
"Semua jenis bola sihir yang kami miliki tidak dapat mengidentifikasi energi spiritual yang dimiliki oleh Tuan Haru, namun masih ada cara lain untuk memastikannya," ucap Esra semakin panik. Wajahnya mulai pias.
Setelah Haru meretakkan bola sihir yang pertama, kemudian Esra pun mengambil beberapa jenis dari yang lainnya. Hal tersebut justru tidaklah efektif, malahan hanya memperparah kerusakan yang didapatkan saja.
Esra melakukannya hanya karena ingin mengetahui seberapa besar energi spiritual yang memang dimiliki oleh Haru, karena itu adalah langkah awal dari guild sebelum menerima kelayakan seseorang untuk menjadi seorang petualang di sana. Tetapi Haru benar-benar membuatnya tercengang. Karena kejadian seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya.
Dari banyaknya manusia yang sudah mendaftarkan diri, baru kali ini Esra mengalami kesulitan di dalam pekerjaan yang dia lakukan.
"Apakah itu mungkin, Esra? Aku hanya merasa, sepertinya tidak ada harapan bagiku untuk menjadi seorang petualang," balas Haru sedikit mengeluh.
"Tidak! Tidak seperti itu," Esra menyanggah.
"Eh?"
"Aku akan menjaminnya! Tuan Haru tidak perlu khawatir. Baiklah, tunggulah sebentar di sini. Aku akan segera kembali."
"Baiklah. Aku percayakan padamu."
Esra pun pergi meninggalkan mereka berdua di sana, wanita itu menjadi bersemangat tentang ini. Dan Erythia hanya memandangi sosok Haru yang tampak kebingungan. Tatapannya sangat penasaran, namun menyimpan begitu banyak pertanyaan.
"Hey, Haru. Apa yang sebenarnya sudah kau lakukan?" Erythia bertanya.
"Aku tidak melakukan apa pun, Ery. Sungguh ...." jawab Haru.
"Begitukah? Hmm ... ya sudahlah, lupakan saja."
Sulit dipercaya, tapi kurasa ini akan menjadi menarik. Dan tentunya membuatku agak penasaran. Aku akan menyelidiki Haru nanti.
Setelah beberapa lama menunggu, Esra pun kembali dengan membawa seseorang bersamanya. Dia adalah seorang pria tua berjanggut panjang dengan mengenakan mantel berwarna hitam. Ya, semua yang dikenakan olehnya serba hitam, seolah menunjukkan bahwa dirinya adalah sosok dari kegelapan itu sendiri.
Haru dan Erythia hanya memandanginya dalam diam, mereka tidak memberikan respon yang 'bisa dikatakan' seperti terkejut atau apa pun sejenisnya. Hanya terkesan biasa saja pada sosok tua tersebut.
"Kudengar, kau 'mungkin' adalah sosok yang tidak biasa di sini," pria tua itu mulai berbicara pada Haru.
"Aku tidak mengerti maksud Anda, sepertinya ada kesalahpahaman di sini," balas Haru.
Keduanya hanya saling memandang dalam diam. Tatapan dari sang pria tua itu pun sangat mendalam pada Haru, seolah tidak ingin untuk melepaskan sesuatu yang terlihat menarik di hadapannya.
Tanpa mengalihkan pandangan, diam-diam Erythia menelisik pria tua tersebut. Dia sengaja mengaktifkan skill khusus << God Eyes >> yang dimiliki olehnya. Ya, gadis itu langsung memberikan sebuah isyarat pada Haru dengan menggenggam tangan kanannya, bahwa sosok tersebut merupakan orang tua yang cukup berbahaya jika mereka berdua sampai terlibat masalah dengannya.
Karena eksistensi seorang Dewi sangat berbeda dari pada manusia pada umumnya, yang mana semenjak mereka dilahirkan, mereka sudah diberkahi dengan kekuatan mutlak yang tidak dimiliki oleh manusia biasa seperti Haru sebagai contohnya.
Tentu kemampuan khusus yang mereka para Dewi miliki pun berbeda antara individu satu dengan yang lainnya. Jika Erythia sendiri memiliki uniqe skill “God Eyes,” sedangkan adiknya Hyranhia memiliki “Parallelizing” sebagai perbandingan.
Selain itu, kemampuan yang dimiliki oleh adiknya terbilang broken. Karena sang pemilik jadi bisa memparalelisasikan kemampuan yang dimiliki oleh orang lain, walau hanya dapat menggunakan sekitar 65% saja dari kekuatan aslinya. Meski begitu, tetap saja, itu bisa menjadi senjata pembalik keadaan yang mengerikan.
Seorang Dewi sekali pun, bukanlah sebagai sosok yang kuat. Mereka memiliki tingkat kekuatannya masing-masing. Dan di dunia yang sekarang ditinggali oleh Haru, bahkan kekuatan dari Erythia sendiri saja masih bisa terukur.
"Anak muda ini cukup menarik perhatianku, Esra. Tidak kusangka, kau bisa menemukan sosok seperti ini dan menunjukkannya padaku," ucap pria tua itu dengan lantang.
"Eh? Maksud Anda?" tanya Esra sedikit memiringkan kepalanya.
"Kau pasti paham maksudku. Ya, benar. Sudah lama sekali aku tidak bersemangat seperti ini," jawab pria tua itu merasa senang.
"Anu ... apa ada yang salah?" Haru menyela di antara perbincangan mereka.
"Tidak ada, tidak ada. Ah, benar. Kau, siapa namamu, anak muda?"
"Eh? Namaku? Namaku Haru, dan gadis yang bersamaku ini adalah Erythia."
"Haru dan Erythia ya. Baiklah. Kalian berdua, ikuti aku."
"Oh iya. Sebelum itu, ada yang ingin aku tanyakan terlebih dahulu."
"Hmm? Tanyakan saja."
"Bagaimana aku memanggilmu, Kek?"
"Eh?" Pria tua itu pun langsung tertawa dengan kencangnya setelah mendengar pertanyaan konyol dari Haru. "Ah, benar. Aku lupa memperkenalkan diriku, maafkan atas ketidaksopananku," lanjutnya.
"Ti-Tidak apa-apa, Kek. Seharusnya akulah yang meminta maaf karena sudah mengajukan pertanyaan konyol seperti itu," balas Haru sangat canggung, sambil menggaruk pipinya yang tidak gatal itu.
"Baiklah, perkenalkan. Namaku adalah Clay Senka. Terkait siapa aku, kau akan mengetahuinya nanti, anak muda."
Memberikan tatapan tajam yang misterius, pria tua itu pun tersenyum.
^^^To be continued ...^^^