, ada sesuatu hal yang harus aku lakukan. Ya, itu terkait menciptakan skill untuk mengubah uang yang ada di dompetku menjadi layak pakai. Karena kami akan membutuhkan bahan makanan tentunya, belum lagi pakaian ganti. Aku justru berharap, jikalau Andora bisa menjahit.
Aku kemudian mengeluarkan dompetku dari saku celanaku. Setelah itu aku duduk dan mengeluarkan semua uang dari dalam sana, lalu menghitungnya.
“10 lembar pecahan 10.000, 8 lembar pecahan 1.000, dan 10 koin senilai koin emas. Jumlahnya masih sama seperti pertama kali aku menghitungnya.”
Aku memegangi daguku, dan mencoba memikirkan sesuatu.
“Hmm … sihir adalah tentang gambaran, tapi aku bingung sekarang.”
Masalahnya, aku tidak mengetahui bagaimana bentuk dari uang kertas di dunia ini. Aku bahkan belum pernah melihatnya. Untuk semua jenis uang koin, aku sudah hapal bagaimana bentuk mereka. Aku juga masih punya beberapa di saku jaketku.
“Ah … ini tidak mungkin diselesaikan sekarang. Aku harus melihat bentuk uang kertas di dunia ini terlebih dahulu.”
Aku sedikit menggerutu. Ini menyebalkan menurutku. Kemudian aku merapikan semua uang lamaku kembali masuk ke dalam dompet.
“Dari pada menganggur, lebih baik aku periksa naga yang sebelumnya kutangkap. Tapi sebelum itu, aku harus mencari tempat yang cukup luas dan leluasa.
“Akan bahaya kalau naga itu malah berontak dan tiba-tiba berhasil lolos dari jeratan skill「CHAOS BINDING」, lalu menyerangku dengan brutal. Ya, siapa peduli. Aku hanya tinggal melenyapkannya tak bersisa.”
Aku pun kembali bangkit dari dudukku. Kemudian memutuskan untuk pindah ke tempat lain dengan sihir teleportasi andalanku. Karena tempat ini tidak akan cocok, dan alasan lainnya, karena aku juga tidak ingin merusak keindahan perkebunan ini.
Setelah beberapa waktu, aku mengaktifkan skill「DIMENSIONAL CAVITY」. Aku pun masuk ke dalam portal dimensi untuk menyelesaikan beberapa hal yang harus segera kulakuan.
^^^To be continued …^^^