
Keesokan harinya, Andora dan party sudah bersiap-siap. Setelah melalui malam yang cukup tenang, mereka pun akan kembali melanjutkan perjalanan.
"Nona Andora, persiapan di sini sudah selesai. Kita bisa segera berangkat," seru Garu.
Andora pun menghampiri, dia tampak semangat.
"Aku juga sudah selesai dengan persiapanku. Kurasa kita bisa berangkat sekarang," balas Andora.
"Baik."
Lantas mereka bertiga akhirnya melanjutkan perjalanan. Naba-lah yang menjadi pemimpin jalan.
Andora bertanya, "Berapa lama lagi kita akan sampai di Ibu Kota?"
"Ini hanya perkiraanku saja. Kemungkinan sore hari ini, kita seharusnya sampai di sana. Berikut dengan mempertimbangkan waktu istirahat yang akan kita ambil nanti," jawab Naba.
"Begitukah? Syukurlah."
"Tidak perlu khawatir, Nona. Kita pastikan akan sampai di sana, semoga tidak ada lagi gangguan di perjalanan ini."
"Ya, itu juga yang kuharapkan."
Setelah obrolan berakhir, mereka pun segera memacu kuda yang ditunggangi dengan kecepatan maksimal.
...***...
Seorang gadis dengan rambut sedikit pirang, terlihat berdiri tegak membelakangi pemuda yang sudah tidak berdaya. Seraya memegangi sebuah pedang yang sudah bersimbah darah, tak lama kemudian dia pun melirik ke belakang dengan tatapan sadis yang merendahkan.
"Ke-Kenapa kamu melakukan hal ini?" Pemuda itu bertanya dengan keadaan mengenaskan.
"Kenapa katamu? Ah, aku hanya ingin menata ulang dunia ini," jawab gadis itu.
"Menata? Itu tidak perlu! Dunia ini sudah lama mendapatkan ketenangan!"
"Ketenangan? Jangan bercanda!" Gadis itu tertawa, lalu berjalan menghampiri sang pemuda.
Seraya menatap tajam pada lawan bicara yang terkapar tidak berdaya di tanah, tanpa ragu dia menginjakkan salah satu kakinya ke tangan pemuda tersebut.
Pemuda itu pun merintih, saat ini dia benar-benar direndahkan setelah kekalahannya.
"Ketenangan palsu seperti ini maksudmu? Dan kamu ingin mempertahankannya? Hahaha ...!!" Gadis itu kembali tertawa seperti orang kerasukan.
Tak lama dia pun berjongkok di hadapan sang pemuda, lalu mencengkram rambutnya. Gadis itu berniat untuk memperlihatkan semua tindakan keji serta pembantaian yang sudah dia lakukan dengan penuh rasa bangga.
"Lihatlah dengan matamu. Bukankah pemandangan ini luar biasa?
"Kehancuran yang terjadi, akan memandu menuju era baru. Dan kematian yang tidak terhindarkan, akan kembali melahirkan jiwa-jiwa tak berdosa.
"Ah ... ini sangat menyenangkan, bukan? Tubuhku bahkan merinding hanya dengan membayangkannya saja," ucapnya seraya mendongak ke arah langit.
"Cara berpikir dan tindakanmu ini benar-benar salah! Apa kamu menyadari hal itu?" Pemuda itu meluapkan emosinya.
Menatap kembali sang pemuda penuh dengan amarah, gadis itu membenturkan kepala pemuda tersebut berulang kali ke tanah tanpa rasa iba.
"Hahaha ...!! Aku salah katamu? Lucu sekali!" Gadis itu semakin tertawa. "Ah, benar. Sejak awal semua memang salahmu. Bukankah begitu, Haru?
"Tentu saja, karena kamu hidup sebagai manusia yang tidak pernah becus melindungi apa pun!" lanjutnya.
"Itu tidak benar!" Haru membantah.
"Hmm ... jika kamu bersikeras menyangkalnya. Beritahukan padaku kebenarannya seperti apa?" ucap sang gadis semakin mendekatkan wajahnya pada Haru.
"Itu ...." Haru memalingkan pandangan.
"Kamu bahkan tidak mampu menjawab pertanyaanku, bukan?"
Gadis itu melepaskan cengkramannya, lalu kembali berdiri. Memberikan tatapan murka, dia berkata, "Kamu selalu mengatakan hal omong kosong. Bahkan dengan kondisimu yang sudah babak belur seperti ini pun, kamu masih tetap saja bertingkah!"
Mendengar perkataan menyayat seperti itu, Haru menggertakkan giginya.
"Bukankah itu sama saja dengan kamu yang terlalu naif, hah!
"Kamu selalu bertingkah seolah mampu melindungi semua hal yang berharga bagimu, tetapi kenyataannya nol!
"Tak hanya sebuah janji. Yang paling buruk adalah, bahkan kamu tidak bisa melindungi dirimu sendiri!"
Haru terdiam, dia tak mampu membalas perkataan sang gadis. Dia benar-benar telah mendapatkan SKAKMAT kali ini.
"Aku sangat membencimu, Haru!"
Tatapan gadis itu dipenuhi oleh kebencian yang mendalam, dan terasa sangat kuat.
Seraya mengangkat pedangnya, dia kembali berkata, "Doa terakhirku untukmu. Semoga kamu mendapatkan ketenanganmu di neraka. Selamat tinggal, sayang ...."
"HENTIKAN, ARIA!"
... lantas Haru pun tersadar, dan terbangun dari mimpi buruk yang dia alami.
___
Seraya memegangi kepala, napasnya terasa berat dan tidak beraturan.
Mimpi ... kah? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Aku sama sekali tidak mengerti akan maksud dari mimpiku itu.
Mimpi yang 'bisa dikatakan' mengerikan, dan itu berhasil membuat Haru shock. Melihat sosok Aria yang adalah mantan kekasihnya dulu melakukan hal keji dan brutal seperti itu, tidak pernah terbayangkan olehnya sama sekali.
Erythia yang mendengar teriakan Haru, segera menghampirinya. Karena panik dengan keadaan, dia pun berteriak setelah membuka pintu kamar. "Haru, kamu tidak apa-apa?"
Haru justru semakin dibuat terkejut oleh teriakan Erythia. Dia langsung menatap ke arahnya dengan mata terbelalak, serta pandangan yang kosong. Bahkan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh sang Dewi.
Peka akan kondisi mental Haru yang saat ini sedang tidak stabil, Erythia segera berlari dan memeluknya.
Tidak melepaskan pelukannya, seraya mengelus lembut kepala sang pemuda hingga kondisi dirasa cukup tenang, kemudian Erythia melontarkan tanya, "Hey, sebenarnya apa yang sudah terjadi? Tidak biasanya kamu begini."
Selang beberapa waktu, Haru akhirnya mulai berbicara. "Ery, terima kasih."
Erythia menggeleng ringan. "Bukankah sudah pernah kukatakan sebelumnya padamu, kamu tidak sendirian, Haru," ucapnya.
Ini adalah kali pertama aku melihat kondisi Haru yang kacau begini. Entah kenapa aku sangat mengkhawatirkannya, dan membuatku jadi tidak tenang.
"Hey, Ery. Bolehkah aku bertanya?"
"Tentu saja."
"Seperti apa diriku di matamu?"
"Eh?"
"Apa menurutmu aku terlalu naif?
"Apa menurutmu aku terlalu banyak bicara dan selalu mengatakan hal omong kosong?
"Dan apa menurutmu aku sosok yang tidak berguna?"
Tak bisa mengontrol diri sendiri, Haru memberikan beberapa pertanyaan sekaligus. Erythia pun terdiam, tak mampu menanggapinya. Dia hanya terkejut pada Haru yang tiba-tiba bertanya seperti itu dengan nada bicaranya yang datar.
"Apa jawabanmu, Ery?"
Erythia melepaskan pelukan, kemudian memalingkan pandangan menatap ke arah lain.
"Seperti dugaanku, kamu bahkan tidak mampu memberikan jawaban." Haru tersenyum pahit.
"Maaf, Haru ..." balas Erythia.
"Hahaha ... bodohnya diriku yang terlalu percaya diri." Haru tertawa penuh kepahitan. "Aku mengerti sekarang, perkataan dia tentangku ternyata tidaklah salah. Aku memang tidak berguna," lanjutnya bergumam.
Mendengar pernyataan sepihak seperti itu, sontak membuat Erythia geram. Dia kembali berkata, "Apa maksudmu, Haru? Kenapa kamu malah menjelek-jelekkan dirimu sendiri?"
"Kalau begitu, beritahukan padaku yang sebenarnya!"
Alih-alih membalas perkataan, tanpa sadar Haru meninggikan nada suaranya.
PLAK
Erythia menampar keras tepat di wajah Haru, dia sudah tidak sanggup menahan emosinya itu pada sang pemuda.
Menatap tajam Haru, kedua mata cantik itu meneteskan air mata.
"Aku tidak tahu apa yang sudah terjadi padamu. Kenapa kamu melampiaskan semua emosimu itu padaku?
"Kamu bilang dirimu naif, selalu berkata omong kosong dan tidak berguna? Kalau memang kamu menganggap dirimu seperti itu, kamu hanya perlu memperbaiki semuanya agar bisa menjadi lebih baik lagi!
"Bagiku kamu tidak seperti apa yang kamu katakan, Haru!
"Kamu sudah menyelamatkanku, kamu memberikanku kebebasan. Di siniーdi dunia ini, kamu bahkan lebih memprioritaskanku ketimbang dirimu sendiri. Seharusnya kamu berpikir dan mempertimbangkan hal tersebut, bukan?
"Jadi tolong, hentikan menjelek-jelekkan dirimu sendiri. Aku benci dengan sifatmu yang seperti ini!"
Erythia meluapkan semuanya pada Haru. Dia sudah tidak peduli lagi terkait sisi lemahnya. Dia hanya ingin sang pemuda mengetahui kebenaran di balik semua perkataan yang dilontarkan, bahwa tidak ada satu pun kebohongan di sana.
Tersadarkan oleh sebuah pernyataan yang penuh emosional, Haru hanya terdiam menopang Erythia yang kini menyandarkan kepala di dadanya seraya menangis sejadi-jadinya.
^^^To be continued ...^^^