
"Hey, Esra. Sepertinya telah terjadi sesuatu di sana. Terdengar berisik sekali," ucap Erythia sambil menunjukkan arahnya.
"Abaikan saja, Nona Ery," balas Esra.
"Eh? Apa itu tidak masalah?"
"Tidak apa-apa, hal seperti itu sudah biasa terjadi di tempat ini."
"Ah, begitu rupanya."
"Begitulah. Dan itu sudah pasti kelakuan kelompok mereka."
Hmm ... entah kenapa aku bisa paham dengan perkataan Esra. Kelompok mereka ya, kurasa aku harus melihatnya nanti.
Menunjukkan senyumannya yang memiliki maksud lain, Esra menambahkan, "Lagi pula aku hanya akan membiarkannya saja, itu pun kalau mereka tidak sampai merusak tempat ini."
Woah ... sesuatu yang berbahaya bersembunyi di balik senyum tipisnya itu. Mataku bisa melihat sosok iblis bertopeng berdiri di belakang Esra. Wanita ini menyeramkan sekali.
"Ahahaha ... begitu ya," balas Erythia dengan sedikit tertawa yang dipaksakan.
"Baiklah, Nona Ery. Kita mulai prosesnya."
"Um ... oke~"
___
Haru pun mulai menampakkan diri, terlihat dia berjalan kembali ke luar dari lorongan sambil menguap.
Masih sama seperti sebelumnya, pria itu menjadi pusat perhatian. Mungkin terdengar seperti lelucon, karena seorang petualang terkuat di antara para petualang yang sedang berkumpul di dalam guild, dengan mudah dikalahkan olehnya.
Menghentikan langkah sejenak, Haru kembali memandangi T-Rex yang masih tidak sadarkan diri, juga tergeletak di lantai bangunan guild. Kemudian dia memperhatikan sekitar karena merasa situasinya begitu tegang.
Banyaknya pasang mata dari para petualang yang terfokus pada sosok pria itu, mereka hanya bisa menelan air liurnya dan bergidik ngeri.
Lah ... kok? Kurasa ada yang salah di sini. Sekarang mereka semua malah memandangiku dengan penuh ketakutan.
Haru sedikit memiringkan kepalanya, lalu dia menghela napas panjang. "Ehem ...." Belum sempat melanjutkan perkataan, semuanya seketika panik mendengarnya berdehem.
Sudah kuduga, aku malah terkesan seperti seorang penjahat saja. Huh ....
"Siapa pun, bisa tolong pindahkan orang ini? Tidurnya pulas sekali, sepertinya dia kelelahan atau mungkin saja karena efek mabuk parah. Hahaha ...." ucap Haru melanjutkan, di akhiri dengan tertawa yang terkesan mengejek.
[Oy-oy-oy, jangan bercanda. Mabuk dia bilang?]
[Ini sangat jelas. Kurasa memang ada yang salah dengan otaknya!]
[Bocah itu benar-benar tidak waras!]
[Bercandanya seorang yang membuat petualang level Platinum tidak sadarkan diri, terlalu mengerikan!]
Para petualang saling bergumam. Antara bingung, heran, dan tidak percaya akan candaan yang baru saja dilontarkan oleh Haru dengan begitu santainya, membuat mereka tidak tahu harus bagaimana untuk menanggapinya.
"Oy, kau yang di sana. Kemarilah," ucap Haru sambil menunjuk seorang petualang.
Petualang tersebut bertubuh kurus, postur badan sedikit tinggi dari pada Haru, serta memiliki rambut panjang namun ikal. Dia terlihat masih remaja, mungkin termasuk yang paling muda di antara semua petualang di guild.
"Eh? Aku?" balasnya.
"Ya, kau. Memangnya siapa lagi?"
"Ba-Baik."
Segera mendekat perlahan dengan waspada. Tubuhnya pun menjadi gemetar ketika pria kurus itu berhadapan dengan sosok Haru. Terdiam tanpa ketenangan, bahkan sampai mengutuk di dalam hatinya.
Sial, mati sudah! Kali ini, kenapa malah aku yang jadi sasaran? Apa salahku coba? Argh ....
"Nama?" tanya Haru.
"Eh? Nama? Ah, namaku Elgado," jawab petualang itu memberitahukan.
"Hmm ... Elgado ya, baiklah."
"I-Iya."
"Hey, kau kenapa? Tidak perlu panik begitu, santai saja."
"A-Aku tidak apa-apa kok. Sungguh ...."
"Tapi kau justru menunjukkan hal yang sebaliknya lho ...." ucap Haru sambil menatap tajam Elgado. Ekspresi wajah dari pria kurus itu benar-benar pias!
"Ma-Maafkan aku. Bukan maksudku untuk seperti itu."
Seperti itu? Dia ini ngomong apa sih? Astaga ... anak ini aneh sekali.
"Huh ... ya sudah, lupakan saja yang barusan. Kalau begitu ... El, mulai hari ini kau adalah temanku, oke." Haru berbisik sambil memegangi bahu Elgado. Kemudian menepuknya beberapa kali dan berjalan pergi meninggalkannya.
"Eh? Teman?" gumam Elgado. Dia pun berbalik menatap pria tersebut.
"Ah, satu hal lagi." Haru kembali menoleh, lalu melanjutkan, "Tolong sekalian bantu pindahkan orang yang sedang tertidur pulas itu dari sana. Bilang padanya saat dia sadar nanti, 'kalau tidur sembarangan hanya akan menganggu orang lain yang hendak melewat saja.'"
Setelahnya Elgado hanya terdiam. Dia sendiri justru bingung dengan apa yang barusan terjadi padanya.
Ya, mungkin merupakan hal yang wajar, jika tiba-tiba ada orang asing yang memberikan kesan menakutkan di depan matanya, malah memanggil dan mengajaknya berbincang. Ditambah, malah menjadikannya seorang teman.
Sungguh ... aku setuju dengan pendapat seseorang yang sebelumnya bergumam di belakangku. Memang ada yang tidak beres dengan otak orang itu.
...***...
"Sudah selesai, Nona Ery," ucap Esra.
"Bagaimana hasilnya?"
"Perfect. Selamat bergabung dengan guild kami. Setelahnya akan ada misi yang diberikan dan harus dikerjakan bagi anggota baru."
"Huh ... syukurlah. Untuk misinya, tolong beritahukan padaku nanti ya, Esra." Erythia tampak lega setelah mendengar hal tersebut.
"Baik, Nona Ery. Terlebih, ini benar-benar mengesankan. Bola sihir mendeteksi kapasitas energi sihir yang Nona miliki sebesar 40 ribu, sedangkan untuk kekuatan sihirnya sendiri sebesar 8 ribu."
"Apakah semengesankan itu?" tanya Erythia sedikit memiringkan kepalanya.
"Tentu saja! Karena jarang sekali bagi kami bisa menemukan petualang dengan kapasitas energi dan kekuatan sihir yang sebesar itu. Ditambah dia adalah seorang perempuan," jawab Esra menjelaskan.
Hou ... ternyata begitu ya. Sebenarnya aku sedikit menekan energiku, aku hanya tidak ingin menjadi pusat perhatian.
"Oh, walau aku tidak begitu mengerti. Kurasa, itu adalah hal yang cukup bagus."
"Sangat bagus! Setidaknya Nona tidak perlu khawatir dengan kekuatanmu sendiri."
"Ah, begitu ya."
Tak lama kemudian, Haru pun menghampiri mereka berdua di sana.
"Yo, aku kembali. Bagaimana, Ery? Apakah sudah selesai?" tanya Haru.
"Tentu sudah. Kamu tidak perlu khawatir tentangku, sekarang adalah giliranmu, Haru," jawab Erythia.
"Oke. Kalau begitu kita mulai saja."
Esra mengangguk, lalu kembali mengambil bola sihir yang sudah dipakai sebelumnya dan sudah dia simpan.
Sambil menyodorkannya pada Haru, wanita itu berkata, "Tuan Haru, tolong sentuh bagian atas benda ini. Ini akan mendeteksi energi sihir yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan."
Haru pun segera melakukan sesuai instruksi dari Esra. Akan tetapi, baru saja beberapa detik dia menyentuhnya ...
KRAK
... begitu mengejutkan, bola sihir itu langsung retak hingga seluruh bagian permukaannya.
"Eh? Kok retak?" Haru justru kebingungan.
Kedua wanita yang menyaksikan menjadi terkejut, tetapi Esra-lah yang paling dominan. Sontak membuat mereka langsung saja menatap tajam Haru dengan heran.
Erythia sendiri tidak menyangka, yang dipikirkan olehnya adalah, 'Bagaimana mungkin, jika pria itu bisa sampai membuat retak bola sihir tersebut?'
"Hey, tunggu. Kenapa kalian berdua melihatku seperti itu? Apa ada yang salah denganku?" gerutu Haru.
"Tu-Tuan Haru ..." ucap Esra tampak panik. "Sebenarnya, Anda siapa?" dan lanjut bertanya.
"Hah? Apa yang kamu katakan, Esra? Aku manusia, memangnya kamu kira aku ini spesies apa?"
"Bukan begitu, maksudku ...."
Oy-oy, ayolah. Ada apa dengan kalian semua? Kenapa hari ini orang-orang sangat menyebalkan sekali? Sial ....
^^^To be continued ...^^^