
"Ini di mana, Ery?" tanya Haru ketika menatap ke luar jendela ruangan.
"Perkebunan Ailanthus Altissima. Sebenarnya aku juga tidak sengaja menemukan rumah ini," jawab Erythia yang berdiri di sampingnya.
"Hah? Kenapa kita bisa nyasar sampai ke sini?" Haru sangat terkejut.
"Banyak yang telah terjadi. Lagi pula saat itu, aku benar-benar bingung harus menuju ke mana."
Kemudian Erythia menceritakan semua hal yang sudah dilaluinya sejak tragedi rumit yang terjadi secara mendetail. Sampai Haru mengerti kronologi yang membuat mereka terdampar di tempat tersebut.
"Begitu ya. Kamu benar-benar kerepotan. Maaf, Ery."
"Tidak apa-apa. Mau bagaimana lagi, bukan?"
"Ya, kamu mungkin benar. Terima kasih."
Erythia hanya melemparkan senyum, lalu duduk di kursi yang ada di dalam ruangan. Haru benar-benar merasa bersalah telah membuatnya kerepotan selama satu minggu ini.
Meski Erythia seorang Dewi sekali pun, dia tetaplah seorang gadis biasa di mata Haru. Apa lagi setelah menjalani kehidupan yang baru di dunia tersebut bersamanya. Setelah mengetahui beberapa sifat yang dimiliki oleh Erythia, itu membuat Haru semakin peduli tentangnya.
"Hey, sudahlah. Seperti bukan dirimu saja. Kamu tidak perlu serius begitu. Aku baik-baik saja, Haru," ucap Erythia mencoba meyakinkan.
Walau enggan menerima pernyataan tersebut, Haru bertingkah seolah percaya pada Erythia. Dia pun mengangguk patuh. Memang hanya sekedar terkaan saja, tapi dia tahu, kalau kenyataannya tidaklah seperti itu. Karena ekspresi yang terlukis di wajah sang Dewi justru mengatakan sebaliknya.
Untuk sejenak, mereka berdua terpaku dalam diam. Hingga Erythia kembali membuka obrolan. "Hey, Haru ... kamu tahu. Kurasa kemampuan memasakku meningkat."
"Hah? Memasak?"
"Um ...."
"Tunggu-tunggu-tunggu. Memasak? Kamu melakukan hal itu?"
"Ya, benar. Apa ada yang salah dengan itu?"
Oy-oy, Erythia ... memasak? Yang benar saja.
Jelas ada yang salah! Terkait yang dikatakan Erythia barusan, Haru tidak pernah menyangkanya. Karena itu dia terkejut. Sebenarnya dia tidak pernah menduga, bahwa gadis itu bisa melakukan hal tersebut. Sama sekali tidak!
"Tidak, bukan begitu. Maksudku, di mana kamu melakukan eksperimen sakral itu?"
"Di rumah ini."
"Hah?"
"Kubilang di sini. Di rumah yang kita tinggali ini."
"Alat-alatnya?"
"Ada di dapur. Walau sedikit kotor dan agak usang, tapi itu masih bisa digunakan setelah aku membersihkannya."
"Bahan-bahannya?"
"Kamu tahu, meski tempat ini adalah perkebunan Ailanthus Altissima. Sebenarnya bukan hanya itu saja yang ditanam di sini. Tentu saja aku memetik bahan-bahan yang kubutuhkan langsung dari sumbernya. Hehehe ...."
GUBRAK
Oy-oy-oy, jelas-jelas dia mengutil, bukan? Huh ... aku sudah tidak tahu harus berkata apa lagi.
"Terus, gas. Dari mana kamu mendapatkannya?"
"Hah? Gas?"
"Lupakanーmaksudku api. Kamu jelas membutuhkan api untuk memasak, bukan?"
"Apa yang kamu katakan, Haru? Kepalamu terbentur? Kalau api aku bisa membuatnya, lihat."
Menunjukkan ekspresi yang datar dan polos, lalu Erythia menjentikkan jarinya dengan posisi telunjuk menghadap ke atas. Setelah itu, bola api pun muncul di atas jari telunjuk tangan kanannya itu.
::facepalm::
Huh ... bodohnya aku malah menanyakan pertanyaan konyol seperti itu. Sudah jelas kalau Ery menggunakan sihirnya.
"Kamu ini aneh sekali, Haru."
JLEB
"Sepertinya memang ada yang salah dengan otakmu."
"Kurasa, aku harus membawamu ke rumah sakit ya?"
TRIPLE JLEB
"Oy, Ery. Hentikan sindiranmu. Itu terlalu menyakitkan," rengek Haru.
"Hahaha ... kamu ini lucu sekali. Baiklah, kalau begitu akan kutunjukkan kemampuan memasakku padamu," ucap Erythia berdiri dari duduknya. "Aku pastikan kamu akan menyukai masakanku, Haru!" lanjutnya penuh semangat.
Tanpa membalas perkataan, Haru hanya bisa pasrah menerima keadaan. Dia berharap, semoga makanan yang dimasak oleh Erythia tidak menghancurkan lambungnya.
...***...
Pertemuan kembali diadakan di ruang tahta kerajaan. Pembahasan lanjutan terkait peristiwa mengejutkan yang terjadi satu minggu silam kembali dilangsungkan.
Kelompok Shadow Stinger pada saat beberapa hari yang lalu diberikan tugas untuk menyelidiki langsung di lokasi kejadian, tidak dapat mengungkap kebenarannya. Itu karena ketika mereka sampai di sana, tidak menemukan bukti apa pun.
Clay Senka yang turut bergabung dengan party membenarkan, bahwasanya di sana, mereka semua hanya mendapati area yang rusak pada radius beberapa kilometer jauhnya di seluruh arah mata angin.
Setiap orang melaporkan terkait apa yang diperintahkan. Namun ketika salah satu petinggi guild yang bernama Valtoz Estacho angkat bicara, tatapan semua orang langsung terfokuskan padanya.
Pria berambut panjang agak ikal itu mengatakan, saat guild mengkoordinir para petualang berlevel tinggi, mereka tidak melihat dua sosok petualang ikut hadir. Ya, hanya mereka berdua saja.
"Siapa dua orang itu?" Sang Raja bertanya dengan nada serius.
"Mereka adalah Haru dan Erythia, yang mulia," jawab Valtoz.
Clay Senka sangat terkejut mendengar jawaban yang dilontarkan oleh Valtoz. Penyihir tua itu pun menghampirinya, dan meminta penjelasan yang lebih detail.
"Setelah kami kembali ke guild, kami mengumpulkan semua petualang yang terdaftar di guild untuk membagi kelompok sesuai level mereka masing-masing.
"Namun pada saat pembagian kelompok petualang level Platinum, hanya mereka berdualah yang tidak terlihat batang hidungnya sama sekali. Dengan kata lain, mereka tidak menghadiri perkumpulan."
"Begitu rupanya," ucap Clay menunjukkan ekspresi wajah yang tampak rumit.
Raja yang menyadari gelagat Clay Senka, tanpa ragu bertanya padanya, "Kau mengenal mereka?"
"Sejujurnya, guild sempat memberikan saya tugas untuk mendeteksi energi sihir yang dimiliki oleh pemuda yang bernama Haru," jawab Clay.
"Hou ... apa benar demikian, Valtoz?" Tatapan sang Raja berubah secara instan, menatap tajam pria ikal tersebut.
"Sangat benar, yang mulia. Situasi saat itu sangat rumit. Esra yang menangani pendaftaran mereka berdua, hanya saja dia tidak sanggup melakukannya pada Haru."
"Alasannya?"
"Semua bola magis yang guild miliki hancur tak bersisa, ketika mencoba mendeteksi terkait energi sihir yang pemuda itu miliki."
[Apa?]
[Bagaimana mungkin?]
[Itu mustahil!]
Semua yang menghadiri pertemuan sangat terkejut mendengar kabar tersebut. Leon Asher yang tidak lain adalah pemimpin kelompok Shadow Stinger pun tidak tinggal diam, dan mulai angkat bicara, "Yang mulia, sepertinya mereka berdua adalah sosok yang berbahaya."
"Biarkan kami menyelidiki mereka. Dan jika benar demikian, akan segera kami lenyapkan!"
"Hentikan, Leon!" Clay Senka membantah dengan tegas. "Biar kuberitahu hal menarik padamu. Sekuat apa pun dirimu, kau tidak akan bisa mengalahkan pemuda itu," lanjutnya.
"Eh? Tidak mungkin!"
"Apakah aku terlihat bercanda?" Clay menunjukkan tatapan dingin yang menusuk.
"Tidak, Tuan Clay. Anda tidak akan bercanda di waktu genting seperti ini."
"Dengar, meski Shadow Stinger menghadapinya sekaligus pun. Aku tidak bisa menjamin keselamatan kalian.
"Mereka berdua adalah sosok yang misterius, terutama pemuda yang bernama Haru. Meski aku belum melakukan tugasku untuk mendeteksi energi sihir yang dimilikinya secara langsung, tetapi aku bisa merasakan tekanan yang abnormal.
"Jika harus jujur, bahkan aku sendiri pun tidak akan sanggup untuk menghadapinya dalam duel. Ditambah gadis yang bersamanya, dia memiliki mata yang berbahaya. Selain itu, tekanan energi yang dia pancarkan sangat berbeda dengan kita."
Mendengar penjelasan dari Clay Senka, sambil berjalan memasuki ruang tahta, seseorang menanggapinya, "Hou ... cukup menarik. Bisakah beritahukan semua yang Anda ketahui tentang hal itu padaku, Kakek Clay?"
Dia adalah Lifier Urya, anak dari sang Raja, Liedrix Urya. Sambil tersenyum tipis, sang Pangeran berjalan dengan gagah bergabung ke dalam pertemuan yang sedang berlangsung.
^^^To be continued ...^^^