
"Hey, Ery … kamu pasti bisa menjelaskan perubahan yang terjadi pada diriku ini, kan?" tanya Haru dengan nada memaksa.
"Sudah kubilang, aku tidak tahu!" jawab Erythia meninggikan nada bicaranya.
"Padahal kamu sendiri yang bertanggung jawab atas pekerjaanmu itu. Jangan bilang kalau kamu malah lupa? Kamu masih memegang tanggung jawab penuh akan diriku, lho ...."
"Terserah sajalah. Aku lelah mendengar ocehanmu."
"Cihー" Haru mendecakkan lidah dan berguman, "Benar-benar tidak bertanggung jawab sekali Dewi satu ini."
"Apa-apaan perkataanmu itu?!"
Erythia menatap Haru dan sedikit memelototinya. Tatapan dingin yang terpancar dari mata cantik itu begitu tajam, seperti stalaktik es dengan ujung yang sangat runcing dan siap untuk menusuk tubuhmu secara langsung.
"Aku tidak mengatakan apa pun, kok. Kamu cuma salah dengar." Haru mengeles.
Melihat tatapan seperti itu, Haru segera mengalihkan pandangannya ke samping. Lebih tepatnya, dia tidak ingin melakukan kontak mata dengan Erythia, atau sengaja menghindari hal tersebut.
Laki-laki ini menyebalkan sekali. Sedari tadi dia benar-benar membuatku kesal !
Batin Erythia bahkan sampai menggerutu tidak karuan. Dia sangat pusing mendengarkan ocehan Haru yang terus-menerus melontarkan pertanyaan sama.
Erythia berkata jujur dan tidak menyembunyikan apa pun. Dia sendiri sebenarnya tidak mengetahui terkait perubahan fisik yang dialami oleh Haru. Yang jelas, meski sebagai seorang reincarnator istimewa sekalipun, seharusnya Haru tetap mengalami fase kelahiran baru di kehidupan lain.
Sebagai seorang Dewi Kelahiran, Erythia mengemban tugas yang berbeda daripada Hyranhia. Meski pada dasarnya mereka berdua sama-sama mereinkarnasikan seseorang yang telah meninggal dunia. Akan tetapi, tugas Erythia sendiri adalah mereinkarnasikan jiwa-jiwa yang terpilih oleh sang eksistensi tertinggi di Alam Semesta, ke dunia yang benar-benar berbeda daripada sebelumnya.
Seperti apa yang pernah disampaikan sebelumnya oleh Erythia. Kasus kematian Haru memang terbilang langka (tidak mengarah pada proses bagaimana dia mati). Jikalau dalam skala perbandingan, itu akan menjadi 1:10.000.000 jiwa dalam jangka waktu beberapa ratus tahun. Yang berarti persentase untuk jiwa yang bisa mendapatkan reinkarnasi di dunia berbeda seperti yang dialami oleh pemuda tersebut hanyalah 0.000001%.
Ditambah dengan beberapa gift yang diberikan untuknya ketika di alam reinkarnasi Dewi Erythia (sebelum diambil alih oleh Dewi Hyranhia yang berinisiatif menggantikan posisi sang kakak). Itu menjadikannya sebagai bukti kuat, jikalau jiwa dari Haru adalah sosok terpilih dari sekian banyak rival oleh eksistensi tertinggi di Alam Semesta.
Kelebihan jiwa reincarnator yang terpilih adalah, akan tetap bisa terlahir kembali dengan bentuk wujud serta akal yang dipertahankan seperti halnya kepintaran yang sama percis seperti di kehidupan sebelumnya. Namun, untuk segi penampilan sendiri, wujud tersebut akan tetap mengalami fase kelahiran dari awal, dan bukanlah perubahan wujud yang justru menjadi beberapa tahun lebih muda seperti yang di alami Haru saat ini.
Dengan mengejutkan, entah bagaimana siklus itu dapat dipatahkan dengan sangat mudah oleh Haru. Yang justru membuat dia tidak perlu untuk mengalami fase kelahiran dari awal. Hal tersebut justru membuat Erythia sendiri pun tercengang, penasaran dan kebingungan.
Beberapa reincarnator istimewa yang pernah Erythia tangani, semuanya berakhir melalui proses yang sudah terkonsep. Akan tetapi, pada kasus baru yang tengah dia tangani ini, justru di luar perkiraan, atau tidak sesuai dengan konsep teori yang berlaku.
Selain itu, meski Erythia tidak diminta untuk menemani Haru di dunia tersebut pun, dia tetap akan memantau perkembangan pemuda tersebut di sana. Setidaknya sampai 'bisa dikatakan' sudah cukup untuk tidak melanjutkan atau menghentikan pengawasannya. Hal itulah yang dia lakukan pada tamu istimewa yang berhasil datang ke alam reinkarnasi miliknya.
"Hey, Haru … dengar, ini cuma asumsiku. Kemungkinan perubahan yang terjadi pada dirimu mengacu pada timing siklus reinkarnasimu itu sendiri." Erythia kembali membuka pembicaraan.
"Maksudmu?"
Haru justru bingung karena tidak mengerti.
"Kamu ingat dengan apa yang kukatakan sebelumnya, kan? Tentangmu yang mendapatkan kesempatan kedua untuk hidup kembali di dunia yang berbeda."
"Tentu saja aku mengingatnya."
"Nah. Kemungkinan yang paling masuk akal adalah, kalau hal ini memang berkaitan. Berdasarkan kasusmu sendiri, termasuk ke dalam kategori langka. Itu tidak menutup kemungkinan bisa memicu terjadinya hal seperti ini," tegas Erythia menjelaskan pemikirannya.
"Ah … ternyata begitu, ya."
"Begitulah. Tentu kamu paham maksudku, bukan?"
"Tidak sama sekali. Hahaha ...."
Haru tertawa dengan sangat kencang. Pemikirannya tidak mampu mengimbangi penjelasan yang Erythia berikan. Logika tidak sampai, dia lantas mengabaikan memikirkan hal tersebut.
::facepalm::
Laki-laki ini ....
Sudah kuduga, pasti akan sulit untukku menjelaskan padanya dengan cara yang seperti biasanya. Kalau begini ....
Setelah itu Erythia menjelaskan dengan gaya perkataan yang mudah dicerna oleh Haru, sampai akhirnya mengerti.
"Sampai sini kamu paham penjelasanku, kan?"
"Ya, mungkin. Ternyata benar-benar rumit, ya."
"Memang. Aku sendiri pun tidak mengetahui teori kebenaran yang pastinya seperti apa. Apa lagi setelah melihat kasusmu ini."
"Tapi, Ery … bukankah setidaknya seorang Dewi bisa mengetahui hal di luar nalar seperti itu, ya?"
"Hmm … begitu, ya. Itu berarti, aku termasuk orang beruntung yang tidak mengulangi masa-masa menjadi bayi lagi. Hokiku masih mujarab rupanya."
"Karena itulah, terima saja apa yang sudah terjadi padamu. Padahal kamu terlihat lebih tampan dari pada sebelumnya, kok," ucap Erythia mendekati, seraya memandangi dan memperhatikan wajah Haru dengan seksama berulang kali.
"Anu … Ery, bukankah kamu berdiri terlalu dekat padaku?"
Haru mengalihkan pandangannya seraya menggaruk pipinya yang tidak gatal itu.
"Eh?"
Perkataan Haru sontak membuat Erythia merespon berlebihan. Rona merah perlahan muncul di wajahnya, terlihat matang, dan dia langsung menjauhkan diri mundur beberapa langkah dari posisi awal.
Seraya menunjuk pada Haru, Erythia berkata tegas, "Po-Pokoknya yang barusan itu bukanlah pujian, oke. Jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak tentangku! Hmp ...!!"
Sudut bibir Haru berkedut, dia hanya memandangi Erythia dengan tatapan datar.
Woah … mengejutkan sekali. Ternyata Ery punya sisi yang seperti ini, ya. Percis seperti Aria ketika dia sedang terdesak, benar-benar menggemaskan.
"Iya-iya, baiklah-baiklah. Lagi pula aku juga tidak menganggap kalau itu sebagai pujian."
"Back to topic. Sekarang bukan saatnya memikirkan hal sepele seperti itu. Kehidupanmu di sini akan menjadi lebih penting untuk hidupmu ke depannya!"
"Ya, tidak perlu diberitahu pun, aku paham betul akan hal itu. Tapi terima kasih karena sudah mengingatkanku, Ery."
Haru melemparkan senyuman manisnya, dan ya … itu sampai bisa membuat Erythia malu-malu kucing.
...❧❧❧...
Setelah berbincang-bincang cukup lama, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk pergi meninggalkan lokasi saat ini. Ketika di perjalanan, hanya ada pepohonan, pegunungan, dan aliran sungai saja yang terlihat dalam jangkauan mata memandang. Padahal mereka sangat berharap bisa bertemu dengan orang-orang, atau mungkin mendapati permukiman yang berada di sekitar. Namun kenyataan tidak sesuai harapan.
Tujuan utama mereka adalah untuk menemukan tempat tinggal serta mencari informasi sebanyak-banyaknya terkait dunia tersebut. Meski ada seorang Dewi yang menemani Haru di sana sekalipun, sejujurnya Erythia sendiri tidak mengetahui bagaimana sistem di dunia itu bekerja selain hukum rimba yang berlaku. Hal itu justru membuatnya menjadi tertarik untuk menggali lebih dalam terkait pengetahuan yang tersebar di sana.
"Jadi, sekarang kita mau ke mana? Aku bingung jika harus memilih. Jujur saja, aku tidak pandai dalam menentukan arah," ucap Haru mengeluh.
"Hmm ... mari kita pikirkan bersama. Lebih baik sekarang kita beristirahat dan berteduh di pohon besar itu. Terik ini benar-benar menyengat," balas Erythia.
"Baiklah. Aku sependapat denganmu."
Itu karena di depan mereka saat ini, ada jalanan bercabang yang menghadang. Karena tidak ada penunjuk arah yang memberitahukan nama atau tempat lokasi tujuan di antara kedua jalan tersebut, tentu saja itu membuat mereka berdua menjadi kebingungan.
Haru dan Erythia pun beristirahat di bawah rimbun pepohonan besar yang ada di sekitar. Sampai beberapa waktu berlalu, dari kejauhan terlihat kereta kuda yang mengangkut barang hasil panen.
"Hey, Ery. Bagaimana dengan bahasa di dunia ini? Apakah berbeda?" Haru bertanya dengan nada yang serius.
"Jelas berbeda, tapi kamu tidak perlu khawatir terkait hal itu." Erythia menjawab dengan santai.
"Eh? Maksudnya?"
"Praktekkan saja sendiri."
Sontak Haru langsung mengambil inisiatif untuk bertanya pada sang kusir terkait ke mana tujuan yang hendak didatangi olehnya. Sekalian dia membuktikan apa yang barusan Erythia katakan.
Setelah cukup lama berbincang, pria paruh baya itu menawarkan tumpangan. Dengan senang hati Haru menerimanya. Karena dalam kondisi sekarang ini, hal tersebut adalah yang paling dibutuhkan.
Tujuan pria paruh baya itu sendiri adalah pergi ke kota, yang mana dia hendak mengirimkan hasil panen tersebut untuk dijual di sana. Beruntungnya mereka yang telah dipertemukan dengan orang baik, dan tentu saja mereka tertolong karenanya.
Haru segera kembali menghampiri Erythia yang masih duduk di bawah pohon besar.
"Jadi, bagaimana?" Erythia kembali bertanya.
"Cukup mengejutkan, mereka mengerti apa yang kukatakan. Dan aku pun bisa mengerti dengan bahasa di dunia ini. Bisa begitu ya?" jawab Haru yang merasa heran.
"Benar, kan. Lalu?"
"Kita mendapat tumpangan dari paman itu untuk ikut pergi ke kota bersamanya."
Setelah Haru menjelaskan terkait apa yang sudah mereka bicarakan pada Erythia, gadis itu hanya tersenyum. Dia menganggap kalau Haru adalah sosok pria yang berguna.
Tidak berselang lama, mereka berdua kembali menghampiri pria paruh baya tersebut. Dengan sedikit berbasa-basi dan sebuah perkenalan singkat, lantas mereka semua pun berangkat.
^^^To be continued ...^^^