New Life in Another World

New Life in Another World
(Vol. 1) Bab 25 - Panic Attack



Satu minggu berlalu sejak kejadian yang sempat menggemparkan. Kerajaan Radix pun terpaksa harus menjalankan kembali fase pertahanan mutlak.


Tugas patroli penjaga keamanan kerajaan ditingkatkan, para petualang dari semua level pun turut dikerahkan. Aktifitas para penduduk dibatasi sementara waktu, guna menghindari adanya tragedi lanjutan yang tidak diinginkan terjadi.


Di zaman yang tenang dan damai seperti sekarang, tiba-tiba menerima dampak dari kekuatan abnormal, tentu menjadi hal yang sangat mengejutkan bagi pihak kerajaan. Mereka semua beranggapan, jikalau pasukan iblis telah bangkit kembali dan hendak memulai invasi seperti pada waktu beberapa ratus tahun silam. Padahal bukan seperti itu faktanya.


Kekhawatiran Liedrix Urya yang tidak lain adalah sang Raja, mungkin terlalu berlebihan. Akan tetapi, itu merupakan hal yang wajar. Demi melindungi semua rakyatnya dari bencana dan marabahaya, ia harus tegas mengambil keputusan.


...❧❧❧...


3 hari sebelumnya ....


Ruang tahta kerajaan begitu ramai, terasa sesak karena orang-orang penting berkumpul di sana. Di antaranya adalah para bangsawan, petinggi guild, petualang level Nova, dan tokoh penting terkait. Begitu pula mereka yang berasal dari berbagai macam ras, yang mengkoordinir rasnya masing-masing agar dapat tinggal dan menetap di penjuru wilayah Ibu Kota Kerajaan Radix, Kota Caulis.


Alasan berkumpulnya mereka semua di satu tempat, untuk membahas perihal tragedi yang telah terjadi beberapa hari yang lalu.


Efek yang terasa akibat Haru melepaskan segel kekuatan maha dahsyat, benar-benar membuat panik. Gempa bumi berskala besar yang mengguncang, menimbulkan beberapa kerusakan di area terkait yang terkena dampak terparah.


Kesimpulan yang diutarakan oleh Liedrix Urya didukung oleh Clay Senka. Penyihir tua itu meyakini, jikalau kekuatan dahsyat tersebut setara dengan kekuatan sang Raja Iblis, dan bahkan melebihi daripada kekuatan yang ia miliki. Akan tetapi, beberapa di antara mereka pun melontarkan sanggahan. Alasannya, kebenaran dari kesimpulan yang tengah dibahas, belum bisa dikonfirmasi secara mendetail dan akurat.


Perdebatan terjadi, mereka benar-benar mengalami kebuntuan untuk menemukan titik terang terkait tragedi tersebut. Suasana pun menjadi suram, atmosfer yang menyelimuti di dalam ruangan mulai jatuh ke dalam tekanan akan rasa ketakutan.


Kekuatan abnormal yang terlihat menembus langit kala itu sangat menyeramkan, dan aura yang terpancar begitu amat mencekam. Meski jarak kemunculannya cukup jauh, bersamaan dengan gempa berskala besar yang melanda, semua orang mengakui menyaksikan keputusasaan tampak di depan mata. Walaupun durasi kemunculannya tidak begitu lama.


"Yang Mulia … saya rasa, kita perlu menyelidikinya secara langsung datang ke lokasi kejadian," ucap salah satu bangsawan.


Nama dari pria itu adalah Vicky Targuinoele. Marquis Vicky memiliki perawakan tinggi, tetapi kurus, dengan rambut berwarna cokelat disisir rapi ke belakang. Kulitnya yang putih pucat, serta mata cokelat yang sipit. Usianya sendiri diperkirakan di bawah 40 tahunan.


"Tunggu sebentar, Marquis Vicky. Anda yakin berkata demikian?" sanggah bangsawan lain.


Bernama Zain Xavier. Pria satu ini memiliki perawakan yang sama seperti Marquis Vicky, tetapi sedikit berisi. Memiliki rambut gondrong berwarna hitam pekat dan diikat ke belakang, serta sepasang mata hijau yang memiliki tatapan dingin menusuk. Usianya sendiri beberapa tahun lebih tua daripada Marquis Vicky.


"Tentu saja, Marquis Zain! Bahkan sekarang pun, aku bersedia untuk melakukan hal itu bersama pasukanku demi memastikannya!"


"Konyol sekali! Hentikan keyakinanmu itu. Kita bahkan tidak memiliki informasi yang cukup akurat. Pergi ke sana tanpa persiapan, sama dengan memberikan nyawamu secara cuma-cuma!"


Marquis Vicky hanya bisa menggertakkan giginya. Seraya mengepalkan tangan, dia benar-benar tampak kesal akan pernyataan yang dilontarkan oleh Marquis Zain. Namun, dia pun menyadari jikalau hal itu adalah benar, dan tidak mampu mematahkan pernyataan tersebut.


Seraya memijat kening dengan perasaan gelisah, sang Raja pun angkat bicara.


"Apa yang Marquis Zain katakan sangatlah benar. Kau tidak bisa bertindak gegabah, Marquis Vicky."


"Ta-Tapi, Yang Mulia ...."


"Aku sangat paham dengan yang ingin kau lakukan. Karena itu, keputusanku adalah, akan menyerahkan tugas tersebut pada mereka," ucap Liedrix dengan tegas, menunjuk ke arah barisan para petualang level Nova.


"Kami siap melakukan perintah, Yang Mulia. Serahkan tugas ini pada kami."


Membalas perkataan sang Raja dengan penuh percaya diri, Leon Asher membungkuk penuh hormat.


Pria itu adalah pemimpin kelompok petualang level Nova yang bekerja di bawah perintah Raja secara langsung. Diketahui hanya ada 10 orang yang berada pada tingkatan tersebut. Kelompok mereka bernama, “Shadow Stinger.”


"Ya. Kupercayakan pada kalian. Leon, segera lakukan persiapan, dan berhati-hatilah."


"Baik!"


Kemudian party Shadow Stinger meninggalkan ruang tahta.


Keadaan perlahaan tenang. Dengan dimulainya pergerakkan para petualang berlevel tinggi, itu berhasil menekan rasa kekhawatiran. Karena hanya itu langkah yang dapat dilakukan oleh Kerajaan Radix untuk saat ini.


Berjalan mendekati Raja, Clay Senka mengutarakan keinginannya, "Yang mulia, sepertinya saya pun harus bergerak. Saya tidak bisa berdiam diri saja. Selain itu, jika terjadi sesuatu pada Shadow Stinger di sana, saya bisa segera memberikan mereka bantuan."


"Hmm … memang masuk akal. Meski sebenarnya aku ingin memintamu untuk tetap di sini."


"Tidak perlu khawatir, Yang Mulia. Jika dirasa cukup berbahaya, saya akan segera berteleportasi dari sana."


Kemudian Liedrix berdiri dari singgasananya. Menunjukkan sikap kepemimpinan yang gagah, dia pun memberikan perintah resmi;


"Clay Senka, kuperintahkan kau untuk pergi ke lokasi kejadian. Berikan support pada Shadow Stinger. Jangan bertindak gegabah, dan kembalilah bersama mereka dengan kondisi baik-baik saja."


"Baik! Akan saya lakukan dengan sebaik-baiknya," ucap Clay, di akhiri dengan membungkuk sopan.


"Marquis Vicky, Marquis Zain. Kembalilah ke wilayah kalian, atur pasukan dalam formasi bertahan. Juga tetaplah prioritaskan keselamatan para penduduk yang tinggal di wilayah kalian. Jika seandainya membutuhkan evakuasi, lakukan dengan segera!"


"Para petinggi guild, data dan koordinirlah para petualang yang memiliki level tinggi untuk bersiaga, dan bagilah secara merata ke dalam beberapa kelompok. Lalu tempatkan mereka di setiap lokasi yang dirasa cukup fatal."


"Baik, Yang Mulia!" ucap petinggi guild, di akhiri dengan membungkuk sopan.


"Terakhir, untuk kalian para kordinator berbagai ras di seluruh wilayah Kerajaan Radix. Lanjutkan evakuasi yang sempat tertunda secara menyeluruh di tempat terkena dampak cukup parah, lalu datalah mereka yang terluka. Berikan juga ramuan obat Ailanthus Altissima untuk menenangkan mental mereka, terutama pada lansia dan anak-anak."


"Siap laksanakan perintah, Yang Mulia," ucap para kordinator dari ras lain, di akhiri dengan membungkuk sopan.


"Dengan ini rapat selesai. Lakukanlah dengan baik!"


"Yes, my Lord!"


Satu persatu dari semua orang yang berada di ruang tahta meninggalkan ruangan. Hanya tinggal menyisakan Liedrix Urya yang tidak lain adalah sang Raja yang kembali duduk di singgasananya.


"Kuharap, apa yang telah terjadi akan baik-baik saja. Aku akan melakukan apa pun demi melindungi ketenangan kami semua di sini," gumam Liedrix percaya dengan keyakinannya.


...❧❧❧...


Di sisi lain, Haru mulai tersadar dan perlahan membuka matanya. Erythia menjaganya dengan sangat baik selama satu minggu ini. Setelah tragedi peleburan segel, ketika dia melihat pemuda itu seketika tidak sadarkan diri. Dia segera menggendong tubuh Haru yang tergeletak tidak berdaya, lalu pergi menjauh dari lokasi di mana mereka berada.


Setelah lama berjalan dan menyusup masuk ke perkebunan Ailanthus Altissima, Erythia cukup beruntung. Karena di sana dia menemukan sebuah rumah kosong yang telah lama tidak ditempati. Mendapati kondisi sangat kumuh juga kotor, gadis itu tanpa ragu membersihkan rumah tersebut, agar layak untuk mereka tempati sementara waktu.


"Eh, ini di mana?" gumam Haru, perlahan bangkit dari tidurnya.


Sambil memandangi sekitar, kemudian Haru melihat seorang gadis yang sedang duduk terlelap karena kelelahan di bangku yang terletak di ujung ruangan. Dia pun bergegas menghampirinya dengan perasaan cemas. Ya, gadis tersebut adalah Erythia.


"Syukurlah ...." gumam Haru.


Sang gadis pun tersadar setelah mendengar suara seseorang yang tidak asing baginya. Dengan perlahan dia membuka mata, samar-samar bayangan mulai berbentuk. Wajah Haru kini tampak jelas di mata cantik Erythia.


"Haru ...?" gumamnya dengan nada lemas.


"Ya, Ery. Haru di sini," balas Haru, lalu tersenyum lembut.


Eryhia langsung memeluk erat Haru, dan tidak ragu meluapkan semua emosinya, "Haru bodoh! Kamu benar-benar membuatku khawatir!"


"Maafkan aku, Ery. Sepertinya kamu cukup kerepotan ya. Terima kasih karena telah menjagaku." Haru membalas pelukan Erythia, juga mengelus lembut kepalanya.


Tenggelam dalam hangatnya pelukan, Erythia berkata dengan penuh emosional sambil memukul-mukul dada Haru, "Bodoh-bodoh-bodoh! Haru bodoh! Aku bahkan sampai berpikir negatif, kalau kamu tidak akan pernah membuka matamu lagi!"


"Maaf karena telah membuatmu khawatir berlebihan. Sekarang sudah tidak apa-apa."


"Um ...."


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri?" tanya Haru.


"Satu minggu," jawab Erythia.


"Selama itu?"


"Um ...."


"Begitu ya. Kamu hebat, Ery."


"Kamu tahu, aku benar-benar berusaha melakukan apa yang bisa kulakukan selama satu minggu ini."


"Ya, aku tahu kamu pasti melakukannya. Karena itulah aku berkata demikian. Terima kasih atas kerja kerasmu, Dewiku."


"Um ...."


Hari ini aku kembali tersadar. Kurasa Tuhan masih menyayangiku, aku pun tidak ingat kenapa aku bisa tidak sadarkan diri. Benar-benar instan, dan itu terjadi begitu saja.


Bahkan sekarang, aku dapat merasakan kekuatan yang sangat besar mengalir di dalam tubuhku. Tubuh ini pun terasa sangat ringan ketika menggerakkannya, ini jauh berbeda dibandingkan diriku satu minggu yang lalu.


Mungkin ini adalah efek dari kekuatan gift yang begitu kuat. Meski aku sendiri belum mengetahui secara pasti akan sekuat apa. Namun yang kuyakini adalah, bahwa kekuatan ini memanglah cheat.


Akan aku kesampingkan terkait hal tersebut. Walau terkesan naif, tetapi demi melindungi semua yang berharga bagiku, entah itu siapa pun yang menjadi musuhku kelak. Aku pastikan melawannya, meski aku harus berhadapan dengan Raja Iblis atau Dewa sekalipun.


Ya, tujuanku hanyalah satu. Aku hanya ingin hidup tenang di dunia ini bersama Ery, juga membahagiakannya. Itu saja.


^^^To be continued ...^^^